KESAH.ID – Gula jelas diperlukan untuk metabolisme tubuh karena menghasilkan energi yang diperlukan oleh sebagian sel serta organ agar bekerja dengan normal. Namun karena efek kesenangan, mood yang baik, gula berpotensi untuk menimbulkan kecanduan sehingga konsumsinya berlebih. Sebagai sesuatu yang baik, efek gula buruk jika kadarnya dalam tubuh berlebihan.

“Eh, itu om Petu pe gula-gula kang!”

Gula-gula?.

Akhirnya saya tahu yang dimaksudkan dengan gula-gula oleh orang Manado itu selingkuhan. Barangkali kebanyakan selingkuhan lebih manis dari istri sahnya sehingga disebut gula-gula.

Gula-gula secara umum dikenal sebagai nama lain dari permen. Sesuatu yang sangat digemari oleh kebanyakan kita sedari bocah.

Untuk anak laki-laki pada umumnya, kegemaran pada gula-gula itu berlanjut, mengemari yang manis-manis termasuk perempuan manis.

Lagi-lagi, orang Manado kemudian dengan sangat tepat menyebut laki-laki yang begitu berhasrat pada perempuan yang bukan pasangannya sebagai laki-laki maniso.

Ah, yang manis memang selalu menarik hati.

Laki-laki yang sudah beristri kemudian beristri lagi, maka istri kedua {ketiga dan seterusnya} akan disebut madu.

Madu umumnya manis, walau ada juga yang asam dan pahit.

Hanya menyebut laki-laki sebagai yang suka manis-manis jelas merupakan toxic conversation. Faktanya semua orang baik itu laki-laki, perempuan, setengah laki-laki, setengah perempuan dan lainnya semua gemar yang manis-manis.

Yang terpapar ngidam manis bukan hanya perempuan hamil atau tengah menstruasi. Semua orang bisa saja keranjingan dan kecanduan yang manis-manis.

Tak heran jika kemudian es teh yang tentu saja manis menjadi minuman nomor dua yang paling banyak dikonsumsi setelah air putih.

Tetapi saat ada seseorang menyebut kandungan gula dalam es teh berjibun, perusahaan es teh ternama di Indonesia kemudian marah dan mensomasinya.

Padahal betul kan kalau es teh memang manis minta ampun. Dan karenanya jadi laku.

Coba saja jualan es teh tawar, pasti nda lama kemudian akan bangkrut. Jangankah harus membayar, dibagi gratis saja banyak yang tak akan sudi walau warga negeri ini pengemar yang serba gratisan.

Kan barang yang laku akan disebut dengan laris manis. Jadi ngapain malu-malu mengakui kalau yang kita jual itu manis, manis sekali.

Toh, nggak ada salahnya kan kalau kita menjual yang manis-manis.

Kesukaan pada yang manis secara biologis memang bawaan, para ahli neorusains bisa menerangkannya dengan sangat baik.

Dan kesukaan pada yang manis itu kemudian menjadi candu karena secara sosiologis yang manis-manis selalu ditawarkan untuk mengatasi masalah, mempererat persaudaraan dan merayakan segala sesuatu yang patut untuk dirayakan.

BACA JUGA : Sepakbola Indonesia, Besar Petaka Dari Prestasi 

Tubuh memerlukan energi untuk membuat sel dan organnya bekerja serta bekerja sama. Kerjasama yang membuat manusia bisa beraktivitas dan berpikir.

Salah satu sumber dari energi atau bahan bakar utama bagi tubuh adalah gula.

Gula sendiri merupakan struktur paling sederhana dari karbohidrat berbentuk monosakarida. Gula bisa diperoleh dari tumbuhan, mulai dari sayuran, buah-buah, biji-bijian, tepung dan lainnya. Gula juga ada produk olahan dari susu.

Pada tumbuhan, gula dihasilkan dalam proses fotosintesis, dimana oksigen dilepaskan namun gula tetap disimpan dalam keseluruhan jaringan tumbuhan.

Dalam tubuh manusia asupan gula akan dioleh lewat tiga cara yakni : lewat enzim pada saluran pencernaan, hormon insulin dan hormon glikogen. Ketiganya bekerja sama untuk mengkonversi gula menjadi energi bagi hampir seluruh sel tubuh.

Dalam tubuh gula juga bisa disimpan sebagai cadangan energi. Sehingga manusia tidak perlu makan terus menerus.

Cadangan itu disebut dengan glikogenesis. Cadangan energi ini memungkinkan manusia beraktifitas cukup lama tanpa makan. Atau beristirahat dengan tidur sangat nyenyak ketika sudah kenyang.

Rasa bahagia sesungguhnya bersifat biologis. Mood baik berupa rasa senang, tenang dan nyaman juga bisa dihasilkan oleh gula.

Konsumsi gula dalam tubuh akan mengaktifkan pusat kesenangan dalam otak. Aktivasi itu akan menghasilkan aliran dopamin yang menghasilkan euforia secara langsung.

Selain menghasilkan kesenangan, konsumsi gula juga mampu meningkatkan kemampuan berpikir. Konon gula mampu melindungi sel otak dari kerusakan dan menciptakan koneksi yang baik antar sel dalam otak sehingga kemampuan kognitifnya menjadi efektif. Otak bekerja secara normal.

Konsumsi gula alami atau yang terdapat dalam produk susu, buah-buahan dan sayuran juga akan memberi nutrisi tambahan bagi tubuh. Sumber-sumber gula alami itu mempunyai kandungan lain seperti serat, antioksidan, vitamin, mineral dan hidrasi. Sumber-sumber nutrisi sehat.

Semua fakta diatas menunjukkan bahwa manusia tidak akan bertahan hidup tanpa gula. Hanya saja meski gula itu sangat penting namun sesuatu yang penting juga bisa mempunyai dampak buruk.

Ada deretan dampak buruk yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan. Jadi benar kata orang bijaksana, segala sesuatu yang menyenangkan tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Karena lebih berarti celaka.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 disebutkan konsumsi gula lebih dari 50 gram akan menimbulkan resiko hipertensi, stroke, diabetes, obesitas, dan serangan jantung.

Maka menjadi penting untuk membatasi konsumsi gula dalam berbagai bentuk. Bukan hanya sesuatu yang berbentuk butiran, cairan atau bongkahan gula saja, melainkan juga mesti menghitung gula yang ada dalam nasi, sayur, buah-buah dan berbagai jenis minuman lainnya.

Masalah yang manis-manis itu memang selalu menyenangkan dan kita semua suka. Terpesona oleh rasa dan tampilannya kemudian bisa membuat kita abai pada bahaya dibaliknya.

BACA JUGA : Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Kita memang rentan kecanduan gula, sebuah rasa yang ingin terus untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis demi kepuasan lidah.

Ngidam atau kecanduan gula bermula dari respon otak saat tubuh kita memperoleh asupan makanan manis. Begitu masuk ke dalam tubuh, gula langsung memicu hormone serotonim dan endorfin. Kedua hormone ini memiliki efek imbal balik yang membuat diri kita merasa tenang dan senang.

Itulah yang menerangkan kenapa sejak anak-anak, kita suka makan dan minum es krim, cokelat, bubble tea, sirup, es teler dan lain-lain.

Ingat tidak sewaktu kecil dulu. Kalau rewel kita sering dibujuk-bujuk dengan permen atau gula-gula.

Terbiasa memperoleh kesenangan secara instan lama kelamaan otak menginginkan gula dalam jumlah yang lebih banyak. Tubuh kita menjadi kecanduan.

Resiko kencanduan memang besar karena makanan yang manis akan menurunkan fungsi hormon yang semestinya mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Akibatnya kita seperti belum kenyang atau cepat merasa lapar dan ingin lebih banyak makan makanan manis.

Suka es teh, cokelat dan es krim tentu saja tidak masalah, juga tak berbahaya. Yang berbahaya adalah mengkonsumsi secara berlebihan.

Yang harus menjadi fokus bukan hanya rasa manisnya namun juga kadarnya. Dalam banyak makanan dan minuman kadar manisnya kerap berlebihan. Seperti es teler kandungannya gula semua. Mulai dari buah-buahan, ditambah gula cair, coklat cair dan kental manis. Kadar gulanya menjadi sangat tinggi dalam setiap gelasnya.

Hati-hati juga dengan es teh manis, terutama yang banyak es batunya. Es teh yang separuh takarannya es batu butuh banyak gula agar manisnya menggigit.

Sayangnya kita terbiasa menumpuk gula lewat kebiasaan makan kita, makan yang menyenangkan karena kita anggap sebagai bagian dari healing. Seperti ketika makan bakso, cireng, cilok, pasta dan roti lalu kemudian minum es teh, es teler, soda gembira dan es-es syrup lainnya. Mulut puas, hati senang namun gula bertumpuk dalam tubuh.

Dalam kemasan makanan dan minuman pabrik memang ada kewajiban untuk mencantumkan komposisi dalam lebelnya. Namun kerap kali labelnya berusaha menyamarkan kandungan gula secara keseluruhan dengan memakai nama lain seperti corn syrup, dektrosa, fruktosa, glukosa, laktosa dan lain-lain. Ingat itu semua adalah gula.

Dibanding dengan kecanduan hal lain seperti narkoba, minuman keras, seks dan lain-lain. Kecanduan gula lebih bisa diterima oleh masyarakat. Makanya menjadi sulit untuk dihindari, karena dalam masyarakat ada kebiasaan untuk menyukai gula, mulai dari model pengasuhan sampai perayaan-perayaan publik selalu dihiasai oleh gula.

Anak ngambek diberi permen. Kalau cuaca panas, semua akan berujar “Enak nih, minum yang dingin dan manis-manis,”. Dan dalam semua perayaan mulai dari ulang tahun, pernikahan, kelulusan, naik pangkat dan lainnya, selalu disajikan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Jaman kita, dunia yang berlari semakin cepat karena banyak terjadi disrupsi menuntut manusia, warga dunia untuk menyesuaikan diri. Kompetisi menjadi sangat kuat, kolaborasi terbaik harus dicari dan semua menuntut bukan hanya energi namun juga memberi tekanan.

Banyak orang kemudian menjadi kurang tidur dan stress berkepanjangan karena ingin memperoleh dan memberi sumbangsih yang terbaik. Kondisi ini membuat tubuh mengeluarkan hormon kortisol, hormone yang meningkatkan keinginan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis.

Kelebihan kadar gula dalam tubuh telah menjadi salah satu dari penyebab kematian tertinggi di dunia. Setiap satu detik ada satu kematian olehnya, jutaan orang di dunia meninggal setiap tahunnya.

Jadi jangan anggap enteng yang manis-manis meski menyenangkan.

Riset menunjukkan bahwa mereka yang bisa menahan diri dalam jangka waktu tertentu untuk tidak makan dan minum yang manis-manis akan mempunyai kemampuan mengontrol konsumsi gula. Salah satu kebiasaan lain yang baik adalah puasa, misalnya puasa Senin dan Kamis.

Saya sendiri walau tak sengaja mulai bisa menghindari konsumsi gula secara berlebihan saat mulai mengemari KTG {kopi tanpa gula}. Awalnya gaya-gayaan saja, namun lama kelamaan minum kopi tanpa gula membuat saya bisa merasakan kekayaan rasa dan aroma kopi.

Faktor lain yang menguntungkan adalah es. Dulu ketika gigi saya belum rontok semua, mengkonsumsi es sungguh menyiksa. Gigi kerap nyeri, sehingga kalau tidak terpaksa saya jarang sekali minum es.

Dikenal oleh teman-teman sebagai penyuka kopi tanpa gula dan tidak terlalu doyan es, membuat saya sedikit terhindar dari bujukan sosial menyukai yang manis-manis.

Walau begitu saya tidak pernah merasa bahwa gula tidak baik untuk tubuh. Gula tetap perlu dan bermanfaat untuk metabolisme tubuh. Namun gula tak hanya bisa diperoleh dari segala minuman atau camilan yang manis-manis.

Konsumsi gula dalam tubuh bisa dipenuhi oleh gula alami, gula yang ada dalam karbohidrat, sayuran dan buah-buahan.

Sesekali saya masih menikmati minum teh manis. Saat jalan-jalan sore, setelah tubuh berkeringat turun dan naik perbukitan. Kadang-kadang saya juga minum es teh manis. Bukan hanya manis sih, tapi manis sekali.

Makanya saya setuju ketika ada yang mengeluhkan tingkat kemanisan es teh lewat cuitannya. Saya setuju karena manis yang kelewatan memang berbahaya. Berbahaya terutama untuk mereka yang masih ingin mengabdi untuk nusa, bangsa, agama dan orang tua.

note : sumber gambar – HERSTORY.COM