Nama Budi Setiawan tiba-tiba jadi terkenal. Mendaku dirinya sebagai seorang trader profesional, pria yang menata rambut belah pinggir dengan percaya diri mengatakan “Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka dapat menghasilkan seribu dollar tanpa meninggalkan rumah,”
Iklan yang muncul sekitar tahun 2019 itu segera menarik perhatian netizen yang kepo hingga akhirnya ketahuan kalau Budi Setiawan bukan nama sebenarnya dari sang bintang iklan.
Walau bukan sosok yang amat terkenal, cukup banyak orang yang mengenali sang bintang iklan sebagai seorang musisi. Sebagai seorang drummer, dia dulu pernah punya band bersama dengan Yuke ‘Dewa 19’. Dirinya juga kerap menjadi additional drummer beberapa band dan musisi ternama di Indonesia.
Salah satu yang sering diiringi adalah pemusik reggae Steven Jam atau Steven and Coconut Treez.
Tak mengherankan jika kemudian ada netizen yang mengenali Budi Setiawan sebagai Joshua Putra, seorang musisi yang kini tinggal di Bali.
Dan benar Budi Setiawan memang Joshua Putra, yang kemudian membintangi iklan Binomo ketika sedang berlibur ke negeri kekasihnya di Rusia.
Kisahnya ketika sedang kehabisan uang di negeri Beruang Merah sehingga tak bisa segera pulang ke Indonesia, Joshua mendapat tawaran yang mengiurkan. Imbalannya cukup besar sehingga cukup untuk membiayai ongkos pulang dari negeri orang.
Maka tanpa pikir panjang, Joshua yang belum pernah menjadi bintang iklan menyetujui kontrak sebagai bintang iklan tanpa membaca detail dokumen yang menyertai kontraknya.
Hanya ingin mendapat uang cukup besar dalam waktu singkat, Joshua sama sekali tak tahu kalau iklan yang dibuar seharian di Saint Petersburg itu akan tayang di youtube. Joshua mengaku juga tak paham tentang Binomo dan trading.
Banyak netizen yang jengkel dengan kemunculan iklan itu. Namun tak sedikit juga yang bersikap selow dan menjadikan iklan itu sebagai bahan candaan. Banyak meme dibuat berdasarkan penampilan dan pernyataan Budi Setiawan.
Meski begitu nama Binomo kemudian mencuat sebagai aplikasi ‘trading’.
Dan itu kemudian menjadi dasar bagi mereka yang kelak dikenal sebagai affiliator maupun para influencer lainnya untuk mengaet pemakai aktif aplikasi Binomo.
Pemasar aplikasi ini kemudian bukan lagi ‘crazy rich abal-abal’ ala iklan yang diperankan oleh Joshua Putra. Muncul sosok-sosok muda yang benar-benar menunjukkan kekayaannya, mulai dari mobil mewah, motor gede, jam mewah, pakaian branded dan kesukaan nyawer baik pada orang susah maupun kaum selebritas.
Anak muda nan kaya raya ini rajin berbagi kiat bagaimana bisa kaya seperti mereka melalui trading. Mereka membikin group di telegram untuk melakukan mentoring, membuka kelas online, seminar dan juga melakukan live streaming untuk trading bareng.
Dari bukan siapa-siapa hingga kemudian kaya raya membuat banyak orang bisa mengikuti jejak mereka. Apalagi mereka juga selalu berkata bahwa sukses {kaya raya} adalah hak semua warga negara.
Jalan gampang menuju sukses memang selalu menarik perhatian dan membuat orang tergoda sehingga abai pada kemungkinan-kemungkinan buruk dibaliknya.
Dan benar saja, ketika gelembung pecah, saat mulai ada yang merasa tertipu atau dirugikan, kedok para Crazy Rich muda ini terbongkar. Yang mereka mainkan bukanlah aplikasi trading melainkan aplikasi binary option yang diprogram tidak menghasilkan kemenangan kepada para pemakainya. Disebut judipun sebenarnya tidak karena peluang untuk menang sangat kecil, yang terjadi uang para pemainnya dirampok oleh para afilliator dan pengembang aplikasi.
BACA JUGA : Gelapnya Masa Depan Pertamina
Apa yang membuat seseorang mudah mempercayai orang lainnya?.
Pada umumnya seseorang akan mudah percaya pada orang lain yang kaya, pintar dan saleh.
Dulu ketika media sosial belum begitu marak, pura-pura saleh dan pura-pura pintar lebih mudah dilakukan. Namun pura-pura kaya cukup sulit.
Namun kini keadaan berbalik, pura-pura saleh dan pura-pura pintar menjadi lebih sulit. Yang mudah justru pura-pura kaya.
Dulu dunia kepura-puraan lebih sering dilantunkan dalam lagu yang identik dengan God Bless dengan vokalis Achmad Albar. Sebenarnya mengidentikkan Panggung Sandiwara dengan God Bless tidaklah tepat karena lagu itu pertama muncul dalam album Duo Kribo, yang menampilkan Achmad Albar dan Ucok ‘AKA’ Harahap.
Berpura-pura mungkin tidak salah karena bisa membuat orang merasa senang, bahagia, aman, nyaman dan lain sebagainya. Atau bahkan jadi sesuatu yang biasa sebagaimana ditampilkan dalam media sosial.
Tapi berpura-pura terbukti jadi sumber masalah, terutama jika kepura-puraan itu dipakai sebagai jalan pemikat untuk menjerumuskan orang lain. Pura-pura menjadi modus untuk melakukan penipuan.
Akhir-akhir ini terkenal istilah flexing. Aksi pamer kekayaan yang ternyata dipakai untuk menipu orang lain agar tergiur ikut dalam kegiatan ‘investasi’ yang dilakukan oleh para pelakunya.
Aksi pamernya bermacam-macam, ada yang hard flexing, pamer apa adanya, menunjukkan kekayaan, tumpukan uang, tampil sombong karena kaya dengan belanja tanpa melihat label harga. Atau bilang “muraaah sekaliiiiii” padahal yang disebut murah itu adalah supercar Lamborghini yang harganya belasan milyard.
Atau kalau tak percaya diri tampil angkuh dan sombong, bisa memilih humble flexing. Tetap aja menampilkan kekayaan tapi dengan wajah rendah hati, suka berbagi, suka memotivasi orang lain, menasehati untuk kerja keras dan berproses.
Apakah untuk pamer kekayaan mesti kaya lebih dahulu?. Tidak.
Di kota-kota besar, infrastruktur untuk pamer kekayaan sudah tersedia. Ada paket-peket penyewaan atau pinjaman, mulai dari mobil mewah, jam mewah, pakain bermerek dan lain-lain yang bisa dipinjam atau disewa.
Pendek kata ada banyak model bisnis antara pelaku dan penyedia barang atau jasa yang sama-sama akan mendapatkan keuntungan dalam besaran ekposure.
Ketika umpan tipu-tipu sudah dimakan oleh netizen, langkah berikutnya memang perlu sedikit pengorbanan karena mesti tampil sebagai dermawan. Tanpa membagi-bagi ‘kekayaan’ meski dikenal namun akan sulit untuk mendapat gerombolan pengikut setia, massa yang akan jadi pasukan pembela.
Agar semakin meyakinkan alias makin dipercaya maka harus masuk dalam lingkaran kaum terpercaya, seperti selebriti, influencer, orang besar dan lain-lain. Dan ini tak sulit untuk dilakukan karena kaum selebritas, influencer dan lain-lain juga perlu tetap berada di orbit. Mereka selalu terbuka untuk kolaborasi asal ekposurenya besar.
Jurus jitu membeli pertemanan dengan uang bisa diterapkan kepada siapa saja. Artis, pejabat atau siapapun yang mungkin saja sudah kaya tetap akan mudah dijadikan teman atau kenalan bila dikasih uang.
Indra Kenz dan Doni Salamanan melakukan hal itu sehingga bisa kenal dengan Reza Arap, Deddy Corbuzier, Lord Adi, Rizky Febrian, Alffy Rev dan lain-lain.
Hasilnya dengan pola, format dan strategi yang mirip-mirip dari jaman ke jaman ternyata masih tetap jitu untuk membuat trilyunan rupiah uang masyarakat menguap sia-sia.
Masyarakat Indonesia yang sebagian besar sulit menjadi kaya namun punya cita-cita menjadi kaya dengan segera seperti menemukan jalan yang didamba. Merasa menemukan jalan yang pasti lalu berani menginvestasikan seluruh kekayaan yang dipunyai, bahkan kalau tak punya berani berhutang demi menjadi kaya dengan segera melalui jalan ‘investasi’.
BACA JUGA : Presiden Seumur Hidup Mungkinkah?
Kabar tentang trilyunan uang masyarakat lenyap karena iming-iming cepat dan pasti kaya makin sering terdengar. Saking seringnya rasa prihatin terhadap kabar semacam ini makin menipis, bahkan ketika beberapa diantara mereka yang terperdaya ada yang stress, gila hingga bunuh diri.
Konyolnya lagi yang menipu malah dianggap hebat karena bisa memperdaya sementara yang jadi korban akan dianggap tolol segoblok-gobloknya.
Padahal kalau dipikir dengan dalam-dalam sebagian besar dari kita, masyarakat Indonesia secara rutin juga terus terperdaya. Setiap kali Pemilihan Umum, kita selalu diperdaya dengan janji-janji politik, rencana muluk-muluk yang jarang terbukti.
Dan itu berulang kali terjadi, bahkan mereka yang doyan mengucap janji-janji surga andai mencalonkan diri tetap terpilih kembali.
Atas hal-hal yang menyenangkan atau sesuatu yang diimpikan sikap skeptis atau meragukan dan mempertanyakan memang bukan bawaan manusia.
Jika sudah percaya apalagi tergiur {jatuh cinta}, manusia memang cenderung kehilangan kewaspadaan. Bahkan rasionalitas cenderung ditahklukkan untuk mencari alasan pembenaran bagi kepercayaannya.
Jadi manusia memang cenderung mudah ditipu dan percaya pada informasi yang tidak benar namun menyenangkan atau sesuai dengan yang diinginkannya.
Dalam pendidikan politik, para aktivis selalu mengajarkan tentang ‘track records’. Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan pada calon tertentu mesti melihat rekam jejaknya. Pemilih mesti melihat pengalaman, perjalanan dan pengetahuan calon sebelumnya, sehingga bisa menilai apakah calon kompenten atau tidak untuk menduduki jabatan yang diinginkannya.
Tapi dalam kenyataan sikap skeptis yang diajarkan dengan cara melihat rekam jejak dengan mudah diterabas oleh para calon dengan cara berbagi derma. Cara menumpulkan daya kritis masyarakat sungguh mudah asal para calon punya logistik sehingga bisa mempraktekkan politik uang.
Dalam politik, logika dengan mudah disingkirkan oleh logistik.
Yang pernah belajar jurnalistik juga akan paham bahwa sikap skeptis adalah dasar dari jurnalisme. Tapi pada akhirnya para pewarta sadar bahwa menjadi jurnalis yang skeptis sungguh berat, bukan hanya berat di proses pekerjaan melainkan juga berat di resiko. Jadi tak perlu heran jika kemudian sebagian besar akan memilih menjadi jurnalis amplop atau jurnalis advertorial.
Sama halnya dengan orang menjadi kaya. Semua orang pasti paham untuk menjadi kaya pasti prosesnya tidak mudah. Bahkan mereka yang kaya karena warisan sekalipun juga tak mudah untuk terus mempertahankan kekayaannya.
Maka belajar menjadi kaya dengan cara membaca buku tebal yang menceritakan proses Bob Sadino atau Chaerul Tanjung menjadi konglomerat jelas bukan merupakan pilihan. Cara dan proses mereka menjadi kaya sulit untuk ditiru atau diikuti.
Oleh karenanya ketika sosok-sosok anak muda yang fasih bicara trading, robot trading, kripto, investasi dan lain-lain menjadi lebih menarik serta masuk akal untuk diikuti jalannya.
Menasehati mereka yang jatuh hati dan merasa menemukan jalan untuk menjadi kaya dengan cepat untuk waspada jelas merupakan pekerjaan yang sia-sia. Nasehat yang mungkin terbukti bahkan mungkin tidak akan ampuh lagi karena urusan tergiur bisa terjadi berkali-kali. Tertipu tak akan benar-benar membuat orang kapok.
Seperti seseorang yang pergi ke dukun lalu yang diinginkan tak terwujud. Alih-alih menjadi tak percaya pada dukun, mereka akan mencari dukun lain yang dianggap lebih ampuh.
Too good to be true, begitu kata pepatah. Namun walau secara logika dengan mudah ditemukan kejanggalan dari semua tawaran itu, sekali lagi tidak mudah untuk mencegah orang tergiur padanya.
Angka 1 % sepertinya kecil, namun tawaran untung 1% per hari untuk sebuah investasi jelas tak masuk akal. Bisnis apa yang bisa untung 1% sehari yang artinya 30% per bulan?.
Pun seandainya ada, pasti peluang seperti itu akan dilalap sendiri, jangankan orang lain, teman sendiri saja belum tentu akan diajak-ajak.
Mengajak orang yang ingin kaya karena sudah bosan hidup menderita agar waspada adalah sulit. Maka menjadi tugas pemerintah dan para apaturnya untuk dengan segera mencegah para penipu begitu mereka mulai melancarkan aksinya.
Siapapun dan apapun yang mulai menawarkan-nawarkan pendapatan yang tak masuk akal perlu segera diperiksa tanpa perlu menunggu laporan atau aduan dari mereka yang dirugikan olehnya.
Di jaman serba digital ini aliran uang bukan sesuatu yang sulit untuk ditelusuri. Apa yang janggal atau tidak wajar dengan mudah ditemukan oleh aparat yang berwenang.
Dengan kewenangannya aparat bisa menerapkan prinsip kewaspadaan tingkat dini, melakukan prevensi agar para penipu tak bisa menggiring masyarakat yang mudah tergiur tercebur ke dalam sumur.








