KESAH.ID – Kecerdasan dan tangan dingin Elon Musk tengah diuji setelah dirinya mengambil alih twitter. Menyebut diri sebagai Chief Twit akankah Elon Musk berhasil menjaga kelangsungan dan perkembangan twitter dengan cara menjadikan twitter sebagai media sosial berbayar.
Seingat saya dulu rerata orang Indonesia mengenal dan cukup punya informasi tentang presiden Amerika Serikat. Pemimpin negeri Paman Sam itu dianggap sebagai pemimpin dunia karena Amerika Serikat adalah negeri adidaya.
Amerika Serikat dikenal karena politik luar negerinya sehingga yang terkenal bukan hanya sang presiden melainkan juga menteri luar negeri yang juga merangkap sebagai sekretaris negara. Saya masih ingat salah satunya yakni Alexander Haig.
Namun lama kelamaan sosok presiden Amerika Serikat kemudian kalah menarik. Terakhir yang cukup dibincang adalah Barrack Obama, bukan karena sikap politiknya melainkan sewaktu kecil dia pernah tinggal di Indonesia.
Digantikan oleh Donald Trump, presiden Amerika Serikat yang ini justru banyak kena bully. Politik Amerika Serikat lebih mirip panggung dagelan.
Kini Amerika Serikat dipimpin oleh Joe Biden, seorang politisi senior. Di Indonesia bisa jadi Biden adalah salah satu presiden Amerika Serikat yang paling tidak populer.
Nama-nama pemimpin politik Amerika Serikat tergusur dalam benak orang Indonesia ketika dari sana muncul sosok-sosok yang dianggap sebagai pembaharu dalam bidang teknologi. Urusan teknologi ini yang dianggap lebih relevan ketimbang politik.
Dimulai dari Bill Gate yang terkenal dengan operating system MS Window, sampai sekarang OS buatan Microsoft ini jumlah pemakaianya masih merajai di Indonesia. Desktop dan Laptop pada umumnya dilengkapi dengan sistem operasi ini.
Lalu ada Steve Jobs yang tinggalan produknya menjadi tolok ukur tingkat kekerenan di Indonesia. Siapapun yang memakai produk dari perusahaan yang dirintis oleh Steve Jobs akan dianggap berkelas. Memakai Macbook, IPAD dan Iphone memang auto menjadi percaya diri.
Sosok lainnya yang kemudian terkenal adalah Jeff Bezos, pendiri situs dagang online terbesar yang bermula dari toko buku online. Sama seperti cerita kebanyakan perusahaan teknologi yang ternama di Amerika Serikat, Jeff Bezos merintis Amazon dari garasi rumah.
Dengan kekayaan yang diperoleh dari bisnis onlinenya, Jeff Bezos kemudian mendirikan dan mengakuisisi banyak perusahaan lain yakni Perusahaan Roket Blue Origin, The Washington Post, IMDb, Whole Foods Market, Zappos, Audible dan Twitch.
Dari dunia sosial media ada banyak nama yang ternama namun yang paling fenomenal adalah Mark Zuckerberg pendiri Facebook yang kemudian mengambil alih Instagram dan Whatsapp. Kini perusahaan induknya bernama Meta yang menaungi Facebook, Instagram, Whatsapp dan proyek lainnya yakni metaverse.
Dari antara orang-orang itu yang kemudian paling mengebrak dan mencuri perhatian adalah Elon Musk. Pria kelahiran Afrika Selatan yang kemudian pindah ke Kanada lalu ke Amerika Serikat.
Elon yang sewaktu kecil pernah dikira tuli karena sangat pendiam dan kurang merespon kondisi kesekitarannya ini mulai belajar pemograman komputer sejak usai 9 tahun. Konon kekayaannya pernah mencapai angka 4.000 trilyun.
BACA JUGA : Liga Kilang Minyak Di Bulan November 2022
Di Indonesia nama Elon Musk identik dengan Tesla, banyak yang mengira dirinya adalah pendiri perusahaan yang merintis produksi mobil listrik secara massal itu. Padahal sebenarnya bukan, Elon masuk ke Tesla dan menjadi pemimpin setelah mengambil alih sebagian sahamnya.
Kekayaan Elon Musk bermula dari penjualan Zip2, platform yang dibuat bersama adiknya untuk mengonlinekan koran. Setelah itu Elon Musk bersama dengan Peter Thiel membangun PayPal yang kembali dijualnya. Uang hasil penjualannya dipakai untuk membangun SpaceX.
Selain SpaceX, Elon Musk juga mendirikan perusahaan pengalian terowongan, Boring Company, perusahaan rintisan untuk teknologi neuro Neuralink dan perusahaan Open AI untuk mengekplorasi pengetahuan dan teknologi kecerdasan buatan.
Dengan kekayaan yang didapat dari berbagai perusahaannya, Elon Musk kemudian menjadi investor di Tesla, perusahaan yang didirikan oleh Martin Eberhard dan Marc Tarpenning pada tahun 2003.
Tahun 2012 Tesla mulai menjual mobilnya yakni Tesla S secara massal lalu disusul oleh Model X dan Model 3. Mobil yang dijual secara online itu laris manis, peminatnya mesti menunggu cukup lama untuk mendapatkannya. Bahkan untuk model Cyber Truck pembeli sudah mengantri lebih dari satu tahun walau mobilnya belum diluncurkan.
Di Indonesia nama Tesla melejit di jaman gila-gilaannya Crazy Rich pamer tunggangan, walau sebagian hanya gimmick dan tak benar-benar memilikinya.
Namun Elon Musk bukan hanya terkenal karena Tesla melainkan juga kebiasaannya bermain twitter dan kesukaannya pada crypto currency. Elon Musk bisa dianggap sebagai endorser kripto, cuitannya bisa mempengaruhi naik turunnya nilai koin-koin digital.
Salah satu dukungannya pada uang kripto adalah rencana Tesla untuk menerima pembayaran dengan bitcoin.
Sebagai pengusaha teknologi kelakuan Elon Musk memang menarik. Konon karakter Superhero Tony Stark atau Iron Man banyak terpengaruh oleh Elon Musk. Sejumlah cuplikan dalam Iron Man 2 diambil di SpaceX dan Elon muncul sebagai cameo dalam film itu.
Kepopulerannya bahkan sampai membuat Presiden Jokowi meluangkan waktu untuk bertemu dan mengunjunginya di SpaceX. Menemui secara pribadi dan mengundang untuk berinvestasi di Indonesia. Sebelum ditemui oleh Jokowi, satu tim yang dipimpin oleh Luhut Binsar Panjaitan lebih dulu melobinya. Saat itu Elon Musk sempat mencicipi Kopiko, permen rasa kopi dari Indonesia.
Elon sempat berjanji untuk datang ke Indonesia, kalau tidak salah November ini bertepatan dengan pelaksanaan pertemuan G20. Namun ternyata tidak jadi, Elon Musk hanya muncul dalam sebuah konperensi secara online.
Dia tidak bisa meninggalkan markasnya karena sedang pusing dengan urusan pengambilahan twitter. Elon yang sebelumnya lebih suka nge-twit kini menjadi pemilik dan pemimpin di Twitter.
BACA JUGA : Dari Dulu Hingga Sekarang Yang Kaya Tetap Penambang
Untuk mengambil alih twitter, Elon Musk harus mengeluarkan uang hampir 700 trilyun. Tentu saja bukan dari kantongnya sendiri karena bakal membuat kekayaannya tergerus. Elon kurang lebih mengelontorkan 200-an trilyun dari kantong dan sahamnya di Tesla dan sisanya berasal dari investor yang terdiri dari perusahaan teknologi, Qatar Holding, Pangeran Alwaleed Bin Talal dan sindikasi perbankan.
Bisa dipastikan Elon Musk yang kini menyebut diri sebagai Chief Twit harus bekerja keras agar investasinya di twitter tidak berakhir buntung.
Jika hanya mengandalkan iklan jelas twitter satu-satunya sosial media yang bertahan dengan pola microblog akan kedodoran, sebab pemakainya jauh dibawah media sosial lainnya seperti facebook, instagram dan juga tik tok.
Ekosistem twitter tunggal, tidak seperti Meta dan Google yang menguasai banyak aplikasi yang saling terkoneksi. Mengratiskan pemakaiannya berarti mengandalkan jumlah pemakai aktif yang besar untuk men-generate uang lewat iklan.
Maka setelah memecati para petinggi twitter, Elon Musk kemudian berencana untuk menarik bayaran dari pengguna twitter yang berstatus centang biru.
Blue Tick atau centang biru sebelumnya merupakan status bagi para pengguna twitter yang terpercaya, bisa mempengaruhi orang lain layaknya seorang selebgram atau youtuber ternama. Jaminan mutu lah pokoknya.
Centang biru ini bisa diperoleh dengan cara mengajukan diri dan kemudian akan dinilai oleh twitter, kalau layak maka akan diberikan kalau tidak akan ditolak. Akun yang punya centang biru menjadi gengsi tersendiri untuk yang punya.
Dan Elon berencana centang biru bisa diperoleh dengan cara membayar sebagai salah satu cara bagi perusahaan untuk mendapatkan uang.
Soal mengutip bayaran dari penggunaan media sosial mungkin bukan ide yang janggal. Youtube pun memperkenalkan Youtube Premium, akun berbayar yang memungkinkan pemakainya melihat video-video di youtube tanpa iklan.
Sebaliknya Netflix sebuah layanan berbayar, kini juga mulai menyertakan iklan untuk memperoleh pendapatan yang lebih banyak. Layanan yang disertai iklan harganya akan lebih murah dari layanan premium.
Facebook juga pernah berencana menjadi Whatsapp sebagai apilkasi yang berbayar, walau sampai sekarang masih gratis-tis dan tanpa iklan.
Sekurangnya baru model bisnis twitter berbayar yang sedang direncanakan oleh Elon Musk untuk masa depan twitter di tangannya. Belum jelas apa rencana lainnya atau inovasi baru yang akan lahir dari tangan dinginnya yang terbukti sukses dalam mengelola berbagai perusahaan teknologi rintisan.
Akankah para pemakai twitter antusias dan sudi membayar. Atau centang biru yang selama ini merupakan personal branding yang kuat akan tetap sekuat itu jika bisa diperoleh dengan cara membayar?.
Kita belum tahu. Satu hal yang pasti sosial media sebagai perusahaan jelas butuh uang dan juga keuntungan agar terus bisa berkembang. Jika selama ini sosial media kebanyakan gratis, karena pemakainya di monetisasi lewat iklan, maka bisa jadi Twitter yang kukuh bertahan sebagai sosial media yang berbasis micro text akan menjadi pioner sebagai sosial media berbayar.
Dengan track records, kecerdasan dan pengaruhnya bisa saja Elon Musk kelak akan mampu merubah kelakuan pemakai sosial media bahwa keren itu artinya membayar bukan pemburu gratisan.
note : sumber gambar – IDNTIMES.COM








