Jalur Jawa Sumatera Kalimantan {Jasuka}, minggu 21 September 2021 mengalami gangguan. Kabel laut bagian dari Indonesia Digital Network {IDN} ini adalah roh penghubung jaringan internet Indihome-Telkomsel.

Ribuan orang panik karena smartphone menghilang signalnya. Di layar tidak muncul notifikasi yang memberi tahu adanya pesan masuk entah di whatsapp, facebook, instagram atau email jika masih ada yang memakainya.

Semua ingin mencari kejelasan ada apa, tapi kemana?. Sebab tanpa signal paket data atau koneksi internet semua sumber informasi juga ikut hilang.

Listrik masih menyala tapi dunia gelap karena banyak orang berada dalam ketidakpastian. Sama-sama punya pertanyaan kenapa tapi tak bisa bertanya karena saluran untuk mempertanyakan tidak aktif.

Mau telepon?. Telepon pakai apa karena HP tak lagi diisi pulsa untuk telepon. Telepon rumah juga sudah diganti, dicabut pesawatnya untuk diganti dengan modem.

Gagal konek sebenarnya peristiwa biasa saja. Seperti listrik yang bisa mengalami black out. Penyebabnya macam-macam mulai dari teknis hingga non teknis. Dan jangan dikira penyebabnya selalu luar biasa. Hal sepelepun bisa mendatangkan petaka yang amat luas. Seperti pesawat yang besarnya puluhan gajah bisa terjatuh hanya karena mesinnya tertabrak rombongan burung yang badannya kecil-kecil.

Masalahnya kalau mati listrik orang bisa membangkitkan listrik dengan genset, mati air PDAM orang bisa membeli air dari mobil tanki. Tapi kalau mati signal, mau beli signal dimana?

Tanpa signal dunia serasa mati, berhenti berputar. Semua ini gara-gara media sosial, aplikasi yang membuat dunia kita terbelah. Kita hidup dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia maya/digital. Kehilangan salah satunya membuat  kita mati separuh diri.

Kini kita tak lagi bisa janjian tanpa melalui media sosial. Bertatap muka kemudian janjian untuk bertemu di sebuah tempat beberapa waktu ke depan tanpa disertai pantauan di media sosial serasa menghadapi janji para politisi. Manis di telinga tapi tak terbukti.

Dengan media sosial kita terhubung dengan sesuatu secara real time, waktu ke waktu. Selalu terhubung membuat jeda menjadi sebuah kekosongan. Kekosongan yang menimbulkan kekhawatiran.

Parah memang, sebab tanpa kehadiran media sosial banyak yang kemudian merasa takt ahu harus melakukan apa. Separuh eksistensi kita sudah diserahkan ke media sosial. Keadaan yang membuat akun media sosial tak berfungsi membawa kita dalam kondisi merasa tak utuh eksistensinya sebagai manusia.

Mereka yang punya akun media sosial tapi tidak aktif dalam waktu yang lama akan dianggap mati, lenyap dari permukaan dunia.

Begitu aktif lagi akan segera disambut dengan ucapan “Wah, bangkit dari kubur.”

BACA JUGA : Dibungkam Oleh Facebook

Orang diam dirumah saja, tidak kemana-mana namun tak aktif di media sosial akan segera mendapat pertanyaan “Woy, menghilang kemana?”

Dulu orang disebut menghilang karena pergi atau minggat dari rumah tanpa pamit. Kini baik-baik dirumah, diam di dalam kamar, rajin belajar atau bikin karya kreatif bisa dianggap menghilang karena media sosialnya tidak aktif, karena pesan yang masuk tidak dibaca dan tidak dibalas.

Membaca pesan tanpa membalas juga bisa dianggap marah atau tidak senang.

Manusia, orang dianggap tidak lengkap jika tak aktif di media sosial. Meng-unfriend pertemanan, unsubscribe, meninggalkan semua WAG bisa dicap sebagai mahkluk anti sosial. Dijuluki sebagai anti silaturahmi.

Sebutan manusia sebagai mahkluk sosial mulai dikoreksi. Sosialitas bukan hanya akrab di dunia nyata, menolong dan baik kepada orang lain, ikut gorong royong di lingkungan tempat tinggal, melayat ke rumah duka, menghadiri undangan resepsi. Sosialitas semacam itu hanya dianggap setengah atau tidak utuh jika kemudian tak aktif di WAG dan tak memposting kegiatan bersih gorong-gorong di media sosial, atau mengucapkan duka maupun selamat di halaman facebook atau postingan di instagram.

Kita mahkluk yang sebagian menganggap diri sebagai ciptaan keturunan Adam Hawa dan sebagian lain yang lebih merasa sebagai hasil produk evolusi dari kera besar, sekarang harus menghadapi kenyataan lain.

Teknologi kini menjadi unsur pembentuk kemanusiaan kita. Apapun kepercayaan dan keyakinan soal asal usul kita, kini tak bisa membuang kenyataan bahwa teknologi telah menjadi bagian integral dalam tubuh kemanusiaan. Separuh keberadaan dan kesadaran diri kita telah ditentukan oleh teknologi.

Dulu kita diajarkan kalau tidak tahu jangan malu bertanya. Maka bepergian ke tempat yang belum pernah dikunjugi dan malu-malu untuk bertanya bakal berakhir dengan sesat jalan. Kini tak butuh orang pemberani untuk pergi ke tempat antah berantah, sebab dengan bantuan google map, hampir semua permukaan bumi telah ada petunjuknya. Banyak bertanya malah bakal bikin tersesat.

Tak perlu banyak tanya lagi, anak-anak yang ceriwis dan doyan bertanya pasti bakal diberi jawaban “Googling aja,”.

Dulu yang maha tahu adalah Tuhan yang kalau ditanya tak mesti memberi jawaban. Google kini mengantikannya dengan selalu memberi jawaban jika ditanya. Jawabannya bisa banyak dan kadang malah membingungkan.

Dan siapapun yang dalam kehidupan sehari-hari banyak tahu atau sok tahu bakal dijuluki sebagai ‘google’.

BACA JUGA : Metaverse Evolusi Kapitalisme Yang Sempurna

Dalam diskursus tentang kemiskinan sering muncul anggapan serampangan bahwa penyebab kemiskinan adalah rasa malas, maksudnya malas bekerja, malas berusaha.

Tidak benar bahwa kemiskinan disebabkan oleh kemalasan, namun kesimpulan bahwa kemiskinan disebabkan oleh rasa malas adalah cermin dari kebiasaan kita yang sesungguhnya malas berpikir dengan otak rasional.

Suka berpikir dengan otak emosional memang merupakan kesukaan manusia. Karena mendasarkan pada emosi tidak akan membuat manusia jadi lelah. Berpikir dengan otak rasional akan menghabiskan energi.

Soal kebenaran, ketimbang menguji sesuatu sebagai benar atau tidak, lebih baik menyakini saja. Kebenaran diterima dengan keyakinan dan kemudian keyakinan menjadi kebenaran. Sesuatu baik jika banyak orang menyebutnya baik, sesuatu benar jika mayoritas orang mengatakan benar.

Kegemaran semacam ini kemudian disuburkan oleh media sosial. internet menjadi candu karena tidak menuntut pemakainya untuk berpikir dengan otak rasional. Nggak usah terlalu banyak mikir yang penting senang.

Kesenangan dan candu untuk mempercayai yang ingin dipercayai, menonton yang ingin ditonton dan seterusnya dengan sangat baik diwadahi oleh algoritma media sosial.

Orang-orang yang mempercayai bumi datar akan terus dibombardir dengan informasi yang mendukung kepercayaannya itu oleh media sosial. Mereka yang suka nonton tontonan tertentu terus saja akan diberi rekomandasi tontonan yang disukai oleh youtube.

Tak perlu mencari-cari sebab algoritma media sosial akan melakukan profiling kepada pemakainya. Dan dengan kecerdasan buatan serta mesin belajar yang disertakan dalam sistem maka media sosial bisa tahu lebih dahulu apa yang diinginkan oleh para pemakainya.

Dimanjakan oleh algoritma media sosial membuat kita menjadi semakin malas berpikir. Untuk apa berpikir jika semua sudah terjadi dan tinggal menikmati. Apa yang menyenangkan kita sudah ada di internet. Google, facebook, youtube dan marketplace menyediakan apa yang kita inginkan.

Makanya tak perlu heran ketika jaringan internet terganggu, terjadi blank spot sehingga membuat smartphone tempat kita menitipkan kecerdasan tidak bekerja, kita kemudian kehilangan separuh diri.

Tanpa internet kita hanya jadi manusia setengah.