Dibayar atau tidak, aksi mengambil foto adalah tindakan seorang fotografer. Dengan demikian sebagaian besar dari masyarakat terkini atau lazim disebut dengan netizen adalah fotografer.
Berbekal kamera smartphone, apapun kejadian di sekitar dengan mudah bisa diabadikan dalam bentuk foto. Kebutuhan untuk memotret juga menjadi tinggi dengan adanya media sosial, tempat para netizen berbagi momen fotografinya.
Perkembangan dunia fotografi sebagaimana dunia lain menjadi sangat cepat. Sampai dengan 10 tahun lalu yang disebut fotografer dicirikan dengan menenteng kamera DLSR. Kamera yang lensanya bisa diganti-ganti.
Makin banyak kamera dan lensa makin menunjukkan kelas seorang fotografer. Memotret dan berfoto masih menjadi kegiatan khusus.
Namun kini semua smartphone yang jumlah lebih banyak dari jumlah penduduk sudah dilengkapi dengan kamera yang kemampuannya tidak berbeda jauh dengan kamera DLSR dan Mirrorless. Aplikasi baik yang ada di kamera maupun bisa diunduh dari luar, fitur-fiturnya juga sudah mirip-mirip dengan kamera DSLR dan Mirrorless.
Perkembangan ini membuat pelajaran soal kebutuhan primer mesti dikoreksi. Foto saat ini sudah menjadi kebutuhan primer, sebagian besar dari aktivitas komunikasi didasari oleh foto.
Salah satu keinginan manusia adalah ingin sesuatu tidak berakhir, hilang begitu saja. Maka apa yang ada dihadapannya, terjadi di depan mata ingin diabadikan. Fotografi menjadi mediumnya.
Masyarakat terutama netizen kemudian berkembang menjadi masyarakat visual. Terbukti semua platform media sosial yang mewadahi pertukaran foto memperoleh banyak pemakai di Indonesia. Bukan hanya instagram yang penuh foto melainkan juga facebook.
Kehebohan dan viralitas di media sosial tidak dipancing lewat medium teks melainkan medium visual yaitu foto. Saking pentingnya foto, teks yang menyertai umumnya tidak dibaca.
Yang tidak disadari sebuah foto selalu melahirkan multi intepretasi. Apa yang dimaksudkan oleh fotografer tidak selalu ditangkap sama oleh yang melihatnya. Foto yang dibiarkan tanpa teks akan membuat yang melihatnya tidak menangkap konteksnya secara keseluruhan.
Hal ini kemudian kerap membuat sebuah foto yang diunggah ke berbagai platform media sosial memancing masalah, memancing perdebatan bahkan tak sedikit yang kemudian berakhir di meja laporan aparat penegak hukum.
BACA JUGA : Metaverse Evolusi Kapitalisme Yang Sempurna
Disadari atau tidak, medium foto yang bertebaran di internet sebenarnya mengandung pengetahuan.
Medium fotografi mampu memberi pengetahuan dalam berbagai bentuk seperti informasi, fakta kejadian, prinsip, nilai, konsep akan sesuatu, pemahaman, pilihan, petunjuk dan lain sebagainya.
Hanya saja sebuah foto selalu dihasilkan dengan sudut pandang tertentu dari yang mengambilnya. Oleh karenanya foto selalu tidak netral dan tidak lengkap. Apapun yang tertangkap dalam visual foto adalah apa yang menarik atau sempat diambil oleh fotografernya.
Sayangnya kehadiran foto yang begitu berlimpah di media sosial tidak cukup memberi waktu kepada yang melihatnya untuk bertanya lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh foto itu. Foto selalu mengundang reaksi cepat yang mengandalkan otak perasaan, memancing tangan untuk segera menyukai atau tidak menyukai dan menulis komentar.
Foto memang tidak bisa merepresentasikan kebenaran secara menyeluruh, yang melihat selalu dibuat untuk menerka-nerka apa yang dimaksudkan oleh foto itu.
Multi intepretasi juga dimungkinkan karena yang mengambil foto secara sengaja melakukan framing. Membingkai sebuah peristiwa atau kejadian berdasarkan kepentingan atau sudut pandangnya sendiri.
Foto juga terkait dengan waktu atau timeline kejadian, seseorang yang dicitrakan kejam bisa saja ternyata seseorang yang baik, namun karena foto dihasilkan dalam waktu sepersekian detik dan yang tertangkap adalah nuansa kejamnya maka kejadian lain yang sebaliknya tidak tertangkap.
Dan foto sebagai medium visual memang selalu menampilkan citra. Di balik sebuah foto selalu ada kepentingan. Foto-foto yang diambil oleh orang berbeda dalam satu peristiwa dan tempat yang sama bisa menghasilkan banyak pesan serta impresi yang berbeda.
Foto selalu tidak sempurna untuk mengambarkan kebenaran. Oleh karena menjadi penting sebelum mempublikasikan sebuah foto untuk melakukan kurasi. Kenapa suatu foto penting untuk dibagi, tujuannya apa dan apa implikasi bagi yang melihatnya.
Foto tidak lahir dari ruang yang kosong. Seseorang tertarik untuk memotret sesuatu selalu dipengaruhi pengetahuan dan pengalamannya. Hal-hal apa yang menarik dan tidak menarik sudah tertanam dalam dirinya. Dengan demikian foto yang dihasilkan akan selalu mencerminkan hal itu, latar belakang yang melingkupi dirinya akan menentukan sudut dan cara pandangnya atas sebuah kejadian.
Diluar itu foto selalu lahir dalam konteks tertentu, entah politik, ekonomi, religi, sosial, budaya dan lain-lain.
Yang menjadi masalah di ruang publik ada peluang dominasi oleh kelompok tertentu lewat medium foto. Foto yang punya pengaruh dan bisa mendorong tumbuhnya trend dalam masyarakat adalah foto-foto yang diunggah oleh para influencer.
Mereka yang mempunyai banyak pengikut dengan mudah akan mendapat respon dari masyarakat, fotonya menjadi perhatian banyak pihak.
Jika foto mengandung pengetahuan, konsep atau nilai, maka pengetahuan, konsep atau nilai yang akan diikuti adalah yang disampaikan oleh para influencer.
BACA JUGA : Jangan Asal Tanam Pohon
Partisipasi besar masyarakat dalam fotografi melalui media sosial sebenarnya juga merupakan sebuah peluang atau kesempatan untuk membaca masyarakat.
Dari foto-foto di media sosial, apa dan siapa masyarakat kita saat ini bisa terbaca.
Pembacaan ini bisa dilakukan lewat pendekatan fotografi kritis. Pendekatan ini bekerja dengan cara merubah asumsi atas sebuah foto menjadi sebuah pertanyaan.
Pendekatan fotografi kritis adalah sebuah upaya untuk memahami sebuah foto tidak hanya dari apa yang terlihat belaka melainkan juga menelisik apa yang mau disampaikan oleh sebuah foto, ada nilai apa yang tersurat di balik sebuah foto, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, apa dampak foto tersebut terhadap pemahaman atas isu tertentu atau lingkungan sekitar, etika dan estetika sebuah foto.
Coba telisik foto-foto yang ada di media sosial terkait bencana atau kebersihan?. Siapa yang ditampilkan. Kerap kali yang ditampilkan adalah masyarakat kelas bawah yang membuang sampah sembarangan. Tapi kalau pejabat, yang ditampilkan adalah kesediaan masuk got untuk memunggut sampah.
Pun dalam bencana yang ditampilkan selalu wajah masyarakat yang tak berdaya dan kehadiran para pejabat yang bagaikan dewa penolong.
Soal banjir jarang ketika ada kejadian, ilustrasi yang ditampilkan adalah perumahan mewah diatas perbukitan atau di dataran yang dibuat dengan menguruk rawa.
Di jaman traveling ini terutama yang dilakukan oleh orang-orang kota ke desa atau pedalaman, representasi yang ditampilkan juga selalu menekankan eksotisme kawasan, lingkungan dan masyarakatnya.
Sawah, sungai, bukit dan lain-lain ditampilkan untuk mendapatkan impresi dan pujian ‘keren’, tapi benarkah itu kehidupan mereka yang sebenarnya?. Benarkah sawah-sawah yang menghijau itu milik mereka?. Benarkah sungai yang jernih itu tidak terancam oleh tambang atau perkebunan raksasa yang akan beroperasi di balik bukit sana?.
Kita ingin terus mempertahankan romantisme dan eksotisme lewat fotografi tak peduli jika beberapa bulan kemudian sawah yang menghijau itu menjadi Bandar Udara Internasional.
Foto lebih mengangkat kehidupan masyarakat desa dan masyarakat adat yang seolah-olah baik-baik saja.
Kabar baiknya di tengah keburaman dunia visual, masih ada sosok dan kelompok yang kemudian mengeluti foto dokumenter. Merepresentasikan isu yang jauh dari romantik dan eksotic, dengan kreatifitasnya banyak fotografer menampilkan foto yang empatik, menghapus stereotype dan personal.
Hanya saja mesti diakui bahwa jumlah foto dan pengkarya foto yang terus mengkristalkan berbagai stereotype jauh lebih banyak dan mendominasi tampilan di media sosial.
Ketika dunia tengah berjuang dengan keras untuk melakukan pengarusutamaan gender, di media sosial justru bertebaran foto-foto yang kental dengan nuansa bias gender.
Foto memang mengandung pengetahuan namun untuk memahami foto secara lebih dalam, reflektif dan kritis diperlukan pengetahuan non fotografis.
Sebuah foto yang benar dan jujur adalah apa yang mengambarkan pengetahuan serta pengalaman kita. Bukan foto yang ingin menghasilkan banyak pujian, viral, trending atau sesuai dengan pasar.
Apapun situasinya, dominasi dalam masyarakat itu tidaklah absolut. Selalu ada ruang untuk merebut kembali, selalu terbuka area untuk perlawanan.
Melawan untuk tidak hanya bergenit-genit dengan foto melainkan juga foto yang menyarakan kritik, memberi harapan serta membuka berbagai kemungkinan untuk perubahan.








