Setelah universe dan multiverse, kini metaverse jadi perbincangan gara-gara tranformasi perusahaan Facebook menjadi Meta.  Facebook merasa perlu merubah nama perusahaan agar mewakili sosok yang sebenarnya dan tidak rancu dengan nama layanan. Sebab yang berpayung di bawah nama Facebook ada facebook, instagram, whatsapp dan oculus.

Pergantian nama dari Facebook menjadi Meta akan diiringi dengan pengelontoran dana lebih dari 140 trilyun rupiah untuk membangun ekosistem metaverse dalam semua layanan Meta.

Istilah ‘metaverse’ sendiri pertama muncul dari seorang penulis fiksi ilmiah bernama Neal Stephenson pada novel cyberpunk dengan judul Snow Crush. Metaverse adalah gambaran sebuah dunia virtual yang melampaui luas permukaan bumi. Di dalam metaverse ini para avatar saling berinteraksi satu sama lain.

Pengambaran ini mempengaruhi Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Untuknya metaverse yang merupakan gambaran dua dunia, dunia nyata dan virtual jika bisa diwujudkan maka akan merubah cara orang berinteraksi, bekerja dan juga berbisnis.

Metaverse yang sesungguhnya belum ada, masih merupakan imajinasi dan visi dalam benak para pengembang dan pengusaha termasuk Mark Zuckerberg. Sebagai pengusaha visoner, Mark dan beberapa pengembang lain meyakini bahwa metaverse akan membuka ruang tanpa batas untuk mengeruk beragam keuntungan. Dengan cara-cara yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Untuk para pelaku industri kreatif, terutama industri digital, gaming dan desain, metaverse adalah tanah harapan.

Mark Zuckerberg mendefinisikan metaverse sebagai seperangkat ruang virtual yang dapat kita ciptakan dan jelajahi bersama orang lain yang tidak berada dalam ruang fisik yang sama dengan kita.

Gambaran paling sederhana dari metaverse ada dalam game Roblox. Sebuah game dimana anak-anak yang memainkannya akan menciptakan avatar untuk berinteraksi dengan avatar lain dalam dunia virtual.

Namun tidak seperti game yang dimainkan dengan melihat layar, metaverse dimainkan dengan menggunakan seperangkat alat VR yang akan membuat pemainnya masuk, merasakan dan beraktivitas dalam dunia virtual tersebut.

Selain itu jika game visualnya masih sangat terasa digital, metaverse akan menampilkan visual 3D yang sama dengan dunia nyata atau bahkan lebih baik.

Metaverse ibarat ruang kosong baru yang bisa dibangun sesuai imajinasi untuk menjadi dunia baru dimana para pengembang atau siapapun bisa membangun hunian, teknologi, industri, ruang olahraga, aneka fasilitas lain yang bisa dinikmati oleh siapapun yang masuk kesana, bisa dibeli oleh yang punya uang, bisa disewakan dan lain sebagainya.

Mataverse adalah dunia virtual ciptaan manusia yang bisa dinikmati selayaknya dunia nyata lewat perangkat VR. Meskipun virtual atau maya namun pengalaman berada disana adalah pengalaman real time, pengalaman nyata sebagaimana apa yang kita rasakan di dunia nyata.

Sama seperti di dunia nyata dimana orang bisa berkarya, memiliki properti, membeli berbagai keperluan, hal yang sama bisa juga dilakukan di metaverse. Orang bisa berkarya, menjual karya, membeli tanah dan rumah serta memiliki tanda kepemilikan yang sah.

Aset yang disebut aset digital itu akan tetap menjadi milik kita selama tidak dijual atau dialihkan kepada orang lain.

Apa yang kita hasilkan, apa yang kita punya jika kemudian menarik orang untuk membelinya maka bisa dijual. Dan harga jual tidak ada yang menentukan, semua bergerak sesuai dengan kesepakatan pasar.

BACA JUGA : Jangan Asal Tanam Pohon 

Forbes merilis daftar “Metaverse Companies to Wacth in 2022”. Selain Apple, Microsoft dan Facebook yang telah berganti nama menjadi Meta, satu perusahaan dari Indonesia yaitu WIR Group juga masuk dalam daftar itu.

WIR Group disebut sebagai perusahaan terkemuka dan memimpin pasar dalam teknologi digital reality seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence, augmented reality dan virtual reality di Asia Tenggara.

Didirikan oleh Yohannes Surya, Michael Budi, Philip Cahyono dan Jefrey Budiman pada tahun  2009, WIR adalah singkatan dari We Indonesians Rock, Rise and Rule.

Berdiri lebih dari sepuluh tahun WIR telah memproduksi programming dan teknologi VR pada lebih dari 20 negara serta memperoleh banyak penghargaan bergengsi di tingkat internasional.

Terdiri dari beberapa anak perusahaan, WIR Group juga mengembangkan mobile game dengan tag line “Play and Get Rich’. Game bernama Minar adalah permainan mobile yang berbasiskan lokasi {geo lokasi} dengan sentuhan augmented reality.

Sebenarnya ada beberapa perusahaan yang sudah menciptakan semacam metaverse. Seperti Second Life yang dibuat oleh Linden Lab.

Game ini akan membuat pemainnya seolah-olah mempunyai ‘kehidupan kedua’ yang berada di dunia virtual. Di dalam game itu pemain bisa mempunyai rumah, tinggal di kota dan menikmati segala fasilitas seperti di dunia nyata. Disana ada toko, museum, sekolah, jalan raya, tempat hiburan, iklan dan lain-lain.

Memang yang disebut metaverse saat ini belum matang, belum 100% immersive. Mulai dikembangkan oleh banyak kelompok kelak metaverse-metaverse ini bisa terwujud sendiri-sendiri maupun tehubung satu satu lain.

Perubahan nama Facebook menjadi Meta menjadi salah satu penanda bahwa metaverse tak lama lagi akan terwujud. Tinggal menunggu waktu karena teknologi pendukungnya sudah ada. Perangkat kerasnya seperti headset VR, treadmill 360 derajat, teknologi haptic,kontroloer dengan daya umpan balik dan lain-lain juga sudah mulai matang.

Gambaran metaverse sebenarnya sudah terlihat dalam berbagai game online yang dikenal dengan MMORPG seperti Ragnarok, Worl of Warcraft dan lain-lain. Namun dalam game yang dipertunjukkan adalah sudut pandang orang ketiga, kita masih melihat layar untuk memainkan.  Game 3D akan menjadi metaverse saat pemainnya ikut masuk dengan pandangan orang pertama.

Terlibat  dalam sudut pandang orang pertama membuat metaverse menjadi dunia baru, dunia yang benar-benar baru yang tidak sekedar merupakan kopian dari dunia kita sekarang. Dunia yang siap diekplorasi dan diekploitasi secara tak terbatas.

Siapa yang menduduki tanah atau lahan pertama di metaverse akan menjadi pemilik pertama. Dan jika mampu memproduksi uang bisa terus membeli dan membeli sehingga akan menjadi tuan tanah. Di dunia metaversenya sendiri, seseorang bisa menjadi ‘tuhan’, seseorang yang menentukan apapun yang boleh dan tidak boleh berlaku di metaversenya.

Jika metaversenya menarik perhatian penjelajah dan berminat untuk tinggal didalamnya maka mereka akan membeli tanah kapling di metaverse. Bisa turut membangun, mengembangkan bisnis dan apapun yang selayaknya dilakukan didunia nyata. Perkembangan metaverse akan tergantung dari menarik atau tidak metaverse bagi para penjelajah.

Untuk membuat metaverse yang menarik, pembuat metaverse bisa bekerja sama dengan banyak pengembang selayaknya menciptakan sebuah kota atau kawasan baru yang siap huni dengan semua fasilitas yang akan memanjakan, menyenangkan dan menyenangkan calon penghuni bukan hanya untuk tinggal melainkan juga berkarya di metaverse.

Pada akhirnya apa yang terjadi di dunia nyata akan terjadi juga di metaverse, termasuk salah satunya adalah saling mengekploitasi.

BACA JUGA : Gali Lubang Sebelum Tumbang

Facebook sebagai media sosial saat ini berisi lebih dari 3 milyard orang dan akan semakin besar jika ditambahkan mereka yang memakai Whatsapp dan Instagram. Dengan jumlah pemakai yang sangat besar dan kemudian berhasil diajak untuk bermigrasi ke metaverse, maka dunia baru yang diciptakan oleh Meta akan langsung menjadi dunia yang dihuni banyak manusia ‘avatar’.

Untuk merasakan dunia virtual baru, para manusia ‘avatar’ ini akan diundang, diajak sebagai  pengunjung secara gratis. Namun jika ingin melakukan hal yang lebih atau turut mengembangkan sesuatu di metaverse maka harus membayar.

Dengan membayar manusia ‘avatar’ akan beroleh aset yang bisa dibiakkan atau dikembangkan menjadi aset pribadinya. Aset berupa infrastruktur atau layanan yang kemudian bisa dijual. Dan disinilah ekonomi dalam dunia metaverse bergerak.

Misalnya manusia ‘avatar’ membeli lahan, kemudian membangun properti seperti mall, yang ruangnya bisa disewakan untuk jualan, menyelenggarakan acara, memasang iklan dan seterusnya. Uang kemudian bisa dikeruk tanpa batas karena tidak seperti dunia nyata, metaverse adalah ruang tanpa batas yang bisa dikembangkan, baik secara mandiri maupun terhubung dengan metaverse lainnya.

Siapapun di dunia nyata bisa berkarya atau berbisnis di metaverse pada versi digitalnya.

Panjang umur kapitalis yang didunia nyata mulai ‘dibenci’ oleh masyarakat biasa. Dan siapapun yang gagal menjadi kapitalis di dunia nyata bisa memulai karir kapitalisme barunya di dunia virtual.

Metaverse adalah dunia yang sejak semula dipersiapkan untuk para kapitalis. Jalan untuk menjadi kapitalis adalah menjadi yang pertama untuk menguasai lahan. Diatas lahan-lahan inilah para pebisnis akan membuka usaha dan tentu saja harus membeli atau menyewa.

Dan harga beli atau harga sewa bisa jadi tidak masuk akal seperti yang terjadi dengan nilai bitcoin. Jika infrastruktur dan bisnis telah terwujud maka giliran berikutnya akan ada jutaan manusia ‘avatar’ datang baik untuk bekerja, mengadu nasib maupun piknik, belanja dan menikmati kehidupan. Dan semua itu akan menghasilkan putaran uang.

Apa yang membuat Karl Marx murka hampir dua ratus tahun yang lalu akan kembali terjadi. Perbandingan yang tidak seimbang antara lapangan kerja dan jumlah pekerja akan membuat para pekerja tunduk pada seberapapun yang dibayarkan oleh pemilik usaha, para industriawan dan lainnya.

Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.

Akankan ada pemberontakan di metaverse?. Kemungkinan besar tidak karena para pembuatnya bisa mengatur dan menentukan apa yang boleh ada serta tidak boleh ada. ‘tuhan’ atau pengembang metaverse bisa mengatur tidak ada perlawanan, kejahatan dan lainnya disana. Persaingan yang diperbolehkan adalah banyak-banyakan uang dan aset, serta kemampuan untuk mendapatkannya.

Sepertinya halnya rumah judi, seberapa untungnya para penjudi, keuntungan terbesar selalu ada di bandar atau pemilik rumah judi. Pun demikian dengan metaverse, siapapun bisa mencari dan mendapat untung disana, namun tentu saja yang paling diuntungkan adalah pembuatnya.

Dan salah satu pembuat yang paling serius adalah Facebook yang kini berubah nama menjadi Meta. Kapitalisme akan memperoleh tempat yang sempurna di metaverse.

Namun disisi lain para libertarian utopia akan menyambut baik kehadiran metaverse. Inilah dunia yang akan memungkinkan pasar bebas terbentuk secara murni tanpa intervensi negara. Dengan teknologi blockchain, NFT, uang kripto dan lainnya, persaingan bebas bisa tewujud. Dan dalam persaingan yang bebas tanpa intervensi keadilan akan berlaku untuk semua.

Dalam pasar bebas tanpa embel-embel persaingan akan berjalan dengan adil. Semua punya kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Karena pemenang adalah mereka yang menghasilkan produk atau karya terbaik.

Sayangnya dunia akan selalu tidak adil. Dan seperti negara-negara maju sekarang yang memulai dari kolonialisme. Di metaverse juga akan berlaku hal yang sama.

Di masa lalu, para pebisnis dari negara-negara maju menyeberangi lautan, menuju tempat antah berantah untuk menduduki tanah disana dan kemudian mengekploitasi untuk keuntungan yang kemudian dipakai untuk membangun negerinya sendiri.

Dan di metaverse hukum yang sama akan berlaku, siapapun yang datang pertama dan menguasai lahan akan menjadi yang punya kemungkinan untuk berkembang dan besar. Kabar baiknya, siapapun bisa menjadi yang pertama atau first adapter.

Ekosistem metaverse sebenarnya mulai terbentuk. Anak-anak kita sekarang sudah memainkan permainan bersama kawan-kawannya tanpa meninggalkan rumah. Netisen julid juga menghabiskan sebagaian besar waktunya di linimassa media sosial.

Metaverse akan datang dalam waktu yang lebih cepat.