KESAH.ID – Meski lebih banyak mengecewakannya, masyarakat Indonesia tetap setia mendukung dan antusias dengan sepakbola. Adu panas, adu jotos supporter bisa dibilang hal biasa. Tapi ratusan orang kehilangan nyawa karena salah urus dalam mengelola emosi penonton jelas tak bisa diterima begitu saja.

Tak ada yang paling dikenal dan digemari anak-anak Indonesia selain sepakbola. Sekurangnya di jaman saya kecil dulu.

Yang bermain bola bukan hanya bocah lelaki tapi juga anak perempuan.

Waktu saya SD, bermain dengan bola kulit sangat istimewa. Yang punya hanya sekolahan.

Di rumah, kami hanya memainkan bola plastik, yang mudah robek dan peyot jika kami gasakan. Tapi bola yang robek tetap kami pertahankan, biar lebih berat dan kuat kemudian kami isi dengan jerami, terkadang juga klaras, daun pisang kering.

Kalau saya dan teman sekawanan tak cukup banyak untuk memainkan bola maka kami akan ngluruk, pergi ke kampung tetangga mengajak anak-anak disana main bersama.

Tidak selalu akur, sesekali kami akan berkelahi ditengah lapangan atau berebut karena sudah ada yang lebih dahulu main di lapangan.

Seingat saya setiap kali liburan di rumah kakek, anak-anak teman sepermainan saya yang tinggal di sebelah selatan rel kereta api tak akur dengan anak-anak yang tinggal di sebelah utara rel kereta api.

Kami sering lempar-lemparan batu untuk berebut lapangan sepakbola yang berada tak jauh dari rel kereta api. Lemparan-lemparan batu karena banyak batu di jalur kereta api, batuan kerikil untuk menahan rel tetap kuat menapak diatas tanah.

Lemparan-lemparan baru akan berhenti setelah ada yang memar atau benjut terkena hantaman batu.

Jaman itu belum banyak yang punya televisi. Sumber informasi yang paling umum adalah radio. Mendengarkan siaran pertandingan sepakbola lewat radio justru terasa mengasyikkan. Radio dikerumuni seperti yang sering ditunjukkan dalam film-film revolusi.

Selain Piala Suratin, saya tahu ada kompetisi sepakbola besar lainnya yakni PSSI Perserikatan dan Galatama. Piala perserikatan diikuti oleh klub-klub yang mewakili daerah seperti  Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Yogyakarta, PSM Madiun, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persipura Jayapura, Perseman Manokwari, PSIS Semarang, Persis Solo, PSM Medan dan lain-lain.

Iswadi Idris,  Roni Pasla, Roni Patinasarany, Rulli Nere, Adolf Kabo, Poniman, Yonas Sawor, Simson Rumah Pasal, Ajat Sudrajat dan lain-lain adalah pemain ternama pada masa itu.

Berbeda dengan Kejuaraan Nasional Perserikatan, Kompetisi Galatama atau Liga Sepakbola Utama merupakan kompetisi semi profesional. Diselenggarakan sejak tahun 1979 dan memperbolehkan keikutsertaan pemain asing.

Kompetisi ini diikuti antara lain oleh Arseto FC, Buana Putra, Indonesia Muda, Jayakarta, Tunas Inti, Warna Agung, Pardedetex, Jaka Utama, Perkesa 78, Sari Bumi Raya, Tidar Sakti dan Niac Mitra.

Pemain yang terkenal dari kompetisi ini antara lain Fandy Ahmad, David Lee, Bambang Nurdiansyah, Zulkarnaen Lubis, Ricky Jacobi, Wayan Diana dan lain-lain.

Tahun 1994, Kejurnas Perserikatan dan Galatama kemudian digabungkan menjadi satu menjadi kompetisi Liga Utama.

BACA JUGA : Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Setelah tamat SMA saya jarang bermain bola, tapi mulai menyukai nonton pertandingan sepakbola di televisi. Kebetulan di awal tahun 90-an monopoli siaran televisi oleh TVRI berakhir. Mulai ada siaran televisi swasta yang menyiarkan liga luar negeri.

Masa itu yang sangat terkenal adalah Liga Italia, terutama tapiAC Milan yang diperkuat oleh trio asal Belanda yakni Ruud Gullit, Van Basten dan Frank Rijhaard.

Dan setelah Maradona, pemain Argentina yang kemudian ternama di Italia waktu itu adalah Gabriel Omar Batistuta.

Italia pada masa itu punya banyak pemain-pemain hebat di klub-klubnya.

Nanti ketika Arsenal diperkuat oleh Dennis Berkamp, Robin Van Persie dan juga Cesc Fabregas, saya menyukai liga Inggris, walau Arsenal jarang menjadi juara liga.

Namun ketika Barcelona mulai bersinar bersama Messi, saya kemudian  hanya merasa wajib menonton Liga Spanyol kalau yang bertanding adalah Barcelona.

Setelah Messi pergi, saya masih menyukai Spanyol. Bukan pemain bolanya tapi para pembalapnya di Motor GP.

Liga Indonesia?. Terus terang saya tidak menonton lagi. Beberapa kali saya sempat menyaksikan pertandingan langsung di Stadion tapi karena diajak teman. Di Manado, saya pernah menonton Persma bertanding di Stadion Klabat.

Di Samarinda saya lupa, namun saya pernah menonton di Stadion Segiri. Dan kalau tidak salah saya juga pernah menyaksikan pertandingan antara Persema Malang dengan Mitra Kukar di GOR Ajib Imbut, Tenggarong Seberang.

Entah kenapa saya tak terlalu suka menonton pertandingan klub-klub sepakbola tanah air, bahkan ketika diperkuat oleh pemain luar negeri sekalipun.

Pertandingannya terasa kurang menarik, pergerakan pemainnya seperti gerombolan mengerubuti bola, bergerombol kesana kemari. Pemainnya kelihat sungguh-sungguh ketika menganjal dan menjatuhkan lawan, bukan merebut bola.

Sebagai olahraga yang paling besar pengemarnya, prestasi sepakbola nasional memang memprihatinkan. Bukan hanya klub dan pemainnya melainkan juga organisasi sepakbolanya.

Sebelum banyak mafia lain disebut keberadaan, mafia bolalah yang lebih dahulu terkenal.

Bayangkan dengan banyak negara tetangga yang penduduknya jauh lebih sedikit, tim sepakbola kita terus dipecundangi. Kita bahkan tidak bisa menjadi raja sepakbola Asean, apalagi Asian.

Padahal dulu anak presiden Suharto yakni SIgit Harjojudanto pernah ikut serius mengurusi sepakbola. Sebagai salah satu Ketua PSSI, Sigit memprakarsai proyek mercusuar PSSI Garuda dengan mendatangkan pelatih dari Brasil Joao Lacerda Filho atau lebih dikenal dengan nama Barbatana untuk melatih squad muda.

Setelah itu PSSI berkali-kali melanjutkan proyek mercusuar lainnya untuk pemain muda seperti Primavera dan Bareti yang dibina di Italia. Dan tahun 2000-an masih ada proyek serupa yang dinamai Sociedad Anonima Deportiva atau SAD. Pemain muda dikirimkan untuk berlatih di Uruguay.

Tapi pada akhirnya proyek-proyek pemain muda di luar negeri hanya menyisakan sedikit pemain di level senior. Sebagian besar lainnya hilang bak ditelan bumi setelah pulang dari pembinaan di luar negeri.

Meski banyak mengecewakan namun pengemar sepakbola di Indonesia tetap banyak. Klub-klub bola juga tak kurang supporter atau fans fanatiknya.

Saya tidak terlalu paham soal ini, tapi saya tahu pengemar fanatik semacam boneks Surabaya ada di mana-mana.

Akhir tahun lalu saya sempat menyaksikan bagaimana gairah supporter PSIM Yogyakarta merayakan kemenangan klub pujaan hatinya. Mereka berkeliling di sepanjang Jalan Mangkubumi menaiki motor dengan membawa bendera dan panji-panji. Sepanjang jalanan terus berteriak sambil mengeber motornya, seperti tak kenal lelah hingga melewati tengah malam.

Siapapun akan bergidik menyaksikan mereka bertemu dan bermanuver mengelilingi Tugu Mangkubumi.

Konon supporter PSIM Yogyakatta ini doyan berkelahi meskipun dengan tetangga sendiri, seperti supporter PSS Sleman dan Persis Solo.

BACA JUGA : Mengenang Dan Melepas Kutukan G30S

Pertandingan bola apalagi dengan klub daerah tetangga selalu punya tensi lebih tinggi. Tetangga selalu dianggap musuh bebuyutan. Resiko terjadinya kericuhan atau bentrok antar supporter selalu terbuka karena supporter tim tamu ikut datang menyaksikan.

Maka pertandingan biasanya tidak dilaksanakan pada malam hari agar petugas keamanan bisa lebih efektif dalam mencegah terjadinya kericuhan massal. Hal itu juga disadari oleh panitia pelaksana pertandingan antara Arema FC dan Persebaya, Sabtu, 02/10/2022 lalu.

Namun pihak pelaksana kompetisi yakni PT. Liga Indonesia Baru menolak usulan pergeseran waktu pertandingan ke sore hari. Pertandingan tetap digelar malam hari. Patut diduga penolakan ini berkaitan dengan jam tayang pertandingan di televisi. Pihak televisi tidak mau mengeser jam siaran, karena akan berdampak pada rating dan juga urusan dengan pihak sponsor.

Panitia harus mencari jalan lain untuk mengurangi resiko dengan cara melarang kedatangan supporter Persebaya, panitia tidak menyediakan tempat untuk supporter tim tamu.

Stadionpun dipenuhi oleh pendukung Arema FC, diluar stadion yang tidak bisa masuk juga banyak, jumlahnya ribuan.

Secara umum pertandingan berjalan baik, tidak ada provokasi dari pemain yang memancing emosi penonton. Kepemimpinan wasit juga tak memancing kekecewaan dari penonton. Namun penonton kecewa ketika Arema FC kalah diakhir pertandingan. Tanda-tanda kekecewaan dimulai dengan beberapa lemparan kearah pemain. Pemain Arema FC sendiri.

Melihat gelagat yang tidak baik, pemain Persebaya tahu diri dengan tidak melakukan selebrasi. Pemain bergegas menuju ruang ganti.

Sementara pemain Arema FC tetap duduk di lapangan dan mencoba menenangkan pendukungnya dengan gesture memohon maaf. Penonton mulai masuk lapangan. Mulailah petaka.

Polisi mengira masuknya penonton ke lapangan sebagai tindakan anarkis. Mereka yang berusaha masuk dihardik, diusir bahkan ada yang dipukuli. Penonton lainnya yang berada di tribun menyaksikan ulah polisi pada supporter. Emosi sebagian supporter meledak, ada teriakan-teriakan ‘Sambo’.

Untuk mengendalikan penonton polisi menembakkan gas air mata. Penonton yang masih belum beranjak dari dalam stadion sebagian panik. Sebagian lagi makin marah dan mulai merusak apa yang bisa dirusak.

Yang panik segera berlari ke pintu keluar, berdesak-desakkan. Gas air mata membuat banyak supporter sesak nafas. Desak-desakan dan sesak nafas membuat banyak orang lemas, jatuh dan kemudian terinjak-injak.

Korban berjatuhan. Hari Minggu diidentifikasi lebih dari 170 orang kehilangan nyawa.

Sepakbola Indonesia kemudian menjadi berita besar dunia. Bukan karena prestasi tapi karena korban nyawa dalam sebuah pertandingan. Bukan karena perkelahian antar supporter melainkan kepanikan karena petugas keamanan salah dalam menghadapi tensi penonton yang kecewa pada kekalahan klub pujaannya sendiri.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, mencatat rekor tersendiri. Rekor terburuk dalam kematian akibat pertandingan sepakbola. Setelah tragedi serupa lebih dari 50 tahun lalu di Estadio Nacional, Lima, Peru. Tragedi yang menelan korban 326 penonton pertandingan antara Peru dan Argentina. Penonton yang ricuh dihalau polisi namun ternyata pintu stadion tidak dibuka sehingga terjadi desak-desakkan, banyak yang meninggal karena terinjak-injak.

Manajemen keamanan dalam pertandingan sepakbola mesti dibenahi. Persoalannya sudah sangat parah karena mereka yang seharusnya mengendalikan keamanan justru menjadi sumber masalahnya.

Pekerjaan rumah dunia sepakbola Indonesia semakin menumpuk dan berat. Sayangnya upaya untuk mengurai benang kusut itu selalu dikerjakan oleh kelompok atau segelintir orang yang sama. Biar direformasi tetap saja yang muncul loe-loe lagi.

Tak bisa berprestasi tinggi mungkin masih mudah untuk dimaklumi, namun menimbulkan petaka dan nestapa tentu tak bisa dimaafkan begitu saja. Harus ada yang mempertanggunjawabkan kejadian ini dan menanggung kesalahan atasnya.

Jangan mencuci tangan, lari dari tanggungjawab dengan mengatakan “Ini adalah kesalahan kita bersama,”.

note : sumber gambar – DIALOGRAKYAT.COM