‘Piwulang’ tentang asal usul kehidupan dan manusia untuk pertama kali saya peroleh lewat Sekolah Minggu. Wulangan yang saya ikuti sebelum saya mulai ikut-ikutan sekolah di Taman Kanak Kanak.
Guru Sekolah Minggu saya waktu itu menceritakan asal usul dunia dan seisinya termasuk manusia dari kisah penciptaan dunia dan manusia, laki-laki dan perempuan dari Kitab Kejadian.
Manusia tercipta dari tanah yang kemudian kepadanya ditiupkan roh kehidupan oleh Sang Maha Kuasa.
Dalam kisah penciptaan, manusia pertama yang diciptakan adalah Adam. Manusia yang sesuai dengan rupa dan gambaran Yang Maha Kuasa, dengan kebijakan yang melampaui para malaikat.
Adam ditempatkan di sebuah taman bernama Eden dimana segala sesuatu tersedia. Apapun yang ada boleh dimakan oleh Adam, hanya satu yang dilarang yakni buah dari Pohon Pengetahuan.
Untuk menemani Adam, Yang Maha Kuasa kemudian menciptakan Hawa dengan cara mengambil tulang rusuk Adam.
Adam dan Hawa kemudian menjadi pasangan yang tidak mempunyai kecenderungan jahat, mereka adalah mahkluk surgawi.
Petaka bermula saat Adam dan Hawa tergoda oleh ular yang membujuk mereka untuk mengambil dan memakan buah Pohon Pengetahuan.
Mereka kemudian terusir dari Taman Eden, Hawa kemudian hidup dengan kutukan rasa sakit kehamilan dan melahirkan, mengasuh anak dan tunduk pada suami.
Sementara Adam hidup dengan kutukan untuk mengusahakan bumi agar menghasilkan makanan dan kebutuhan lainnya.
Terusirnya Adam dan Hawa dari Taman Eden juga membuat mereka dan keturunannya hidupnya akan berakhir dengan kematian.
Perubahan dari mahkluk surgawi menjadi mahkluk duniawi terjadi karena Adam dan Hawa mempunyai dosa, sebuah kecenderungan untuk melawan perintah dan kehendak dari Yang Maha Kuasa.
Dan dosa itulah yang terus diwarikan kepada keturunannya.
Kisah yang diceritakan oleh guru sekolah minggu itu kemudian menjadi pengetahuan pertama tentang asal usul kehidupan dan manusia.
Sebuah pengetahuan yang kemudian secara default tidak membuat saya bertanya dari mana asal usul kehidupan.
Saya yang waktu bertubuh cungkring, berkulit coklat agak gelap dan rambut cenderung keriting kemudian bisa menerima teman lain yang berbadan tegap, gemuk, tinggi, berkulit terang dan berambut lurus sebagai saudara karena sama-sama keturunan Adam dan Hawa.
BACA JUGA : Hari Senin Terburuk Buat Ade Armando
Ada banyak kisah penciptaan atau asal usul manusia lainnya yang kemudian saya dengar dari cerita rakyat, kisah tentang asal usul daerah atau suku tertentu. Kisah yang tidak mengoyahkan keyakinan bahwa saya tetap turunan anak cucu Adam dan Hawa.
Kelak informasi tentang asal usul manusia yang sangat berbeda kemudian saya dapatkan ketika duduk di bangku sekolah. Guru ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa asal usul manusia bermula dari proses evolusi. Sebuah penjelasan yang diajarkan berdasarkan teori evolusi Darwin.
Saya kemudian mempunyai dua pengetahuan berbeda tentang asal usul manusia yang membuat saya percaya keduanya sekaligus kerap juga meragukan keduanya. Tapi masalah itu tak sampai membuat saya jadi susah tidur atau gundah gulana.
Namun soal teori evolusi Darwin, barangkali guru saya kurang bisa menerangkan dengan baik dan tuntas. Alhasil dalam pengetahuan saya dan kebanyakan teman lainnya kemudian tertanam bahwa nenek moyang manusia adalah monyet.
Hasilnya ketika ada teman yang kelakuannya aneh-aneh, kami kemudian mengkonfirmasi teori evolusi Darwin dengan mengatakan “Dasar turunan monyet,”
Karena kami berteman maka umpatan semacam itu dipungkasi dengan tertawa bersama.
Mengata-ngatai orang lain sebagai monyet rasanya merupakan kebiasaan umum. Meski sebagian besar merupakan candaan namun tak sedikit diantaranya yang kemudian melahirkan masalah, berakhir dengan perkelahian dan konflik karena yang dikatai tersinggung.
Darwin sendiri tak pernah mengatakan nenek moyang manusia adalah monyet. Yang diterangkan olehnya manusia dan monyet-monyetan lainnya mempunyai nenek moyang yang sama, nenek moyang yang cenderung lebih serupa dengan monyet.
Teori evolusi juga menerangkan bahwa yang disebut manusia atau homo, juga bermacam-macam. Kita manusia sekarang ini dipercaya bermoyang homo sapiens, sementara homo lainnya seperti homo antecessor, homo cepranensis, homo erectus, homo ergaster, homo florensis, homo habilis, homo naenderthal dan lain-lain.
Manusia-manusia purba selain sapiens itu telah punah, sehingga manusia tak punya saingan spesies manusia lainnya.
Karena tak punya saudara species manusia lainnya maka saudara terdekat dari manusia atau sapiens adalah simpanse, bonobo, gorilla dan orang utan. Manusia dan mereka dikerabatkan dalam golongan kera besar yang berjalan tegak.
Teori evolusi jika ditarik lebih jauh, jutaan atau milyardan tahun lalu, yang disebut manusia bukan hanya bersepupu dengan kera atau monyet-monyetan. Melankan juga bersaudara jauh dengan taoge, kangkung atau pohon ulin.
Pada suatu masa, semua mahkluk hidup, macro dan micro organisme mempunyai moyang yang sama yang disebut sebagai Last Universal Common Ancestor atau LUCA.
Kehidupan di bumi bermula dari mahkluk seluler, mahkluk bersel tunggal yang kemudian berevolusi karena adanya penyimpangan saat pembelahan hingga kemudian melahirkan kerajaaan besar kehidupan yang meliputi tumbuhan, binatang, jamur, bakteri dan organisme lain yang seperti tumbuhan serta binatang.
Manusia secara evolutif kemudian masuk dalam kerajaan binatang {kingdom of animalia} sebagai binatang bertulang belakang, menyusu, berjalan tegak dan punya kecerdasan.
BACA JUGA : Bahaya Laten Tipu Tipu Cepat Kaya
Pengakuan bahwa manusia adalah binatang diungkapkan oleh Aristoteles yang menyebut manusia sebagai mahkluk sosial atau zoon politicon {hewan yang bermasyarakat}.
Sementara Thomas Hobbes menyebut manusia sebagai mahkluk sosial dengan istilah Homo Homini Lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya.
Namun kemudian Adam Smith membantahnya dengan mengatakan Homo Homini Socius atau manusia adalah sahabat bagi manusia lainnya. Yang kemudian dilanjutkan dengan sebutan Homo Economicus, manusia adalah mahkluk ekonomi. Mahkluk yang cenderung tidak pernah merasa puas atas apa yang diperoleh olehnya dan terus berusaha memenuhi kebutuhannya.
Salah satu ciri binatang adalah berkelompok. Namun manusia lebih dibanding dengan hewan-hewan lainnya karena mampu berkelompok dalam jumlah yang besar, mampu bekerja sama dengan orang lain yang bahkan tak dikenal.
Kemampuan membina kerjasama dalam jumlah yang besar dikarenakan manusia mempunyai bahasa verbal yang jauh lebih baik dari hewan. Beberapa jenis hewan sebenarnya juga mempunyai bahasa verbal namun kosa kata dan kalimatnya yang bisa dipahami oleh hewan lainnya sangat terbatas.
Dengan kemampuan ini manusia kemudian secara obyektif melampaui semua hewan lainnya, menjadi mahkluk superior bahkan dalam kategori moral kemudian merasa lebih ‘mulia’ dari hewan.
Karenanya manusia kemudian kerap ‘membinatang-binatangkan’ orang lain apabila kelakuan orang tersebut dianggap tak sesuai dengan norma atau nilai yang berkembang di masyarakat.
Padahal binatang yang dipakai sebagai patokan sebenarnya tidak berlaku seperti yang digambarkan oleh manusia. Singa misalnya sering disebut sebagai binatang buas karena menerkam dan memakan rusa atau binatang lainnya mentah-mentah.
Padahal siapa yang lebih buas, apakah singa atau manusia?. Bukankah manusia memakan segalanya dibandingkan dengan singa?.
Atau ketika ada predator seks, tukang perkosa dan lainnya maka akan disebut sebagai manusia berkelakuan binatang. Padahal dalam urusan seks, binatang pada umumnya melakukan hubungan seks hanya untuk meneruskan keturunan.
Binatang tidak bisa atau tidak biasa melakukan hubungan seks setiap saat. Kebanyakan binatang melakukan hubungan seks karena signal yang dikirimkan oleh binatang perempuan yang sedang dalam kondisi subur ke binatang jantan.
Hanya sedikit binatang yang bisa berhubungan seks untuk ‘bersenang-senang’ seperti manusia.
Jadi jangan terbiasa merendah-rendahkan binatang untuk kelakuan manusia rendahan. Banyak kelakuan khas manusia yang sesungguhnya tidak ditemukan dalam dunia binatang pada umumnya.
Bohong, tipu-tipu, mengatakan yang tidak sesungguhnya, melakukan kekerasan tanpa alasan dan pintar mencari-cari alasan adalah salah satu kekhasan perilaku manusia yang sulit ditemukan padanannya dalam diri mahkluk hidup lainnya.
note : sumber gambar Vstory – viva.co.id








