Dunia visual terdemokratisasi dengan kehadiran internet. Dimulai dari hadirnya website yang kemudian disusul oleh berbagai aplikasi media sosial yang interaktif.
Masuknya visual dalam internet menjadikan citra atau bentuk menjadi virtual, bentuk yang seolah nyata, mirip dengan aslinya dan bisa diakses dengan berbagai cara serta dari mana saja selama tersedia perangkat dan akses data.
Dahulu sebelum kehadiran internet, ruang komunikasi visual hanya dikuasai oleh kelompok tertentu seperti media, lembaga penyiaran, pemerintah atau lembaga yang khusus menangani hal itu. Masyarakat luas pada saat itu lebih bertindak sebagai obyek, sasaran atau penonton. Komunikasi visual bukanlah komunikasi yang seimbang karena bersifat searah.
Revolusi komunikasi yang dihadirkan oleh internet kemudian merubah kondisi itu. Terlebih dengan hadirnya smartphone yang kemudian memungkinkan orang untuk mengakses internet dari mana saja alias mobile.
Kemudahan untuk berkomunikasi secara visual dalam ruang virtual juga didukung oleh kemunculan berbagai platform atau aplikasi dalam banyak bentuk layanan. Layanan yang umumnya mengkonvergensi antara suara, teks, gambar dan video.
Paltform yang terbuka dan bahkan gratis itu juga memungkinkan untuk melakukan sinkronisasi antar aplikasi sehingga dalam sekali klik pesan bisa tersiar dalam berbagai saluran.
Meski bukan sesuatu yang diharapkan dan direncanakan, pandemi Covid 19 berjasa besar dalam memicu percepatan tumbuhnya masyarakat virtual.
Bahwa sebelum sudah dipikirkan atau mulai dipraktekkan tentang pembelajaran jarak jauh, kantor cerdas, kantor nir kertas, gedung cerdas, belanja online dan lain-lain, namun pandemic Covid 19 mendorong penerapannya menjadi meluas karena tidak ada pilihan lain.
Aspek virtual yaitu bertemu tanpa berada bersama seolah mewakili apa yang mesti dilakukan untuk meredam penyebaran Covid 19 yaitu jaga jarak.
Dan dengan platform atau aplikasi virtual akhirnya jaga jarak tetap bisa produktif.
Murid-murid tetap bisa belajar meskipun di rumah saja, bisa ujian, lulus dan kemudian mendaftar ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus berdesak-desakkan di loket pendaftaran.
Rumah makan meski ruangannya sepi namun order tetap berdatangan.
Mahasiswa tetap bangga bisa menyelesaikan studinya dan diwisuda dengan memakai toga di kamar kost-nya.
Ibadah, doa dan sembahyang bisa dilakukan dimana saja sehingga membuat permukaan bumi menjadi tempat suci semuanya.
Mengantisipasi orang yang bosan di rumah dan rebahan, pemandu wisata juga tak kehilangan akal. Mereka menciptakan piknik virtual, mengajak orang berjalan-jalan, piknik ke berbagai destinasi wisata tanpa harus meninggalkan rumahnya.
Selain berbagai aplikasi atau moda komunikasi virtual, kini juga telah tersedia asisten virtual yang bisa memberi bantuan dengan perintah suara. Di ekosistem IOS atau apple tersedia asisten virtual SIRI, Samsung mempunyai Bixby, sementara pada ekosistem android terpatri google mobile service yang salah satu layanannya adalah google assistant. Marketplace Amazon juga mengembangkan Alexa, sementara Microsoft juga tak mau ketinggalan dengan kehadiran Cortana.
-000-
Kecenderungan serba digital dan visual sehingga menjadi virtual tak pelak merubah pola perilaku masyarakat dalam berkomunikasi dan pencarian informasi.
Sampai dengan lima tahun lalu, penonton youtube dan pemakai media sosial pertukaran foto serta video umumnya terkonsentrasi di perkotaan.
Migrasi para selibritas televisi ke youtube membuat masyarakat perdesaan yang tadinya masih setia menonton televisi kemudian berpindah ke ruang virtual.
Youtube tadinya dianggap lebih dari televisi dan kemudian menjadi tontonan alternatif bagi mereka yang kritis terhadap tayangan televisi, namun perlahan atau kini, youtube tidak lebih dari televisi. Apa yang ada di televisi kini ada di youtube.
Masuknya masyarakat perdesaan dalam dunia virtual menjadi sebuah kesempatan bagi mereka untuk melakukan lompatan digital. Biasanya karena tertinggal masyarakat perdesaan kemudian hanya akan menjadi konsumen informasi. Jauh dari kota namun yang diperbincangkan justru informasi perkotaan yang relevansinya kecil bagi kehidupan mereka.
Itulah desa yang selalu terhegemoni oleh kota dalam urusan teknologi dan informasi.
Maka menjadi penting bagaimana membuat desa kemudian naik kelas, tidak tertinggal oleh kota dalam memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi virtual ini.
Desa mesti naik kelas, bukan hanya sebagai konsumen melainkan juga produsen informasi.
Dan hal ini dimungkinkan sebab platform virtual bersifat inklusif, tidak membedakan antara orang desa dan kota, semua bisa memanfaatkan secara setara.
Untuk menjadi innovator atau pengembang kemungkinannya memang sulit karena ekosistem virtual banyak butuh dukungan dan sumberdaya. Sesuatu yang kini hanya terkonsentrasi di perkotaan.
Apa yang bisa menjadi tujuan adalah agar masyarakat perdesaan tidak terseret arus atau hanyut dalam gelombang virtual yang diproduksi oleh perkotaan.
Caranya adalah dengan memanfaatkan arus atau menunggang gelombang itu.
Sebagai contoh dalam arus informasi, kini paparan informasi lebih berasal dari perkotaan ke perdesaan bukan sebaliknya. Orang desa lebih tahu dan kenal kebiasaan Ayu Ting Ting, Nagita Slavina, Baim Wong, Raffi Ahmad dan Atta Halilintar ketimbang kebiasaan masyarakat di sekitarnya.
Arus ini bisa diputar dengan cara mendorong masyarakat perdesaan untuk memproduksi konten informasi dan kemudian mempublikasikan di ruang virtual serta membuatnya menjadi relevan untuk warga internet.
Di tengah melimpah ruahnya informasi pada ruang virtual yang berbasis pada berbagai macam aspek yang bias perkotaan, arus informasi dari desa yang diproduksi dalam perspektif orang desa akan menjadi arus kesegaran baru yang mempunyai daya ungkit untuk melakukan perubahan.
Sampai dengan saat ini sedikit sekali konten yang diproduksi oleh masyarakat desa sebagai masyarakat desa. Kebanyakan konten yang diproduksi bias oleh perspektif perkotaan karena orang desa belajar dari para selebritas, media, peneliti dan lain-lain yang datang ke desa mereka lalu melakukan publikasi.
-000-
Membekali masyarakat perdesaan dengan pengetahuan dan ketrampilan atau literasi digital serta visual untuk ikut bermain dalam ruang virtual mestinya menjadi pilihan bagi mereka yang peduli terhadap masyarakat desa.
Untuk itu diperlukan sebuah pengorganisasian agar bisa mengerakkan masyarakat desa secara partisipatoris dalam mendokumentasikan kehidupan di desanya. Dokumentasi yang bukan hanya bertujuan untuk dipertontonkan pada orang lain melainkan juga sebagai sarana bagi mereka untuk lebih mengenal diri dan lingkungannya.
Pengorganisasian bukan membuat organisasi seperti kebiasaan selama ini dimana di desa-desa dibentuk kelompok-kelompok yang didesain dari atas. Pengorganisasian adalah bentuk kegiatan untuk penyadaran bagi masyarakat, menambah pengetahuan dan ketrampilan sehingga mereka menjadi percaya diri untuk bertindak dari, oleh dan untuk masyarakat desa.
Orang desa mesti percaya diri bahwa apa yang ada dalam diri, masyarakat dan lingkungan mereka layak untuk diketahui oleh banyak orang. Kehidupan di desa yang apa adanya juga menarik dan penting serta relevan untuk masyarakat di tempat lain.
Maka keinginan untuk mengembangkan desanya menjadi desa wisata misalnya tak harus meniru atau mereplikasi desa-desa lainnya yang sudah viral. Viral karena mengecat atap, dinding, pohon, batu kali bahkan kuburan dengan cat warna-warni.
Desa sebagai sistem kehidupan pasti mempunyai kebudayaan, pengetahuan, nilai, praktek dan teknologi yang masih dihayati serta dijaga.
Dan ruang kebudayaan serta lingkungan hidup dimana kebudayaan berkembang adalah tambang informasi yang tidak akan habis untuk digali.
Dan apa yang dipublikasikan tidak melulu hanya agar orang mengenal melainkan juga dimaksudkan agar para pengambil dan penentu kebijakan bisa merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan.
Maka pesan yang tersebar dari perdesaan bukan hanya berisi informasi untuk menambah pengetahuan masyarakat luas melainkan juga data dan suara yang mendorongkan perubahan kebijakan agar lebih berpihak pada kepentingan masyarakat desa dan tidak bias perkotaan.
Note : artikel ini merupakan penulisan ulang atas bahan pelatihan Photovoices yang diselenggarakan oleh Yayasan Bioma di Desa Semayang, Tubuhan, Kahala dan Kahala Ilir bekerja sama dengan GIZ dalam program asistensi dan fasilitasi pembangunan rendah karbon berbasis desa pada kawasan gambut Kalimantan Timur.








