Ribut-ribut soal kaos masih berlanjut dan subyeknya masih sama yakni Elon Musk yang kita tahu memang suka kaosan. Ketika menemui Luhut Binsar Panjaitan memang agak kontras, Luhut dengan setelan jas yang tidak formal amat karena dasinya dilepas ditemui oleh Elon dengan kaos merchandise Tesla.
Netizen terutama di twitter meronta, rasa kebangsaannya terusik.
Saat melaporkan hasil kunjungannya kepada Presiden Jokowi, kemungkinan besar Luhut menyampaikan kalau Elon Musk suka menemui tamu di kantornya dengan kaosan saja. Nampaknya Jokowi memaklumi hal itu.
Dan ketika bertamu pada Elon Musk, Presiden Jokowi kemudian juga menurunkan level formalitasnya. Tidak seperti Luhut yang masih mengenakan jas, Jokowi hanya membalut tubuhnya dengan hem putih kesukaannya.
Jokowi kemudian ditemui oleh Elon Musk yang memakai ‘Spaceman’ kaos merchandise Space X di kompleks Space X.
Terlihat jelas Presiden Jokowi tidak terganggu dengan penampilan Elon Musk. Pertemuan berjalan lancar dan akrab. Elon Musk juga berjanji untuk berkunjung ke Indonesia pada November nanti.
Lagi-lagi yang terganggu justru para netizen di Indonesia. Mereka merasa Elon Musk melakukan penghinaan, menyambut pemimpin negara dengan kaosan.
Tapi yang disalahkan bukan Elon Musk melainkan sang tamu yakni Presiden Jokowi. Kenapa presiden mau ditemui oleh orang yang hanya kaosan saja?.
Jadi kesimpulannya Elon Musk yang kaosan itu adalah salah Jokowi.
Yah, begitulah netizen Indonesia yang konon memang gemar meributkan hal-hal yang tak perlu diributkan atau gemar melakukan segala sesuatu yang tidak perlu dilakukan.
Apa yang diributkan bukanlah hal yang substasial. Keriuhan ini hanya urusan sopan santun. Netizen mengedepankan sopan santun atau etiket meski ada paradoks yakni saat mengingatkan soal sopan santun banyak kali dilakukan juga dengan cara yang tidak sopan.
Padahal urusan seperti ini sudah lama diingatkan oleh Tukul Arwana saat masih sehat dulu. Tukul sering berucap “Don’t judge a book by it’s cover”.
Sebagai salah satu pengemar Tukul maka saya mesti mengatakan bahwa Elon Musk yang kaosan saat bertemu Presiden Jokowi tidak bisa disebut tidak sopan apalagi sampai dianggap menghina martabat dan harga diri bangsa Indonesia.
Yang disebut tata cara berpakaian itu etiket dan mana yang sopan serta tidak itu tak berlaku umum. Apa yang dianggap pantas oleh satu kelompok, belum tentu dianggap pantas oleh kelompok lainnya. Apa yang dianggap wajar oleh kelompok tertentu bisa jadi dianggap berlebihan oleh kelompok lainnya.
Lagi pula justru tidak etis jika kemudian Presiden Joko Widodo yang bertamu lalu meminta disambut oleh tuan rumah dengan syarat pakaian tertentu.
Maka pilihan untuk tidak mengintervensi apa yang dikenakan oleh Elon Musk justru pilihan yang benar. Apalagi sehari-hari penampilan Elon Musk memang begitu. Seperti halnya pengusaha teknologi lainnya seperti Mark Zuckenberg, Larry Page, Jack Dorsey dan Evan Spiegel.
Di Indonesia kita juga mengenal Almarhum Bob Sadino, pengusaha yang identik dengan celana jeans pendek bahkan pendek sekali, jauh diatas lutut. Dipanggil ke istana atau menemui Presiden Suharto di kebunnya, Bob Sadino tetap dengan penampilannya sehari-hari, celana pendek. Suharto yang dikenal sangat mengutamakan tata krama ternyata tidak mempersoalkan hal itu. Paling yang marah dan mengerutu paspampresnya.
Bob Sadino juga memakai pakaian kebesarannya saat menemui Megawati ketika masih menjabat sebagai Presiden.
“Apapun makanannya Teh Botol Sosro minumannya,”, maka buat saya apapun pakaian yang penting perbincangannya bermakna untuk Indonesia.
BACA JUGA : Kesuksesan Memiliki Bibit Kehancurannya Sendiri
Saya sendiri hari-hari memakai kaos dan celana pendek, kemana-mana. Dan itu sudah saya kenakan sejak puluhan tahun lalu.
Ketika saya tiba-tiba memakai celana panjang dan kemeja, mereka yang biasa saya temui justru merasa aneh. Ketika saya temui mereka malah berkata “Mau kemana kok rapi sekali?”
Dan suatu kali karena saya temui dengan celana panjang dan kemeja, Almarhum KH. Arifin Assegaf sampai berucap “Wah, kamu kelihatan sudah menjadi manusia,”.
Dulu sekali kaos memang kerap menjadi masalah. Sewaktu saya kecil, ibu saya tidak suka kalau kami makan bersama dengan baju kaos. Menurutnya tidak sopan, pakai kaos boleh tapi kaos yang mempunyai krah di leher.
Kaos tanpa leher waktu itu dianggap sebagai pakaian dalam.
Alhasil dengan anggapan seperti itu, sekali lagi dulu, dulu sekali, saya berkali-kali dicegat di depan pintu gereja gara-gara pergi ke gereja memakai kaos, kaos tanpa krah.
Entah kenapa sejak dulu saya tidak suka memakai kaos dengan krah. Rasanya itu pakaian milik orang tua apalagi yang motifnya bergaris-garis.
Dan ketika saya sudah mulai tua ternyata juga tetap tak suka memakai kaos berkerah.
Memang masih ada yang menyoal perkara saya dan kegemaran pada kaos. Bukan soal kaosnya tapi tentang warna. Kebanyakan kaos yang saya beli berwarna hitam atau abu-abu.
“Kaos kok hitam semua,” itu yang sering diucapkan oleh anak saya yang sesekali ketika pulang dari mall bersama mamahnya membawa oleh-oleh kaos warna lain.
Sekarang ibu saya juga sudah tidak anti kaos di meja makan. Saya yang tidak tentu pulang setahun sekali ke rumah, beberapa kali ketika sampai di rumah saat mudik diberi kaos oleh ibu. Nampaknya setiap kali mendapat kaos berwarna hitam atau abu-abu dan menurut ibu cocok untuk saya maka akan disimpannya sampai saya datang.
Makanya saya benar-benar heran urusan kaos Elon Musk saat menemui Presiden Jokowi jadi ribut nasional. Tapi sepertinya ribut-ribut itu lebih banyak terjadi di twitter dan di media online yang kegemarannya memang menjadikan cuitan di twitter sebagai bahan berita.
Entahlah kalau di Tik Tok apakah soal itu jadi perbincangan juga. Nampaknya juga tidak karena pemakai Tik Tok dan Twitter bed acara kerja otaknya.
Sejauh ini di Instagram, sekurangnya di feed saya, tema ini juga tidak ramai dipercakapkan. Atau kalaupun ada berbeda konteksnya. Kaos Elon Musk malah dianggap keren, sehingga ada yang meniru dan menjualnya.
Setiap platform media sosial memang berbeda-beda kelakuannya. Di instagram yang bicara adalah gambarnya, di Tik Tok apapun disampaikan dengan goyangan. Sementara Twitter memang mewadahi percakapan.
Dan naluri manusia sejak tinggal di gua sambil mengelilingi api, percakapan yang menarik adalah tentang hal-hal yang tidak sebenarnya. Sejak masa itu manusia kerap mempertanyakan hal-hal yang tak perlu dipertanyakan dan menjawab hal-hal yang tidak ada jawabannya.
Kebiasaan itu tetap ada sampai sekarang dan Twitterlah tempatnya.
BACA JUGA : Jokowi Bertemu Elon Musk Bahas Apa?
Obrolan soal kaos bagi saya membuktikan bahwa manusia memang susah move on, bukan hanya dalam urusan dengan mantan melainkan dalam banyak hal.
Kaos sering dianggap tidak sopan karena kita tidak bisa move on dari sejarah kemunculannya.
Cikal bakal kaos bermula dari pakaian yang disebut dengan ‘union suits’ di jaman Victoria abad ke 19. Bentuknya utuh memanjang, menutupi tangan hingga kaki dan memang dimaksudkan untuk pakaian dalam agar pemakaianya hangat ketika dingin serta adem ketika panas.
Di tahun 1800-an, pakaian ini kemudian populer di kalangan pekerja di New York, dipakai sebagai pakaian kerja. Semacam wearpack saat ini.
Dan disini cikal bakal kaos oblong muncul, muasalnya ketika ada pekerja yang memotong lengan bagian atas union suits dan kemudian melapisi bagian bawah dengan celana panjang. Tampilan setengah pinggang ke atas itu yang kemudian menjadi kaos.
Kaos kemudian menguat ketika angkatan laut Amerika Serikat mewajibkan prajuritnya untuk memakai sebagai pakaian dalam saat latihan pada sekitar tahun 1913, di era perang antara Spanyol dan Amerika.
Sebutan kaos kemudian menjadi umum ketika dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris sebagai T Shirt. Selain karena bentuknya seperti huruf T, sebutan T Shirt juga tak lepas dari sejarah kaos yang sering dipakai sebagai seragam latihan US Navy. T adalah kode untuk Training.
Kalau masih ingat, dulu kaos olahraga lengkap sering disebut dengan training pack.
Kaos kemudian mulai meroket dari pakaian dalam menjadi pakaian luar ketika dipakai oleh pesohor di tahun 1950-an. Marlon Brando tampil keren dengan kaos dalam film A Streetcar Named Desire. Lalu disusul oleh James Dean dalam film Rebel Without A Cause.
Tahun 1961 muncul sebuah organisasi Underwear Institute, mereka menuntut agar kaos diakui sebagai baju luaran dan derajatnya sama dengan baju-baju lain pada umumnya.
Oleh para pemuda Amerika, kaos kemudian dipakai sebagai ekpresi kebebasan dan anti kemapanan.
Dan kaos kemudian semakin tak terbendung ketika pada tahun 1960-an muncul seni printing, cetak atau sablon pada kaos.
Di Indonesia kaos mulai populer di tahun 70-an. Dan pada tahun 80-an mulai muncul produsen-produsen kaos lokal dengan desain unik dan menarik seperti Joger, Dagadu, C59 dan lain-lain.
Di era 2000-an, kaos yang tadinya dihasilkan oleh industry garmen besar mulai dibuat oleh industri mikro. Mulai muncul distro-distro sebagai kios untuk mendistribusikan dan memajang produk kaos yang didesain secara kreatif.
Kini kita bisa membuat kaos secara individual, membuat hanya satu biji dengan desain sesuka hati.
Pada akhirnya kita tak bisa menyangkal bahwa kaos telah memberi sumbangsih besar atas tumbuh kembangnya industri kreatif di tanah air. Selain sebagai produk kreatif, kaos juga merupakan pakaian sehari-hari bagi para pelaku industri kreatif dalam berbagai sub sektor.
Maka ketimbang ribut soal kaos padahal juga suka kaos, alangkah baiknya justru budayakan memakai kaos terutama kaos karya anak-anak negeri sendiri.
Nah buat yang pingin tampil keren, penuh percaya diri dengan desain kaos sesuka kamu sendiri silahkan pesan dan bikin kaosmu sendiri di Pos Kaos.
Alamatnya dimana?. Ketik saja Pos Kaos di kolom pencarian google, dijamin nggak bakal kesasar.
note : sumber foto Republika








