KESAH.ID – Spektrum profesi menjadi sangat luas sekarang ini dan berkembang jauh dari apa yang dipelajari di sekolah. Sekolah dan kampus selalu akan ketinggalan, oleh karenanya memberi kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa di luar kampus menjadi pilihan agar pendidikan tetap relevan dengan perkembangan jaman.
Eric R. Kandel bersama dengan Arvid Carlsoon dan Paul Greengard pada tahun 2000 menerima penghargaan nobel di bidang fisiologi dan kedokteran atas penemuan transduksi pada sistem syaraf.
Penghargaan ini menjadi menarik terutama dalam kaitan dengan Eric, karena latar belakang pendidikan formalnya adalah literatur dan sejarah.
Antara apa yang dipelajari dan kemudian digeluti hingga diganjar salah satu penghargaan yang bergengsi ini beda jauh. Eric R. Kandel bisa disebut loncat pagar.
Fenomena loncat pagar adalah hal yang biasa, di Indonesia kerap dilakukan oleh para politisi. Pindah-pindah partai untuk mengejar peluang kedudukan. Ada yang berhasil, saat pindah partai kemudian bisa duduk sebagai wakil rakyat atau bisa memenangkan kursi bupati, walikota dan gubernur.
Tapi ada juga yang gagal dan hanya terus menjadi ‘badut politik’ seperti Ruhut ‘Poltal’ Sitompul.
Konteks lompat pagar Eric R. Kandel tentu berbeda dengan gaya bajing loncat para politisi. Bermula dari membaca laporan penelitian ahli neourosains tentang bagaimana ingatan disimpan dalam otak membuat minat Eric terhadap neourosains meningkat.
Berangkat dari pertanyaan bagaimana memori disimpan dalam otak, Eric kemudian menjadi peneliti dalam bidang neourosains dan psikoanalis.
Eric R. Kandel membuktikan hasilnya. Karya penelitian dan temuannya diakui oleh dunia ayng diwakili oleh penghargaan nobel.
Tidak persis sama, namun sama-sama lompat pagar dinyatakan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim. Dalam sebuah dialog dia menyatakan hanya 20 persen lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai dengan prodinya.
Artinya 80 persen atau sebagian besar lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai bidang studi atau disiplin ilmu utama yang dipelajari saat kuliah.
Apa maknanya?. Apakah ini berarti ilmu yang diajarkan di Perguruan Tinggi menjadi percuma atau apa?.
Bicara soal mutu mungkin ada benarnya, realitasnya memang perguruan tinggi selalu tertinggal dibandingkan dengan perkembangan di dunia industri atau dunia kerja.
Namun diluar itu ada fakta yang tidak bisa lagi dikesampingkan yakni tidak ada lagi pekerjaan yang hanya bisa mengandalkan satu jenis keilmuan. Pekerjaan pada saat ini sudah multi atau inter disipliner.
Fakta ini yang kemudian membuat Kementerian Dikbud Ristek meluncurkan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka semenjak dua tahun lalu.
Inti dari program ini adalah membuka peluang bagi mahasiswa untuk mencicipi pembelajaran dan pengalaman di luar program studi utamanya selama masa kuliah di Perguruan Tinggi.
Ibarat pohon, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ingin menghasilkan pohon yang berbatang kokoh dan berdahan rindang.
Mahasiswa yang punya basis keilmuan yang kuat namun juga punya pemahaman yang baik dan terbuka pada ilmu-ilmu lainnya.
BACA JUGA : Mengenang Dan Melepas Kutukan G30S
Ini hanya dugaan saya, apa yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim sebenarnya merupakan upaya untuk membangun perangai atau tabiat ilmiah.
Sekolah atau kampus selama ini lebih menjadi tempat untuk mengejar nilai dan gelar. Prestasi dihitung dari hal itu. Sekolah favorit adalah sekolah-sekolah yang muridnya nilainya bagus-bagus. Perguruan tinggi favorit adalah perguruan yang banyak mencetak sarjana dengan IPK Tinggi, lulus dengan pujian. Sampai-sampai terjadi inflasi cum laude.
Nilai dan gelar mungkin penting, tapi output sekolah atau kampus sebagai tempat pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan mestinya meluluskan orang yang bisa mempertanggungjawabkan sumbangsihnya pada ilmu pengetahuan, bisa apa. Nilai dan gelar adalah bonus.
Sekolah atau kampus sering disebut sebagai kawah candradimuka, tempat mengodok siswa dan mahasiswa agar punya kemampuan berolah fikir. Bukan tempat mereka dicekoki dengan berbagai macam dalil lalu ditanya lagi dalam ujian.
Ujian bukan tempat menanyakan apa yang sudah diajarkan. Melainkan cara untuk mengevaluasi apakah dengan apa yang diajarkan peserta didik bisa mengolah masalah dengan cara yang benar.
Keberhasilan dunia pendidikan adalah memperbesar perangai ilmiah. Menyingkirkan sebesar mungkin kecenderungan cara berpikir yang emosional. Cara pikir arkaik yang dipenuhi oleh tahayul dan berbagai keyakinan lainnya.
Berpikir ilmiah adalah mampu membedakan mana kebenaran ilmiah dan mana ‘kebenaran’ karena keyakinan.
Cara berpikir seperti itu hanya mungkin jika seseorang mempelajari banyak hal ilmiah, menikmati dan menjelajahi bidang keilmuan secara interdisipliner. Menjadi mahkluk yang terbuka pada berbagai macam perspektif keilmuan.
Sayangnya lembaga pendidikan selama ini lebih beroperasi sebagai lembaga moral dan religi ketimbang lembaga ilmu pengetahuan.
Tujuan untuk menghasilkan insan Indonesia yang berperangai ilmiah dikalahkan oleh tujuan yang teramat mulia yakni menghasilkan insan yang berahklak mulia, saleh dan beriman.
Akibatnya kemudian malah teramat sering melakukan hal yang sebaliknya. Andai ada masalah terutama masalah kekerasan termasuk kekerasan seksual dalam lingkungan pendidikan kemudian disembunyikan, diselesaikan secara senyap agar marwahnya sebagai lembaga mulia tidak tercemari.
Padahal andai bertabiat ilmiah, bentuk-bentuk kekerasan pasti tidak akan disembunyikan. Sebab kekerasan bisa terjadi dimanapun dan dilakukan oleh siapapun.
Maka alih-alih ditutupi, kekerasan mestinya justru harus dibuka secara terang benderang agar jalan penyelesaian bisa dicari secara baik dan benar, bukan malah jadi aib.
Bagaimana mungkin seorang peserta didik akan belajar dengan merdeka jika mesti mengabdi pada nilai-nilai yang berada diluar nilai keilmiahan dan intelektualitas?.
Merdeka belajar apalagi kampus merdeka hanya akan menjadi label apabila lembaga pendidikan sebagai ekosistem pendidikan ilmu pengetahuan justru lebih disibukkan dengan urusan yang sama sekali tidak ilmiah.
BACA JUGA : Petani Kaum Yang Tak Merayakan Harinya
Saya bukanlah ahli pendidikan tapi saya meyakini model belajar saat ini sudah berubah. Apa yang dulu diyakini di masa saya sekolah mungkin saja sudah tidak relevan.
Dulu anak yang rajin adalah anak yang sepulang sekolah kemudian membaca dan menghafal kembali pelajaran yang diperoleh di sekolah. Rajin artinya duduk di meja belajar sambil buka-buka buku.
Tapi anak sekolah sekarang lain. Bahan pelajaran tak hanya ada di buku melainkan juga di internet. Jadi tak selamanya untuk menunjukkan rajin atau tidak adalah dengan membuka-mbuka buku.
Lagipula hanya membuka buku dari sekolah bisa jadi malah akan ketinggalan jauh dalam pengetahuan. Ada banyak pengetahuan di luar buku sekolah, banyak hal misalnya bisa dipelajari dari video-video di youtube.
Saya sendiri kerap merasa anak saya tak rajin belajar pelajaran sekolahnya. Namun saya tak mau menuduhnya sebagai anak malas belajar. Karena di dinding lemarinya ada banyak tempelan, kertas-kertas dengan huruf mirip hanacaraka. Usut punya usut ternyata anak saya belajar sendiri bahasa Thailand.
Memang sekali waktu dia pernah bilang ingin kuliah di Thailand, mempelajari pertanian.
Lain waktu anak saya begitu khusyuk berdiam di depan cermin, mengoprek-oprek wajahnya dengan berbagai serbuk dan cairan. Rupanya dia belajar makeup artist {MUA}. Hasilnya ada seorang temannya ketika kakaknya menikah, dia tak mau dirias oleh perias yang disewa kakaknya. Dia hanya mau kalau dirias oleh anak saya.
Sekarang anak saya sudah kelas 2 SMA dan belum punya pilihan jelas ingin kuliah dimana. Beberapa kali dia bilang ingin mempelajari desain komunikasi visual. Lalu dia juga ingin kuliah di ISI, Yogyakarta.
Saya tanya ISI jurusan apa?. Dia menjawab film.
Lah, beda lagi.
Lalu saya tanya lagi “Katanya ingin kuliah di Thailand?”
Dia menjawab “Nanti S2 nya”
Waduh, dari belajar film lalu meneruskan paska sarjana pertanian.
Ah, sudahlah, suka-suka dia saja.
Toh, tiba-tiba suatu malam dia mengatakan ingin kuliah filsafat.
Dalam hati saya membatin “Kalau mau belajar filsafat sebenarnya tak perlu kuliah, baca-baca saja lalu diskusi. Maksudnya diskusi dengan saya,”
Di dalam perspektif saya sebagai orang lama barangkali kelakuan anak saya masuk dalam kategori plin-plan. Mau ini dan mau itu.
Tapi sebagai orang tua saya mesti menepis kekhawatiran itu. Buat saya yang penting dia mau belajar, tertarik untuk mempelajari sesuatu. Bahwa sesuatu itu bisa jadi bukan yang saya atau kebanyakan orang tua sukai itu persoalan lain.
Tugas saya sebagai orang tua adalah memberi kebebasan sebesar mungkin untuk anak saya agar dia merasa bebas untuk belajar apapun. Kalaupun ada larangan, maka satu-satunya larangan dari saya adalah larangan belajar untuk melakukan kejahatan.
Jadi Mas Menteri, saya setuju soal merdeka belajar juga kampus merdeka. Namun saya lebih setuju lagi jika ayng mesti belajar adalah kita para orang tua dan para pendidik agar memerdekakan diri dari keinginan untuk membentuk anak dan peserta didik menjadi apa yang kita inginkan.
note : sumber gambar – INDONESIANA.ID








