Semua mahkluk hidup mempunyai kemampuan berkomunikasi, baik dengan sesama maupun mahkluk hidup lainnya.

Medium untuk menyampaikan pesannya bermacam-macam, ada yang berupa suara, gerakan, ekpresi, sentuhan, mengirim signal dan sebagainya.

Cara komunikasi manusia menjadi yang paling sempurna karena bahasa. Dengan bahasa pesan lebih jelas bisa disampaikan dan kemudian dimengerti sepenuhnya.

Manusia menjadi yang paling intensif mengembangkan kemampuan bahasanya. Monyet dan kera diduga juga mempunyai kemampuan berbahasa, namun hanya beberapa puluh kata yang bisa dimengerti antar mereka. Kata-kata itu biasanya digunakan untuk memberi peringatan pada yang lainnya jika ada ancaman bahaya.

Darimana manusia mengembangkan kemampuan berbahasa dan sejak kapan?.

Percepatan evolusi manusia dimulai sejak kelompok manusia mulai menguasai api. Dengan menguasai api, manusia kemudian mempunyai lebih banyak waktu untuk bercengkrama satu dengan yang lainnya.

Dengan api makanan kemudian dimasak sehingga semakin mudah dicerna. Energi untuk mencerna makanan kemudian bisa dihemat. Dengan adanya api hidup juga semakin nyaman, gelap malam bisa diterangi, dingin udara bisa dilawan.

Energi yang diperoleh dari makanan, waktu luang yang semakin banyak membuat manusia di malam hari bisa duduk mengelilingi api, bercengkrama untuk bercerita satu sama lainnya.

Komunikasi yang intensif ini kemudian membuat kemampuan berbahasanya kemudian berkembang dengan pesat.

Kemampuan berbahasa ini kemudian memberi sumbangan yang berarti dalam berhubungan dengan kelompok lain. Bahasa kemudian bisa mempersatukan, memungkinkan manusia bekerja sama secara lebih baik dan dalam skala yang luas.

Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens menuliskan bahwa bahasa adalah salah satu instrumen utama yang menunjang keselamatan manusia. Lewat bahasa, manusia bisa mengorganisasikan unit sosial yang lebih luas dari kera, monyet, simpanse, orang utan, gorilla dan lainnya.

Yang menjadi khas pada manusia, bahasa bukan hanya merupakan medium komunikasi semata. Bukan sekedar alat menyampaikan pesan satu sama yang lain. Manusia menggunakan bahasa untuk menciptakan cerita, kisah atau skenario yang tidak ada dalam realitas menjadi ada.

Dokter Ryu Hasan seorang ahli neuroscience menyebutkan bahwa begitu bisa berbahasa maka pelajaran dan ketrampilan yang dipelajari oleh manusia lewat bahasa adalah mengatakan yang tidak sebenarnya.

Apa yang tidak bisa lihat dengan mata, tak bisa kita dengar dengan telinga, tak bisa disentuh dengan tangan atau sebenarnya tak ada kemudian bisa dihadirkan di hadapan kita dengan bahasa.

Bahasa kemudian bekerja dalam sistem keyakinan, lebih bercorak konspirasi ketimbang konfirmasi.

Namun kemampuan manusia membuat skenario konspirasi dan cerita fiksi lainnya menjadikan manusia mampu mengorganisir kelompok. Membuat berbagai individu yang berada dalam kelompok merasa bahwa mereka adalah satu kesatuan karena berasal dari asal usul yang sama.

Dan ketika keyakinan ini juga tumbuh pada kelompok lainnya, maka berbagai kelompok kemudian bersatu menjadi kelompok besar yang punya keyakinan yang sama sehingga bisa saling bekerja sama.

Kehidupan manusia kemudian menjadi lebih teratur. Dengan bahasa kemudian dirumuskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bagaimana melakukan dan memperlakukan sesuatu dan seterusnya.

BACA JUGA : Manusia Setengah

Sebelum lahirnya ilmu yang dimulai dari filsafat dan ilmu-ilmu alam, kehidupan manusia secara berkelompok diatur dan dikendalikan oleh mitos dan legenda. Pertanyaan tentang apa, mengapa, siapa dan bagaimana dikembalikan dalam kisah-kisah mitologis. Masyarakat pengetahuan belum terbentuk, pengetahuan dikuasai oleh penguasa entah kepala suku, dukun, raja, bangsawan, tuan tanah dan lain-lain.

Penguasaan ini menentukan perkembangan dan dinamika bahasa. Muncul kelas dalam berbahasa, di banyak kebudayaan dikenal bahasa tinggi/bangsawan dan bahasa rakyat/bahasa pasar atau bahasa sehari-hari.

Bahasa yang awalnya bunyi kemudian dilambangkan. Muncul huruf dan menjadi bahasa tulisan. Dengan dituliskan bahasa menjadi lebih teratur dan awet karena bisa diturunkan dalam bentuk buku bacaan.

Pada awalnya bahasa tulis juga bersifat elit karena yang bisa dan pintar menulis tidak banyak. Penulis umumnya adalah orang-orang istana yang menuliskan kisah-kisah di seputar kerajaan. Mereka biasa disebut pujangga atau kawi sehingga kitab atau buku tulisannya disebut kakawin.

Bahasa tetap erat dengan kekuasaan, negeri-negeri kolonial yang menguasai tanah-tanah di negeri lain juga membawa serta bahasanya. Hingga kemudian ada bahasa yang mempunyai pengaruh yang luas.

Inggris, Perancis dan Jerman adalah salah satu bahasa yang kemudian dipakai luas karena kolonialisme. Dan dari antara bahasa-bahasa itu kemudian Inggris menjadi bahasa internasional.

Ada pula bahasa yang kemudian tinggal menjadi bahasa tulisan, seperti bahasa latin yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan.

Bahasa Jawa meski masih dipakai terus dipakai oleh masyarakatnya namun huruf atau tulisannya tidak lagi memakai huruf Jawa melainkan huruf latin.

Spektrum bahasa kemudian meluas, tidak lagi menjadi lambang dan bunyi untuk berkomunikasi dari kelompok berbasis suku atau wilayah. Muncul banyak dan ragam bahasa berdasarkan kebudayaan, agama, ekonomi dan lain-lain, nuansa bahasa menjadi sangat luas.

Dengan bertumbuhnya masyarakat, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa juga turut berkembang. Ke dalam bahasa dikenakan berbagai macam atribusi, muncul bahasa-bahasa yang khas bahkan bahasa yang tidak bisa dibahasakan namun mampu mengerakkan dan membuat program dalam komputer bekerja.

Kini yang memakai bahasa bukan hanya manusia melainkan juga sistem komputasi dan aplikasi.

BACA JUGA : Dibungkam Oleh Facebook

Aspek lain yang berkembang dalam bahasa adalah seni berbahasa. Sebagai alat penyampai pesan bahasa tidak hanya dipakai secara lugas melainkan juga dengan gaya.

Dalam konteks keadaan masyarakat, negara atau bangsa yang kerap bermasalah muncullah gaya perlawanan yang bertujuan untuk menyatakan ketidaksetujuan, ketidaksenangan dan lain-lain dengan memakai bahasa.

Perlawanan dengan memakai bahasa disebut dengan kritik. Dan dalam sejarah dikenal 5 gaya bahasa untuk menyampaikan kritik.

Gaya bahasa yang pertama disebut ironi. Kritikan atau sindiran disampaikan menggunakan kata-kata yang bertolak belakang dengan makna yang dimaksudkan. Contohnya : Kamu ini memang penyayang, sampah aja kamu pelihara di kamar tidak dibuang-buang.

Yang kedua disebut dengan sinisme. Sedikit lebih kasar dari ironi dan biasa digunakan untuk mengkritik sebuah keadaan atau ide. Contohnya : Badanmu ini bau naga, sudah sarjana kok tidak tahu caranya mandi.

Yang ketiga disebut dengan innuendo. Gaya bahasa ini dipakai dengan cara mengecilkan fakta yang sebenarnya. Contohnya : Dia itu sukses menduduki jabatan terhormat sebagai wakil rakyat dengan mengobral amplop pada pemilihnya.

Yang keempat disebut dengan sarkasme. Gaya bahasa ini menyampaikan ketidaksukaan atau keengganan pada sesuatu secara blak-blakan, keras dan kasar. Contohnya : Bicaramu saja yang berbusa-busa tapi kau tak melakukan apa-apa.

Dan yang kelima atau terakhir adalah satire. Seperti sarkasme namun kata-kata yang dipakai tidak secara langsung mengkritik, cenderung menggunakan humor sehingga yang mendengar tertawa keras namun yang dikritik tersenyum getir. Contohnya : Ruang sidang wakil rakyat ini memang megah dan nyaman. Pantas banyak wakil rakyat tertidur pulas disana.

Sayang kita yang pernah sekolah dan diberi pelajaran bahasa kerap melupakan pelajaran tentang gaya bahasa. Dan kini melahirkan gaya bahasa baru dalam urusan kritik mengkritik yang dinamakan dengan majas sopan dan solutif.

Majas ini menuntut pemberi kritik untuk menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan dan juga memberikan akternatif yang membangun.

Padahal apa asyiknya memberi kritik kalau diawali dengan ucapan “Mohon maaf Pak Presiden yang terhormat, ijinkah saya rakyat biasa ini menyampaikan kritik yang membangun kepada bapak.”