Tak bisa disangkal kalau Tuhan, seks dan uang adalah tiga tema perbincangan yang dalam pandangan saya amat digemari oleh kebanyakan orang.

Saya tak punya kemampuan untuk mengkonfirmasi hal itu lewat riset ala-ala lembaga polling politik yang selain rumit metodologinya, juga butuh mobilisasi sumberdaya manusia dan dana. Oleh karenanya saya menggunakan cara termudah yakni melihat ada berapa entry terkait tema itu di laman mesin pencari google.

Dengan memakai keynote berbahasa Indonesia hasil pencarian kata Tuhan dalam waktu 0,47 detik menghasilkan 545.000.000 entry, kata seks dalam waktu 0,52 detik menghasilkan 1.870.000.000 entry sedangkan kata uang menghasilkan 2.130.000.000.

Uang mengalahkan seks dan Tuhan.  Hasil yang wajar sebab meski dikenal sebagai bangsa yang religius namun tak semua orang Indonesia percaya Tuhan, yang percayapun sebagian mungkin juga ragu-ragu, atau tak konsisten percaya 100% setiap saat.

Sedangkan pada uang, nampaknya semua orang percaya, bahkan sekedar iming-iming saja sudah dipercaya. Tak heran jika kemudian banyak yang tertipu oleh segala macam modus yang menawarkan menghasilkan uang secara cepat.

Ketika entry Tuhan, seks dan uang diganti dengan God, sex dan money ternyata hasilnya berbeda. Kata kunci God dalam waktu 0,55 detik menghasilkan 5.540.000.000 entry, sedangkan money menghasilkan 5.520.000.000 entry dalam waktu 0,54 detik dan sex menghasilkan 6.820.000.000 entry dalam waktu 0,37 detik.

God dan money dalam waktu yang kurang lebih sama menghasilkan jumlah entry yang kurang lebih juga sama, hanya God lebih banyak sedikit. Namun dalam waktu yang lebih cepat ternyata sex menghasilkan entry yang jauh lebih banyak ketimbang God dan money.

Hasil ini menunjukkan secara universal Tuhan {God} dan Uang {money} hampir sejajar, sama kuat meski Tuhan sedikit lebih kuat. Namun secara universal seks {sex} ternyata lebih dominan ketimbang Tuhan dan uang.

Apakah manusia secara universal doyan seks ketimbang Tuhan dan uang?.

Tidak juga, tapi menempatkan seks sebagai suatu hal yang penting memang benar. Tanpa ada seks manusia akan punah.

Manusia bukanlah jenis mahkluk yang bisa berkembang dari dalam dirinya sendiri, seperti beberapa mahkluk lain yang membelah diri untuk berbiak. Manusia juga tak bisa berkembang biak sebagai mana beberapa tumbuhan yang bisa memperbanyak diri dengan mengeluarkan tunas atau anakan, atau cangkok dan stek. Sebagian tumbuhan kini juga bisa diperbanyak lewat kultur jaringan.

Ilmu pengetahuan memang telah memungkin untuk melakukan pengembangbiakan, fotocoppy atau penggandaan mahkluk hidup lewat kloning. Proses ini berjalan secara aseksual karena ‘anak’ dihasilkan lewat sel turunan dari sel induk tunggal. Teknik ini memungkinkan untuk ‘melahirkan’ keturunan dengan kode genetik yang sama dengan sel induknya tanpa pembuahan.

Beberapa mahkluk hasil kloning yang terkenal antara lain  seekor domba yang diberi nama Dolly yang ‘dilahirkan’ pada tahun 1996. Dolly bisa menghasilkan keturunan secara normal, namun tahun 2003, Dolly disuntik mati karena terkena tumor paru-paru.

Lalu ada Garlic, seekor kucing. Garlic dikloning dari kucing kesayangan seseorang yang hilang dan kemudian diketemukan telah mati. Kloning dilakukan oleh perusahaan bioteknologi bernama Senogene yang sejak tahun 2015 lalu menawarkan jasa layanan kloning. Dengan biaya sekitar 750 juta rupiah, seseorang yang kehilangan kucing atau anjing kesayangannya bisa kembali ‘memesan’ anjing atau kucing yang mirip karakter anatomi maupun genetiknya dengan binatang peliharaannya yang telah mati.

Pada tahun 2003 lalu ada juga seekor kuda yang dikloning, inti sel kulit kuda dewasa dimodifikasi dan kemudian dimasukkan pada sel telur kosong, hasilnya seekor kuda yang diberi nama Promotea.

Snuppy adalah nama anjing hasil kloning pada tahun 2005 dan bisa bertahan hidup hingga tahun 2015.

Dan di Korea Selatan tahun 2005 berhasil dilakukan kloning atas serigala abu-abu, hasilnya dua ekor serigala bernama Snuwolf dan Snuwolffy.

Keberhasilan kloning terhadap binatang maka secara teknis proses reproduksi secara aseksual untuk meneruskan keturunan pada manusia bisa juga dilakukan.

BACA JUGA : Stop Ribut Ribut Kaos Oblong 

Sewaktu menjalani masa formatif, sebuah pendidikan rohani intensif selama satu tahun, salah satu tema pendidikan yang diberikan oleh magister {guru rohani/spiritual} adalah seks dan seksualitas.

Dalam paparannya, magister lebih banyak mengulas aspek seks dan seksualitas dari sisi psikologis, sosiologis dan religius ketimbang biologis atau biopsikologi.

Sessi itu saya ikuti kurang lebih 30 tahun lalu semasa neuroscience belum begitu berkembang. Namun jika saya ingat kembali ternyata apa yang diterangkan oleh magister saya waktu itu dalam memandang seks dan seksualitas tidaklah dikotomis seperti kebanyakan guru-guru rohani atau spiritual mainstreams.

Apa yang disampaikan oleh magister saya waktu itu meski tak tegas karena terikat oleh ajaran-ajaran resmi gereja, ada benang merah yang bisa ditarik bahwa seks dan seksualitas itu fluid, cair dan berada dalam sebuah spektrum antara dua kutub yakni laki-laki dan perempuan.

Salah satu yang masih saya ingat adalah bahwa dalam setiap diri manusia selalu ada kelaki-lakian dan keperempuanan {maskulinitas dan feminimitas}.

Dia tidak menerangkan bagaimana hal itu bisa terjadi dalam diri seorang manusia, apa yang disampaikan olehnya hanya simptom atau tanda-tanda yang bisa terlihat. Misalnya seorang laki-laki yang gagah, namun bicaranya lembut dan gerakannya gemulai. Artinya secara kelamin seseorang itu adalah laki-laki tulen namun sifat keperempuanannya benar.

Andai waktu itu sudah marak dengan gerakan feminisme, bisa jadi pendapat magister saya ini akan didebat. Mengingat kebanyakan aktivis gender menganggap yang disebut gender adalah konstruksi sosial, budaya dan religi.

Bahwa benar yang disebut tugas dan peran gender itu memang dikontruksi berdasarkan alat kelamin, namun adalah benar juga bahwa identitas gender atau seseorang merasa diri entah sebagai perempuan atau laki-laki dan spektrum diantaranya adalah bawaan secara biologis. Sebab maskulin dan feminim memang merupakan proses dalam otak akibat pengaruh atau dinamika dari hormon-hormon tertentu.

Aktivis gender kerap menganggap bahwa cara kerja otak laki-laki dan otak perempuan sama saja sehingga mesti sama-sama dihargai, setara. Padahal menurut neuroscience, ilmu yang mendalami cara kerja otak menunjukkan cara kerja otak laki-laki dan perempuan berbeda.

Tapi bukan berarti yang berbeda itu tidak bisa dihargai secara sama. Menghormati perbedaan itu yang penting dan soal perlakuan, perbedaan juga tidak boleh menjadi alasan untuk memperlakukan secara berbeda.

Tidak bisa disangkal bahwa laki-laki bisa lebih membaca peta daripada perempuan.

Soal kelamin, penis dan vagina, magister saya menerangkan dengan baik dalam konteks fungsi alamiahnya terkait dengan reproduksi. Demikian juga dengan identitas gender, soal bagaimana seseorang merasa dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.

Diterangkan olehnya bahwa identitas gender tidak selalu inline dengan kelamin. Seseorang dengan tubuh berpenis, berkumis dan tegap ternyata bisa saja merasa dirinya lebih nyaman sebagai perempuan. Pun sebaliknya seseorang yang bertubuh perempuan namun merasa dirinya lebih nyaman sebagai laki-laki. Dan ternyata laki-laki yang ingin atau merasa dirinya perempuan lebih banyak ketimbang perempuan yang ingin jadi laki-laki.

Saya memperoleh jawaban atas hal ini ketika mendengar paparan dari seorang embriolog. Menurut sang ahli, perkembangan awal embrio ketika sudah mulai terbentuk jaringan otak, semuanya adalah perempuan. Setelah memasuki minggu kelima atau kedelapan, saya tidak ingat persis, baru terjadi proses maskulinisasi dan defeminisasi.

Embrio yang proses maskulinisasi dan defeminisasinya kuat akan menjadi laki-laki, sementara yang lemah kemudian tetap menjadi perempuan. Dan diataranya kemudian muncul variasi-variasi antara spektrum laki-laki dan perempuan.

Hanya saja magister saya waktu itu kurang mengulik soal orientasi seksual. Hanya diserempet-serempet sedikit. Yang disebut dengan orientasi seksual adalah ketertarikan individu secara seksual kepada orang lain.

Karena basis pendidikan rohani yang saya ikuti adalah moral dan teologi agama maka sebagai seseorang yang diberi kuasa mengajar oleh gereja, magister saya lebih menerangkan orientasi heteroseksual.

Heteroseksual artinya seseorang tertarik secara seksual pada lawan jenis. Itu yang dianggap normal, ketertarikan diluar hal itu dianggap menyimpang, tidak normal bahkan tak sedikit yang kemudian menganggap sebagai kutukan atau penyakit.

Tapi magister saya tidak seektrim itu. Terlihat dia mengakui adanya orientasi selain heteroseksual, seperti biseks, homoseks dan lainnya. Dan jalan yang ditawarkan olehnya untuk mengatasi persoalan itu adalah mengendalikan nafsu dan tidak mengekpresikannya. Seseorang laki-laki yang tertarik pada laki-laki tidak menjadi masalah selama tidak ‘mempraktekkannya’. Jalan spiritual atau rohani untuk mewujudkannya adalah dengan puasa atau abstinence.

Seorang laki-laki yang tertarik secara seksual pada laki-laki agar menjadi ‘normal’ maka harus melakukan puasa seks sejenis. Pun demikian dengan perempuan yang tertarik secara seksual pada perempuan. Demikian juga dengan biseks, yang juga harus berpuasa atau tak berhubungan seksual dengan yang sejenis, melainkan lebih memilih yang lawan jenis.

Sebenarnya waktu itu ada banyak pertanyaan yang masih bergayut, namun karena konteksnya pendidikan rohani dan spiritual akhirnya saya menerima ‘normal’ dan ‘tidak normal’ pada kerangka orang beriman, bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan dengan tujuan untuk meneruskan keturunan.

Dengan demikian syarat yang harus dipenuhi untuk sah dan halalnya sebuah perkawinan adalah terjadi antara laki-laki dan perempuan. Diluar hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak diakui adanya perkawinan. Dengan demikian perkawinan antara laki-laki dan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan bukanlah perkawinan karena tidak berpotensi melahirkan keturunan.

Ajaran iman, moral, teologi dalam kebanyakan agama maupun kebudayaan memang menganggap kelamin, identitas gender dan orientasi seksual sebagai tiga hal yang seiring sejalan. Tidak boleh berlawanan. Andai tiga hal itu berlawanan maka seseorang harus melakukan ‘pertobatan’ untuk kembali ke jalan yang benar.

BACA JUGA : Kesuksesan Memiliki Bibit Kehancurannya Sendiri

Kelamin, identitas gender dan orientasi seksual merupakan tiga hal yang ada bersamaan dalam diri manusia, saling terkait erat satu sama yang lain namun sekaligus beroperasi dalam ruang-ruang yang berbeda. Ketiga hal itu sama-sama berkaitan dengan otak namun tidak berada dalam sistem yang sama.

Terkait tiga hal itu kemudian ada generalisasi atau pandangan umum yang menghasilkan sistem nilai, pengetahuan, moralitas dan lain-lain yang sifatnya dikotomis, pemisahan tegas antara perempuan dan laki-laki. Pun dalam soal kesadaran diri laki-laki ya merasa laki-laki dan perempuan ya merasa perempuan, demikian juga dengan ketertarikan seksual yakni pada lawan jenis.

Faktanya secara biologis tidak demikian. Sebab ternyata ada banyak variasi yang tidak secara tegas bisa mengelompokkan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan, merasa diri laki-laki atau perempuan dan hanya tertarik pada lawan jenisnya.

Pun juga soal hubungan seksual, ternyata manusia dan bebeberapa binatang lainnya berhubungan seksual bukan untuk meneruskan keturunan. Tidak bisa disangkal bahwa sebagian besar hubungan seksual dilakukan lebih untuk kesenangan atau rekreasi.

Pada umumnya binatang, yang berkelamin perempuan hanya akan mau berhubungan seksual jika dalam kondisi subur. Pada saat itu dia akan birahi dan kemudian mengeluarkan hormon tertentu sebagai signal kepada yang jantan.

Kucing dan anjing betina misalnya hanya mau ‘digauli’ pada saat masa birahi, diluar itu jantan yang mendekat dan mengoda-ngoda akan dicakar atau digonggong agar menjauh.

Tapi manusia tidak demikian, dia bisa tertarik dan bernafsu setiap saat, bahkan ketika tidak bernafsu, bisa saja nafsunya dipompa dengan berbagai macam hal. Dengan demikian ketertarikan seksual dan aktivitas seksual manusia tidak otomatis terkait dengan reproduksi, melainkan juga kesenangan, kebanggaan, penahklukan dan lain-lain. Maka ketertarikan seksual tidak mutlak terjadi antara perempuan dan laki-laki atau sebaliknya.

Bahkan dalam urusan kepuasaan seksual manusia bisa saja memuaskan dirinya sendiri tanpa perlu orang lain. Memuaskan diri bisa dilakukan dengan sentuhan fisik seperti onani atau masturbasi, tapi juga bisa tanpa sentuhan dengan cara mengintip, nonton film, mendengarkan suara dan lain-lain.

Dengan demikian aktivitas seksual manusia bisa saja tidak melibatkan kelamin. Atau menurut magister saya dulu, seluruh tubuh manusia adalah alat atau organ seks.

Fluiditas kelamin dan identitas gender dalam kehidupan bersama mungkin menganggu namun relatife masih bisa diterima. Orang yang kelaminnya tidak jelas atau identitas gendernya tidak senada dengan kelamin mungkin sering dibully, diejek-ejek namun secara umum tidak dikutuk-kutuk, atau dihalalkan darahnya untuk dibunuh.

Lainnya halnya dengan orientasi seksual atau ketertarikan secara romantik pada orang lain. Sisem nilai, norma, hukum baik agama, budaya dan negara umumnya hanya mengakui orientasi seksual monoseks, khususnya yang heteroseks yakni tertarik pada lawan jenis. Orientasi monoseks lainnya yakni gay dan lesbian ditolak mentah-mentah bahkan dianggap sebagai penyakit. Yang kalau dipraktekkan bisa membuat seseorang dipidana, dikucilkan atau bahkan dihakimi oleh massa.

Orientasi seksual lain yakni pollyseksual, seperti laki-laki yang tertarik baik pada laki-laki maupun perempuan, atau sebaliknya tentu juga dikutuk. Namun hal semacam ini relative lebih mudah disembunyikan. Yang ditunjukkan kepada publik adalah yang ‘normal’, laki-laki yang beristri dan harmonis, tapi orang tidak tahu kalau dia punya pacar atau partner seks bukan hanya sesama laki-laki saja melainkan juga doyan waria.

Tentu saja ada juga yang tidak tertarik secara seksual pada orang lain atau aseksual. Yang semacam ini tentu saja juga bermasalah namun tidak menjadi aib. Paling hanya bikin orang tuanya pusing karena anaknya memilih jomblo seumur hidup.

Masih ada orientasi seksual lain yang jarang diperbincangkan atau kalau diomongkan kemudian lebih dipandang sebagai bahan tertawaan. Diakui atau tidak manusia selain omnivora atau pemakan segalanya, ternyata juga omniseks.

Manusia ternyata tidak hanya tertarik secara seksual kepada manusia lainnya melainkan juga bisa ‘kajung’ atau ‘horney’ kepada binatang, tumbuhan, gunung bahkan benda lain seperti mobil, motor dan juga jembatan.

Oleh karenanya kalau kita menganggap orientasi seksual selain heteroseksual sebagai tidak normal, penyakit, penyimpangan dan seterusnya maka pada umumnya kita semua adalah mahkluk penyakitan, tidak normal dan menyimpang.

Agar saya tidak dengan gampang menuduh orang lain tidak normal, sakit dan menyimpang, maka saya ikuti saja penjelasan ahli biologi yang mengatakan bahwa semua itu adalah variasi dan setiap variasi ada konsekwensinya.

Dan itulah hidup yang merupakan rangkaian dari konsekwensi.

Kalau kita laki-laki dan tertarik pada perempuan serta ingin ‘ngeseks’ dengannya tanpa menimbulkan keributan jika ketahuan ya pacari, lamar dan nikahilah. Tapi kalau kita laki-laki dan tertarik pada laki-laki serta ingin ngeseks dengannya, lakukan diam-diam dan jangan sampai ketahuan.

Ini Indonesia bung.