Hari ini sepertinya merupakan hari yang menyenangkan karena angka di kalender tercetak dalam warna merah. Merah artinya libur sehingga bisa dipakai untuk istirahat, piknik, silaturahmi atau kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan.
Saya seperti biasa pingin juga berada lebih lama di atas tempat tidur, leyeh-leyeh menghabiskan waktu sambil memejamkan mata. Syukur-syukur jika kemudian juga bisa bermimpi indah.
Tapi saya tak bisa mengikuti keinginan itu, mesti bangun sebab hari ini adalah hari Jum’at Agung.
Hari ini saya akan mengakhiri masa pantang dan puasa, yang dimulai 40 hari lalu pada hari Rabu Abu.
Akhir masa pantang dan puasa ini ditandai dengan peringatan Jum’at Agung untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Yesus yang hari minggu sebelumnya diperingati dalam perayaan Minggu Palma, peringatan masuknya Yesus ke Kota Yerusalem yang disambut oleh masyarakat sebagai seorang raja. Masyarakat berderet di jalan yang dilalui Yesus sambil melambai-lambaikan daun Palma.
Namun Jum’at dinihari, Yesus ditangkap oleh prajurit dan penjaga Bait Allah. Yesus dikhianati oleh orang terdekatnya, muridnya sendiri.
Dibawa ke hadapan penguasa setempat, meski sang penguasa tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menghukumnya, teriakkan massa yang menyeru “Salibkan dia, salibkan dia,” membuatnya mengalah pada desakan massa.
Yesus diganjar hukuman mati di kayu salib. Palang itu dipikulnya sendiri menuju Bukit Tengkorak, tempat hukuman mati untuk para penjahat besar biasa dilaksanakan.
Perjalanan sambil memikul salib menuju tempat penghukuman sambil mengalami penyiksaan sepanjang jalan dikenal sebagai Jalan Salib atau Via Dolorosa.
Saat terpaku diatas kayu salib, Yesus sempat menyeru “Eli Eli Lama Sabachthani!” Allahku ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.
Namun antara jam 3 hingga 6 sore dengan suara lirih Yesus berkata “Allahku kedalam tanganMu kuserahkan nyawaKu,”
Setelah itu Yesus wafat dalam kesunyian, kematian yang merupakan puncak dari pengkhianatan, penghinaan dan pengabaian.
Secara faktual peristiwa penyaliban adalah rangkaian kejadian yang sangat menyedihkan, sebuah penderitaan yang sangat dalam secara fisik dan psikis. Namun secara teologis, kematian Yesus di kayu salib adalah kemuliaan, jalan penebusan bagi dosa dan kesalahan-kesalahan para murid serta pengikutNya.
Salib sebagai jalan kemulian ditandai dengan kebangkitan Yesus pada hari ketiga dari kematianNya. Kebangkitan Yesus dirayakan sebagai Hari Paskah, hari penebusan.
BACA JUGA : Kita Bukan Turunan Monyet
Penderitaan, keprihatinan atau mati raga sebagai jalan untuk mencapai kemuliaan dan kebahagian atas salah satu cara juga kita temukan dalam peribahasa “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,”
Sama dengan kekayaan atau kesejahteraan, kemuliaan atau kesucian tidak bisa diperoleh begitu saja tanpa sebuah proses yang panjang.
Meski banyak orang menulis status ‘Bahagia itu sederhana,”, jalan menuju kebahagian tidaklah sesederhana dan secepat yang kita bayangkan.
Tidak ada jalan cepat menuju kebahagiaan, kecuali kita bersedia ditangkap oleh polisi karena beramai-ramai menenggak alkohol atau menghirup narkoba.
Bahagia kerapkali secara ceroboh disamakan dengan senang. Mencari kesenangan lebih mudah karena bisa dicari sendiri, sedangkan kebahagiaan tidak.
Yang disebut sebagai bahagia selalu berada dalam konteks kebersamaan dengan orang lain. Bahagia tidak muncul dari egoism, melainkan dari altruisme.
Bahagia yang hakiki adalah sebuah situasi, suasana atau kondisi dimana kita bisa mengada bersama dengan orang lain secara setara, tanpa ancaman.
Masyarakat yang bahagia adalah masyarakat yang warganya saling tolong menolong, hormat menghormati, menerima orang lain apa adanya dan memberi tanpa berharap kembali.
Puasa adalah salah satu cara yang sudah teruji oleh jaman, dilakukan oleh berbagai kelompok dan kebudayaan serta telah melintasi berbagai peradaban sebagai jalan bagi manusia untuk mengapai kebahagian {spiritual}.
Lewat puasa seseorang bukan hanya menahan lapar dan haus serta nafsu dan keinginan lainnya. Sebab dalam puasa seseorang juga diajak untuk terus menimbang bagaimana dirinya berlaku pada orang lain.
Puasa tidak akan sempurna hanya karena mampu menahan tidak makan dan minum pada waktu tertentu. Puasa menjadi sempurna karena hubungan dengan orang lain juga menjadi baik, lebih peduli pada orang lain, lebih mampu memaafkan kesalahan orang lain dan tidak mendendam.
Berbeda dengan mahkluk-mahkluk lain yang juga punya kecerdasan, puasa yang dilakukan oleh kelompok manusia kemudian memupuk kecerdasan lain yang membuat kecerdasan manusia menjadi lebih kompleks dibanding mahkluk lainnya. Kecerdasan itu adalah kecerdasan sosial, kecerdasan emotional dan kecerdasan spiritual.
Dengan mengefektifkan dan menumbuhkan kecerdasan itu kehidupan manusia kemudian menjadi lebih baik, umur lebih panjang, badan lebih sehat dan pikiran serta perasaan menjadi lebih bahagia karena hidup lebih berorientasi pada menyelesaikan masalah ketimbang menambah dan memperpanjang masalah.
BACA JUGA : Hari Senin Terburuk Untuk Ade Armando
Pencapaian peradaban tertinggi dari manusia adalah kemampuan bekerjasama dalam jumlah yang besar. Manusia dari perbagai penjuru dunia bisa bekerjasama meski tak saling mengenal. Kemampuan atau kecerdasan ini menjadi sangat khas manusia.
Namun selalu ada tantangan, sebagai sebuah pencapaian yang bukan bawaan, dalam diri manusia selalu masih tersimpan sikap, sifat dan perilaku untuk menang sendiri, mengutamakan kepentingan diri dan kelompok.
Watak inilah yang kemudian membuat kita masih terus menemui berbagai peristiwa atau kejadian yang memprihatinkan, miris dan menyedihkan.
Masih ada banyak orang dan kelompok yang dihukum bukan karena kesalahannya, menderita karena salah sangka dari orang dan kelompok lainnya, mengalami ‘jalan salib’ sepanjang hidupnya dari kesalahan yang dituduhkan pada para pendahulunya.
Dengan berbagai alasan kita masih kerap mencari jalan pembenaran atas kekerasan yang dilakukan seseorang pada orang lainnya, sekelompok orang pada kelompok lainnya.
Bukan hal yang sulit untuk kita menemukan berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan secara terbuka, dengan seruan tertentu sekelompok orang dengan mudah ‘menghabisi’ seseorang atau sekelompok orang tanpa merasa salah.
Dua ribuan tahun lalu Yesus dinista dan dihina hingga wafat diatas kayu salib. Namun jalan itu mengantar pada kemulian, kebangkitan dari kematianNya.
Kini banyak orang ‘disalib’ terkapar dan tidak bangkit lagi. ‘Salib’ yang tidak hanya membuahkan penderitaan abadi bagi dirinya melainkan juga bagi orang-orang terdekatnya.
Selamat merayakan hari Jum’at Agung, semoga kita semakin terdorong untuk berbuat baik bagi masyarakat banyak dengan menyuburkan aksi-aksi langsung tanpa kekerasan.
note : sumber gambar tranformasi.com








