Setiap orang yang belajar jurnalistik akan diberi doktrin tentang nilai berita. Nilai yang harus dipikirkan atau mendasari penulisan berita agar apa yang disampaikan layak untuk disebut sebagai sebuah ‘berita’.
Acuan untuk menulis berita terdiri dari lima hal yaitu 1. Kekinian/up to date {timelines}, 2. Kedekatan {proximity}, 3. Keterkenalan {prominence}, 4. Dampak {consequence} dan 5. Konflik {conflict}.
Lepas dari acuan itu maka seorang reporter yang sudah jungkir balik seharian untuk mencari dan kemudian menuliskan berita dijamin apa yang dituliskannya tidak akan muncul pada halaman media tempat dirinya bekerja.
Tapi itu cerita dahulu, saat media massa mainstreams masih adekuat sebagai rujukan informasi atau berita.
Namun dunia berubah ketika muncul berbagai platform media sosial yang kemudian disebut sebagai new media.
Media baru ini cara kerjanya berbeda dengan media mainstream, sama-sama beroperasi di ruang publik, media baru dikendalikan oleh orang per orangan atau privat.
Hadirnya media baru ini memungkinkan setiap orang menjadi produsen sekaligus publishing informasi.
Sepuluh sampai lima belas tahun lalu banyak terdengar kata gaptek. Ini banyak diungkapkan oleh mereka yang merasa sudah ketinggalan jaman dan tak mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Di masa itu banyak orang yang berumur lima puluh tahunan tak mau memakai media sosial karena khawatir tak bisa mengoperasikannya.
Namun kini tak ada lagi yang mengatakan hal itu, teknologi menjadi semakin mudah dioperasikan. Maka tak ada pilihan lain bagi para generasi manual selain melakukan migrasi digital. Dan terbukti kini pemakai facebook umumnya adalah orang tua.
Dalam laporan “Digital 2021” yang dirilis oleh agensi pemasaran media sosial We Are Social diungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Ini artinya penetrasi internet mencapai 73,7 persen dari jumlah penduduk saat ini yakni 274,9 juta jiwa.
Kelompok usia produktif {16 – 64 tahun} merupakan kelompok pengguna terbesar. Sementara perangkat yang terbesar dipakai untuk mengakses internet adalah smarphone. 98,3 persen kelompok usia produktif mempunyai smartphone. Dan tak sedikit dari antaranya yang mempunyai lebih dari satu.
Laporan yang sama juga mengatakan bahwa rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 8 jam 52 menit untuk mengakses internet. Aktivitas yang paling digemari di internet adalah media sosial. Waktu rata-rata yang dihabiskan untuk bermedia sosial adalah 3 jam 14 menit.
Baru disusul untuk menonton streaming/broadcast selama 2 jam 50 menit, baca berita online 1 jam 38 menit, mendengar streaming musik 1 jam 30 menit. Dan jumlah waktu yang paling sedikit alokasinya adalah mendengar siaran berbasis suara {radio/podcast} yang tak lebih dari 44 menit.
Dengan karakter dan perilaku pengguna internet seperti itu maka tak heran jika kemudian aplikasi Tik Tok kemudian menjadi salah satu yang pertumbuhannya paling cepat pada kuartal pertama dan kedua tahun 2020. Di google play store dan apps store jumlah unduhan Tik Tok sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia.
Di luar itu tentu saja facebook sebagai pelopor media sosial masih bertengger di tempat yang tinggi. Di Indonesia pengguna aktifnya tidak kurang dari 115 juta orang. Banyaknya pengguna membuat facebook menjadi medan tempur para buzzer dan tentara digital.
Instagram sebagai platform berbagai foto juga semakin populer, bukan hanya di kalangan anak muda melainkan juga di kalangan para pemasar. Para influencer atau endorser banyak bermain di instagram.
Bertahan dalam jumlah karakter, Twitter juga masih cukup populer terutama di perkotaan.
Tentu masih banyak aplikasi lain yang juga populer meski popularitasnya berkisar pada kelompok tertentu.
Melalui dan lewat aplikasi-aplikasi ini setiap orang bisa mengaktualisasikan dirinya, berbagi kegiatannya sehari-hari, berbagi informasi dan bahkan bisa berjualan apa saja.
Platform yang multi guna ini kemudian kerap kali menimbulkan kebingungan karena tidak jelasnya perbedaan antara fakta dan opini serta informasi dan persuasi dalam komunikasi sehari-hari kita.
-000-
Ketika belajar tentang pembuatan film dokumenter, mentor saya mengatakan bahwa film yang menarik atau akan ditonton oleh banyak orang selalu berhubungan dengan cairan tubuh.
Tema-tema yang berhubungan dengan cairan tubuh antara lain tentang hal-hal yang menyedihkan, tragedi atau kesialan {air mata}, kerja keras atau perjuangan {air keringat}, konflik atau peperangan {darah} dan seks atau percintaan {cairan kelamin}.
Rumus ini sebenarnya bisa juga berlaku untuk postingan di media sosial. Status atau postingan di media sosial yang berhubungan dengan tema diatas berpotensi menjadi viral.
Seorang penulis buku selalu bermimpi tulisannya menjadi best seller, pembuat film selalu berkeinginan menembus box office sementara seorang facebooker, twitterian, instagramer dan youtuber selalu terosebsi untuk trending.
Dengan menjadi trending atau viral, pemakai media sosial akan naik kelas menjadi seorang yang berpengaruh, mempunyai banyak follower atau fansbase yang loyal.
Strategi untuk menjadi viral atau trending tidak identik dengan membangun relevansi atau kompetensi dalam bidang tertentu. Viral atau trendingnya sebuah topik lebih terkait dengan kesesuaian pada algoritma media sosial.
Apa yang sesuai dengan algoritma akan direkomandasikan oleh sistem yang mewujud dalam kecerdasan buatan kepada pemakai lainnya.
Untuk ramah terhadap algoritma, sebuah postingan apapun bentuknya mesti lebih kuat nuansa opininya ketimbang informasinya. Itu artinya informasi yang disukai cenderung bersifat konspiratif. Sesuatu yang konspiratif akan lebih punya peluang menimbulkan kontroversi yang akan memancing reaksi. Reaksi-reaksi yang kemudian akan memunculkan klarifikasi sehingga postingan terus berkembang. Ibarat berita kemudian akan menjadi running news, berita yang berkelanjutan.
Perilaku menjadikan viral sebagai strategi membuat media sosial menjadi tempat yang penuh kegaduhan, penuh dengan keributan. Yang kalau diikuti atau diteruskan akan membuat polisi menjadi sibuk menerima laporan atau pengaduan.
Banyak orang yang baperan baik untuk dirinya sendiri atau orang lain kemudian menggunakan UU ITE sebagai landasan untuk melaporkan sebuah konten kepada penegak hukum, memberi somasi dan lain sebagainya.
Lebih banyak pengaduan mentah di tangan polisi karena tidak memenuhi syarat untuk diproses. Nampaknya mengadukan seseorang kemudian dijadikan salah satu cara untuk menjadi viral, pansos demikian istilah para selebritas.
Mengamati perilaku pemakai media sosial, algoritma kemudian akan merekomandasi atau mengarahkan seseorang pada apa yang disukai, memasok konten yang oleh algoritma dianggap penting bagi orang tersebut. Sistem ini pada akhirnya akan membuat seseorang dibanjiri dengan informasi yang disukainya saja. Algoritma media sosial pada akhirnya membuat pemakai media sosial terkotak-kotak, terbelah dalam berbagai kelompok yang loyal pada hal tertentu dan benci pada yang lainnya.
Selalu ada penyuka tetapi juga pembenci. Kehadiran para pembenci juga tak lepas dari strategi viral. Kelompok pembenci atau hatters biasanya akan cepat memberi tanggapan, menyerang atau menyanggah. Tanggapan, serangan atau sanggahan justru membuat sebuah postingan akan memperoleh impresi yang bagus.
Strategi untuk menjadi viral dengan cara dan konten yang receh membuat media sosial kehilangan makna sebagai sarana untuk berbagi informasi, pengetahuan, nilai, pengalaman, inspirasi yang sebenarnya merupakan tujuan dari kehadirannya.
Viral mestinya bukan merupakan tujuan. Sebab semata hanya mengejar viral maka seseorang akan kehilangan tujuan utama dari kehadirannya di media sosial. Demi viralitas seseorang akan mengejar sensasi ketimbang substansi. Aksi ketimbang esensi.
-000-
Di media sosial kerumunan sudah terbentuk, seolah tidak ada lagi celah untuk ikut masuk dan memberi pengaruh. Sebenarnya tidak demikian karena selalu masih tersedia ruang untuk ikut memberi pengaruh tanpa harus ikut arus atau trending topic.
Selalu ada anomali dalam algoritma. Selalu ada konten yang mendidik, informatif dan jauh dari kontroversi namun tetap menarik perhatian. Sesuatu yang serius tidak selalu diabaikan di media sosial.
Salah satu celah yang bisa menjadi peluang untuk menarik perhatian di media sosial adalah informasi tentang perdesaan. Informasi tentang desa biasanya tidak segenerik tentang kota yang dinamikanya cenderung tergantung pada trend.
Apa yang diperlukan adalah sedikit investasi dan komitmen dari masyarakat perdesaan terutama generasi mudanya agar meluangkan waktu untuk belajar mencari informasi, mendokumentasikan kehidupan dan lingkungan sehari-hari mereka, mengolahnya menjadi konten yang menarik dan kemudian mempublikasikan di media sosial secara benar.
Tidaklah sulit untuk menghasilkan konten berkualitas meski hanya bermodal smartphone. Berkualitas artinya informasi digali dari sumber yang tepat, berdasar pada pengalaman atau nilai-nilai yang dihayati oleh masyarakat setempat. Kualitas mengacu pada kebenaran, apa yang ditampilkan adalah yang benar adanya, tidak dimodifikasi atau dimanipulasi agar menarik perhatian.
Belajar dari pengalaman para seleb ternama di media sosial, mereka bisa mencapai level saat ini karena ditopang oleh sebuah tim kerja yang solid.
Maka untuk menjadi bermakna di media sosial kerja kolektif nampaknya menjadi pilihan agar konten tidak semata bertumpu pada kuantitas melainkan juga kualitas.
Masyarakat desa atau kelompok masyarakatnya bisa membentuk tim atau kelompok kerja baik berdasarkan kategori demografis atau profesi atau kategori lainnya untuk bekerja bersama di media sosial.
Yakinlah ada banyak aspek dari kehidupan bersama dan budaya di perdesaan yang akan menjadi menarik ketika dipublikasikan di media sosial. Andai semua itu bisa dikemas dalam berbagai model penyajian, niscaya informasi dari perdesaan akan menjadi sesuatu yang unik, yang berbeda dengan apa yang sedang berkembang hingga akhirnya akan merubah arah perhatian kerumunan pemakai media sosial ke perdesaan.
Suara desa haruslah disuarakan sendiri oleh masyarakatnya bukan tergantung atau berharap dari kepedulian orang kota yang gila urusan.
Note : artikel ini merupakan penulisan ulang atas bahan pelatihan Photovoices yang diselenggarakan oleh Yayasan Bioma di Desa Semayang, Tubuhan, Kahala dan Kahala Ilir bekerja sama dengan GIZ dalam program asistensi dan fasilitasi pembangunan rendah karbon berbasis desa pada kawasan gambut Kalimantan Timur.








