Dalam pengertian yang ‘jadul’ literasi dipahami sebagai melek huruf. Mereka yang disebut sebagai literer adalah orang yang bisa baca tulis. Pandangan semacam ini masih tersisa hingga sekarang dalam wujud gerakan-gerakan literasi yang menekankan pada buku dan pengembangan perpustakaan.

Dalam situasi sekarang ini gerakan literasi yang bertujuan untuk menjadikan masyarakat doyan membaca buku menjadi lebih berat.

Sepuluh sampai lima belas tahun terakhir, perkembangan dunia internet menjadi sangat cepat, bukan hanya internet of thing {IoT} melainkan internet of everything {IoE}. Semua menjadi serba terhubung, terjadi konvergensi besar-besaran, segala sesuatu tersinkronisasi, bisa diakses atau bisa dikendalikan secara remote.

Seseorang bisa saja sendiri dalam kamar atau ruangan namun ternyata tengah melakukan kegiatan bersama, main game bersama {mabar}, belajar bersama teman sekelas lewat kelas online, melakukan konperensi atau seminar lewat aplikasi tele conference.

Kewargaan masyarakat kemudian berpindah menjadi warga internet atau netizen. Dengan menjadi warga internet, berbagai peralatan untuk komunikasi dan hiburan menjadi privat, compact dan mobile. Televisi, radio, music dan video player, kamera, alat tulis dan lain-lain disatukan dalam genggaman, namanya smartphone.

Dengan smartphone segala sesuatu yang menyenangkan kemudian ada di tangan. Setiap orang bisa menonton tanpa harus berebutan remote control televisi. Segala sesuatu yang disukai bisa ditonton tanpa harus menunggu jam tayang. Slogan kapan saja, dimana saja dan siapa saja bukan lagi hanya punya Coca Cola.

Tiga belas tahun lalu lewat Jurnal Kalam Edisi 24 Tahun 2007, Supartono sudah mengambarkan kecenderungan yang disebut dengan masyarakat visual.

“Semakin lama kita semakin rapat dikelilingi citra yang semakin canggih. Seakan kata perlahan digantikan citra. Waktu yang kita habiskan untuk membaca semakin dikurangi waktu kita untuk menonton. Semakin jarang kita merekam pengalaman dengan catatan buku harian, sebab melihat foto atau video-nya jauh lebih menyenangkan.

Fakta ini terlihat jelas dalam berbagai platform media sosial. Di masa-masa awal beberapa media sosial menjadi populer karena pertukaran teks, namun lama kelamaan yang menonjol di media sosial adalah visual.

Kini jenis media sosial yang paling banyak diakses adalah yang berbasis gambar, entah gambar mati atau gambar hidup seperti You Tube dan Instagram. Pun dengan Facebook yang kemudian menambahkan fitur untuk live streaming dan memutar video.

Whatsapp dan telegram juga menjadi populer karena kemampuan untuk menyertakan gambar dan video.

Melihat gambar atau foto dan menonton video memang jauh lebih menyenangkan ketimbang membaca teks atau mendengarkan suara. Maka tak perlu heran jika podcast yang mirip dengan radio tidak berkembang dengan pesat. Dikenal tapi tak banyak yang mendengarkan.

-000-

Ada ungkapan “One Picture is Worth a Thousand Words”, sebuah gambar bernilai seribu kata.

Napoleon Bonaparte juga mengatakan hal yang sama lewat cara yang lain. Katanya “Un bon croquis vault mieux qu’un long discour”, sketsa yang baik lebih baik dari pidato yang panjang.

Dan dalam dunia periklanan kemudian diterjemahkan dengan “One look is worth than a thousand words”, satu pandangan bernilai seribu kata.

Semua ungkapan itu mau menunjukkan bahwa citra atau rupa akan lebih cepat menarik perhatian dan mempersuasi.

Kecenderungan untuk mempersuasi ketimbang memberi informasi inilah yang kemudian menjadi obsesi para pemakai media sosial, yaitu viral.

Demi mengejar viralitas maka dicari atau dibuatlah citra yang bukan mengungkap kebenaran melainkan mencari pembenaran.

Tidak sedikit dari antaranya yang kemudian diproduksi dengan pertaruhan resiko yang sangat tinggi, membahayakan diri dan orang lain.

Tak sedikit orang yang celaka atau bahkan mati demi bisa mengambil foto selfi yang jika diupload di instagram akan memperolek ekposure yang tinggi.

Banyak orang, perusahaan, lembaga, publik figur dan lainnya salah kaprah dalam memandang media sosial untuk menjadi sarana memviralkan diri. Seolah dengan banyak dikomentari, dibagikan atau di-repost adalah pertanda kontennya bagus.

Menjadikan citra atau bentuk sebagai strategi untuk viral bisa menjauhkan dari tujuan atau bahkan menghantar pada tindakan-tindakan produksi yang dangkal, lebih memilih mencari sensasi ketimbang substansi.

Memilih citra atau bentuk seperti foto sebagai cara untuk viral sebenarnya tak akan bertahan lama, sebab bagaimanapun sebuah foto menyimpan satu kelemahan dasar. Meski benar satu foto bisa mengatakan banyak namun tetap saja realitas yang tertangkap oleh sebuah foto hanyalah sebuah cuplikan kecil dari konteks yang lebih luas.

Impresi dari sebuah foto selalu merupakan sebuah realitas yang dipilih oleh yang mengambilnya. Itulah yang disebut sebagai sudut pandang. Dan realitas itu kemudian bisa menjadi bias karena realitas bisa dikonstruksi dengan berbagai cara.

Alhasil foto kerap kali mewujud menjadi sebuah realitas yang mengatasi realitas. Caranya mudah saja yaitu dengan melakukan editing, baik selama mengambil {produksi} maupun saat sesudahnya {post production}.

Dengan berbagai aplikasi dan tools yan dipakai saat mengambil foto lalu mengolah sesudahnya realitas baru dibuat. Hasilnya adalah foto-foto yang dahsyat, malam jadi siang, gelap jadi terang, buram jadi kinclong dan seterusnya.

Walhasil banyak orang terpana kemudian kecewa, karena tempat yang memanjakan mata karena  viral di instagram ternyata tak seindah dari yang dikira ketika disambangi. Atau makanan dan minuman yang membuat liur menetes ternyata biasa saja ketika tersaji didepan mata.

-000-

Benarkah masyarakat kita malas membaca?.  Dugaan ini tentu saja mudah dibantah misalnya oleh mereka yang bergiat dalam kegiatan pemberian bantuan atau sumbangan buku. Mereka akan dengan mudah memberi kesaksian bahwa anak-anak di tempat buku disumbangkan amat antusias membaca buku.

Namun menelisik yang berkembang di media sosial, kecurigaan bahwa masyarakat kita malas membaca dengan mudah juga bisa dikonfirmasi. Dalam kolom komentar kerap kali terjadi debat atau diskusi yang tak nyambung dengan apa yang diposting.

Ekosistem media sosial memang bukan ekosistem pembaca, sehingga teks tanpa citra, gambar atau foto tidak akan menarik. Informasi yang berlimpah di media sosial membuat pemakainya bertindak seperti mesin scanner, akibatnya teks biasa dibaca dengan amat cepat. Membaca dengan cepat dengan fokus yang rendah membuat banyak hal luput dari perhatian. Pemahaman menjadi tidak lengkap.

Dalam konteks ini maka literasi menjadi sangat diperlukan. Pengertiannya adalah kemelekan, bukan hanya pada huruf melainkan pada berbagai produk kebudayaan, seperti melek baca, melek film, melek keuangan/investasi, melek produk visual, melek seni, melek digital dan seterusnya.

Literasi menjadi penting karena produk budaya dalam arti seluas-luasnya selalu mempunyai pesan dan pengetahuan di baliknya, namun sekaligus juga rawan untuk menimbulkan bias penafsiran.

Seperti sebuah foto, bagaimanapun sebuah foto semestinya menampilkan kebenaran dan tidak semestinya diambil untuk melakukan pembenaran.

Note : artikel ini merupakan penulisan ulang atas bahan pelatihan Photovoices yang diselenggarakan oleh Yayasan Bioma di Desa Semayang, Tubuhan, Kahala dan Kahala Ilir bekerja sama dengan GIZ dalam program asistensi dan fasilitasi pembangunan rendah karbon berbasis desa pada kawasan gambut Kalimantan Timur.