KESAH.ID – Narasi komunisme masih jadi cerita hantu favorit untuk generasi sebelum tahun 2000-an. Memang sulit untuk menulis kisah sejarah tentang G30S yang sebenar-benarnya. Soal sebab mungkin sulit diurai, namun tentang akibat mestinya tak lagi kita pelihara sebagai sebuah kutukan sejarah.

Sejarah ditulis oleh pemenang, begitu aforisme umum yang diterima dalam dunia historiografi. Entahlah, ini sinisme atau skeptisme terhadap kenyataan sejarah yang memang sulit untuk menjadi obyektif terutama jika berurusan dengan politik dalam arti seluas-luasnya.

Jika dikaji, beberapa catatan sejarah memang kerap memberi kesan tidak faktual, apa yang dituliskan tak lebih dari pemaksaan sudut pandang pemenang atas sebuah peristiwa. Dalam banyak kasus memang benar adanya, walau nanti sebagian akan terbongkar sebagai tidak benar.

Sejarah dalam versi pemenang selalu akan mempunyai tandingan, ada narasi alternatif yang mungkin saja mempunyai bukti tentang fakta-fakta sejarah yang coba ditutupi atau bahkan dihilangkan.

Narasi alternatif ini biasanya dipunyai oleh mereka yang tersingkirkan, kalah atau ditulis oleh mereka yang dianggap bukan sebagai pencatat atau saksi sejarah yang sah. Beberapa diantaranya bahkan merupakan narasi yang sengaja disembunyikan karena berbagai alasan.

Ada pepatah yang mengatakan bangkai yang disembunyikan lama-lama akan tercium baunya. Pun demikian dengan rekayasa sejarah.

Tidak selamanya yang menjadi pemenang akan terus berkuasa, berjaya tanpa lawan. Meski tak bisa dipastikan kapan, namun waktu tak pernah mengijinkan pemenang akan menjadi penguasa selamanya.

Dan ketika sang pemenang melemah, sejarah kemudian kerap menemukan keseimbangannya. Apa yang selama ini tersembunyi, dinarasikan bisik-bisik, berada dalam ruang sunyi akan muncul ke permukaan.

Sejarah akan terkoreksi, semakin dilengkapi dan makin utuh. Bahkan apa yang dulu dinarasikan, didokumentasikan oleh mereka yang kalah, bisa jadi akan berkembang menjadi sejarah arus utama.

Aforisme sejarah di Indonesia yang paling nyata adalah sejarah seputar peralihan orde lama ke orde baru. Sejarah resminya ditulis oleh pemerintah dengan babon yang berasal dari Pusat Sejarah ABRI.

Brigadir Jenderal {Purn} Prof. Dr. Rajin Panji Nugroho Notosusanto merupakan salah satu penulis utamanya. Nugroho Notosusanto mulai menjadi penulis sejarah revolusi dan berbagai peristiwa lainnya semenjak Abdul Haris Nasution memimpin TNI.

Kelak apa yang dituliskan oleh Nugroho Notosusanto dan Pusat Sejarah ABRI bahkan menjadi pelajaran sejarah tersendiri di sekolah. Saat dirinya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dalam kurikulum ada mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa {PSPB}.

Semenjak orde lama, Nugroho Notosusanto sudah sangat khawatir dengan wacana sejarah yang dinarasikan oleh Partai Komunis Indonesia. Nugroho dikenal sangat anti komunis.

Paska G30 S meletus, Nugroho dengan timnya bergerak cepat segera menyusun narasi yang diberi tajuk 40 hari kegagalan G30S 1 Oktober – 10 November. Sebuah catatan yang sangat berbau propaganda Angkatan Darat.

Hasil kerja Nugroho tentu saja klop dengan Suharto. Dan kelak ketika Suharto mulai mendapat kekuasaan, Nugroho Notosusanto kemudian mendapat kedudukan sebagai Sejarawan Orde Baru.

Masih menempatkan Angkatan Darat sebagai pasukan heroik namun nuansanya penuh pujian kepada Suharto sebagai pemimpin yang menyelamatkan bangsa dari penyelewengan orde lama.

Atas penulisan Sejarah Nasional Indonesia, sampai saat ini pengaruh Nugroho Notosusanto masih sangat kuat.

Sampai sekarang kebanyakan orang menyakini bahwa penumpas PKI adalah Suharto. Mungkin bukan semata karena catatan sejarah yang dikerjakan oleh Nugroho Notosusanto dan timnya, melainkan juga propaganda lain dalam berbagai film, termasuk film Pengkhianatan G30S PKI karya Arifin C. Noer.

Film yang dihasilkan lewat riset panjang oleh Arifin C. Noer ini tak mungkin bisa menghindarkan diri dari tafsir pesanan orde baru. Saat itu Arifin tak mungkin mendapat narasi tanding, karena mereka yang dianggap dekat dan tahu seluk beluk hubungan antara PKI dan Sukarno enggan bicara.

Menyaksikan film itu, umumnya orang kemudian akan maklum atas perlakukan orde baru pada PKI. Perlakuan yang sama kejamnya dengan kelakuan PKI yang diimajinasikan oleh Arifin C. Noer dalam filmnya.

BACA JUGA : Petani Kaum Yang Tak Merayakan Harinya

Kisah tentang G30S kemudian menjadi kisah sumir ketika kekuasaan orde lama mulai melemah. Orde yang dibangun dengan kebencian pada komunisme itu mulai menunjukkan gelagat yang sama sebagaimana gelagat yang dituduhkan terhadap elemen komunis “menghalalkan segala cara”.

Secara mainstreams G30S digambarkan oleh orde baru sebagai upaya untuk merebut kekuasaan, sebuah kudeta namun berhasil dilayukan sebelum berkembang bukan hanya oleh Angkatan Darat melainkan juga kekuatan elemen laskar rakyat.

Sementara narasi alternatif yang berkembang kemudian memandang G30S merupakan sebuah skenario canggih untuk merebut kekuasaan dengan menempatkan PKI sebagai kambing hitam.

Dua arus utama ini yang kemudian saling bertempur dan sampai sekarang belum bisa mencapai keseimbangan. Mana yang sebenarnya, apakah salah satunya atau bahkan kedua-duanya tidak benar.

Dalam konteks politik ini mungkin akan sulit untuk menemukan fakta yang sebenarnya. Terlalu banyak kepentingan yang berkelindan juga tafsir atasnya.

Namun fakta yang tak bisa dihindarkan adalah adanya pembunuhan terhadap para Jenderal dan pembunuhan lain yang salah sasaran.

Dan kemudian ada penumpasan yang dilakukan lewat serangkaian pembunuhan massal yang brutal. Mereka yang terindikasi sebagai PKI kemudian juga ‘dinista’ selama orde baru bahkan keturunannya ikut menanggung bebannya.

Tindakan yang dinamakan sebagai G30S itu yang layu sebelum berkembang kemudian menjadi justifikasi bagi regim orde baru untuk memenjarakan orang tanpa peradilan, mendiskriminasi dan membatasi hak sipil serta politik warganya.

PKI selama masa pemerintahan orde baru dipersangkakan. Dalam benak warga negara Indonesia selalu ditanamkan gambaran andai PKI sampai berkuasa, apa jadinya Indonesia. Dan semua menyangka akan kelam dan kejam.

Dengan keterbatasan informasi dan komunikasi, imajinasi tentang kekejaman komunisme andai berkuasa menjadi semakin menyakinkan lewat berita-berita yang hanya punya saluran tunggal versi pemerintah yakni RRI dan TVRI tentang sepak terjang partai komunis di Uni Soviet, Eropa Timur, Kamboja, Vietnam, Korea Utara dan China.

Padahal senyatanya yang kejam seperti itu bukan hanya partai komunis, partai-partai lain yang berkuasa di negeri demokratik sekalipun juga tidak kalah kejamnya.

Peristiwa G30S kemudian menjadi cacat sejarah dan luka batin Indonesia. Sebabnya tidak bisa benar-benar diurai namun akibatnya sungguh masih terasa sampai sekarang.

Gus Dur berupaya menyembuhkan luka itu.

Dalam berbagai kesempatan ketika masih menjadi Ketua PB NU, Gus Dur tak menampik bahwa banyak warga NU terlibat dalam pembantaian terduga simpatisan PKI.

Dan ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Gus Dur menyampaikan permintaan maaf yang disiarkan melalui TVRI. Di tahun 1999 itu pada pidato peringatan Hari HAM Internasional, Gus Dur juga menyampaikan pesan kepada para eksil yang tidak bisa pulang ke Indonesia paska G30S untuk kembali ke Indonesia. Dia juga menyerukan kepada para menteri untuk memulihkan hak-hak sipil dan politik kepada tahanan politik di pengasingan.

Langkah Gus Dur tidak berhenti sampai disitu. Tap MPRS No. XXV/1966 mengatur tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme; kemudian juga dicabut pemberlakuannya oleh Gus Dur.

Walau begitu semua yang berbau PKI, Komunisme, Lenisme, Marxisme dan juga sosialisme terus menjadi hantu. Dalam kesempatan tertentu selalu dimunculkan terutama oleh unsur-unsur Tentara Nasional Indonesia.

Paska kemerdekaan, perang yang dihadapi oleh Tentara Nasional Indonesia memang perang ideologi. Dan musuh utama yang dipilih adalah komunisme.

Angin segar rekonsiliasi terkait akibat dari G30S di kalangan TNI kemudian muncul dalam rapat koordinasi penerimaan TNI tahun 2022. Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa memperbolehkan keturunan PKI untuk mengikuti seleksi prajurit TNI.

BACA JUGA : Jalanan Yang Tak Menghormati Pejalan Kaki 

Terus terang saya tidak tahu bagaimana episode G30S ini akan berakhir dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia. Hanya saja ketika belajar tentang teori konflik, terkait konflik suka dan tidak suka {termasuk di dalamnya konflik ideologi, agama, suku dll} waktulah yang akan menyembuhkannya.

Dan untuk anak-anak kelahiran menjelang tahun 2000-an, isu G30S barangkali sudah tidak lagi relate dengan kebatinannya.

Propaganda atau narasi ancaman komunisme yang laris manis di generasi sebelumnya mungkin oleh mereka akan dianggap sebagai dagangan barang kw, nggak penting, tidak produktif dan buang-buang liur serta umur.

Ketakutan pada komunisme ibarat kisah orang yang terkencing-kencing sendiri karena takut pada kisah hantu yang dikarang-karang sendiri juga.

Sebagian negara-negara komunis yang dulu ditakuti kini bahkan jadi pujaan. Lihat saja konflik Rusia dan Ukranina. Kebatinan kita lebih membela Rusia dan ingin Ukraina kembali menjadi bagian dari Rusia.

Pun demikian dengan China, siapa dari kita yang tak akrab dengan China.

Sebagai negeri yang jelas-jelas komunis barang dari sana menjadi barang kegemaran kita.

Iphone boleh jadi impian semua dari kita tapi tetap yang kita beli kebanyakan adalah HP China.

Marxisme memang masih laku di China, namun generasi baru Partai Komunis China adalah kaum borjuis. Sosialime di China kini melayani para kaum borjuis mengingat semakin banyaknya kaum kelas menengah dan kaya baru di China.

Komunisme tak lagi menakutkan.

Jadi kalau melihat gambar palu arit dan kemudian ketakutan seperti melihat setan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kesehatan mental/jiwa agar G30S tak lagi jadi kutukan.

note : sumber gambar – KUMPARAN PLUS