KESAH.ID – Dilihat dari aspek geografi, Indonesia benar menyebut dirinya sebagai negeri agraris. Namun negeri agraris tidak identik dengan negara dengan kaum petani yang berjaya dan berdaya. Sejak jaman kerajaan/feodal, kolonial hingga jaman digital nasib petani belum beranjak. Kerja keras hasil memeras keringatnya secara ekonomi lebih menguntungkan orang lain.
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman
Sampai sekarang saya masih bisa menyanyikan lagu Kolam Susu yang diciptakan oleh Koes Plus kurang lebih 50 tahun lalu.
Saya hafal karena lagu itu merupakan salah satu lagu yang jadi pilihan saat belajar bermain gitar. Chord atau kuncinya gampang.
Dulu saya menyangka lagu itu bercerita tentang Indonesia. Negeri yang kaya raya, indah dan tanahnya subur.
Tapi ternyata tidak.
Menurut cerita lagu Kolam Susu terinspirasi oleh perjalanan Koes Plus dari Kupang ke Dili. Dalam perjalanan itu mereka melewati sebuah danau yang oleh masyarakatnya dinamakan Kolam Susuk. Danau ini berada di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur.
Danau ini dikelilingi oleh hutan bakau yang lebat sehingga banyak nyamuk. Maka oleh orang setempat disebut Kolam Susuk atau Kolam Nyamuk.
Tanah disekitar danau berwarna keputihan sehingga ketika sinar mentari benderang airnya memancarkan warna keputihan. Maka danau yang banyak nyamuknya itu oleh Yoen Koewoyo terlihat bak kolam susu. Terpana dengan itu, danau yang banyak ikan, udang dan kepitingnya kemudian diabadikan menjadi sebuah lagu.
Selain dijadikan sebuah lagu, Koes Plus juga memberi tanda mata berupa bangunan SD di dekat danau itu.
Kelak danau ini juga menjadi lokasi pengambilan gambar film yang disutradarai oleh Ari Sihasale, Indonesia Tanah Air Beta. Mira Lesmana juga memilih danau ini menjadi lokasi film yang berjudul Atambua 39 Derajad Celcius.
Saya dulu menyangka lagu Kolam Susu bercerita tentang Indonesia karena bait keduanya menyebut tentang tanah surga, tanah yang subur.
Pengambaran itu cocok untuk kondisi tanah di Indonesia pada umumnya. Tanah di negeri khatulistiwa yang berada dalam lingkaran cincin api memang terkenal kesuburannya. Hampir semua tanaman bisa tumbuh dengan baik.
Tanaman terutama tanaman pangan baik yang menghasilkan bulir, umbi, maupun kacang-kacangan tumbuh dimana-mana. Tidak sulit untuk menanamnya.
Ibarat kata dilempar dan dibiarkan saja tetap akan tumbuh.
Maka tak salah jika dengan kondisi tanah yang demikian, Indonesia kemudian menyebut diri sebagai negara agraris, negeri kaum petani.
BACA JUGA : Jalanan Yang Tak Menghormati Pejalan Kaki
Dalam konteks potensi dan kesediaan lahan, Indonesia memang masih layak disebut sebagai negara agraris. Kita mempunyai 26.300.000 hektar lahan subur yang cocok untuk pertanian, selain itu juga punya lahan untuk agrikultur yang luasnya kurang lebih 68.300.000 hektar.
Dengan lahan yang subur dan cocok untuk bertanam seluas itu mestinya Indonesia akan menghasilkan berbagai jenis makanan dalam arti seluas-luasnya untuk mencukupi dan mensejahterakan warganya.
Bukti keberlimpahan hasil budidaya diatas tanah nusantara telah ditunjukkan oleh sejarah. Indonesia dikoloni selama ratusan tahun karena hasil tanamannya, mulai dari rempah-rempah, tembakau, tebu, kopi, serat dan lainnya.
Karena pemberlakuan tanam paksa, petani tidak menikmati hasil dari tanaman sendiri. Dan ketika kebijakan tanam paksa dihapuskan, petani kemudian menjadi ‘buruh’ pada perkebunan-perkebunan besar yang mendapat konsesi tanah maha luas dari pemerintah kolonial.
Presiden pertama RI, Sukarno kemudian dikenal dekat dengan petani. Teori politiknya yang pertama yani Marhaenisme adalah hasil saripati dari pertemuannya dengan seorang petani.
Konon petani itu bernama Marhaen, menggarap tanahnya sendiri dengan peralatan miliknya sendiri. Namun hasilnya hanya cukup untuk makan dirinya sekeluarga, tidak ada sisa untuk dijual.
Dalam diri Marhaen, Sukarno menemukan kebanyakan rakyat Indonesia yang petani menjadi korban dari sistem sebelumnya, mulai dari feodalisme hingga kolonialisme. Petani hanya menguasai sepetak tanah kecil yang membuatnya tidak bisa punya kekuatan lebih untuk merubah kehidupannya seberapapun dia keras bekerja.
Kedekatan Sukarno dengan petani dan kepeduliannya terhadap petani yang hanya mempunyai lahan sejengkal, kemudian kerap dikaitkan dengan petani sebagai sebuah akronim. Sukarno memang gemar membuat akronim untuk membakar semangat rakyat.
Dan petani diartikan oleh Sukarno sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia.
Untuk memperkuat petani, Sukarno kemudian melakukan program landreform, reformasi agraria. Di beberapa daerah mulai dilakukan ujicoba memberikan lahan perkebunan besar kepada petani.
Namun program ini terhenti dan sesaat sesudah G30S PKI, mereka yang mendapat tanah lewat program landreform menjadi ketakutan, takut dituduh sebagai simpatisan atau antek petani. Banyak yang meninggalkan tanahnya dan kemudian menyingkir masuk ke dalam hutan.
Ketika Suharto mulai berkuasa, perhatian kepada petani juga besar. Suharto mempunyai tujuan utama untuk swasembada beras. Petani tentu saja menjadi ujung tombaknya.
Suharto melalukan modernisasi pertanian, agar petani terutama petani pangan bisa terus bertanam sepanjang musim.
Anggaran besar dialokasikan untuk pertanian terutama untuk membangun infrastruktur irigasi, berupa waduk, bendungan dan sistem saluran pengairan agar sawah bisa terus dialiri air.
Kepada petani juga diperkenalkan bibit unggul dan pupuk serta obat-obatan pembasmi hama.
Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan {beras}, tapi nasib petani belum beranjak dari nasib Marhaen, seorang petani kebanyakan yang ditemui oleh Sukarno sewaktu masih muda.
Meski semua hasil meningkat, petani tidak semakin berdaya. Menjadi petani semakin tidak menarik karena bertani bahkan tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya.
Walau punya departemen sendiri, yakni departemen pertanian, namun kerjanya tak jauh-jauh dari departemen sosial. Kebanyakan yang diberikan adalah bantuan untuk petani, bukan mengatasi masalah petani lewat berbagai kebijakan yang melindungi lahan-lahan pertanian.
Di youtube memang banyak kisah petani yang berhasil jadi milyader, misalnya gara-gara porang. Tapi itu lebih merupakan kisah hiburan, keberhasilan sesaat dan juga tidak untuk banyak orang.
Yang pasti Indonesia tidak lagi merupakan negara agraris. Setiap kali sensus jumlah petani makin berkurang. Kini secara demografis, profesi terbanyak dan paling umum di Indonesia bukan lagi petani melainkan buruh.
BACA JUGA : Lapas Dalam Seteguk Miras Oplosan
Sebagai kekuatan politik posisi petani memang makin melemah. Paska pemerintahan orde lama, petani walau terus dipuji dalam berbagai pidato para pemimpin negeri namun setiap gerakannya terutama dalam berserikat akan dicurigai.
Gerakan petani distigma sebagai gerakan sosialis atau komunis. Petanipun digiring menjadi kelompok apolitis.
Buruhlah yang kemudian menguat, sehingga hari buruh bahkan dijadikan sebagai hari libur nasional.
Tanggal 27 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional, tahun ini diperingati untuk yang ke 62 kalinya. Perayaannya tidak sesemarak Hari Buruh.
Di Samarinda barangkali hanya diperingati oleh tiga kelompok tani dari Kelurahan Makroman. Kelompok Tani Tunas Muda, Harapan Baru dan Karanganyar, pada Hari Tani Nasional menyegel alat berat yang dioperasikan oleh penambang batubara illegal di Jalan Kalan Luas, Makroman.
Sudah puluhan tahun mereka berurusan dengan tambang batubara yang membuat sumber air untuk pertanian dan kolam ikan mereka menghilang. Pada musim hujan sawahnya akan terendam air dengan lumpur dari tambang, sedangkan pada musim kemarau lahannya akan mengering.
Hamparan sawah menghijau lama kelamaan berkurang karena tambang merangsek dan mengambil alih lahan-lahan produktif untuk digali lalu meninggalkan lubang dan singkapan lahan yang dalam serta luas.
Hidup petani terhimpit.
Merayakan Hari Tani Nasional kemudian menjadi ironi. Betapa mereka, kaum tani tak berdaya bahkan di tanahnya sendiri.
Nasib petani memang kelam walau semua orang butuh makanan dari tanaman yang mereka rawat dan jaga.
Hanya saja dengan banyaknya masalah, hasil pertanian petani di negeri ini tak sebanyak petani di negeri lainnya. Dan karena tak mencukupi, pemerintah lebih memilih untuk mendatangkan produk pertanian dan pangan dari laur negeri. Mengimport jauh lebih murah daripada memberdayakan petani.
Padahal dalam rumus ekonomi berlaku hukum barang yang kurang akan bernilai tinggi. Tapi itu tak berlaku untuk produk para petani, sebab begitu hasil dalam negeri tak mencukupi pemerintah akan mengekpor dari luar negeri.
Soal harga petani memang tak berkuasa untuk menentukannya. Produk pertanian yang seharusnya langsung bisa dikonsumsi oleh masyarakat ternyata sistem distribusinya ruwet dan panjang. Dari petani hingga ke pembeli akhir jaraknya panjang meski mereka bertetangga.
Hasil pertanian akan dibeli oleh para tengkulak, dibawa ke pasar induk, disebar ke pasar umum, diberi para pengecer atau warung. Di pedagang pengecer atau warung inilah masyarakat akan membeli produk hasil pertanian.
Membandingkan antara harga di tingkat petani hingga di warung atau pengecer akan terasa njomplang. Rentang harga yang jauh itu dinikmati bukan oleh petani melainkan oleh para pedagang antara. Mereka yang tidak berlelah-lelah, terkena hujan dan panas serta tak bermandikan keringat yang kemudian lebih menikmati hasilnya.
Inilah lingkaran setan yang mesti dihadapi oleh petani sejak jaman moyang mereka. Cerita petani di negeri kolam susu, tempat tongkat dan batu jadi tanaman sejatinya memang sebuah cerita kelam. Petani hanya jadi kebanggaan dalam buku biografi para tokoh politik dan ekonomi yang senang mengaku sebagai anak petani.
note : sumber gambar – {JATAM} CNNINDONESIA.COM








