Seperti yang kita pelajari dari bukti yang disampaikan para ahli dan penjelajah, bumi adalah bulat dan bundar.
Buat kanak-kanak mungkin terasa sulit untuk mencerna. Namun ternyata bukan hanya mereka, masih ada banyak orang dewasa sekalipun yang sulit menerima bahwa bumi itu bulat dan bundar.
Kaum ini jumlahnya cukup banyak dan kemudian bersekutu membentuk komunitas yang disebut kaum bumi datar. Bagi mereka bumi itu seperti cakram CD.
Alih-alih menunjukkan bukti yang menyakinkan mereka lebih senang membantah bukti bahwa bumi bulat dan bundar dengan mengatakan kesimpulan itu adalah rekayasa alias tipu-tipu ilmuwan dan negara-negara elit.
Bumi sebagaimana lazim diterima ternyata bukan hanya bulat dan bundar melainkan juga berputar.
Realita bumi sebenarnya merupakan realita ekosistem. Bulat, bundar dan berputar bisa disingkat sebagai siklus. Pusaran yang akan kembali, lingkaran yang menetap.
Siklus air dan siklus-siklus lainnya
Dalam kajian upacara tradisional pada masyarakat adat dikenal upacara berdasarkan siklus. Yaitu siklus iklim dan siklus hidup.
Upacara terkait siklus iklim misalnya serangkaian acara terkait dengan musim tanam, musim panen, musim bera atau jeda tanam dan lain-lainnya.
Sementara upacara terkait siklus hidup misalnya acara pernikahan, acara pemakaman/kematian, acara pernikahan, acara kehamilan, acara kelahiran dan seterusnya.
Itulah siklus hidup dan kehidupan yang dirayakan oleh manusia.
Sejatinya apa yang dirayakan itu merupakan cerminan atas siklus air dan siklus biologi, geologi dan kimia yang terjadi dan terus berlangsung didalam lingkungan hidup manusia.
Dalam lingkup siklus ini maka bumi atau dunia akan bergerak terus menerus. Dan tidak ada sisa atau sampah yang dihasilkan oleh gerak atau dinamika di dalam siklus ini.
Apapun yang bersifat alamiah tidak akan lenyap dan menjadi sia-sia. Yang ada adalah perubahan bentuk wujudnya.
Air mempunyai rupa-rupa bentuk. Ada yang cair, ada yang beku dan ada yang berupa uap.
Dengan jumlah yang sama sejak jaman dinosaurus, air akan menjadi malapetaka jika berujud sama dalam.waktu bersamaan.
Siklus air kemudian menjaga hal itu agar air ada yang di angkasa, mengalir atau tergenang di permukaan tanah, membeku pada gunung es dan mengisi kantong air di bawah tanah.
Apa yang tersimpan dalam tanah kemudian menyembul lewat mata air, mengalir membentuk sungai, terkumpul di samudera, menguap dan kemudian turun kembali ke bumi sebagai hujan.
Hujan sebagian akan meresap kembali ke dalam tanah mengisi kantong-kantong air yang memuntahkan simpanan airnya lewat mata air.
Dalam siklus itu air terjaga keberadaannya.
Pun dengan mahkluk hidup yang kemudian mati. Material organik ini akan terurai selain berubah bentuk juga melepaskan bermacam senyawa.
Sebuah kematian akan membawa kehidupan bagi yang lainnya. Dengan demikian hidup adalah kekal.
Mahkluk hidup selalu menimbulkan buangan. Dan buangan itu kemudian dicerna oleh yang lainnya sehingga kembali bisa dimanfaatkan oleh yang membuangnya.
Aktifitas manusia pasti menghasilkan karbon. Karbon kemudian diserap oleh vegetasi baik makro maupun mikro. Hasilnya adalah oksigen yang kemudian akan dihirup kembali oleh manusia.
Mahkluk Penganggu Siklus
Gangguan pada banyak siklus pada saat ini menjadi salah satu masalah terbesar di bumi.
Ada banyak bencana yang ditimbulkan oleh ketidakseimbangan siklus alamiah karena ulah manusia.
Dengan kemampuannya manusia telah banyak menghasilkan produk-produk sintesis. Mengekploitasi material atau senyawa tertentu untuk menghasilkan material atau senyawa baru demi kepentingan manusia semata.
Salah satu yang paling hebat dan merevolusi kehidupan adalah plastik.
Murah, awet, artisitik dan berdaya guna kemudian menjadi masalah. Sebab plastik yang kemudian tidak terpakai dan dibuang sulit terurai. Mahkluk pengurainya juga tidak ada.
Dan ketika terurai dalam bentuk senyawa maupun mikro plastik tidak dikonsumsi oleh mahkluk pengurai. Hingga kemudian tetap menjadi material.atau senyawa yang berbahaya. Senyawa yang mudah masuk ke tubuh manusia entah melalui air atau udara.
Bencana karena siklus terhenti, material yang tak terurai dan jumlah yang berlebih menghasilkan masalah yang disebut pencemaran. Pencemaran tanah, air dan udara.
Gangguan siklus lain yang paling kentara adalah silklus air. Terutama pada tahap peresapan dan penampungan sementara (parkir air).
Ruang tangkapan air dan ruang tampung sementara air sebagian dikonversi untuk penggunaan yang tidak berkesesuaian dengan air.
Banyak lahan selain terbuka tanpa tutupan vegetasi juga dilakukan perkerasan. Akibatnya saat musim hujan air sebagian besar menjadi air permukaan, air larian yang kemudian karena tak ada tempat penampungan sementara berubah jadi bencana banjir.
Gangguan pada siklus air pada akhirnya juga akan berdampak pada gangguan pada siklus iklim. Ditambah dengan aktivitas yang kaya karbon, iklim kemudian dengan cepat berubah.
Suhu memanas, penguapan makin cepat dan hujan menjadi amat deras.
Manusia boleh menghasilkan alat atau perangkat yang membuatnya nyaman. Mesin pendingin, mesin pemanas dan lain sebagainya untuk bersembunyi dari ketidaknyamanan berada di luar ruangan.
Tapi itu hanya akan mengembalikan manusia dalam peradaban gua.
Sebab yang terbaik adalah kesejukan, kesegaran dan kehangatan karena siklus iklim, gas dan udara yang terjaga. Yang bukan hanya untuk kesenangan dan kenikmatan manusia melainkan juga mahkluk hidup lainnya.
Sumber gambar : Guillaume de Germain – unsplash.com








