“Yerusalem …. Yerusalem … Lihatlah Rajamu,”, bait itu menggema di seluruh Gereja Katholik yang pada hari Minggu lalu memasuki Pekan Suci dengan Perayaan Minggu Palma.

Perayaan ini untuk mengambarkan saat Yesus memasuki Yerusalem dan disambut bagaikan raja oleh pengikutnya.

Beberapa hari kemudian, Yesus yang berada di Taman Getsemani kemudian didatangi oleh prajurit dan penjaga Bait Allah yang merupakan suruhan dari iman-iman kepala, ahli taurat, kaum farisi dan orang-orang tua Yahudi untuk menangkapnya.

Yesus kemudian diadili oleh Pontius Pilatus, Gubernur Provinsi Judea Kekaisaran Romawi. Meski tak menemukan kesalahan Yesus, Pilatus yang berada dalam tekanan pemuka agama dan pemuka masyarakat Yahudi akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan, hukuman yang dikehendaki oleh mereka yang membawa Yesus ke hadapan Pilatus.

Hari Jum’at Agung dikenang sebagai saat Yesus yang dijatuhi hukuman salib, memikul salibnya menuju Bukit Golgota atau Bukit Tengkorak. Disana Yesus disalib dan kemudian wafat. Jalan yang dilalui Yesus untuk memikul salib kemudian dikenang sebagai Jalan Salib.

Diatas salib tertempel tulisan “Iesus Nazarenus Rex Iudeaorum” {Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi} dari Pontius Pilatus. Tulisan itu diprotes oleh orang Yahudi, namun Pilatus mengatakan “Apa yang kutulis tetap tertulis,”

Hari Senin, 11 April 2022, seorang Ade Armando mengalami ‘jalan salib’ nya sendiri. Dia yang adalah seorang akademisi dan aktivis beberapa tahun terakhir ini lebih dikenal sebagai vokalis pembela pemerintahan Joko Widodo. Ade Armando dilabeli sebagai buzzer pemerintah, bahkan kerap berlaku bak bemper dalam perdebatan-perdebatan baik di media sosial maupun media mainstream lainnya.

Kekukuhannya membela pemerintah kerap menimbulkan ‘luka’ di para lawan debatnya, berkali-kali Ade Armando dilaporkan ke polisi karena kata-katanya dianggap ‘menista’ baik orang, kelompok bahkan agama.

Dengan status semacam itu, Ade Armando mendatangi kelompok Mahasiswa yang melakukan demo di hadapan Gedung DPR RI untuk melakukan liputan bersama dengan timnya. Meski bukan sebagai peserta demonstrasi, Ade Armando setuju dengan salah satu isu soal menentang arus atau usulan perpanjangan masa jabatan presiden, penundaan pemilu 2024 dan Joko Widodo 3 periode.

Secara isu, momen kedatangan Ade Armando ke dalam kerumunan para demonstran tidaklah bermasalah. Namun label yang selama ini dikenakan padanya membuat kedatangannya ke depan Gedung DPR RI bagaikan sengaja mendatangi kandang harimau, mulut singa atau lubang buaya.

Meski demontrasi 11 April 2022 digagas oleh kelompok mahasiswa, namun bisa dipastikan di dalam kerumunan itu tergabung pula para ‘pembenci Jokowi’.

Di antara mereka tentu saja wajah Ade Armando bukanlah rupa yang asing, sudah lama Ade Armando ditandai. Dan bermula dari perdebatan, Ade Armando yang seperti biasa gagah berani dalam beradu argumentasi, tak bisa menghindarkan diri dari percikan api yang dipicu oleh teriakan acak yang berucap :  buzzer penghkianat, penista agama, penjilat, halal darahnya dan seterusnya.

Teriakan yang kemudian mengerakkan sekelompok orang memukulinya beramai-ramai. Wajah Ade Armando babak belur, bukan hanya karena pukulan melainkan juga injakan. Ketika diselamatkan dan dievakuasi oleh polisi, celana panjangnya telah dilucuti. Ade nyaris ditelanjangi.

Dari apa yang terjadi nampaknya jelas bahwa Ade Armando bukan hanya akan dihabisi melainkan juga dipermalukan. Ade Armando diperlakukan seperti seorang penjahat yang terburuk dari antara yang terjahat.

BACA JUGA : Bahaya Laten Tipu Tipu Cepat Kaya

Saya tak kenal Ade Armando, bertemu dengannya dalam sebuah forum juga belum pernah. Namun sosok dan kiprahnya bukanlah sesuatu yang asing untuk saya yang mengemari isu seputar komunikasi dan keberagaman.

Sebagai seorang ahli komunikasi Ade Armando tampil lugas dan sederhana, tidak berusaha tampil ‘genit’ seperti kebanyakan ahli-ahli komunikasi lainnya. Sebagai akademisi, dia juga tetap kritis bahkan pada institusi tempatnya bernaung.

Sikapnya soal anti rasisme, anti diskriminasi dan lainnya juga sangat jelas serta tegas.

Dengan rekam jejak seperti itu maka kedatangannya ke gerombolan yang tak jelas mana teman mana kawan bukanlah sebuah kekonyolan, dia sudah terbiasa melakukan hal itu.

Maka bisa dipastikan dia tak menduga sama sekali kalau akan disesah seperti itu, dijadikan pesakitan dan kambing hitam.

Ade Armando memang terbiasa tampil lain dari yang lain, dia bagaikan anomali. Selalu berani berargumentasi atas apa yang diucapkan atau dituliskannya, dan tidak berusaha memoderasi walau terdesak.

Ketika tak puas dengan beraktivitas di dunia kampus, dia kemudian memasuki media sosial secara serius untuk menjadi ‘pendidik publik’. Hanya saja posisinya yang jelas berpihak dan mendukung satu sisi membuat apa yang diucap atau disampaikannya kerap menjadi kontroversi.

Pada pilihan berdiri pada satu posisi sebenarnya bukanlah hal yang hina. Menjadi pendukung atau penentang adalah sebuah pilihan. Apa yang menjadi hina atau tidak adalah alasannya.

Saya sendiri tidak melihat dukungan Ade Armando pada pemerintahan Joko Widodo sebagai sebuah modus panjat sosial yang kemudian akan dibayar dengan kedudukan, seperti banyak orang lainnya yang kemudian bisa duduk jadi komisaris ini dan itu atau jabatan-jabatan publik bergengsi lainnya.

Sebagai pendukung Joko Widodo, Ade Armando bukanlah orang populer dan terakomodir diantara para pendukung lainnya.

Tentu saya prihatin dengan kejadian yang menimpa Ade Armando. Meski begitu saya juga yakin bahwa Ade Armando sadar betul soal harga yang harus dibayar dari pilihannya.

Wajah yang hancur lebur, badan yang terkulai dan pakaian yang tak lagi lengkap adalah bayaran tunai untuknya. Lewat hal itu Ade Armando telah menunaikan tugas eksistensialnya. Dia telah membuktikan bahwa jalan yang dipilihnya masih terjal sebab kebencian, kekerasan dan intoleransi masih menjadi musuh utama di masyarakat Indonesia yang beragam ini.

Ada banyak yang bersimpati dan berempati atas kekerasan yang dialami oleh Ade Armando. Namun tak sedikit pula yang secara gamblang bersorak girang dan mensyukuri kejadian itu.

BACA JUGA : Gelapnya Masa Depan Pertamina

Sekurangnya ada dua terminologi yang mengiringi kekerasan terhadap Ade Armando, yakni terminologi politik dan agama.

Dalam dua pemilu terakhir, kekerasan apapun bentuknya terkait dengan perbedaan sikap politik dan perilaku keberagamaan memang semakin mengental di Indonesia. Spektrum politik dan keagamaan makin menyempit, menjadi dikotomis, kalau tidak A ya B.

Watak dikotomis yang kemudian menimbulkan masalah kepercayaan sosial. Masyarakat dengan mudah dipicu sentiment saling tidak percaya antar warga. Keakraban antar warga di masyarakat yang digambarkan suka bergotong royong semakin jadi langka. Masyarakat mudah tersinggung, gampang diajak memusuhi, membenci dan saling tak percaya.

Postingan media sosial mengkonfirmasi bahwa kebanyakan masyarakat tidak bisa membedakan antara senang dan bahagia. Bahagia bagi masyarakat Indonesia adalah menyenangkan dirinya sendiri.

Padahal bahagia selalu berhubungan dengan orang lain, mengada bersama secara aman tanpa ancaman, bukan soal makan pecel di pinggir sawah, healing dengan piknik di pantai yang kemudian dilabeli “Bahagia itu sederhana”.

Padahal cara main menjadi bahagia tidak seperti itu terlebih di negara dengan tingkat keragaman yang tinggi seperti di Indonesia. Kebahagian warga atau masyarakat hanya akan tercipta jika masyarakat berempati satu sama lain, merayakan perbedaan dengan gembira.

Dengan jumlah penduduk yang besar, partai politik yang beragam dan agama yang banyak, selalu ada potensi besar dalam setiap individu untuk membenci atau memusuhi orang lain yang berbeda pandangan politik dan keagamaannya.

Sayangnya pemerintah yang mestinya menjadi pondasi kekuasaannya kerap diperoleh dengan cara mengobarkan kebencian terhadap perbedaan pandangan politik dan keberagamaan. Maka pemerintah sering berada dalam posisi yang tidak legitimate untuk menengahi persoalan ini.

Kehadiran kelompok masyarakat sipil, individu atau tokoh yang menyuarakan persoalan ini juga semakin langka. Tidak banyak yang memilih jalan ini sebagai medan perjuangan. Adalah lebih menguntungkan menggunakan perbedaan politik dan perilaku keberagamaan untuk memperoleh keuntungan bagi kelompok maupun individu.

Ketrampilan kita sebagai masyarakat yang beragam untuk terbiasa hidup dalam perbedaan tengah diuji. Andai kita tidak rileks memandang dan berlaku atas perbedaan politik dan sikap serta perilaku keberagamaan maka kita tak lulus melewati ujian tersebut.

Dan peristiwa yang menimpa Ade Armando masih akan terus terjadi baik pada dirinya maupun pada orang-orang atau kelompok lainnya.

Saya dan anda sekalian ditantang untuk tidak sekedar merasa gembira serta bahagia karena tengah piknik di kampung warna warni. Adakah kita bisa tetap gembira dan bahagia berada dalam pelangi warna warni perbedaan pandangan politik dan keragamaan?.

note : sumber gambar – tribunnews.com