Sekitar dua atau tiga belas tahun lalu saat ikut mengelola sebuah publikasi, saya mesti menulis artikel untuk dua kolom setiap kali terbit. Untuk itu selalu diperlukan beberapa foto untuk memperkuat isi artikel. Maka kemanapun saya pergi dalam tas punggung selalu tersimpan sebuah kamera.

Yang ada di kepala adalah dorongan untuk mengambil foto yang bagus. Bukan hanya untuk melengkapi artikel melainkan juga untuk diposting pada sebuah situs user generated content agar foto direview oleh fotografer lain.

Hasil membawa kamera kesana kemari adalah koleksi ribuan foto yang kemudian lenyap karena laptop saya digondol maling.

Beberapa tahun kemudian saya lebih menyukai merekam gambar dengan camcorder. Kemana-mana saya membawa kamera mulai dari yang ditaruh di bahu sampai yang cukup dipegang dengan satu tangan. Sempat sampai berkelana menyinggahi beberapa pulau di kepulauan Raja Ampat, kini klip-kilp video yang tersimpan dalam beberapa external drive sudah tak pernah saya lihat-lihat kembali.

Dan ketika handphone bermetamorfosis menjadi smartphone kembali saya menyukai memotret. Foto hasil jepretan tak lagi saya simpan di laptop atau external drive melainkan diupload ke media sosial, kalau tidak di facebook ya di Instagram.

Memotret kemudian menjadi kebutuhan untuk eksis di media sosial.

Foto di media sosial utamanya Instagram sekarang ini memang menjadi rujukan. Mau apa-apa lihat instagram dulu.  Mau makan atau minum lihat instagram dulu agar ketemu kafe mana yang lagi ngehit atau keren. Mau jalan-jalan juga lihat instagram agar ketemu destinasi yang instagramable di wilayah itu. Ada banyak aku-akun yang bisa menjadi sasaran untuk mengekplorasi pilihan.

Meski tak lagi menenteng kamera DSLR dan camcorder kemana-mana, sesekali saya masih tergoda untuk bergenit ria di media sosial bermodalkan foto yang diambil dengan smartphone.

Pergeseran dari handphone menjadi smartphone membawa peningkatan kemampuan untuk melakukan dokumentasi. Kemampuan smartphone untuk memotret dan merekam gambar menjadi lebih tinggi karena smatphone kini mempunyai beberapa pilihan lensa. Mulai lensa selfi, lensa 48 mega pixel, lensa macro dan lensa wide.

Eleman lensa makin banyak pun juga pilihan bukaan, aperture atau diafragmanya sehingga jumlah cahaya yang masuk dalam sensor bisa diatur. Beberapa bahkan telah dilengkapi dengan Optical Image Stabilizer yang memungkinkan untuk mendapat foto dengan kecepatan rendah dalam kondisi pencahayaan yang kurang.

Peningkatan kualitas gambar atau video smartphone juga dikarenakan pemakaian Image Sensor yang makin baik. Image sensor adalah bagian yang bertugas menangkap cahaya dan merubahnya menjadi data mentap untuk kemudian diolah oleh sistem pengolah gambar. Image sensor juga meningkatkan kemampuan autofocus kamera smartphone.

Semua itu dimungkinkan karena System on Chip dari smartphone semakin lama semakin gahar.

Ibaratnya kata smartphone adalah rumah makan, maka dalam smartphone telah disediakan koki-koki handal untuk mengolah makanan. Dan makanan akan menjadi sempurna karena rumah makan itu mempunyai resep yang istimewa.

Selain algoritma pengolahan gambar yang telah ditanam dalam sistem, tersedia juga banyak aplikasi pengolahan gambar yang bisa dioperasikan dalam smartphone baik sebelum maupun sesudah pengolahan gambar.

Hasilnya adalah foto-foto yang dahsyat dan mempunyai engagement yang tinggi, menarik perhatian banyak orang. Membuat orang memencet tombol like, memberi komentar dan bahkan turut membagikan atau melakukan repost.

-000-

Atas kebaikan dari berbagai pihak, dua tahun belakangan ini saya memperoleh banyak kesempatan untuk berkeliling wilayah yang dikenal sebagai Mahakam Tengah. Yang disebut Mahakam Tengah adalah kawasan aliran sungai Mahakam yang berada di kurang lebih tiga puluh desa pada lima kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tentu saja belum semua desa  itu saja jelajahi. Baru sebagian kecilnya saja yang saya pernah menginjakkan kaki disana, dan lebih sedikit lagi yang saya datangi berulang.

Perjalanan ke Mahakam Tengah selalu menyenangkan buat saya, karena di tempat inilah saya bisa lebih mendalami ekosistem lain dari bumi Kalimantan Timur yang sejatinya sangat essensial namun kurang diperhatikan.

Ya, Kalimantan Timur selalu diperkenalkan sebagai wilayah dengan hutan rimba yang maha luas dengan kebudayaan yang dibangun oleh masyarakat di sekitar hutan, masyarakat yang hidup dan memperoleh penghidupan dari hasil hutan.

Padahal ada model kebudayaan lain yang tumbuh dari kawasan dataran rendah, selalu berair dan juga mempunyai hutan dengan karakter yang berbeda dengan hutan dataran kering.

Kedua kawasan ini sama-sama mempunyai peran essensial pada sungai Mahakam yang airnya dianggap bertuah karena akan memanggil datang kembali mereka yang pernah meminumnya.

Hutan rimba di dataran kering adalah tempat untuk menangkap air dan memproduksi nutrisi yang akan dibawa oleh air liaran masuk ke badan-badan air dan memberikan kehidupan bagi mahkluk yang ada di dalamnya.

Sementara hutan rawa-rawa dan danau di perlembahan adalah tempat menyimpan air, dataran yang menyediakan diri untuk dibanjiri berbulan-bulan, menjadi tempat  ikan berpijah beranak pinak dan memfilter air dari berbagai sedimen sebelum mengalirkannya kembali ke sungai menjadi air kehidupan.

Diperlembahan ini pula cadangan karbon disimpan oleh tanah gambut dalam kondisi basah. Jika lahan gambut mongering atau sengaja dikeringkan maka akan terjadi pelepasan karbon dalam jumlah besar. Selain itu lahannya menjadi beresiko untuk terbakar.

Berkali-kali lahan gambut di Mahakam Tengah terbakar, sisa-sisanya masih mudah dilihat. Di beberapa tempat pada rimbun pepohonan di atas rawa, kerap terlihat batang pohon berwarna hitam masih berdiri tegak.

Menyusuri sungai, anak sungai, danau dengan pemandangan rawa-rawa disekitarnya serta riparian atau hutan di tepian badan-badan air akan tersaji pemandangan yang indah. Dengan komposisi tumbuhan yang meliputi tumbuhan air, tumbuhan peralihan  dan tumbuhan didarat, tersaji sebuah landskap tutupan vegetasi yang menarik di mata.

Binatang di kawasan ini akan jauh lebih kentara ketimbang di hutan rimba. Bukan hanya suara saja yang terdengar. Berbagai jenis burung, baik burung air, burung semak maupun burung yang terbang tinggi akan mudah ditemui. Pun juga kecipak ikan di air dan biawak. Sementara di pepohonan akan sering nampak berbagai jenis kera bermain atau beristirahat di dahan.

Sesekali akan ada yang mengejutkan, seperti pada suatu pagi saya berdiri di dekat pohon mati. Dan tiba-tiba dari sebuah lubang keluar seekor burung, ternyata itu adalah burung pelatuk. Lubang di pohon mati itu ternyata tidak hanya satu, pun juga burung yang bersarang di dalamnya juga tidak hanya satu.

Dan ketika berjalan melintasi rawa-rawa antara desa Semayang dengan jalan poros Kota Bangun ke Tabang, diatas pohon yang cukup tinggi bertengger seekor bangau tong tong yang besar. Lagi-lagi itu adalah pemandangan yang baru pertama kali saya saksikan.

Pada pengalaman seperti itu sering kali muncul niat untuk segera mengaktifkan kamera di smartphone. Tapi dorongan seperti itu tak selalu saya ikuti sebab buat saya pemandangan indah tak selalu harus diabadikan lewat kamera. Jauh lebih baik untuk dinikmati dahulu dengan mata lalu disimpan dalam memori diri. Cepat-cepat memotret hanya akan menganggu kenangan dan pengalaman indah yang mestinya abadi dalam diri.

-000-

Tanpa mandat yang ketat untuk ini dan itu, perjalanan ke Mahakam Tengah lebih tepat dianggap sebagai grand tour, sebuah perjalanan meninggalkan keseharian untuk melihat dan mengenal kehidupan serta lingkungan di tempat lain.

Meski saya tetap memotret dengan smartphone namun yang terpenting bukanlah foto melainkan interaksi dan komunikasi dengan masyarakat dan lingkungan setempat.

Dalam perjalanan seperti ini yang saya kumpulkan adalah pengalaman dan pengetahuan yang nantinya direfleksikan, diperbincangkan dengan mereka yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih agar saya beroleh pemahaman yang makin dalam atas realitas yang saya temui sepanjang perjalanan.

Dan semakin sering datang ke kawasan Mahakam Tengah semakin pula saya merasa pengetahuan tentangnya masih sangat kecil. Selalu ada kebaharuan dan pembaharuan pemahaman setiap kali saya kembali kesana, selalu saya menemukan apa yang saya sangka begini ternyata begitu.

Kalau ada yang bertanya seberapa banyak foto yang saya ambil di Mahakam Tengah, tentu akan saya jawab cukup banyak.

Pada setiap tempat yang saya datangi, saya selalu akan mengambil foto lanskapnya. Foto lain yang mesti saya ambil adalah gambaran kehidupan sehari-hari, hasil bumi, kerajinan dan apapun yang saya anggap menarik hati.

Namun yang paling banyak saya ambil adalah kawasan permukiman yang diteropong dari sisi air.

Lalu seberapa banyak yang saya upload di media sosial?. Tidak banyak, sebab bagi saya foto hanya menangkap secuil kebenaran pada saat tertentu. Andai data, informasi atau fakta tentangnya tak cukup saya punya atau pahami maka foto-foto itu lebih baik saya simpan dahulu.

Saya tak ingin ikut-ikutan menjadikan media sosial tempat menyimpan foto agar tidak hilang. Toh ada cara lain untuk menyimpan foto di internet namun tidak bersifat publik.

Dan dari antara semua foto yang paling sedikit adalah foto diri saya disana. Masalahnya saya tak cukup percaya diri untuk melakukan selfi apalagi meminta orang lain untuk memfotokan. Kalaupun ada dari antara rekan seperjalanan yang memfoto, sayapun juga malu dan enggan untuk memintanya.

Saya tidak terlalu percaya diri untuk difoto karena merasa kurang fotogenic. Meski kini banyak aplikasi yang bisa bikin wajah kinclong tentu saya menghindari itu untuk urusan foto-foto.

Sebagai orang yang tak terlalu menyenangkan, saya mesti menghindarkan diri dari tindakan mengecewakan orang lain. Semisal mengupload foto yang teramat indah namun dalam kenyataannya tak seindah itu.

Mengambil foto dengan benar dan mengungkap kebenaran tidaklah mudah. Dan saya juga tidak akan mempermudah dengan memakai aplikasi pengolah gambar yang bisa membuat foto yang diambil di malam hari serasa menjadi siang hari, foto jalanan yang sepi kemudian terlihat ramai karena memakai motion blur, air keruh jadi jernih, warna disejukkan atau air serasa menjadi kapas lembut karena memakai slow speed.

Kalaupun terpaksa harus melakukan itu agar bisa memposting beautiful shot, maka akan saya sertakan catatan bahwa foto ini bukan kebenaran karena telah dilakukan pembenaran {koreksi/editing}.