KESAH.ID – Dulu viral merupakan istilah yang menggambarkan suatu penyakit yang mudah menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit yang bisa menyebabkan epidemi atau wabah. Namun kini viral menggambarkan sebuah konten yang dengan cepat menyebar melalui internet atau media sosial secara online ke jutaan orang. Viral tak ada hubungan dengan mutu atau kualitas, tapi lebih disukai atau tidak disukai.
Bunyi-bunyian keras yang disengaja dan mengejutkan memang selalu menyenangkan. Melihat orang takut, terkejut atau terkaget-kaget bisa membuat senyum dan tawa auto merekah dan meledak.
Suara dentuman dan ledakan seperti itu akrab dengan masa kecil saya pada bulan Ramadhan dan Hari Lebaran. Mengawali bulan puasa, saya dan teman-teman biasanya sibuk membuat Long Bumbung atau Laduman kata orang Samarinda.
Ramai-ramai kami menebang bambu, biasanya bambu petung yang paling tua. Lalu bambu dipotong dalam ukuran tertentu, kira-kira sepanjang meriam. Ujung paling bawah dibiarkan tertutup ruasnya, sementara ruas diatasnya dibobok dengan tombak kayu.
Tak jauh dari penutup atau ruas paling bawah dibuat lubang kecil. Lubang untuk meniup asap dan menyulut api. Jika sudah siap, Long Bumbung akan diposisikan seperti meriam, bagian ujung depan mengarah keatas. Dari lubang dibawah, Long Bumbung diisi dengan minyak tanah, disulut lalu ditiup-tiup berulang kali. Lama kelamaan setelah panas begitu disulut akan muncul bunyi ledakan. Dung.. kadang blep kalau kurang panas.
Ketika meniup kalau tak hati-hati akan membuat bulu mata terbakar karena ada api yang keluar dari lubang kecil di bawah. Jika bosan dengan bunyi itu-itu saja, kamipun berkreasi. Lubang atas ditutup dengan kaleng sehingga menghasilkan bunyi cempreng.
Biasanya kami akan membunyikan sendiri-sendiri dari belakang rumah. Bunyinya sahut-sahutan dengan Long Bumbung teman lainnya. Tapi kadang-kadang kami membawa Long Bumbung ke tanah lapang untuk dijejer dan dimainkan bersama.
Main Long Bumbung mengasyikkan hingga sering kami lupa waktu. Dan biasanya kami akan bubar jika ada satu atau dua dari antara ibu kami yang ngeluruk ke tempat kami bermain dan kemudian menyuruh bubar pulang. Kamipun pulang memikul Long Bumbung dengan wajah kurang senang, tapi tak bisa melawan. Dijaman saya kecil dulu ajaran utama dari orang tua pada kami adalah dilarang keras melawan perintah orang yang lebih tua, siapapun dia.
Semakin mendekati hari lebaran, bunyi-bunyian akan makin ramai. Kami biasanya juga mulai membuat mercon atau petasan dari gulungan kertas yang diisi ‘obat mercon’ yang dibeli dari toko besi.
Selain membuat mercon dengan bentuk tabung bersumbu, kami biasanya juga membuat mercon banting.
Mercon banting ini yang sering mengejutkan karena bisa dibunyikan tanpa aba-aba. Tidak ada bunyi ssssshhhtt atau ngeses dari sumbu yang dibakar, tahu-tahu meledak saja.
Dan mercon banting juga cukup berbahaya. Karena didalam mercon yang berbentuk bulat-bulat kecil itu ada tiga atau empat kerikil untuk memicu ledakan. Saat meledak kerikil itu akan melenting dan cukup untuk membuat lubang di kaca yang terkena lentingannya. Bayangkan jika kerikil yang berhambur itu mengenai badan.
Tapi kami tak peduli dengan resiko yang ditimbulkan baik oleh long bumbung, mencon sumbu atau mercon banting. Yang kami cari adalah kesenangan, senang karena ada ledakan, gembira karena ada yang terkaget-kaget.
Kesenangan ternyata sebuah paradoks. Nasehat kaum bijak mengatakan kita akan senang kalau berbagi kebahagiaan dengan orang lain, membuat orang lain bahagia. Namun ternyata dalam banyak episode hidup kesenangan akan muncul jika melihat orang lain ‘menderita’, terkaget-kaget, atau bahkan mungkin saja celaka.
BACA JUGA : Tulisan Termudah
Dalam bincang-bincang pengisi waktu saat Sujiwo Tejo dan Nasirun melakukan kolaborasi karya, Sindhunata menyebut tentang mercon banting.
Penulis novel Anak Bajang Menggiring Angin ini menekankan pentingnya bagi seorang pekarya untuk menghasilkan sesuatu yang mengejutkan.
Dalam bahasa branding, mercon banting itu setara dengan produk masterpiece.
Rohaniawan yang getol mengeluti kebudayaan ini menekankan pentingnya untuk menghasilkan masterpiece karena pengkarya terbiasa menghasilkan produk yang bagus. Tapi bagus saja belum cukup untuk melambungkan namanya. Harus ada yang wow agar yang bagus itu bisa mempesona.
Pesona inilah yang akan melambungkan persona.
Merujuk pada dunia seni lukis, para pelukis ternama dunia dikenang dengan karya-karyanya yang monumental.
Dunia mengenal Gioto di Bondini, pelukis yang berfokus pada karya-karya keagamaan terutama kehidupan Yesus dan karya-karya muridnya. Lukisannya yang terkenal berjudul Lamentation yang menampilkan momen kematian Yesus sebelum dimakamkan.
Gambar ini dilukis pada dinding utara Kapel Scrovegni di Padua, Italia.
Gaya lukisan Gioto yang solid dan bercorak realisme figuratif ini mempengaruhi banyak seniman lain dan mengubah arah sejarah seni di jaman renaisans.
Pelukis lain dengan lukisan bertema keagamaan yang terkenal adalah Michelangelo. Lukisannya yang berjudul Death of The Virgin menguncang karena Michelangelo melukis kematian Maria tanpa kiasan. Kematiannya dilukiskan begitu saja tanpa embel-embel diangkat ke surga dengan mulia.
Sosok-sosok kudus ditampilkan apa adanya. Michelangelo menawarkan penggambaran yang suci secara realistis. Dia dipandang merubah sejarah seni, merubah cara pandang pada kematian dan bagaimana subyek diperlakukan.
Sejarah seni modern kemudian diguncang oleh Pablo Picasso. Dia dikenal sebagai pelukis revolusioner yang melahirkan aliran kubisme. Gaya ini merubah persepsi dunia tentang keindahan seni. Jika pada masa sebelumnya kecantikan digambarkan sangat riil, di tangan Picasso wajah dirubah secara drastis sehingga tak dikenali sebagai wajah modelnya.
Karya figuratif Picasso banyak dipengaruhi oleh pengetahuan pada seni patung Afrika dan Oesania yang biasanya berbentuk melengkung dan tidak proporsional.
Masih ada sederet seniman besar dunia yang karyanya merubah dunia seni dan kemudian mendapat banyak pengikut.
Di Indonesia sendiri, karya lukis sudah berkembang sejak masa kolonial. Kita mengenal Raden Saleh dengan lukisan-lukisan realis naturalis.
Kemudian ada Affandi dengan gaya lukisan transformatif, impresionis atau abstrak.
Ada juga nama Basuki Abdulah yang dkenal lewat lukisan potret yang hiper realis. Model yang dilukis oleh Basuki Abdulah akan menjadi lebih cantik dan lebih tampan.
Meski tak menampilkan sosok yang indah, Jeihan juga terkenal dengan lukisan wajah yang matanya hanya berupa coretan berwarna hitam.
Para pengkarya ini sampai sekarang terus dikenang oleh masyarakat dan dunia seni karena menghasilkan apa yang disebut oleh Sindhunata sebagai mercon banting.
Karya yang menurut teori Bambang Pacul membuatnya mampu melenting.
BACA JUGA : Istana Garuda
Peribahasa mengatakan pena lebih kuat dari pedang. Namun ternyata kuas juga bisa sama kuatnya dengan pena dan kini digantikan keyboard.
Senjata para pengkarya kini adalah keyboard dan layar touchscreen, mesin pengkaryaan menyatu dalam sebuah gadget yang disebut smartphone.
Segala sesuatu kemudian dilabeli smart.
Ada sebuah pesan bijaksana “Be smart with your smartphone”
Kalimat ini menyeruak karena dalam jagad maya ada banyak karya {konten} yang menimbulkan masalah baik untuk pengkaryanya {kreator konten} maupun untuk pihak-pihak lainnya. Sebagian diantaranya bahkan berakhir menjadi kasus hukum.
Setiap hari ruang maya selalu dipenuhi dengan mercon banting. Ada banyak konten yang mengejutkan, mengagetkan dan mengaduk-aduk emosi.
Mercon banting yang tidak dimaksudkan sebagai master piece, melainkan sebagai konten yang dipublikasikan untuk mengejar FYP, trending atau viral.
Viralitas yang dikejar bukan kualitas.
Para pengkarya berlomba-lomba mempublikasikan sebanyak mungkin karya, mengejar kuantitas dan berhasil satu atau dua diantaranya meledak, viral.
Demi mengejar viralitas, pengkarya abai pada kualitas, termasuk diantaranya kualitas moral karena karyanya menabrak kelayakan publik.
Ada banyak hal direkayasa, bukan hal yang sebenarnya tapi ditampilkan seolah-olah sebagai fakta. Atau dengan fakta secuil sementara hiasan fiksinya berhambur. Mercon bantingnya mengaburkan batas antara fakta dan fiksi.
Validasi bukan pada kualitas melainkan engangement, banyaknya like, share dan comment atau reaction.
Dilabeli viral semua orang kemudian bisa menjadi bintang, terbang melayang ke atas bulan walau bisa saja esok harinya terjerembab ke lubang yang dalam.
Yang dimaksudkan Romo Sindhu dengan mercon banting tentu bukan hal semacam itu.
note : sumber gambar – YOGA GEMBUL








