Di jaman segala sesuatu masih bersifat analog dan manual ada banyak sosok, produsen atau apapun yang bertengger di puncak kemapanan dalam waktu yang lama. Mereka seolah-olah tak ada lawan, apapun yang mereka hasilkan selalu disambut dan diterima dengan hangat oleh masyarakat.
Ketika terjadi revolusi digital, revolusi teknologi informasi dan komunikasi perubahan terus terjadi dengan cara yang teramat cepat. Apa yang canggih dengan sangat cepat bisa berubah menjadi usang. Setiap hari selalu ada inovasi yang merubah dengan sangat drastis apa saja yang berlaku sebelumnya.
Ada banyak perubahan yang tidak diduga, sesuatu yang belum pernah dipikirkan sebelumnya.
Menjadi mapan berpuas diri atas pencapaian kemudian justru menjadi jalan kehancuran. Andrew Grove, CEO Intel merangkum realitas ini dengan mengatakan “Sukses memiliki bibit kehancurannya sendiri,”.
Revolusi digital memang telah membuktikan mereka yang tidak bergerak cepat karena sudah nyaman dengan suksesnya kemudian hancur.
Ambil contoh misalnya Kodak. Generasi hingga tahun 80 tahun bahwa Kodak yang adalah merek kamera itu identik dengan foto. Difoto sama artinya dengan dikodak, tukang foto disebut dengan tukang kodak.
Ketika teknologi gambar dan penyimpanan digital ditemukan, Kodak mengabaikannya. Dan apa yang terjadi?. Kodak hancur berkeping-keping, tersingkir secara tragis dalam dunia potret memotret. Bagi anak-anak jaman now yang obrolannya NFT, Kodak tak dikenali lagi, menyebut Kodak sama dengan menyebut Dinosaurus atau Pithecantropus Erectus, sesuatu yang arkaik.
Jangankan Kodak yang memang analog dan manual, Nokia yang juga turut dalam revolusi digital hingga kemudian menguasai pangsa pasar telepon genggam pada akhirnya juga tumbang karena merasa mapan.
Dengan sistem operasi Symbian, Nokia percaya diri tetap relevan saat mendapat saingan sistem operasi terbuka bernama Android. Nokia kekeh mempertahankan platformnya sendiri yang kemudian membuatnya tertinggal ketika handphone kemudian bermetamorfosis menjadi smartphone. Nokiapun tumbang.
Nokia tidak sendirian ada juga Blackberry yang begitu jumawa karena selain menghasilkan gadget juga menguasai layanan internet. Kesuksesan yang membuat Blackberry lupa untuk melakukan inovasi dalam ekosistemnya. Berada dalam ekosistem tertutup kemudian membuat Blackberry tumbang. BBM dan PIN dulu begitu terkenal, kini mungkin sebagian sudah lupa.
Yang paling menyedihkan adalah Yahoo. Para pemakai internet perdana di Indonesia pasti mengenalnya. Lewat Yahoo, manusia-manusia gaptek dulu belajar TIK. Mulai dari membuat emal di yahoo, membuat mailing list dan seterusnya.
Seingat saya dalam berbagai pertemuan yang menuntut tindak lanjut, salah satu tindak lanjut yang selalu ada adalah membuat mailing list di Yahoo.
Sekarang tanyakan pada mahasiswa, siswa SMA, SMP dan SD, adakah yang mengenal Yahoo?.
Rasanya mereka yang mengenal internet lewat platform android tak akan kenal lagi yahoo, sebab default email yang dipakai adalah Google.
Ya Yahoo tumbang karena merasa telah mapan, waktu itu pemakai internet mayoritas memakai Yahoo, sehingga Yahoo terlena karena beroleh pendapatan yang besar dari iklan. Yahoo tidak lagi menjadi perusahaan teknologi, melainkan jadi perusahaan media.
Sementara pesaingnya yakni Google terus berinovasi, tidak hanya menyediakan layanan email dan mesin pencarian melainkan juga mengembangkan berbagai layanan lainnya yang dibundling dalam Google Mobile Service untuk mengantisipasi perubahan perilaku dalam akses internet dari PC atau Laptop ke Mobile Phone.
Yahoo-pun tumbang dari perusahaan yang paling bernilai dalam sekejap sahamnya tak ada lagi yang mau membeli.
BACA JUGA : Jokowi Ketemu Elon Musk, Bahas Apa?
Lalu siapakah yang menjadi pengerak tsunami perubahan ini?.
Kita mengenalnya sebagai start up atau perusahaan rintisan. Sebuah perusahaan yang dibangun dengan gagasan yang inovatif yang sebelumnya tidak ada. Start up umumnya berorientasi pada layanan, mempermudah pelanggan atau konsumen untuk mendapat layanan dengan cara yang paling mudah.
Ambil contoh perusahaan ride hailing, perusahaan transportasi yang tidak mempunyai kendaraan sendiri. Perusahaan ini hanya menghubungkan antara penyedia jasa yakni pemilik kendaraan dan drivernya dengan pelanggan.
Lewat sebuah sistem, pelanggan bisa memanggil penyedia layanan, mengatakan hendak kemana dan mendapat informasi berapa ongkos yang harus dibayar.
Bukan hanya perusahaan transportasi yang tak punya kendaraan, melainkan ada juga perusahaan akomodasi yang tak punya bangunan arau kamar. Walau begitu perusahaan ini bisa membuat orang yang hendak bepergian kemana saja dan akan menginap bisa menemukan kamar untuk beristirahat.
Yang lebih dahsyat lagi adalah mall virtual yang disebut marketplace, sebuah pasar besar tanpa bangunan yang menghabiskan lahan. Disini setiap orang bisa membuat toko, berjualan apa saja bahkan sambil tidur-tiduran.
Marketplace membuat orang bisa berjualan tanpa memikirkan sewa ruangan, membayar pegawai untuk melayani pelanggan, membayar satpam agar tokonya tidak dirampok atau dibobol maling pada malam hari.
Berbeda dengan perusahaaan pada umumnya, yang disebut dengan start up ini tidak mengharamkan untuk rugi diawal-awal pengembangannya. Maka sering dikenal istilah membakar uang.
Start up memberi insentif di awal-awal untuk pelanggan dan mitranya, tujuannya adalah meraup sebanyak mungkin pemakai aplikasinya. Dengan jumlah pemakai yang besar maka ekosistem usaha mereka akan terbangun dan ketika ekosistem terbangun, baru proses untuk mencetak keuntungan mulai dijalankan.
Yang menjadi persoalan, sebuah usaha atau inovasi selalu mudah untuk ditiru. Bahkan dengan pola Amati, Tiru dan Mofikasi, seorang peniru bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik dari pioner atau penemunya.
Gojek dan Grab bukanlah yang pertama dalam transportasi online. Uber yang lebih dahulu memulainya. Namun Uber kemudian kedodoran ketika mulai muncul pemain lokal, seperti Gojek di Indonesia dan Grab di Singapura.
Paska Uber tumbang, Grab dan Gojek kemudian bersaing dengan layanan yang sama. Dan keduanya juga mengembangkan berbagai layanan lain di luar transpotasi online untuk memenangkan persaingan serta menjadi yang paling efektif.
Gojek dan Grab kemudian masuk ke fintech serta layanan-layanan lainnya. Persaingan yang membuat Gojek kemudian menjadi superapp karena ada banyak layanan didalamnya. Tidak semuanya berhasil sehingga kemudian ditutup.
Gojek misalnya mempunyai layanan GoLife yang didalamnya ada GoLaundry, GoDaily, GoGlam, GoGame, GoTix, GoFix dan lain-lain. Beberapa layanan ini sudah dimatikan karena tidak memperoleh respon yang baik dari masyarakat.
Dengan demikian Start Up pada dasarnya adalah perusahaan yang tak boleh tenang sebab penguasaan pada pangsa tertentu dengan mudah direbut oleh saingan lainnya andai mereka bisa menawarkan layanan yang lebih baik dan efisien.
Seperti layanan pesan antar makanan yang tadinya dikuasai oleh GoFood dan GrabFood kini goyah dengan kehadiran ShopeeFood. Shopee awalnya merupakan situs jual beli online yang burning cash lewat tawaran bebas ongkir.
ShopeeFood menjadi pemain ketiga setelah GoFood dan GrabFood, diperkenalkan secara perlahan pada sekitar tahun 2020. Namun kini di berbagai kota besar, pengendara berbaju orange mulai berseliweran di jalan yang selama ini didominasi oleh driver berseragam hijau.
Konon diluar berbagai macam keluhan tentang aplikasinya, ShopeeFood naik daun karena menawarkan harga yang lebih murah. Iklannya juga lebih gencar dan berani membayar grup ternama di dunia, contohnya Blackpink.
BACA JUGA : Piye Kabare, Isih Penak Jamanku To?
Perusahaan yang besar dan mapan pasti tidak menafikan inovasi. Dalam struktur perusahaan selalu ada bagian pengembangan bisnis. Namun umumnya inovasi yang dilakukan bersifat minor, karena para eksekutif perusahaan mapan adalah orang-orang yang dipekerjakan untuk mengeksekusi model bisnis yang terbukti sudah berhasil.
Dengan tubuh bongsornya, perusahaan yang mapan ini merasa diatas angin untuk terus mengeruk keuntungan yang dipikirnya tanpa batas. Inovasi yang umumnya dilakukan hanyalah mengefisienkan proses bisnis, meningkatkan kualitas produk, repackaging produk lama agar lebih keren atau kekinian dan memainkan aksi-aksi marketing gegap gempita.
Founder atau eksekutif perusahaan rintisan berbeda karena mereka biasanya lebih memiliki jiwa ekplorasi dengan kesiagaan penuh untuk menangkap peluang dan menangkal ancaman.
Kompetisi tentu saja penting dan selalu ada, namun dibalik kompetisi selalu ada peluang untuk melakukan kolaborasi. Banyak perusahaan tetap menjadi relevan karena tidak menghabiskan seluruh energinya untuk berkompetisi melainkan karena memberikan ruang besar untuk berkolaborasi.
Intel yang dulu ada disetiap komputer {intel inside} kini mulai goyah karena mengabaikan kolaborasi. Saat itu Apple meminta Intel untuk membuatkan prosessor khusus untuk produk Apple. Namun intel menolak karena dianggap tidak menguntungkan.
Intel jumawa hingga Apple akhirnya membuat prosessor sendiri dan AMD saingannya juga bisa mengembangkan platformnya prosessornya sendiri. M1 dan Ryzen kini membuat Intel tak bisa lagi bernafas lega. Kekuatan kedua prosessor ini membuat Intel merinding.
Dalam bidang apapun saat ini sering terjadi kolaborasi yang ‘tidak masuk akal’ karena produk atau karya yang dihasilkan dibuat oleh dua atau lebih entitas yang sama sekali tidak inline. Mc Donald bekerja sama dengan BTS, menghasilkan BTS Meal yang mampu mengebrak pasar sehingga kerumunan pembelinya mirip kerusuhan.
Atau produsen kendaraan bermotor yang kemudian bekerja sama dengan rumah adibusana seperti Vespa dengan Christian Dior yang menghasilkan Vespa 946 Dior.
Kolaborasi ini bukan hanya untuk keren-kerenan melainkan sebagai langkah untuk memperluas ekosistem, menautkan kedua komunitas pengemar untuk bergabung dalam ruang yang sama. Gabungan kedua pengemar itu akan menjadi pasar besar yang tumbuh dalam waktu sesaat, bukan pasar yang saling makan melainkan saling melengkapi.
Berfokus pada persaingan akan membuat mata dan pikiran hanya tertuju pada pesaing terdekatnya, energi dihabiskan untuk mengamati gerak-gerik pesaing yang bisa saja menyembunyikan masterpiece-nya.
Masa depan selalu tidak jelas, perubahan bisa terjadi setiap saat. Selalu ada ledakan-ledakan, namun itu tidak terjadi begitu saja. Menyiapkan diri untuk masa depan atau langkah strategis menjadi kunci bagi siapapun agar tetap relevan.
Hati-hati kepada pujian. Karena pujian bisa melenakan dan membuat kita lupa bahwa ada banyak orang diluar sana yang menunggu kita besar kepala serta kemudian terantuk dan terjerembab.
Internet, teknologi informasi dan komunikasi dengan berbagai macam platformnya terbukti berhasil mencetak orang-orang sukses dalam waktu sekejap. Banyak orang terkenal, kaya dan lain sebagainya sebelum berumur 30 tahun.
Namun dengan mudah kita juga menyaksikan mereka yang on top atau fly to the moon kemudian terjerembab, jatuh ke lantai paling dasar dan kehilangan segalanya karena lupa diri. Memang benar kesuksesan memiliki bibit kehancurannya sendiri.








