KESAH.ID – Sepakbola sebagai olahraga paling merakyat telah tumbuh menjadi industri besar. Dari olahraga ini terus lahir rekor yang berhubungan dengan uang. Bayaran dan ongkos transfer pemainnya hampir selalu menjadi yang paling mahal diantara jenis olahraga lainnya demikian juga dengan valuasi klubnya di liga-liga ternama. Dan yang paling mencengangkan untuk menghelat pagelaran empat tahunan dibutuhkan uang berkali lipat dari yang dibutuhkan untuk memindah Ibukota Negara dari Jakarta ke IKN Nusantara.

Karena menonton dengan mode gratisan, saya tak bisa menyaksikan keseluruhan opening ceremony dan kick off Piala Dunia Qatar 2022.

Meski begitu saya masih bisa menyaksikan bagian yang mengejutkan dan membuat pembukaan piala dunia kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.

Hal yang mengejutkan adalah kemunculan Morgan Freeman, aktor kawakan Hollywood menjadi narator pembuka. Pemenang Piala Oscar lima kali ini awalnya saya duga akan bertindak sebagai MC untuk menyambungkan bagian-bagian dalam rangkaian cara pembukaan menjadi satu kesatuan yang utuh dan terasa tidak formal.

Namun ternyata muncul sosok lain, Morgan Freeman yang bersuara khas berat itu ternyata tidak bermonolog. Ada lawan bicaranya yakni Ghanin Al Muftah, penyandang disabilitas yang merupakan seorang youtuber kondang dan didapuk sebagai Duta Piala Dunia 2022.

Dengan tinggi dan penampilan yang kontras, Morgan kemudian duduk bersampingan dengan Ghanin untuk menampilkan pemandangan yang sangat teaterikal. Mereka seolah menyuguhkan pertunjukan fragmen drama untuk seluruh dunia.

Keduanya berbincang. Ghanin kemudian melantunkan ayat Al Qur’an dan Morgan Freeman kemudian mengartikannya.

Saya tak tahu persis apa ucapan dan juga artinya, sebab baik bahasa Inggris maupun Arab keduanya sama-sama tak saya pahami dengan dalam. Inggris saya hanya yes or no, sedangkan Arab saya hanya tahu alif ba ta.

Tapi dalam keterbatasan itu saya tahu yang mereka ucapkan adalah tentang keberagaman, tentang Tuhan yang menciptakan manusia dari berbagai latar belakang, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.

Dan dalam hubungannya dengan sepakbola, Piala Dunia adalah bukti apa yang tercipta berbeda-beda itu bisa dipersatukan dalam semangat sportifitas, hormat antara yang satu dengan yang lainnya, terbuka kepada orang lain dan memperlakukan semua secara sama.

Sejauh yang saya saksikan tidaklah berlebihan kalau pembukaan piala dunia di Qatar ini sebagai pembukaan yang terbaik dari yang pernah ada. Penampilan dua sosok yang berbeda membawa pesan yang persis sama dengan apa yang mereka katakan. Pesan visualnya melebihi kata-katanya.

Begitulah sepakbola, olah raga menyepak-nyepak bola bundar ini menjadi olahraga kecintaan orang diseluruh dunia. Bahasa bola menjadi bahasa paling universal dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya.

Bola menjadi related hampir dengan semua orang bukan karena setiap orang mampu memainkannya dengan baik melainkan karena setiap orang hampir selalu menyukainya. Sama dengan musik banyak orang mencintai dan menyukainya sebagai penonton yang menikmati dengan cinta dan kegembiraan.

Hanya bola lebih luar biasa kekuatannya karena mampu menyatukan, nasionalisme karena bola kerap kali lebih kuat dari nasionalisme karena kebangsaan.

BACA JUGA : Dari Dulu Hingga Sekarang Yang Kaya Tetap Penambang

Banyak yang menenggarai penyelenggaraan piala dunia kali ini akan menjadi yang paling sepi.

Mungkin ada benarnya, namun tak berarti Qatar gagal.

Menilik suasana di sebagaian besar wilayah Indonesia, gairahnya memang kurang terasa dibanding dengan piala dunia-piala dunia sebelumnya.

Saya sendiri sampai hari ini belum menerima ajakan untuk nonton bareng. Pun di media sosial tidak banyak ‘iklan’ serupa. Padahal biasanya kegiatan nonton bareng ramai dimana-mana bukan hanya di café, kedai, restoran hotel dan tempat hiburan malam melainkan hingga sekretariat partai-partai lengkap dengan doorprize-nya.

Apa yang salah?.

Nampaknya yang bisa disalahkan adalah waktu. Penyelenggaraan piala dunia kali ini tidak tepat waktunya.

Bulan November dalam kalender kerja banyak negara merupakan bulan-bulan puncak, saat semua sedang mengejar target untuk memenuhi capaian dalam akhir tahun.

Di Indonesia misalnya bulan ini menjadi bulan sibuk, sulit untuk libur atau cuti. Instansi pemerintah misalnya pada bulan-bulan ini biasanya panik, panik bikin kegiatan untuk menghabiskan anggaran.

Demikian juga dengan sektor swasta, akhir tahun juga merupakan saat untuk mengenjot omzet. Semua pegawainya bekerja keras.

Di Amerika Serikat saja banyak kantor memaksa pegawainya untuk bekerja di kantor, bukan bekerja dari jauh. Elon Musk misalnya mengancam akan memecat pegawai yang kehadiran fisiknya di kantor kurang dari 40 jam seminggu.

Secara iklim di Eropa bulan November adalah awal memasuki musim dingin. Semua orang bekerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin, maka belum waktunya orang untuk libur atau cuti, pergi menonton sepakbola di negeri lain.

Gairah menyambut piala dunia kemungkinan kurang meriah karena liga-liga besar tengah bergulir, perhatian jadi terpecah antara menjagokan timnas andalan dengan klub kesayangan. Atmosfir piala dunia menjadi kurang terbangun karena pertandingan-pertandingan untuk pemanasan terkesan mepet dan curi-curi waktu.

Penyelenggaraan piala dunia di Qatar kali ini memang melawan sejarah kebiasaan FIFA. Biasanya piala dunia digelar pada bulan Mei, Juni atau Juli, saat di Eropa saat musim panas di Eropa, waktunya orang liburan.

Namun di Qatar pada bulan-bulan itu cuacanya sangat panas sehingga juga tidak tepat untuk mengelar kompetisi yang padat walau stadionnya dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Maka di pilih bulan November saat peralihan dari musim panas ke musim dingin sehingga panasnya tidak kelewatan.

Mungkin ada pikiran lain yang menghubungkan kurang ramainya piala dunia di Qatar dengan berbagai skandal dan tuduhan yang mengikuti penunjukan serta persiapan Qatar melaksanakan piala dunia.

Walau ramai dibicarakan tentang skandal suap dan pelanggaran HAM dalam pembangunan fasilitas untuk piala dunia, nampaknya suara-suara itu tak cukup mempengaruhi hingga muncul boikot atau seruan untuk tidak menyaksikan piala dunia.

Bisa jadi pemilihan untuk menyelenggarakan piala dunia di Qatar memang tidak tepat dari berbagai aspek. Tapi kenapa FIFA ngotot?.

Tentu saja karena uang. Dan Qatar dengan jaminan kekayaannya dipastikan memenuhi syarat untuk menyediakan fasilitas dan membiayai pelaksanaannya. Jaminan itu yang paling penting untuk FIFA.

BACA JUGA : Walau Bukan Pemenang, Kita Belum Pernah Kalah Di Piala Dunia

Lepas dari suara-suara minor soal suap dan keuntungan finasial yang diperoleh FIFA dari penunjukan Qatar sebagai tuan rumah, tak bisa dipungkiri uang memang krusial untuk sepakbola.

Bisa jadi pilihan kepada Qatar merupakan apresiasi atas negara-negara Arab atas kontribusinya bagi sepakbola. Dengan kekayaannya kini beberapa warga dari negara Timur Tengah memiliki klub-klub bola ternama di Eropa. Mulai dari Inggris, Perancis, Spanyol hingga Jerman. Perusahaan-perusahaan yang berasal dari Timur Tengah juga menjadi sponsor utama beberapa klub di Eropa.

Stadion Arsenal saja dinamai Emirates Stadion karena sponsorship dengan Emirates Airlines, perusahaan penerbangan dari Uni Emirates Arab. Selama memperkuat Barcelona, di dada kaos yang dikenakan Leonel Messi tertulis Qatar Airways.

Maka tak salah jika ada yang mengatakan Liga Eropa sebagai Liga Kilang Minyak karena uang dari negara penghasil migas di Timur Tengah.

FiFA sebagai organisasi induk sepakbola dunia memang tak selalu dicintai dan dihormati oleh pengemar sepakbola karena uang. Berkali-kali FIFA terjebak dalam skandal uang karena sepakbola yang dulu merupakan olahraga amatir kemudian tumbuh menjadi industri.

Muasal FIFA menjadi kapitalis dimulai dari jaman kepemimpinan Joao Halevange, olahragawan asal Brasil. Memanfaatkan isu politik Apartheid, Joao berhasil menduduki kursi tertinggi FIFA dengan meraup banyak suara dari negara-negara Afrika.

Kepada para pemberi suara dia menjanjikan dukungan pengembangan sepakbola di negeri masing-masing. Konon sebelum pemilihan, Joao Halevange juga membagikan amplop.

Menang dengan janji-janji yang perlu uang, Joao Halevange kemudian merekrut Josep ‘Sepp’ Blatter untuk membantunya mencari uang. Dan duet Joao Halevange dan Sepp Blatter ini FIFA berubah menjadi mesin uang lewat sponsorship dengan perusahaan.

Coca Cola menjadi perusahaan pertama yang mendukung program pengembangan sepakbola dari FIFA dan setelah itu disusul oleh deretan perusahaan-perusahaan lainnya. Sepakbola kemudian menjadi mesin uang yang pengaruhnya tidak hanya dalam industri olahraga melainkan juga industri keuangan hingga politik.

Sepp Blatter kemudian terpilih menjadi Presiden FIFA di tahun 1998. Dalam kepemimpinannya FIFA menjadi organisasi olahraga terkuat sedunia, kuat secara ekonomi juga politik. Larangan dari FIFA lebih ditakuti dari larangan organisasi dunia lainnya termasuk PBB.

Namun banyak skandal yang menyertai kepemimpinannya hingga kemudian FBI menyelidiki dan membongkar berbagai penyelewengan, korupsi, pengaturan pertandingan dan bermacam keserakahan lainnya di FIFA.

Kasus yang membuat banyak petinggi FIFA ditangkap itu membuat Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengambarkan FIFA seperti Mafia Italia dan Kartel Narkoba Amerika Latin. Gelimangan uangnya diperoleh dengan cara yang busuk.

Meski ngeles dan tak mau ikut bertanggungjawab, Sepp Blatter akhirnya mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA pada tahun 2015 lalu. Tidak seperti ketua PSSI yang tetap ngotot menduduki kursinya walau didesak-desak mundur oleh pengemar sepakbola di Indonesia.

Terlanjur besar tentu saja FIFA tetap butuh uang. Maka wajar jika salah satu penentuan menjadi penyelenggara piala dunia adalah kemampuan keuangan. Soal apakah FIFA mendapat keuntungan entah komisi atau apapun dari tuan rumah itu cerita lain.

Dengan jaminan itu maka Qatar, negara kecil yang mungkin pengemar bolanya juga sedikit akhirnya bisa menjadi tuan rumah. Tuan rumah yang akan kebanyakan stadion sehingga beberapa dibangun sebagai stadion sekali pakai, akan dibongkar setelah perhelatan piala dunia.

Soal penonton, Qatar bisa mengisi stadion dengan penonton bayaran, sedangkan soal akomodasi yang mahal, Qatar bisa menyediakan angkutan dari stadion ke stadion secara gratis.

Benar tidaknya piala dunia kali ini sebagai piala dunia paling sepi nanti akan dihitung rekapannya setelah pertandingan final usai. Namun harus diakui, Qatar telah menorehkan prestasi sebagai penyelenggara Piala Dunia FIFA dengan ongkos paling mahal sedunia.