KESAH.ID – Bermula dari gerobak yang didorong atau ditarik oleh manusia dan juga binatang lahirlah kendaraan bermotor. Besarnya kekuatan mesin pengerak kendaraanpun dihitung berdasarkan kekuaran kuda {horse power}. Dan kuda besi itu kemudian membuat kendaraan yang ditarik oleh kuda betulan tersingkir dari jalanan. Tapi kita tak boleh lupa, betapa gerobak, kereta atau kabin yang ditarik oleh kuda dan binatang lainnya berjasa besar dalam membangun peradaban manusia.
Sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, pulang pergi sekolah saya jalan kaki. Pagi-pagi biasanya ada teman kelas yang memanggil-manggil di depan rumah lalu kami pergi bersama dan ‘ngampiri’ teman lain yang rumahnya kami lewati.
Kadang kami lewat jalan besar {jalan aspal} namun lebih sering lewat jalan ‘trabasan’ jalan yang melewati pekarangan dan permukiman.
Matahari biasanya sudah memanas saat kami pulang sekolah sehingga lebih jalan trabasan lebih menyenangkan karena teduh. Di beberapa titik yang kami lewati ada papringan rumpun bambu yang lebat dan ada yang membentuk kanopi seperti memayungi dari panas mentari.
Tapi sesekali kami akan lewat jalan besar juga tatkala pohon asam di pinggir jalan berbuah. Buahnya yang masak biasa akan jatuh jika tertiup agak kencang di siang hari.
Ketika panas matahari begitu terik, aspal jalanan di beberapa bagian akan melunak. Jika beruntung kami akan menemukan sepatu kuda yang tertinggal, tertanam dalam aspal karena paku untuk memasang di kuku kaki kuda terlepas.
Dokar pada masa itu masih merupakan salah satu alat angkut penumpang yang favorit. Jumlahnya masih banyak, bunyi ketipak ketipuk kaki kuda melewati jalan lterasa akrab di telinga ketimbang deru mobil.
Selain dokar, jalanan juga masih ramai dengan hilir mudik orang menaiki sepeda pancal. Kring, kring, kring bunyi bel sepeda sering terdengar.
Karena mobil masih jarang, kami pun hafal mobil-mobil yang lewat. Jadi jika ada mobil yang terasa asing, saya dan teman-teman akan lari sembunyi. Takut kalau-kalau itu adalah mobil culik. Dulu kami meyakini setiap ada pembangunan infrastruktur besar seperti jembatan akan diberi tumbal. Tumbalnya adalah anak yang diculik dari daerah sekitar.
Dokar lebih dimaksudkan untuk mengangkut penumpang, sedangkan barang biasa diangkut dengan gerobak yang ditarik oleh sapi. Tapi kalau jaraknya tidak jauh, biasanya diangkut rame-rame dengan gerobak yang ditarik dan didorong oleh manusia. Nama yang umum dikenal untuk gerobak angkut yang ditarik oleh sapi, kerbau dan juga kuda beban adalah cikar.
Setiap daerah mempunyai sebutan dan ciri khas masing-masing dalam menyebut kereta yang ditarik oleh kuda. Di Jawa Tengah umumnya disebut sebagai dokar atau andong. Sementara di Jakarta di kenal dengan sebutan delman, namun ada juga yang menyebutnya sebagai sado.
Di Sumatera dan Sulawesi lebih dikenal dengan sebutan Bendi, sedangkan di Lombok, kereta yang ditarik oleh kuda disebut dengan nama Cidomo.
Semua pada dasarnya mirip, yang membedakan adalah bentuk kabinnya dan roda. Ada yang memakai roda dari kayu namun ada juga yang memakai roda ban mobil. Ada juga yang rodanya dua namun ada yang empat sehingga lebih stabil. Pun kuda penariknya, ada yang satu dan ada yang dua.
Nasib kendaraan angkut yang ditenagai oleh binatang dan manusia kemudian perlahan terpinggirkan. Kendaraan yang kemudian menginspirasi munculnya mobil lama kelamaan tak mampu mengimbangi kemampuan kendaraan yang ditenagai oleh mesin.
Bendi, dokar, delman, sado, andong dan cidomo kalah cepat dengan kendaraan angkutan bermesin, daya angkutnya juga kalah jauh.
Di beberapa kota, kehadirannya tetap dipertahankan sebagai kendaraan wisata.
BACA JUGA : Perihal Kekhawatiran Kekhawatiran Kita
Gerobak baik yang ditenagai oleh manusia maupun binatang berjasa besar mengangkat peradaban manusia. Bermula dari masa ribuan tahun sebelum masehi. Bukti tertua keberadaan gerobak ditemukan di Eropa, tepatnya di Jerman. Disana gerobak telah digunakan mulai tahun 3400 SM. Gerobak dipakai untuk mengangkut jenazah.
Gerobak juga ditemukan di Mesopotamia dan Mesir, selain untuk tunggangan perang, mengangkut panenan dan juga sebagai kereta jenasah.
Di China ditemukan lukisan dinding yang menunjukkan seorang pria mendorong gerobak. Lukisan itu diperkirakan dibuat pada awal tahun masehi sekitar tahun 147. Pada masa dinasti Shu Han, gerobak yang ditarik oleh sapi digunakan untuk mengangkut amunisi dan makanan ke medan perang.
Namun gerobak untuk angkutan manusia baru diperkenalkan oleh orang Jepang, namanya angkong. Konon di Tokyo pada tahun 1872 jumlah angkong melebihi 40.000 unit. Angkong kemudian menyebar ke Hongkong dan Shanghai, juga Kalkuta India.
Becak beroda dua yang ditarik oleh manusia ini juga dibawa oleh Jepang ke negeri jajahannya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun setelah jaman kemerdekaan keberadaan angkong dilarang. Yang kemudian dikenal sebagai becak adalah kendaraan roda 3 yang dikayuh oleh manusia, seperti sepeda.
Becak yang dikayuh pun kemudian dilarang beroperasi di banyak daerah. Dan sekarang tanpa dilarang-larang sekalipun jumlahnya dengan sendirinya menyusut terdesak oleh Bentor atau becak motor.
Begitulah cara kerja teknologi, ketika ditemukan alat atau sarana yang lebih efektif maka yang sebelumnya akan segera tergantikan, menjadi ketinggalan, kuno atau arkaik.
Dokar yang berasal dari kata dog cart atau kereta yang ditarik oleh anjing kemudian sirna, dianggap menganggu lalu lintas jalan, tidak terjamin keamanannya karena kuda bisa ngamuk atau terpeleset sehingga keretanya akan terjungkal. Dari sisi lingkungan tahi dan kencing kuda juga akan mencemari serta mengotori jalanan.
Di Jakarta, Delman yang mengabadikan nama penciptanya yakni Charles Theodore Deeleman yang masih berusaha dipertahankan sebagai kendaraan wisata di sekitar kawasan monas kemudian dilarang pada tahun 2016.
Pelarangan itu merupakan imbas dari temuan adanya parasit berbahaya yang menginfeksi sebagian besar kuda yang dipakai untuk menarik delman disana.
Beberapa tahun terakhir ini setiap kali mudik pulang kampung suara ketipak-ketipuk lari kecil kaki kuda yang terantuk permukaan jalanan tak lagi terdengar. Duduk-duduk santai di teras rumah sambil memandang kendaraan yang semakin ramai lalu lalang di jalanan, ternyata dokar tak lewat-lewat.
Bahkan tanpa dilarang sekalipun profesi penarik dokar tidak berhasil melakukan regenerasi. Mbah Satro, yang kemudian dikenal sebagai Satro Dokar, untuk membedakan dengan mbah Sastro yang berprofesi lain, setelah meninggal taka da anaknya yang mau mewarisi dokarnya.
Hal yang sama juga berlaku untuk mbah-mbah kusir dokar lainnya. Ketimbang jadi kusir, anak-anak mereka lebih memilih menjadi sopir.
Pohon-pohon asam besar di pinggir jalan juga sudah hilang ditebang, diganti dengan tiang-tiang. Tiang listrik, tiang kabel internet dan tiang-tiang papan nama tempat usaha.
Tak ada lagi anak-anak jalan kaki pulang pergi sekolah, sembari mencari buah asam yang jatuh di jalanan dan sepatu kuda yang tertinggal di aspal. Anak-anak pulang pergi sekolah dengan kendaraan, baik berkendara sendiri atau diantar oleh keluarga.
BACA JUGA : Kabar Palsu, Jurnalisme VS Pembuat Konten
Begitulah cara teknologi bekerja. Hasil temuan ilmu pengetahuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teknologi selalu akan mengantikan yang lama. Temuan-temuan baru selalu menghabisi yang lama, karena yang baru selalu akan lebih baik, lebih efektif dan efisien.
Dulu yang melakukan demonstrasi dan protes adalah sopir dokar. Mereka memprotes operasi kendaraan angkutan kota yang mulai beroperasi di jalur mereka.
Berikutnya yang protes adalah para sopir angkot, ketika mulai ada rencana operasi dari taxi argo yang argonya sering juga disebut argo kuda.
Tapi kemajuan tak bisa dihambat karena konsumen juga mulai sadar pentingnya layanan yang semakin nyaman dan juga aman.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kemudian membawa arah baru. Hasilnya adalah transportasi online. Dan ketika transportasi online mulai berkembang, giliran supir taxi yang melakukan protes.
Kita semua tentu masih ingat betapa kerap terjadi perang antara sopir taxi konvensional dengan transportasi online di bandar udara dan pelabuhan.
Protes yang kemudian sia-sia karena yang dilawan adalah kemajuan jaman.
Dan yang serba online, segala sesuatu yang berbasis digital sekarang ini yang memakan semuanya. Semua menjadi serba terkoneksi, menjadi lebih mudah untuk diakses, kepastian lebih mudah didapat selama gadget mempunyai paket data serta ada uang di dompet digital.
Saat pulang kampung yang terakhir, lama duduk di teras rumah sambil memandangi jalan. Ternyata bukan hanya dokar yang tak lagi lewat. Angkot pun sudah jarang melintas dan jika ada yang melintas terlihat jumlah yang menumpanginya memprihatinkan. Kebanyakan kosong melompong.
Angkot konvensional memasuki siklus yang dulu dialami oleh dokar, andong, cidomo dan juga delman. Tergulung oleh moda angkutan baru yang lebih memanjakan para penumpangnya.
Maka sudah benar jika museum yang kini banyak dikunjungi adalah museum angkutan, karena disana banyak tersimpan memori dan romantika menggunakan angkutan-angkutan model lama.
Dunia boleh berkembang dari detik ke detik, namun manusia cenderung mengawetkan kenangan. Sebab kenangan selalu membahagiakan, sebahagian liburan di hari Minggu karena turut ayah ke kota sambil naik delman istimewa.









menarik sekali terimakasih infonya
Comments are closed.