“Kecil bahagia, muda hura-hura, tua kaya raya, mati maunya masuk surga”, ungkapan ini masih terkenal sampai awal tahun 2000-an. Sebuah ekpektasi yang nampaknya dipengaruhi oleh hedonisme.
Istilah hedon sendiri masih dikenal dan banyak diucapkan oleh anak-anak millennial sebelum pandemi Covid 19 melanda dunia.
Sampai dengan saat itu dunia seakan masih oke-oke saja. Dunia masih berputar dalam ritme yang masih bisa membuat anak-anak muda berucap woles aja cuy, santuy bro and sis.
Pandemi yang tidak disangka-sangka dan terus disangkal-sangkal membuat permainan dunia berubah. Ada titik balik yang tak akan membuat dunia kembali menjadi sama seperti sebelumnya.
Apa yang sebelum masih serba diragukan kemudian berkembang menjadi massif, tak bisa ditolak lagi. Semua serba e-, edan sekali, serba di-onlinekan. Digital dan virtual menjadi bagian hidup yang mesti diadopsi.
Semua generasi mulai dari babby boomer, gen x, gen y {millennials}, gen z hingga gen alpha semuanya menjadi gen c atau connected generation, generasi yang selalu terkoneksi dengan internet.
Tak ada lagi istilah gaptek seperti kala internet baru muncul dan tidak semua mau mempelajari karena merasa tak bisa.
Perubahan yang tak terbendung lagi ini sering disebut sebagai inflection point. Kecepatan perubahannya sepuluh kali lipat dari perubahan biasanya sehingga tak bisa ditolak.
Perubahan besar ini meciptakan ledakan yang mendisrupsi, memunculkan hal-hal baru yang menganggu tatanan lama, hal yang sebagian tidak kita pikirkan sebelumnya.
Rheinald Kasali menyebutkan ada 10 ledakan besar dalam era pandemi, seperti ledakan kreatifitas, ledakan home sweet home, ledakan kelelahan digital, ledakan wisata luar ruangan, ledakan kolaborasi, ledakan konten, ledakan kecerdasan, ledakan artifisial living, ledakan uselles generation, ledakan non degree dan ledakan open science.
Semua ledakan ini sejatinya positif, mampu membuat dunia lebih baik. Hanya saja tidak semua mampu mengikutinya, mengadopsi dan tetap relevan. Sebab beberapa diantara ledakan itu memang menimbulkan kekhawatiran bagi masa depan banyak orang terutama generasi muda.
Seperti ledakan kecerdasan, sayangnya ledakan kecerdasan ini bukan milik manusia melainkan mesin. Kecerdasan buatan kini menyusup dalam semua gadget yang dipakai oleh manusia, teleponnya cerdas tapi manusianya belum tentu.
Dan kecerdasan buatan entah dalam bentuk gadget, mesin, robot atau apapun juga sudah mampu belajar sendiri karena telah dilengkapi dengan learning machine, sumber belajarnya adalah big data yang bertahta di awan {cloud}. Terbukti yang mengatur segalanya memang ada di atas awan dan bisa diakses dari mana saja, tapi bukan sabda melainkan data.
Ledakan konten juga mengakibatkan kecemasan bahkan banyak yang berakhir dengan kericuhan hingga berkasus. Segala sesuatu diabdikan demi konten, termasuk kepalsuan dan juga kejahatan yang tersembunyi. Banyak konten yang sesungguhnya sampah tapi busuknya tidak bisa tercium sedari awal.
Tapi tak bisa dipungkiri ada juga konten-konten yang penuh pengetahuan, konten yang kalau dipelajari dan diikuti dengan seksama bisa memunculkan ‘ahli-ahli’ tanpa gelar akademik. Belajar dari youtube atau mengikuti mass online course, seseorang kemudian bisa membuat helikopter, motor, mobil, aplikasi dan game sendiri.
Ahli, expert, master apapun sebutannya namun bukan karena sekolah di institusi pendidikan tinggi resmi membuat gamang mereka yang berjibaku di bangku kuliah namun setelah lulus tak tahu mau kerja dimana atau mengerjakan apa. “Apa gunanya sekolah lama-lama, keluar banyak uang, rambut botak tapi kemudian jadi pengangguran,” menjadi pertanyaan, pernyataan yang normal di benak orang-orang muda saat ini.
Segala sesuatu itu kini dengan mudah ditemukan di sosial media. Tak ada kabar yang tak terberitakan atau tak tersampaikan lewat sosial media. Sebagian diantaranya atau malah kebanyakan membawa tekanan juga ketidakpastian.
Ada banyak anak muda dengan entengnya mengatakan ‘no life’ , dia merasa tidak dilahirkan melainkan dilempar dalam kegelapan. Dunia yang penuh gejolak {volatility}, tidak pasti {uncertain}, rumit {complecity} dan serba kabur {ambiguity}.
BACA JUGA : Filsafat, Filosofi dan Falsafah
Dunia digerakkan oleh kata-kata. Kesetaraan, perubahan, keadilan, kebebasan, kesejahteraan, keberlanjutan, kepedulian, tanggungjawab sosial dan seterusnya membuat dunia bergerak kea rah yang lebih baik untuk semua.
Hanya saja tidak semua kata membawa energi perubahan, ada banyak kata yang ternyata juga meracuni dunia, membuat orang cemas, khawatir dan dipenuhi oleh perasaan-perasaan negatif.
Hari ini kita menemukan deretan kata-kata beracun atau toxic words, kata yang menghantui hidup banyak orang, mengerakkan banyak orang untuk mendapatkan kebahagiaan namun justru berakhir dengan penderitaan, putus asa dan menyalahkan orang lain.
Ambil contoh saja kata cuan yang artinya profit atau hasil. Karena urusannya dengan bisnis atau usaha maka cuan artinya uang.
Tidak salah orang mencari untung, bicara soal bagaimana proses mencari untung entah lewat investasi atau usaha langsung. Tapi karena bicaranya uang-uang maka cuan kemudian dipahami sebagai mendapatkan uang atau keuntungan dengan cara yang mudah dan cepat.
Banyak orang kemudian abai bahwa menghasilkan uang itu diperlukan pondasi yang kuat yakni pendidikan, ketrampilan, pengalaman, gemblengan, jejaring kerjasama dan kehormatan. Tanpa pondasi yang kuat uang akan menjadi sumber segala kejahatan.
Mengejar uang dengan cara cepat dan mudah akhirnya membuat banyak orang tertipu oleh investasi bohong dan menyangka judi sebagai trading. Pun banyak pula yang mengeruk banyak orang dengan menyalahgunakan keuangan kemudian berakhir di penjara.
Sukses kemudian disamakan dengan cuan. Dan di media sosial dengan mudah disaksikan anak-anak muda yang ber-cuan, sukses secara financial sehingga layak diberi label crazy rich atau sultan. Kesuksesan yang membuat iri banyak anak muda lainnya.
Mereka yang berumur 18 sampai 25 tahun dan belum cukup punya uang serta harta lainnya menjadi cemas, merasa hidupnya tak berarti dan gagal sehingga memunculkan istilah quarter life crisis. Membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain bukan hanya harta atau uang, tapi juga karir, pasangan, pakaian, kendaraan dan seterusnya.
Padahal umur antara 18 sampai 25 adalah masa ekplorasi diri bukan masa puncak pencapaian hidup. Masa membangun karir dan kepercayaan diri serta relevansi pada dunia.
Mematok ukuran terlalu tinggi berdasarkan contoh-contoh keberhasilan yang dipamerkan di media sosial yang tentu tidak semuanya benar kemudian membuat anak-anak muda menjadi insecure.
Insecure adalah perasaan cemas karena tidak percaya diri, merasa tidak kompeten, merasa tidak sesuai dengan harapan orang-orang disekitarnya. Padahal siapa yang bisa memenuhi semua harapan orang lain. Karena kecemasan yang berlebihan banyak orang kemudian kehilangan keutamaannya.
Cemas, merasa gagal dan seterusnya membuat anak-anak muda sering menyalahkan orang lain, menyalahkan pekerjaannya. Merasa apa yang dikerjakan bukan merupakan passion-nya, merasa imbalan yang diberikan oleh orang lain tidak worth it.
Passion dianggap sebagai sesuatu yang disukai atau dicintai, padahal passion sesungguhnya mampu mengerjakan sesuatu dengan antusias untuk melewati segala macam tantangan, hambatan dan tekanan. Pasiion adalah selalu mencintai apa yang kamu kerjakan bukan hanya mau mengerjakan apa yang kamu sukai.
Ada banyak anak-anak muda dengan mudah berpindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya hanya karena tidak tahan menghadapi tekanan. Dibentak sedikit mundur, dimarahi sedikit pindah, semua tempat kerja dianggap toxic.
Tak bisa dipungkiri perubahan di dunia menjadi semakin cepat. Update teknologi menjadi semakin pendek. Dulu aplikasi diupdate setelah tahunan kini setiap bulan selalu muncul pembaharuan. Kecepatan ini kemudian menimbulkan tekanan, budaya serba cepat membuat anak muda kerap merasa seperti dikejar-kejar setan sehingga kerap berujar “Kerja-kerja-kerja lalu tipes”.
Menghadapi itu kemudian kalimat “Jangan bekerja keras tapi bekerja cerdas’, tentu saja ungkapan ini benar. Tapi yang dimaksudkan bekerja cerdas itu tidak sama dengan tidak bekerja keras. Kecerdasan tidak datang begitu saja, tapi selalu dibangun dengan kerja keras.
Leonel Messi dan Ronaldo adalah dua orang pesepakbola tercerdas berkali-kali meraih penghargaan sebagai yang terbaik di dunia. Tapi mereka tetap menjadi teladan. Ronaldo misalnya selalu datang sebagai orang pertama di tempat latihan dan pulang sebagai orang yang terakhir. Dan untuk menjaga perfomanya, dia bahkan tak sudi menikmati minuman bersoda.
Passive income dan financial freedom, term ini kalau tidak salah dipopulerkan oleh Safir Senduk, konsultan perencana keuangan puluhan tahun lalu. Tapi baru akhir-akhir ini kemudian menjadi hantu bagi anak-anak muda.
Betapa banyak anak-anak muda yang kemudian merasa sudah saatnya uang bekerja untuknya, uangnya bisa menghasilkan uang sendiri. Maraknya trading dan kripto tidak lepas dari hal ini. Dan bisa kita saksikan ada banyak orang muda kehilangan seluruh uangnya hanya karena diinvestasikan dalam aplikasi robot trading dan koin atau token kripto, juga NFT yang sebenarnya volatilitasnya tinggi.
Yang terjadi sekarang ini anak-anak muda dan yang lainnya menganggap influencer keuangan sebagai pendidik. Hanya karena mereka gemar mengatakan edukasi bukan berarti mereka adalah pendidik. Mereka mempengaruhi bukan mengedukasi, sebab terma passive income dan financial freedom bukanlah sesuatu yang harus dicapai oleh anak-anak muda dibawah usia 40 tahun. kalaupun ada yang mencapainya itu adalah bonus.
Dan tebukti banyak diantara mereka yang seolah-olah mencapai level passive income dan financial freedom ternyata dicapai dengan cara jahat dan tidak terpuji.
Kerap membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain, kemudian banyak anak-anak muda kurang menghargai proses. Mereka yang berhasil sering direndahkan atau tak diapresiasi karena keberhasilan itu tercapai berkat privilege tertentu entah karena bapaknya kaya, berkuasa dan lain-lain.
Padahal privilege yang besar jika tidak didasari oleh usaha tak usah menjadi sumber rasa iri, sebab dengan sendirinya pasti akan hancur.
Itulah gambaran dunia kita yang ambyar saat ini hanya karena misleading dari makna dan arti kata-kata yang sering diucapkan oleh masyarakat kita.
BACA JUGA : Kelamin, Identitas Gender dan Orientasi Seksual
Dunia yang ambyar dengan mudah ditemukan di perkotaan, masyarakatnya yakni kaum urban juga mudah cemas. Meski ada banyak tempat hiburan dan taman rekreasi untuk bersenang-senang tapi masyarakatnya menjadi tidak bahagia.
Beruntung ada sebagian kecil orang yang kemudian menyadari dan mulai menemukan bahwa kebahagiaan itu berasal dari dalam diri. Faktor-faktor dari luar memang menentukan tapi sumbangannya tak banyak.
Dari beberapa orang yang kemudian merasa makin berbahagia meski lingkungan, pekerjaan dan lain-lain tak berubah, semua itu diperoleh karena mereka mempelajari dan menerapkan stoikisme.
Apa itu stoikisme?.
Stoa adalah sebuah aliran pemikiran yang mulanya dikembangkan oleh Zeno, seorang pedagang yang berasal dari Citium atau sekarang lebih dikenal sebagai Syprus.
Berdagang dari kota ke kota, menyeberangi lautan membuat Zeno menjadi orang kaya. Namun naas suatu ketika kapalnya karam dan semua harta serta kekayaannya tenggelam di lautan. Untung Zeno selamat dan bisa sampai ke Athena.
Zeno jatuh miskin dan dalam kemiskinannya dia sering mengunjungi seorang penjual buku di Athena. Dan dia menemukan sebuah buku yang memperkenalkan Sokrates dan pemikirannya. Pemikiran Sokrates tentang hakikat dan kehidupan manusia dengan pendekatan rasionalisme membuat Zeno terkagum.
Zeno ingin tahu lebih dalam dan bertanya pada penjual buku dimana dia bisa bertemu dengan orang yang mempunyai pemikiran seperti halnya Sokrates.
Oleh penjual buku, Zeno diberitahu bahwa ada seorang bernama Crates dari Thebes. Zeno kemudian mencarinya dan kemudian mendalami ilmu filsafat dari Crates.
Setelah itu Zeno mulai mengajar di sebuah teras bangunan yang mempunyai tiang berwarna-warni. Bangunan ini disebut sebagai Stoa Poikle, atau Teras Berwarna. Dari sinilah muncul sebutan Stoa, Stoik atau Stoikisme. Namun filsafat stoa juga sering disebut sebagai filsafat teras.
Ajaran utama dari Stoa adalah membagi realitas sebagai realitas dalam diri atau realitas yang bisa dikendalikan, dan realitas diluar diri atau realitas yang tak bisa dikendalikan. Tugas seorang Stoik adalah membedakan realitas atau kejadian yang dialami sebagai bisa dikendalikan atau tidak.
Perubahan, harapan atau apapun hanya bisa dikenakan pada realitas yang bisa dikendalikan sedangkan realitas yang tak bisa dikendalikan hanya bisa diterima dengan pasrah.
Di perkotaan, kecemasan lebih muncul karena realitas yang tidak ada dalam kendali kita. Omongan atau tanggapan dari orang lain misalnya. Maka seorang Stoik tidak akan baperan atau emosi atas tanggapan orang lain, sebab reaksi orang atas apa yang kita lakukan tidak ada dalam kendali kita.
Keburukan atau hal-hal negatif menurut Stoik adalah hasil dari pikiran. Tidak salah orang tua mempunyai harapan pada anaknya tapi harapan itu menjadi buruk ketika anaknya beropini tentang harapan itu.
Stoik amat menekankan pada pikiran, rasionalitas. Setiap orang mempunyai kendali penuh atas pikirannya dan itu yang akan menuntun seseorang pada tujuan hidupnya terlepas dari hal-hal buruk dalam lingkungannya.
Dengan kemampuan memilah mana yang pantas masuk dalam pikiran dan mana yang tidak maka ketenangan hidup akan dicapai.
Ketika seseorang membiarkan dirinya dikuasai oleh hal-hal yang tidak bisa dikendalikan maka hidupnya akan semakin berantakan.
Maka fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan menjadi penting karena tidak ada gunanya menghabiskan waktu untuk merubah apa yang tidak bisa kita rubah.
Contoh paling sederhana adalah nasehat tentang jangan buang sampah sembarangan.. Sudah puluhan tahun nasehat itu disampaikan, dicetak dan dipasang dengan berbagai material. Hasilnya, tatap saja orang membuang sampah sembarangan.
Alih-alih berharap pada orang lain agar tak membuang sampah sembarangan maka lebih baik fokus pada diri sendiri dengan cara membuang sampah pada tempat yang benar. Dan kalau punya waktu pungutlah sampah yang dibuang sembarangan untuk kemudian dibuang pada tempatnya.
Apakah lalu kita cuek saja pada mereka yang buang sampah sembarang?. Tentu tidak, tetaplah mengingatkan namun jangan terlalu berharap bahwa peringatan yang kita sampaikan bisa merubahnya dalam waktu sekejap.
Dengan menyadari itu maka ketika orang sudah diingatkan dan tetap saja membuang sampah sembarang maka kita tak akan emosi berlebihan. Atau bahkan melakukan hal-hal yang tak perlu seperti memarahi dengan kasar sehingga menyebabkan keributan yang bisa berujung di kantor polisi.
Dimulai oleh Zeno, Stoa atau Filsafat Teras kemudian berkembang hingga akhirnya dikenal 3 triumvirat stoa yakni Seneca, Epictetus dan Marcus Aurelius. Ketiganya mengembangkan dan mengajarkan filosofinya di Romawi.
Seneca adalah seorang senator, politikus, pengusaha yang kaya raya. Epictetus adalah seorang budak yang telah dibebaskan, belajar filsafat dan kemudian mengajar. Markus Aurelius, pemimpin romawi, kaisar yang dikenal bijaksana meski masa pemerintahannya ditandai dengan perang dan wabah penyakit.








