Lewat grup Whatsapp biasa ada kabar yang berisi table-tabel pemeringkatan. Kabar yang isinya bisa membuat bahagia, was-was, khawatir tapi juga berteriak, “Horeee!” karena kita mendapat peringkat yang tinggi, ranking atas karena nangkring di tangga juara.
Laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan media asal Inggris, We Are Social yang bekerja sama denfan Hootsuite dalam rilis berjudul “Digital 2012 : The Latest Insights Inti The State of Digital” yang terbit pada 11 Februari 2021 menempatkan Indonesia dalam 10 besar negara yang warganya aktif bermedia sosial.
Dari laporan itu rata-rata waktu yang dihabiskan oleh warga negara Indonesia untuk mengakses media sosial adalah 3 jam 14 menit.
Tangga juara akan semakin tinggi apabila yang dihitung adalah pemakai media sosial. Dengan jumlah penduduk yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, pemakai media sosial di Indonesia jumlahnya bisa mencapai peringkat ketiga sedunia.
Jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 61,8 persen dari total populasi. Artinya 170 juta dari total penduduk yang berjumlah 274,9 juta jiwa adalah pemakai media sosial.
Dengan pasukan pemakai media sosial yang maha besar mestinya Indonesia bisa mewarnai dunia. Bagaimanapun jumlah amat berpengaruh, sebab jumlah yang besar dan kemudian bersatu padu pasti akan selalu berhasil menciptakan trending topics, sesuatu yang merupakan ukuran keberhasilan sebuah pesan di media sosial.
Tapi apa hasilnya?.
Berdasarkan survey Microsoft yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang tahun 2020, Indonesia ditempatkan pada urutan ke 29 dari 32 negara yang disurvei. Dari pemeringkatan tersebut Indonesia adalah negara dengan tingkat kesopanan paling rendah di Asia Tenggara.
Dan sontak saja akun instagram Microsoft langsung dibanjiri komentar dari netizen Indonesia yang tidak terima dikatakan sebagai yang paling tidak sopan. Mendapat serangan bertubi-tubi, kolom komentar akhirnya dikunci oleh Microsoft. Barangkali langkah itu dilakukan oleh Microsoft agar yang marah-marah dikatakan tidak sopan tidak melakukan tindakan yang sangat tidak sopan.
Dunia media sosial adalah ruang kebebasan yang sesungguhnya, disana setiap orang menjadi sama. Tak heran jika dari media sosial muncul istilah ‘matinya era kepakaran’. Sebab pendapat atau paparan dari manusia entah berantah bisa saja lebih dipercaya ketimbang pakar yang sesungguhnya. Ukuran kebenaran di media sosial adalah disukai atau tidak disukai. Akibatnya sesuatu yang disukai oleh banyak orang akan menjadi kebenaran yang diyakini.
-000-
Ryu Hasan salah satu dari sedikit ahli neuroscience berkali-kali mengingatkan agar tidak gumunan terhadap perilaku netizen yang gemar mengeluh, memaki, menghakimi, doyan klikbait, menyukai narasi konspiratif, cepat menyimpulkan dan merasa tak salah menyebarluaskan sesuatu yang misleading dan disinformatif.
Menurutnya memang begitulah cara kerja otak manusia. Kita selama ini menganggap otak adalah bagian yang mengantar orang pada rasionalitas. Sementara ruang spiritual, emosional, estetika dan lainnya ditempatkan di hati.
Padahal apapun yang terjadi dan berlaku dalam diri manusia semua dikendalikan oleh otak baik yang disadari maupun tidak disadari.
Dan kecenderungan manusia adalah memakai otak dengan energi paling rendah, maka bagian otak yang paling sering dipakai adalah otak emosional. Bagian yang mempunyai banyak template, preset dan informasi yang tersimpan dalam memori internal sehingga mudah dipanggil atau bahkan bisa berjalan secara otomatis.
Maka menjadi rasional perlu dilatih dan itulah yang menjadi tugas utama dari dunia pendidikan. Tujuan dari pendidikan adalah menjadikan orang menjadi rasional. Menjadi rasional artinya orang berani meragukan kebenaran yang berasal dari keyakinan.
Pemakai media sosial tentu saja orang berpendidikan, paling tidak semua pernah merasakan bangku sekolah. Nah, jika yang bersekolah saja kemudian dikenal sebagai mahkluk yang paling tidak sopan maka yang perlu dipertanyakan adalah mutu pendidikan. Adakah pendidikan kita mengajarkan dan melatih rasionalitas atau apa?.
Silahkan tinjau tujuan dari pendidikan nasional kita adakah secara ekplisit menempatkan perangai ilmiah sebagai tujuan utama atau tidak?. Jika tidak ya sudahlah, kita tak perlu berharap banyak bahwa netizen kita bisa mewarnai dunia dengan cara yang positif.
Tanpa perangai ilmiah jangan berharap isi media sosial kita bernilai informasi yang faktual, informasi yang bernilai pengetahuan dan pemikiran kritis. Sebab jika otak emosional yang lebih sering dipakai maka isi dari media sosial akan lebih bersifat komentar atau opini yang tidak dibangun dengan proses penarikan kesimpulan yang ketat, celoteh, ngasal dan lebih bernuansa persuasif dalam segala bentuknya.
Agitasi, provokasi dan konspirasi itulah iklim isi media sosial kita, yang kemudian akan diperpanjang dengan klarifikasi. Andai tidak clear kemudian akan dilanjutkan dengan pengaduan karena dianggap mencemarkan nama baik, memfitnah, menuduh dan lain sebagainya.
UU ITE kemudian dijadikan tameng untuk cepat-cepat memidanakan orang lain yang tidak disukai. Dan ini semakin menunjukkan betapa tidak rasionalnya kita.
-000-
Wajah media sosial kita menunjukkan bahwa kecepatan jempol untuk merangkai kata-kata jauh melebihi kecepatan otak untuk berpikir.
Sampaikan dulu pikir kemudian. Lakukan dulu, susun alasan kemudian.
Perilaku semacam ini mengkonfirmasi hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Unesco yang diterbitkan dalam laporan berjudul “The World’s Most Literate Nations” yang menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey.
Apa hubungan antara survey ini dengan tingkat rasionalitas?.
Membaca adalah pondasi atau modal untuk berpikir rasional. Karena dibanding dengan menonton dan mendengar, bahan bacaan bisa dibaca ulang, untuk diteliti, dimengerti dan dipahami. Dengan membaca kita akan berpikir, bukan hanya merasa, menyukai dan tidak menyukai.
Soal kecakapan membaca, tidak perlu diragukan lagi. Dunia pendidikan baik di sekolah maupun luar sekolah telah berhasil mengikis buta aksara.
Bagaimana dengan akses terhadap bacaan?. Mungkin saja fasilitas perpustakaan perlu diperbanyak, koleksi bukunya juga. Namun sebenarnya kekurangan fasilitas perpustakaan konvensional bisa diatasi dengan perpustakaan online.
Maka yang menjadi persoalan adalah niat untuk membaca atau budaya untuk mengakses bacaan.
Barangkali orang sudah merasa cukup hanya membaca satu dua komentar dan kesaksian orang atas sesuatu hal. Atau hanya melihat satu dua foto dan sepenggal video juga sudah merasa tahu atas apa yang ditunjukkan.
Dan perangai ini terus dipelihara bahkan oleh lembaga penerbitan yang punya tanggungjawab untuk ikut mendidik masyarakat menjadi rasional. Ada banyak berita yang dipublikasikan oleh media ternama yang demi meraih pembaca masih saja meneruskan jurnalisme omong-omong {bahkan omong kosong}. Mereproduksi kenyataan yang berbasis settingan, drama atau gimmick.
Dalam situasi seperti ini maka sulit bagi netizen Indonesia untuk rise above the crowd. Yang terjadi justru menjadi gerombolan, yang nyaman berkumpul dalam level yang sama. Seperti mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Merubah keadaan seperti ini menjadi sulit apalagi dengan cara melakukan lompatan perilaku. Dari doyan nonton menjadi doyan baca.
Hal yang bisa dilakukan adalah menjadikan gambar atau video sebagai jalan untuk membangkitkan niat tahu lebih dalam.
Jadi mulai sekarang untuk siapapun yang ingin meningkatkan literasi tanpa harus gembar-gembor agar kata literasi tak jadi basi, mulailah posting foto atau gambar dengan caption yang tak usah dibungai dengan kata-kata untuk meningkatkan impresi.
Atau ketika memposting sebuah video, berilah link atau tautan dalam deskripsi yang memungkinkan penonton untuk lebih mendalami apa yang ditunjukkan.
Terakhir, jangan percaya apapun yang dimulai dengan kata-kata ini, “Saya ingin cerita, sebuah kisah yang hanya diketahui di kalangan elit global dan beredar di dunia shadow,”
Yakinlah bahwa cerita atau kisah mind blowing seperti itu adalah buatan. Buatan yang akan menarik perhatian agar dipercaya terutama oleh mereka yang malas menelesuri obyektifitasnya. Mereka yang lebih mengedepankan kesukaan untuk membangun keyakinan, bukan kebenaran.
Note : artikel ini merupakan penulisan ulang atas bahan pelatihan Photovoices yang diselenggarakan oleh Yayasan Bioma di Desa Semayang, Tubuhan, Kahala dan Kahala Ilir bekerja sama dengan GIZ dalam program asistensi dan fasilitasi pembangunan rendah karbon berbasis desa pada kawasan gambut Kalimantan Timur.








