KESAH.ID – Tambang walau dilengkapi dengan peralatan dan teknologi yang serba canggih sesungguhnya merupakan model ekonomi yang paling primitif. Sebab mereka hanya mengambil atau memanen apa-apa yang tidak mereka tanam, jaga dan rawat. Dalam bahasa religi, rejeki dari tambang adalah uang yang jatuh dari langit.
Apakabar Ismail Bolong, mantan anggota Satintelkam Polresta Samarinda yang mengakui saat masih aktif menjadi anggota Polri main tambang batubara ilegal dan menyetorkan sebagian hasil keuntungannya mengepul batubara kepada petinggi kepolisian baik di tingkat nasional maupun daerah.
Konon pengakuan itu disampaikan dalam sebuah pemeriksaan internal kepolisian yang dilakukan oleh tim dari Mabes Polri yang datang ke Balikpapan.
Isi video pengakuan itu kemudian dikoreksi oleh Ismail Bolong. Dirinya berada dalam tekanan ketika mengatakan hal itu.
Sayangnya video pengakuan itu tak cukup menarik bagi kepolisian dibandingkan dengan video kebaya merah yang kemudian dengan sangat cepat membuat polisi bergerak.
Masyarakat Kaltim memang sempat terhenyak, tapi tak lama. Sebab bagi warga urusan tambang liar adalah urusan yang biasa diabaikan oleh yang berwenang. Saking biasanya, tambang yang dulu kerap diistilahkan sebagai KPC – Karungan Prima Coal ini lebih dikenal sebagai koridoran atau tambang koordinasi.
Ya asal dikoordinasikan sebuah lahan tak peduli dekat jalan, dekat permukiman, dekat sekolahan, dekat kuburan sampai sawah dan kebun akan segera ditambang. Dan truk pengangkutnya juga santai saja melewati jalanan umum.
Yang berkoordinasi itu menyakini bahwa batubara adalah kependekan dari Barang Tuhan Bagi Rata.
Dalam kasus Ismail Bolong sebuah laporan yang ditandatangani oleh Kadiv Propam tertanggal 7 April 2022 yang saat itu masih dijabat oleh Irjen Pol Ferdy Sambo telah diperinci aliran dana ‘gratifikasi’ kepada sejumlah petinggi Polri.
Bukti yang mestinya cukup bukan hanya bagi Polri melainkan juga aparat hukum lainnya termasuk KPK untuk membongkar persekongkolan busuk aparat di balik tambang koordinasi.
Nampaknya soal tambang batubara ilegal semua memang serba lambat, bisa jadi karena yang terlibat memang banyak. Jadi banyak yang harus diperhitungkan ketika akan dibongkar habis-habisan.
Dan bukan rahasia lagi bahwa dana-dana ilegal sering sengaja dikumpulkan untuk menutupi kebutuhan ‘institusi’ yang tidak bisa dipenuhi oleh negara atau pemerintah.
Maka wajar kalau tambang menjadi sakti, berkuasa atau sekurangnya punya pengaruh pada kekuasaan termasuk hukum.
Uang yang didapat dari tambang memang besar. Karena menambang bisa diibaratkan sebagai memanen tanpa menanam. Sama persis dengan menebang pohon di hutan untuk mendapat kayu bermutu yang umurnya sudah ratusan tahun yang tumbuh sendiri tanpa ditanam, dirawat atau dijaga.
Dalam konteks yang lebih luas, harus diakui sampai sekarang tambang atau ekstraksi sumberdaya alam masih memegang peranan penting sebagai pondasi untuk mengerakkan ekonomi negara, menopang rencana pembangunan pemerintah, mulai dari tingkat terendah hingga tertinggi.
BACA JUGA : Walau Bukan Pemenang, Kita Belum Pernah Kalah Di Piala Dunia
Muasal tambang menjadi perkasa bermula dari kebutuhan energi dan bahan baku untuk industri. Kebutuhan akan bahan tambang semakin lama semakin besar karena ekonomi kemudian bertumpu kepada produksi barang.
Menilik daftar orang-orang kaya akan selalu ada keluarga penambang yang menduduki tempat paling atas.
Sebut saja nama Rothschild yang dikenal sebagai dinasti perbankan. Pundi kekayaan keluarga mereka yang tak akan habis dimakan sampai tujuh turunan itu tak melulu berasal dari industri keuangan melainkan juga pertambangan.
Lalu ada keluarga Rockefeller yang dikenal sebagai Raja Minyak. Kekayaan yang diperoleh dari Standard Oil yang pernah menguasai 90 persen pengilangan minyak di Amerika Serikat ini pada masa jayanya mencapai ribuan trilyun.
Amerika Serikat yang dulu merupakan koloni-koloni masyarakat agraris berkembang dan kemudian menjadi negeri adidaya karena industrialisasi yang ditopang oleh tambang, baik untuk energi maupun sumber kapital lainnya.
Namun kawasan yang paling bertabur keluarga-keluarga kaya karena tambang adalah Timur Tengah. Di Arab Saudi ada keluarga Al Saud, keluarga kerajaan yang menguasai perusahaan minyak Aramco.
Keluarga-keluarga kaya lainnya ada di Uni Emirat Arab, sebuah negara monarki federal yang dikepalai oleh presiden. Salah satu keluarga yang kaya adalah Al Maktoums. Negara yang terdiri dari 7 emirat yakni Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fajariah, Ras Al Khaimah, Sharjah dan Umm Al Qaiwain ini merupakan negara penghasil minyak terbesar ketiga di dunia.
Negeri ini sekarang menjadi salah satu contoh sukses dari investasi penghasilan sumberdaya alam ke sektor pariwisata, leewat pembangunan hotel dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya untuk memanjakan wisatawan asing.
Dan di negeri yang sekarang sedang digelar Piala Dunia yakni Qatar juga dipimpin oleh keluarga yang kaya raya karena migas. Qatar merupakan negara monarki konstitusional yang dipimpin turun temurun oleh Dinasti Al Thani.
Dengan cadangan minyak dan gas terbesar ketiga sedunia, Qatar mampu mengeluarkan uang lebih dari 3000 trilyun untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2024.
Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya raya sumberdaya alam termasuk diantaranya bahan-bahan tambang. Memang tidak ada keluarga atau dinasti yang sekaya keluarga-keluarga di Amerika Serikat dan Jazirah Arab.
Hanya saja dalam daftar orang-orang terkaya di Indonesia, mereka yang mengektraksi sumber daya alam akan selalu masuk daftar.
Mereka yang menjadi kaya raya karena menambang batubara antara lain Theodoro P Rahmat, Garibaldi Thohir dan Edwin Suryajaya yang berkongsi lewat Adaro, Kiki Barki pemilik PT. Harum Energi, Datuk Low Tuck Kong yang menguasai Bayan Resources Tbk, Peter Sondakh pemilik Rajawali Corpora, Arini Subianto dan Patrick Walujo, Luhut Binsat Panjaitan yang menguasai TBS Energi Utama Tbk dan Keluarga Bakrie pemilik Bumi Resources yang menambang lewat KPC dan Arutmin.
Di tingkat lokal juga muncul pengusaha-pengusaha terkenal yang tidak kalah kayanya. Misalnya ada Haji Isam di Kalimantan Selatan.
Sedangkan di Samarinda, orang-orang kaya karena batubara biasanya mendirikan rumah-rumah besar bak istana di puncak perbukitannya.
Mereka yang kaya-kaya ini walau tak punya kedudukan politik yang resmi namun pengaruh politik dan sosial di pemerintahan serta masyarakat cukup besar. Sebab mereka biasanya royal, sebagaimana Ismail Bolong yang mungkin belum sempat membangun istana karena masih membangun karirnya sebagai penambang dengan cara berbagi rata kepada banyak pihak.
Oh, iya konon setelah sukses mengawal keamanan pertemuan G 20, Kapolri telah memerintahkan jajaran untuk menangkap Ismail Bolong. Kita tunggu saja siapa yang kemudian akan ikut ditangkap setelahnya.
BACA JUGA : Dokar, Delman, Cidomo, Andong Satu Rupa Beda Nama
Di Indonesia kisah tambang masih akan menjadi cerita seru walau sudah lama kita meneriakkan tentang pembangunan berkelanjutan, energi terbarukan dan ekonomi hijau. Masih akan ada orang-orang kaya baru karena tambang, yang menunggu punya giliran untuk menjadi Ismail Bolong masih banyak.
Sementara di Amerika Serikat sana yang kaya karena tambang perlahan-lahan mulai tergerus hartanya. Yang lebih menarik disana adalah menambang data.
Salah satu penambang data yang ternama adalah Google.
Strategi atau cara Google menjadi besar sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh John D. Rockefeller saat mendirikan Standard Oil. Perusahaan minyak ini menjadi besar dan kemudian mengantar keluarga Rockefeller menjadi terkaya sedunia dengan cara monopoli. Monopoli industri minyak di Amerika Serikat dilakukan dengan cara merger dan akuisisi.
Google pun demikian. Perusahaan mesin pencari ini berkali-kali melakukan akuisisi. Yang pertama dicaplok antara lain Android dan Youtube. Dengan menguasai android, Google menjadikan operating system ini sebagai basis dari Google Mobile Service {GMS}. Kini hampir semua smartphone selalu dibundling dengan GMS.
Dan youtube terbukti mampu mengeser televisi bahkan media-media lainnya sehingga menjadi salah satu tambang uang terbesar dari Google Adsense. Kemampuan Google meraup iklan dalam jumlah yang sangat besar tidak lepas dari langkahnya mencaplok DoubleClick, sebuah start up periklanan digital.
Mencaplok calon pesaing menjadi salah satu cara untuk besar dan memonopoli bukan saja dilakukan oleh Google melainkan juga oleh Amazon yang mengantar Jeff Bezos menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Sejak berdiri di tahun 1994, Amazon sekurangnya telah mengakuisisi 98 perusahaan di berbagai industri.
Lalu bagaimana jika perusahaan yang mau diakuisi menolak karena sama-sama besar. Strategi lain yang kemudian dipakai adalah merger atau bergabung, seperti yang dilakukan oleh Gojek dan Tokopedia yang kemudian bergabung menjadi GoTo.
Model konsolidasi dengan akuisisi dan merger akan menghasilkan entitas besar yang menguasai sesuatu mulai dari hulu hingga ke hilir. Dengan kemampuan ini mereka akan membangun ekosistem yang membuat penggunanya tak bisa lagi menghindar karena semua kebutuhannya ada disana.
Dengan data yang ditambang dari mana-mana, Google kini menjadi maha pemberi tahu. Apa-apa yang tidak tahu tanyakan saja pada Google, pasti akan dijawab. Dulu yang malu bertanya akan sesat dijalan, kini yang tak pakai google map yang akan hilang jalan.
Dibanding dengan minyak bumi, emas, perak, bauksit, aluminium, batubara dan lainnya yang bakal habis, data perilaku manusia akan menjadi sumber tambang yang abadi karena bersifat dinamis. Hasilnya pun ternyata lebih cuan.
Perusahaan-perusahaan penambang data secara perlahan namun pasti mulai merangsek naik menduduki daftar tertinggi sebagai perusahaan paling besar dan paling menguntungkan.
Dari dulu hingga sekarang yang kaya memang kaum penambang karena mereka hanya mengambil dan kemudian untung besar.
note : sumber gambar – CNBCINDONESIA.COM








