Kita pasti pernah punya pengalaman berteman dengan seseorang yang punya banyak rencana mulia sebagai respon atas kecenderungan buruk yang berkembang di masyarakat.
Ketika konten media sosial cenderung receh dan bikin kisruh serta rusuh, ada teman yang kemudian berpikir untuk memproduksi konten yang lebih bermutu.
“Mesti dilawan dengan postingan yang bermutu, bernilai edukatif dan informatif,” ujarnya.
Hanya saja setelah lama ditunggu ternyata konten yang dimaksud tak juga nonggol di akun media sosialnya.
Ketika ditanya mana?. Jawabnya justru keluhan.
“Gak punya alat yang proper,” itu alasannya.
Menurutnya untuk memproduksi konten yang berkualitas dibutuhkan alat yang berkualitas pula.
“Jangan amatir, harus professional,” ujarnya.
Dan teman yang punya alasan seperti itu, membatalkan sendiri niat sucinya karena ketiadaan alat yang pro bukan cuma satu atau dua.
Memang benar ada rupa ada barang, tetapi itu bukanlah dogma mati yang harus diyakini.
Urusan amatir atau professional itu ukurannya bukan pada mutu atau kualitas produk melainkan beroleh pendapatan dari situ atau tidak. Seorang disebut amatir karena tidak mencari pendapatan dari apa yang dilakukannya. Sementara seorang disebut professional karena dari situlah dia mendapatkan penghasilan.
Maka seorang pembuat konten yang tidak bermaksud mencari pendapatan dari kreasinya adalah seorang amatir, sementara pembuat konten yang mencari penghasilan atau cuan dari kontennya adalah seorang professional.
Ada banyak orang yang hobinya fotografi, peralatannya jauh lebih mahal dari mereka yang profesinya fotografer. Tak sedikit pula orang yang doyan main game, laptopnya jauh lebih gahar dari mereka yang menekuni dunia e-sport.
Artinya yang disebut dengan mutu tidak mesti dikaitkan dengan alat atau perangkat untuk membuatnya. Mutu lebih berhubungan dengan man behind the gun.
Jadi tak perlu berkecil hati andai punya cita-cita tinggi lagi mulia namun tak mempunyai peralatan yang tinggi spek-nya.
Toh kebanyakan dari kita sebenarnya memang BPJS atau bujet pas-pasan jiwa sosialita. Maka nggak perlu sedih kalau merasa fakir alat, tetaplah jadilah kere hore.
-000-
Untuk bisa memenuhi kebutuhan konten di media sosial sebenarnya tidak perlu kamera atau laptop tersendiri. Smartphone sudah cukup dan mumpuni untuk mendukung kreasi di media sosial.
Kemampuan kamera di smartphone untuk menghasilkan gambar baik foto maupun video sudah lebih dari cukup. Aplikasi kamera di smartphone juga sudah dilengkapi dengan mode manual sebagaimana ditemukan dalam kamera DSLR dan Mirrorless.
Masalahnya adalah kita tak setekun belajar mengoperasikan kamera smartphone dibanding dengan saat kita mempelajari kamera DSLR dan Mirrorless.
Jadi ketika memotret dengan smartphone, kita cenderung memotret begitu saja. Sementara ketika memotret memakai DSLR atau Mirrorless kita akan mempertimbangkan sudut pandang, komposisi, aperture, shutter speed, iso dan lainnya.
Padahal prinsip, rumus dan aturan pengambilan gambar dengan kamera DSLR atau Mirroless bisa juga diterapkan dalam pengambilan gambar dengan kamera smartphone.
Salah satu yang sering diabaikan dalam memotret dengan smartphone adalah kebersihan lensa. Sebagai barang yang sering dipegang-pegang kemungkinan besar lensa kamera smartphone kotor sehingga hasil foto menjadi buram atau berkabut.
Karena tipis, kecil dan ringan, besar kemungkinan saat memotret dengan smartphone terjadi goncangan. Pegang smartphone dengan kedua tangan, kalau perlu siku bertumpu di badan. Dan pencet dengan lembut tombol shutter-nya tak perlu menghentak.
Kecepatan sensor untuk menangkap cahaya dan kemudian mengubahnya menjadi gambar pada smartphone bisa jadi belum secepat kamera DSLR dan Mirrorless, maka tahan sejenak setelah memotret, pastikan gambar sudah disimpan agar hasilnya baik.
Tak bisa ditutupi bahwa ada kelemahan lain dari lensa kamera smartphone yakni kemampuan untuk melakukan zoom. Meski bisa namun zoom di kamera smartphone sebenarnya merupakan proses cropping secara digital, bukan optical. Maka jangan malas bergerak jika memotret dengan smartphone, mendekatlah pada objek, usahakan sesedikit mungkin melakukan zoom.
Pencahayaan terbaik dalam memotret dengan smartphone adalah pencahayaan alami. Meski demikian perlu diperhatikan arah datangnya cahaya. Jangan memotret objek yang pencahayaannya kuat dari belakang. Hindari pula pemotretan dengan cahaya yang lebih kuat dari belakang pemotret karena obyek bisa tertimpa bayangan pemotret.
Cahaya terbaik dalam pemotretan dengan smartphone adalah dari samping dan atas.
Dalam kondisi tertentu memotret dengan smartphone butuh alat bantu seperti monopod, tripod, gorillapod dan gimbal.
-000-
Sebagian besar dari kita pasti ingat, beberapa tahun lampau jika melihat seseorang menenteng kamela DLSR dengan lensa panjang, kombinasi yang membuat kamera terlihat berat maka orang itu akan dijuluki wartawan.
Membawa kamera dengan tas punggung dan aksesories lain yang digantungkan di tas terasa kerena dan membuat orang menjadi percaya diri untuk memotret apapun. Makin besar kamera makin mengintimidasi yang lainnya.
Tapi kini membawa kamera sejenis itu bakal dianggap sebagai mahkluk bodoh dan sok ribet, sebab sudah banyak kamera yang lebih kecil dan ringan serta tak mencolok yang kemampuannya sudah menyamai kamera besar serta berat itu.
Pun juga dengan kamera smartphone, jangan berkecil hati kalau modal kita hanya smartphone. Tak perlu rendah diri karena kemampuan smartphone untuk merekam gambar semakin hari semakin baik, entah itu pada hardware, system maupun aplikasi bawaannya.
Bahkan jika sekarang dibandingkan, kemungkinan besar lebih banyak orang yang menghasilkan uang dengan kamera handphone dibandingkan dengan kamera DSLR dan Mirrorless atau jenis kamera lainnya.
Pemasar digital umumnya menjual dagangannya entah di media sosial atau marketplace dengan foto yang diambil oleh kamera smartphone.
Banyak juga produksi iklan, film, video klip atau konten lainnya yang diambil dengan kamera smartphone.
Jadi untuk sesiapapun yang punya keinginan besar merubah wajah media sosial jangan pendam keinginan itu hanya karena tak punya kamera DLSR, Mirrorless dan laptop dengan sertifikasi evo.
Jadikan smartphone yang kita pegang sehari-hari menjadi alat untuk merubah dunia. Kere hore sekalipun kita tetap punya kesempatan yang sama untuk menjadikan dunia lebih baik.
Jadilah percaya diri dan cerdas dengan smartphone kita.
Note : artikel ini merupakan penulisan ulang atas bahan pelatihan Photovoices yang diselenggarakan oleh Yayasan Bioma di Desa Semayang, Tubuhan, Kahala dan Kahala Ilir bekerja sama dengan GIZ dalam program asistensi dan fasilitasi pembangunan rendah karbon berbasis desa pada kawasan gambut Kalimantan Timur.








