Dalam sepuluh tahun terakhir kesadaran soal isu pemanasan global semakin membaik. Meski masih banyak yang menyangkal namun berbagai macam aksi untuk mitigasi perubahan iklim telah dilakukan oleh banyak pihak.

Secara teknis penjelasan tentang perubahan iklim, pemanasan global dan efek gas rumah kaca amatlah rumit dan bikin sakit kepala. Hanya saja secara sederhana lagkah apa yang bisa dilakukan oleh semua pihak agar iklim tidak semakin memburuk adalah menanam pohon.

Kenapa pohon?. Karena klorofil yang berada pada daun pohon bisa menyerap salah satu gas rumah kaca.

Selain menyerap karbon dan memproduksi oksigen, pohon akan menyejukkan lingkungan, mengurangi penguapan dan membantu inflintrasi air hujan ke dalam tanah.

Pohon juga merupakan habitat bagi mahkluk hidup seperti burung dan lain-lain.

Secara alamiah permukaan bumi ditutupi oleh vegetasi. Di atas permukaan batu dan pasir sekalipun biasanya tetap ada tumbuhan walau tidak lebat seperti halnya hutan.

Pada tanah yang tidak subur, tanah yang miskin hara juga tetap akan ditumbuhi tumbuhan, misalnya kantong semar yang memperoleh nutrisi dari serangga yang ditangkap melalui kantongnya.

Yang disebut hutan keberadaan ada mulai dari tempat yang tinggi, sedang hingga rendah, mulai dari hutan lahan kering hingga lahan basah. Ada hutan rimba, ada hutan dataran rendah, ada hutan rawa dan ada hutan mangrove di pesisir.

Yang disebut hutan adalah kumpulan aneka pohon dan tumbuhan lainnya baik yang menjulang tinggi dan tumbuh menutupi lantai hutan. Disebut hutan bukan hanya karena dipenuhi tumbuhan melainkan juga menjadi habitat bagi aneka komunitas mahkluk hidup lainnya, yang hidup di dan dari hutan.

Karena hutan, bumi kemudian menjadi tempat yang ramah untuk kehidupan.

Dengan layanan atau jasa ekosistem hutan manusia dan mahkluk hidup lainnya bisa beroleh energi untuk hidup.

Loncatan peradaban manusia kemudian melampaui ekonomi subsisten. Hutan kemudian dikonversi, diekstraksi sehingga terjadi deforestasi besar-besaran. Bumi kehilangan sebagian besar kawasan hutannya.

Dan berbagai masalah akibat kehilangan hutan mulai dirasakan. Bencana menjadi semakin sering terjadi terutama bencana ekologis.

Muncul kesadaran untuk melakukan penghutanan kembali. Masalahnya yang disebut hutan pada saat ini adalah lahan yang secara resmi dideliniasi oleh pemerintah sebagai hutan. Lahan atau area disebut hutan jika secara resmi ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan. Bahkan lahan yang tidak ditutupi tumbuhan sekalipun jika pemerintah menyebutnya sebagai hutan maka statusnya adalah hutan.

Meski telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan, namun kelas status hutan berbeda-beda. Dengan status yang berbeda masa depan hutan menjadi tidak terjamin keberlanjutan. Status bisa dirubah dari hutan menjadi bukan hutan oleh pemerintah. Sementara jarang ada kawasan yang bukan hutan kemudian dirubah statusnya menjadi hutan.

BACA JUGA : Gali Lubang Sebelum Tumbang 

Sejak jaman pemerintahan presiden Suharto, langkah untuk menghutankan kembali sudah dilakukan. Saat itu dikenal program penghijauan bernama reboisasi. Atau penanaman kembali.  Yang ditanami adalah hutan yang gundul akibat deforestasi.

Sementara untuk penanaman di lahan bukan hutan akan disebut dengan penghijauan. Lahan yang dimaksud adalah lahan terbuka yang mengalami degradasi vegetasi sehingga dirasa perlu untuk ditanami pepohonan.

Selain itu dalam industri hutan alam produksi juga diperlakukan model ekstraksi kayu hutan dengan nama TPTI atau Tebang Pilih Tanam Indonesia.

Program penanaman kembali dan penghijauan di masa Suharto memang berhasil membuat berbagai kawasan tetap dan kembali hijau. Namun yang disebut hijau tidak sama dengan pulih layanan ekosistemnya.

Program penamanan atau penghijauan biasanya bias kepentingan terkait pilihan pohonnya. Pohon yang ditanam bisa merupakan pohon asing, bukan spesies lokal. Di kawasan penanaman kemudian diintroduksi pohon-pohon baru dengan tujuan tertentu.

Tak mengherankan jika kemudian muncul ‘hutan’ dengan pohon sejenis, seperti akasia, pinus, mahoni, jati, sengon dan lain-lain.

Sementara pilihan untuk kawasan non hutan seperti pinggir jalan atau taman kota banyak dihiasi dengan pohon trembesi, angsana putih dan jenis pohon-pohon lain yang bunganya dianggap indah.

Pohon-pohon spesies lokal biasanya tidak menjadi pilihan karena ketersediaan bibitnya terbatas. Padahal program penanaman biasanya dilakukan dalam jangka waktu yang pendek dengan area yang luas sehingga butuh bibit dalam jumlah yang sangat banyak.

Masalah lainnya, pohon-pohon spesies lokal sering kali juga sulit untuk dibibitkan, butuh waktu yan g lebih panjang untuk membibitkan bahkan beberapa diantaranya hanya bisa tumbuh jika buahnya mesti dimakan lebih dulu oleh burung atau binatang lainnya.

Kehadiran pohon-pohon asing atau sejenis secara sepintas tidak menimbulkan masalah. Namun apabila ditelisik lebih dalam ternyata hijaunya lingkungan tidak mampu memanggil aneka satwa. Pohon, bunga dan buahnya tidak dikenali oleh satwa setempat sebagai sumber makanan.

Akibatnya hutan-hutan sejenis kemudian menjadi lingkungan yang sunyi, tidak ada bunyi-bunyian dari mahkluk hidup lain. Hutan tak lagi menjadi sumber dan tempat hidup, pun juga rerimbunan di pinggir jalan dan taman-taman kota.

Seorang ahli lingkungan hidup mengatakan “Menanami hutan berpotensi merusak hutan,”.

Yang dimaksud olehnya adalah intervensi manusia dalam menumbuhkan pohon tertentu di bekas hutan akan merubah wajah hutan, komposisi vegetasi dalam hutan kemudian ditentukan oleh kepentingan atau selera penanamnya.

Yang tumbuh dalam hutan atau area lainnya bukan vegetasi yang dibutuhkan oleh lingkungan dan komunitas setempat, mahkluk hidup yang kehidupannya tergantung pada layanan ekosistem tempatan.

BACA JUGA : Jika Diam Kita Tenggelam

Masyarakat tradisional di masa lalu berhasil menjaga kelangsungan hutan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh secara turun temurun. Tanpa mengenyam pendidikan di bangku sekolah dan ruang kuliah hingga tingkat doktoral, mereka ternyata mampu menemukan cara terbaik memulihkan hutan tanpa terlalu banyak intervensi program.

Bekerja sama dengan alam, sumberdaya hutan yang masih tersedia di sekitar hutan yang mereka buka, mereka bisa memulihkan kembali hutan lewat suksesi alami.

Bukaan hutan yang dimanfaatkan untuk berladang setelah masa tanam selesai dibiarkan dalam waktu tertentu, dijadikan tanah larangan dari semua kehadiran dan aktivitas manusia. Dan perlahan hutan yang dibuka itu akan kembali ditanami tetumbuhan yang berasal dari bijian dalam hutan. Biji yang terbang dibawa angin  atau dibawa berbagai jenis binatang seperti burung, kelelawar, kera dan lain sebagainya.

Hutan memulihkan dirinya sendiri dan menumbuhkan berbagai jenis pohon serta tumbuhan lain yang dikehendaki tumbuh oleh alam.

Sayangnya kejeniusan lokal semacam ini sulit dipertahankan. Kini pembukaan lahan atau deforestasi menjadi sangat luas dan sangat cepat karena memakai mesin. Kawasan yang terbuka kemudian berada jauh dari hutan yang masih utuh.

Tanah bekas bukaanpun tidak dibiarkan melainkan kerap dimanfaatkan atau dikonversi untuk kepentingan lain entah perkebunan atau pertambangan. Proses suksesi alam menjadi tidak berjalan.

Padahal jika kawasan yang dibuka itu kemudian tetap dipertahankan sebagai kawasan hutan, tindakan untuk mempercepat suksesi alam bisa dilakukan. Area tersebut bisa ditanami pohon buah-buah, yang nantinya akan memancing satwa untuk datang. Ketika satwa datang dari hutan, kemungkinan mereka akan datang serta dengan membawa biji-bijian yang akan jatuh dan kemudian tumbuh menjadi pohon atau tumbuhan lainnya.

Adalah sulit bagi pemerintah dan masyarakat untuk berkomitmen mempertahankan wilayah hutan. Area hutan yang terdeforestasi dan berubah menjadi lahan kritis lalu ditumbuhi ilalang misalnya, kerap dianggap sebagai lahan tidur.

Padahal alam tengah berproses untuk memulihkan dirinya sendiri. Namun hamparan ilalang yang maha luas kemudian dianggap sebagai gulma sehingga area itu kemudian diokupasi. Ilalang disemprot dengan racun pembunuh ilalang. Lahan kemudian ditanami meski kemungkinan hasilnya tak maksimal.

Yang penting tanah dikuasai dulu sambil menunggu siapa tahu ada tambang yang akan menganti rugi atau kelak bisa dijadikan tanah kaplingan.

Dan setelah jaman presiden Suharto, segala bentuk program penghijauan dan penanaman kembali masih dilakukan. Judul atau nama programnya bermacam-macam. Dan kalau dihitung-hitung sejak orde baru sampai sekarang area yang ditanami mungkin sudah jutaan hektar.

Tapi apa yang ditanam tidak selalu tumbuh dan yang tumbuh tidak selalu dipertahankan. Alhasil luasan hutan justru terus menurun dan ruang terbuka hijau di perkotaan dan wilayah lainnya belum memenuhi luasan yang ideal.

Maka masih diperlukan jutaan pohon untuk ditanam.  Hanya yang perlu diingat jangan sembarang menanam pohon, tanamlah pohon yang sesuai dengan sejarah dan komposisinya pada ekosistem setempat. Sehingga kelak bukan hanya hijau namun juga menghasilkan layanan ekosistem yang menghidupkan bukan hanya untuk manusia melainkan juga mahkluk hidup lainnya.