Gelagapan jadinya jika tiba-tiba ada yang bertanya “Cita-citamu apa?”

Sialnya pertanyaan itu mesti dijawab, sebab anak-anak harus punya cita-cita. Tak ada jawaban bisa bisa dianggap nggak punya tujuan hidup.

Maka template saja jawabannya,  kalau nggak jadi tentara, pilot, polisi, dokter atau insinyur, ya jadi guru saja. Mereka yang percaya dirinya gede akan menjawab menjawab jadi profesor atau bahkan presiden.

Jawaban pingin jadi tukang bakso atau kusir dokar, bisa bikin yang mendengar akan tertawa. Cita-citanya kurang tinggi, padahal cita-cita itu kan mesti setinggi langit.

Lain kali ada juga yang absurb jawabannya seperti menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, atau berbakti dan membanggakan orang tua. Cita-cita yang sungguh mulia dan  bijaksana, maka dianggap tak sopan kalau ada yang mentertawakannya.

Itulah gambaran masa saya kecil dulu yang mesti bersiap diri pada pertanyaan yang kerap muncul dimana-mana.

Saya punya banyak jawaban, kadang tergantung pada permainan apa yang sedang sering saya mainkan. Kalau sedang jaman main bulutangkis maka saya jawab jadi olahragawan, kalau sedang musimnya perang-perangan maka saya akan jawab jadi polisi atau tentara. Atau saya jawab jadi pilot karena saya sedang doyan main layangan.

Semua jawaban itu hanyalah basa-basi saja karena cita-cita yang sebenarnya saya simpan dalam hati. Dan cita-cita itu adalah ingin pergi dan hidup di Irian Jaya.

Saya tak tahu persis darimana munculnya cita-cita itu. Yang jelas sedari kecil saya suka membaca segala sesuatu tentang Irian Jaya. Lembah Baliem, patung asmat, noken, koteka, honei, mumi dan uang merah tertanam di kepala.

Keinginan itu makin kuat ketika ada bekas murid Bapak mampir ke rumah dan memberi oleh-oleh berupa kapak batu serta noken. Kapak yang terbuat dari batu hitam mengkilap dan keras mirip batu akik itu sering saya pakai untuk mainan. Sedangkan noken, tas tradisional yang biasa dipakai dengan cara dicangklongkan di kepala itu sesekali saya pakai membawa buku ke sekolah. Bukan dikepala tapi diselempangkan di bahu.

Semenjak keinginan pergi ke Irian Jaya yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Papua menguat maka setiap kali ada yang bertanya tentang cita-cita, saya akan menjawab dengan cepat “Jadi misionaris,”

Ini cita-cita yang serius bukan jawaban basa-basi. Sehingga sebelum ujian terakhir di SMA, saya mengatakan pada bapak dan ibu akan mendaftar ke Seminari Mertoyudan. Masuk ke Kelas Persiapan Atas sebagai syarat agar bisa melanjutkan studi ke Seminari Tinggi.

Biasanya orang tua akan senang kalau ada anaknya ingin jadi pastor, bapak dan ibu saya senang juga tapi keberatan. Bukan keberatan soal jadi pastornya tapi mereka tak yakin bahwa saya bisa mengikuti pendidikannya dengan baik.

Bapak dan ibu tahu persis saya bukan anak yang disiplin. Di sekolah katolik umum saja saya sudah sering bikin masalah apalagi di sekolah katolik khusus, pasti lebih bermasalah lagi.

Tapi saya ngotot dan tetap mendaftar. Untung diterima dan lebih untung lagi saya bisa melewati Kelas Persiapan Atas yang lama pendidikannya hanya satu tahun.  Sayapun boleh melanjutkan ke Seminari Tinggi.

Saya memilih melanjutkan ke Seminari Tinggi Pineleng, di Minahasa, Sulawesi Utara. Karena lulusan dari sana punya kemungkinan besar untuk bertugas menjadi ‘misionaris’ di Papua.

Bapak ibu saya benar, saya tak berhasil lulus. Tapi beberapa tahun setelah dikeluarkan dari Seminari Tinggi, cita-cita saya tercapai. Saya berhasil pergi ke Papua, ke Sorong, Jefman di Kepulauan Salawaty dan pulau-pulau lain di Raja Ampat serta Fak Fak dan menikmati senja di Teluk Triton, Kaimana.

BACA JUGA : Kelamin, Identitas Gender dan Orientasi Seksual 

Perjalanan untuk mewujudkan cita-cita ke Papua mengharuskan saya untuk belajar filsafat. Sebagai seminaris, saya mesti kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng {STFSP}.

Filsafat sendiri bukanlah sesuatu yang baru buat saya. Ketika saya masih duduk di bangku SMA, setiap akhir pekan Bapak selalu ikut kursus filsafat teologi di Yogyakarta. Bukan untuk mencari gelar tapi menambah wawasan dan pengetahuan.

Buku-buku dan diktat yang dibawa pulang oleh Bapak sering saya baca. Penulisnya antara lain Banawiratma, Mardiatmaja, Muji Sutrisno dan lain-lain. Di perpustakaan sekolah ada juga buku-buku karya MAW. Brouwer, Kees Bertens, Sindhunata, Magnis Suseno dan lain-lain. Bapak juga berlangganan majalah Basis yang sering memuat tulisan bernuansa filsafat.

Membaca buku dan artikel-artikel filsafat itu membuat saya punya pandangan sendiri tentang filsafat. Buat saya filsafat itu serius sekali nggak ada lucu-lucunya. Sosok filsuf selalu saya bayangkan sebagai orang yang jarang tersenyum, dahinya berkerut dan rambutnya memutih. Filsuf itu jalannya selalu menunduk bukan melihat jalan tapi berpikir, maka kalau ada lubang didepannya bakal terperosok.

Filsafat itu kalau menjelaskan dakik-dakik, panjang lebar. Segalanya diterangkan dengan permainan kata-kata, kalimatnya panjang, bukan hanya beranak kalimat melainkan sampai cucu hingga cicit kalimat.

Tapi banyak kata-kata atau kalimatnya yang juga indah, puitis dan sastrawi.

Gambaran tentang filsafat di kepala saya itu kemudian dibongkar habis oleh dosen pengantar filsafat, sewaktu kelas filsafat pertama dimulai.

Pandangan filsafat populer atau yang berkembang di kaum awam dikulitinya. Saya dan teman-teman kuliah menyimak dengan seksama, mengangguk-angguk setuju dan kadang tersenyum. Rasanya wow, walau sebagian yang disampaikannya tak kami mengerti.

Pada akhir akhir pelajaran akhirnya dibeberkan tentang apa sesungguhnya filsafat. Filsafat adalah ilmu yang mempunyai sistem dan metodologi berpikir yang ketat. Tujuan dari filsafat adalah mempertanyakan segala sesuatu, pertanyaan yang radikal. Segala sesuatu dipertanyakan sampai ke akar-akarnya hingga tak ada lagi jawaban.

Sebuah silabus apa yang akan dipelajari selama kuliah kemudian dibagikan, selain daftar panjang tema-tema yang akan dipelajari disertakan juga daftar panjang buku-buku yang harus dibaca di perpustakaan. Tiba-tiba saja terasa ada batu besar diletakkan di punggung.

Filsafat memang bikin kepala menunduk.

Perjalanan panjang dimulai, karena yang dipelajari adalah filsafat sejak jaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan atau Abad Kegelapan, Jaman Pencerahan, Jaman Modern hingga Post Modern.

Bukan hanya periodesasi, melainkan juga pemikiran filsuf-filsuf tertentu seperti Aristoteles, Plato, Thomas Aquinas, Rene Decartes, Imanuel Kant, John Lock, Hegel, AN Whitehead dan lain-lain. Pun juga aliran-aliran filsafat seperti rasionalisme, idealisme, empirisme, neoplatonisme dan masih banyak lagi.

Ada juga wilayah tematik seperti ontologisme, epistemologi, estetika, etika dan seterusnya.

Semua itu kerap membuat kepala terantuk di meja karena kantuk. Lain kali saya juga menyimak pelajaran dari luar kelas, berdiri di samping jendela karena terlambat masuk kelas akibat gagal bangun cepat di pagi hari sebab semalaman harus membaca berlembar-lembar kertas stensilan yang harus dibaca berulang kali agar mengerti.

Untung ada juga dosen yang mengerti, ketika sebagian besar mulai terkantuk dan bosan dibagikannya permen dan rokok. Nikmat juga menyimak pelajaran sambil mengepulkan asap. Walau sebagian yang disampaikan ikut juga sirna seperti asap yang diterpa terbawa angin.

Salah satu petuah yang masih saya ingat dari seorang dosen saya adalah “Jangan menghafalkan, tapi dimengerti. Yang terpenting adalah kita berfilsafat,”

Saya tahu yang dimaksudkan dengan berfilsafat adalah berpikir kritis, teratur, sistematis dan koheren.

Tapi saya juga tahu menghafal itu penting sebab ada ujian. Kalau nilai ujiannya buruk, pasti semester depan akan diminta untuk bersekolah dilain tempat.

BACA JUGA : Stop Ribut Kaos Oblong

Sebelum reformasi filsafat masih cukup populer. Ada banyak kelompok diskusi atau studi filsafat. Anak-anak gerakan atau aktivis akrab dengan berbagai aliran pemikiran. Percakapan kerap diwarnai dengan kutipan-kutipan pemikir. Membedah masalah biasanya juga memakai pisau analisis dari beberapa aliran pemikiran tertentu.

Nama-nama seperti Paolo Freire, Antonio Gramsci, Edward Said, Jurgen Habermas, Herbert Marcuse, Derrida, Foucault, Baudrillard kerap menjadi rujukan pemikiran.

Pasca reformasi roh gerakan tidak lagi digerakkan oleh dialektika pemikiran. Gerakan memasuki wilayah praktis, merebut ruang-ruang kuasi negeri. Aktivis atau pergerakan mulai mendapat hasil dari advokasi kebijakan generasi sebelumnya. Ada banyak kursi di berbagai komisi atau lembaga-lembaga lain yang bisa diisi.

Akselerasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta ilmu pengetahuan lainnya juga membuat berbagai pertanyaan-pertanyaan penting yang sebelumnya dijawab lewat abstraksi mulai bisa dikulik lebih dalam. Telah ditemukan berbagai macam peralatan yang memungkinkan ilmuwan melihat di mana sensor kebahagian dalam otak, bagaimana kesadaran diri muncul, dimana pusat-pusat kesadaran dan lain sebagainya.

Yang dulu dijawab oleh filsafat sudah bisa dikuak oleh sains. Tapi itu tak membuat apa yang dikemukakan oleh filsafat menjadi runtuh. Sebab sains tidak terobsesi untuk mencari kebenaran. Sebuah temuan bisa difalsifikasi oleh temuan baru dan menjadi tak berlaku. Sedang pemikiran filsafat sekuno apapun, hasil karang mengarang tetap saja ada yang mempercayainya. Bahkan pemikiran yang sudah dikoreksi sendiri oleh pemikirnya juga masih diikuti oleh mereka yang merasa cocok dengan pemikiran itu.

Kebenaran ala sains meski itu kebenaran sementara karena bisa difalsifikasi sering kali menjadi tidak populer karena menyakitkan. Realitas yang diungkapkan oleh sains sampai saat ini masih terus menguncang kepercayaan. Hanya temuan-temuan sains yang ‘seolah’ memperkuat keyakinan yang sering dikutip-kutip. Padahal temuan sains itu bisa jadi 3 atau 4 tahun lagi diperbaharui.

Filsafat kemudian kembali menjadi perbincangan ketika Karni Ilyas populer dengan Indonesia Lawyer Club. Rocky Gerung yang diperkenalkan sebagai filsuf kerap diundang sebagai salah satu komentator atau narasumber. Sampai-sampai ada ujaran No Rocky No Party, ILC nggak seru kalau nggak ada Rocky.

Rocky datang pada saat yang tepat, masa dimana penuh kegaduhan sehingga diperlukan seseorang yang mempunyai kemampuan bersilat lidah secara mendalam dan rasional. Rocky dicitrakan seperti itu, kata-katanya kerap membuat orang lain mati kutu, atau emosi sehingga kelihatan begonya.

Hanya saja ILC temanya sangat politik, sehingga Rocky terkurung dalam tema itu, dia kemudian lebih menjadi komentator politik. Komentator yang berat sebelah. Rocky di satu sisi dan Ade Armando di sisi lain.

Padahal di luar urusan politik, kehidupan sosial, kebudayaan dan ekonomi juga mengelisahkan. Rocky tak terampil berfisafat soal hal ini. Sebagai jagoan twitter, Rocky goyah menghadapi goyangan tik tok.

Tapi filsafat tak mati. Akhir-akhir ini di youtube justru marak youtuber-youtuber yang tidak berlatar filsafat justru gencar membincang soal Stoikisme. Mereka tak berpretensi menjadi pengajar melainkan justru bersaksi bagaimana hidup mereka semakin bahagia setelah menerapkan ajaran, prinsip dan latihan-latihan ala kaum Stoik.

Filsafat bukan lagi soal silat lidah tapi mempraktekkan dalam hidup sehari-hari. Mereka berfilsafat dalam hidupnya.

Sayapun kembali mengingat-ingat tentang Stoa dan saya menyesal waktu itu tak sungguh-sungguh mempelajarinya. Masalahnya aliran atau pemikiran pada jaman Yunani Kuno ini kerap dicetuskan oleh pemikir atau filsuf yang namanya sering bikin tertawa.

Seperti Stoa, awalnya pemikiran ini bermula dari seorang pemikir Yunani bernama Zeno. Dan Zeno yang kalau diucapkan terdengar sebagai seno, dalam bahasa pergaulan orang Manado artinya gila, miring atau sinting.

Dan ternyata orang yang saya anggap nggak genap gara-gara namanya itu, pemikiran atau filosofi kebijakannya kemudian menjadi falsafah di jaman yang laju dinamikanya membingungkan seperti saat ini.

Selama beberapa tahun terakhir ini saya menganggap filsafat sering kali mencari-cari pertanyaan yang mungkin nggak ada jawabannya. Saya masih beranggapan seperti itu tapi tak ada salahnya untuk kembali membaca Stoa.

note : sumber gambar Kenny Eliason on Unsplash