Baru dua kali saya ke Kahala. Nama yang mudah diingat, selintas seperti nama India atau Arab.

Ketika mencari padanan dan makna katanya di google, saya justru menemukan kata kahla yang dalam bahasa Irlandia berarti cantik dengan bentuk tubuh yang indah. Lalu di Hawai, tepatnya di Honululu ternyata ada juga pantai cantik yang menjadi destinasi unggulan bernama Kahala.

Namun Kahala yang saya kunjungi untuk kedua kalinya berada di Kutai Kartanegara. Kahala adalah nama ibukota Kecamatan Kenohan. Ada dua desa bernama Kahala disana, yaitu Kahala {Ulu} dan Kahala Hilir. Keduanya berada di pinggir aliran sungai Kahala, sungai yang cantik ripariannya.

Dua kali saya datang ke Kahala dengan dua cara berbeda. Yang pertama melalui air dan yang kedua melalui darat.

Perjalanan darat bisa ditempuh dengan mobil, motor atau sepeda kalau mau. Dari Kota Bangun menyeberangi jembatan Martadipura, melewati Desa Muhuran, Sebelimbingan, Teluk Muda dan Tuana Tuha.

Sedangkan lewat air bisa naik ketinting atau longboat dari Kota Bangun menyeberang sungai Mahakam, masuk ke sungai Pela melewati desa Sangkuliman dan Pela, lalu menyusuri danau Semayang kearah muara sungai Semayang. Di sungai ini ada dua desa yaitu desa Semayang dan Tubuhan.  Selepas dari desa Tubuhan akan masuk danau lagi, yaitu danau Sepundi untuk kemudian masuk ke muara sungai Kahala.

Membandingkan antara perjalanan melalui air dan darat, menurut saya jauh lebih menarik malalui air.

Pemandangan lewat jalur air akan lebih beragam, karena selain melewati sungai dengan permukiman di kanan kirinya, juga akan melihat danau dan rawa yang luas. Sungainya juga akan menyajikan pemandangan yang beragam, mulai dari permukiman di darat dan air, kesibukan masyarakat di sekitar sungai dan keindahan riparian atau hutan tepian sungai yang masih menghijau.

Melewati sungai Pela jika beruntung akan bertemu dengan rombongan Pesut Mahakam. Perjalanan memotong danau Semayang akan serasa seperti di laut jika kondisinya berangin. Air danau akan berombak dan hamparan air yang tertabrak oleh laju perahu akan memancar menjadi butiran-butiran kecil terbawa angin dan akan menerpa penumpang perahu.

Kala memasuki sungai Semayang, laju perahu mesti dipelankan karena sungainya tak terlalu lebar. Selain keramba di sungai juga  banyak batang apung yang menyangga rumah/pondok dan jamban.

Ruas sungai antara desa Semayang dan desa Tubuhan terasa lebih luas. Kanan kiri pinggir sungai terlihat menghijau, mulai dari tumbuhan di air, pohon yang terendam hingga sempadan yang menghutan baik oleh pepohonan maupun semak.

Ada pohon perupuk yang batangnya bawahnya terendam air, pohon rengas yang nampak kokoh akarnya di pinggiran sungai, pohon bungur yang sedang berbunga, sesekali nampak pula ada pohon karet. Sesekali terlihat pula pohon mangga-manggaan yang buahnya gepeng, pohon laban, simpur, cempaka dan sedikit pohon kratom atau kademba. Sesekali juga nampak pohon rukam atau benggalon.

Sungai kembali menyempit ketika masuk desa Tubuhan. Dan kemudian melebar lagi ketika melewati permukiman namun alurnya tetap sempit karena permukaan sungai ditutupi oleh napung dan ilung. Dan jalur perahu semakin menyempit ketika akan memasuki danau. Permukaan bukan hanya ditutupi oleh ilung dan napung melainkan juga ditumbuhi oleh semak-semak pohon yang berduri.

Pinggiran danau yang dangkal memang ditutupi oleh hamparan napung dan ilung yang dari kejauhan nampak seperti permadani hijau. Siapapun yang membawa perahu dan tidak hafal jalan akan tersesat atau berputar-putar di tempat.

Meninggalkan danau memasuki muara sungai Kahala akan disambut oleh hutan perupuk. Ada yang tegakkannya rapat namun ada juga yang jarang. Nampak ada batang-batang menghitam berdiri tanpa ranting dan daun, bekas lahan terbakar.

Semakin masuk ke sungai Kahala, tutupan vegetasi di kanan kiri sungai atau ripariannya makin bervariasi. Wilayahnya lebih berhutan dan pohonnya lebih besar-besar dibanding yang ada di Semayang dan Tubuhan.

Komposisi pepohonannya lebih kaya, mungkin karena hutannya lebih tua. Mulai nampak pohon pinang, palem kipas, pandan dan juga rotan. Di pohon-pohon besar  juga nampak menempel anggrek dan pakis sarang burung serta tumbuhan merambat lainnya.

Pemandangan terindah ada di anak sungai Kahala yang menuju danau Berambai.

-000-

Pada kali pertama ke Kahala, saya sempat sampai ke danau Berambai. Danau yang tidak terlalu luas dibanding dengan Semayang, Melintang dan Jempang. Penampakannya selintas mirip dengan danau-danau lainnya, namun jika ditelisik lebih dalam ada yang berbeda yakni banyak ditumbuhi pohon Pandan yang hidup berkelompok.

Di salah satu sisinya pepohonan yang tumbuh tidak tinggi.

Ternyata ada bagian dari danau ini yang berhubungan dengan ekosistem kerangas. Kata kerangas konon berasal dari bahasa Iban, artinya tanah yang tidak bisa ditanami padi.  Pada kawasan ini substrat pembentuk tanahnya sangat miskin hara.

Karena miskin hara maka tumbuhan yang mampu bertahan hidup dalam ekosistem hutan kerangas adalah jenis yang telah melakukan adaptasi yang luar biasa. Salah satunya adalah kantong semar atau nephentes. Vegetasi ini memperoleh nutrisi dengan cara menjebak serangga dalam kantongnya.

Jenis tumbuhan lain yang mampu hidup di tanah kerangas adalah geronggang dan juga beberapa jenis anggrek tanah.

Tanah kerangas sendiri terdiri dari pasir silika dan podsol. Sehingga permukaan yang tak tertutup oleh vegetasi nampak seperti spot-spot pasir putih.

Dari danau Berambai ini ada beberapa titik hutan kerangas yang oleh masyarakat disana dinamai sebagai Solong Pinang Abang. Menurut kesaksian warga disana, hutan kerangas Solong Pinang Abang lebih bagus dari Kersik Luwai yang ada di Kutai Barat, karena jenis anggrek yang tumbuh bunganya bermacam warna.

Dari berbagai penelitian, hutan kerangas ternyata berasosiasi dengan lapisan gambut. Tanah gambut berasal dari jenis serasah organik yang bertumpuk selama ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun diatas lapisan pasir kwarsa.

Maka hutan kerangas selain sebagai tempat suksesi komplek berbagai vegetasi untuk bertahan hidup di lapisan tanah miskin hara ternyata pada akhirnya menciptakan lapisan serasah yang tidak terdekomposisi dengan sempurna sehingga membentuk gambut.

Hutan gambut dan hutan kerangas kemudian menampakkan wajah lain dari gambaran hutan yang umumnya tersimpan dalam benak kebanyakan orang. Umumnya orang akan menganggap hutan Kalimantan adalah hutan lebat dengan pohon tinggi dan tajuk yang rapat. Padahal nyatanya tidak karena ada jenis hutan lain yang tampakkannya jauh lebih menarik untuk dinikmati.

Sayangnya perhatian terhadap hutan gambut dan hutan kerangas yang mudah terbakar ini sangatlah kurang. Padahal tanpa proses suksesi komplek dari berbagai vegetasi yang kemudian mampu bertahan dalam tanah yang miskin hara ini bisa dipastikan sebagian daratan pulau Kalimantan akan menjadi gurun pasir sejak dahulu.

-000-

Sayangnya pada kedatangan kali pertama dan kedua di Kahala, saya tak punya cukup waktu untuk pergi ke hutan kerangas Solong Pinang Merah. Kesempatan untuk mengenal kawasan permukiman juga tidak terlalu banyak.

Namun paling tidak saya menjadi tahu bahwa masyarakat di Kahala adalah penghasil Seraung, topi lebar berbentuk bulat mengerucut yang lazim dipakai oleh masyarakat di perdesaan Kalimantan Timur.

Seraung adalah salah produk kearifan dan pengetahuan tradisional yang masih bertahan sampai sekarang, masih dipakai untuk keperluan sehari-hari.  Seraung ada yang dibuat dengan bahan daun biru atau daun sang, sejenis palem berdaun lebar. Namun semakin lama semakin sulit untuk diperoleh maka kemudian diganti dengan daun pandan dan daun kajang.

Di Kahala, rumpun pandan hidup dimana-mana. Dan daun inilah yang kemudian menjadi bahan untuk membuat seraung. Aktifitas pembuatan seraung dengan mudah ditemui di permukiman. Ibu-ibu akan mengambil daun pandan tak jauh dari rumahnya, memotong dalam ukuran tertentu, menjemur dan kemudian merangkainya menjadi seraung.

Selain untuk seraung, daun pandan yang panjang juga disusun menjadi lembaran panjang dan lebar dengan bingkai atau penguat dari bambu. Lembaran ini bisa difungsikan sebagai dinding atau pintu pondok, mungkin juga bisa dipakai sebagai atap.

Seraung sendiri selain untuk keperluan sehari-hari juga sudah dimodifikasi sehingga bernilai fashion. Modifikasi dilakukan dengan cara menutup permukaan atas seraung dengan kain warna-warni. Selain menjadi lebih menarik, kain juga akan melindungi daun sehingga menjadi lebih awet. Penampilan seraung akan lebih menarik dengan tambahan pernak-pernik mulai dari manik, sulaman hingga hiasan bola-bola dari benang wol.

Dibandingkan dengan caping yang terbuat dari anyaman kulit bambu, seraung lebih rapuh. Karena terbuat dari daun maka tak akan bertahan lama. Umur pakai yang tidak panjang ini menjadi keuntungan untuk para pengrajin seraung. Mereka bisa terus membuat seraung sebagai aktifitas untuk memperoleh pendapatan untuk membantu menopang kebutuhan hidup sehari-hari.