Pegadaian berbeda dengan Bank, Pinjaman Online dan Paylater. Seseorang yang datang ke pegadaian menyerahkan barang untuk disimpan akan mendapat uang senilai 80-85% dari harga barang {agunan}.
Pinjaman akan berlaku selama waktu tertentu, misalnya 4 bulan. Ketika jatuh tempo, perlu ditebus dengan mengembalikan nilai pokok dan bunga. Jika saat jatuh tempo belum cukup punya uang, yang mesti dibayar adalah bunganya saja dan kemudian jangka waktu pinjaman diperpanjang kembali.
Nilai pokok pinjaman juga bisa dikurangi dengan cara membayar sehingga bunganya makin lama makin mengecil.
Fleksibel dan mudah, maka benar jika kemudian Pegadaian mempunyai slogan “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”.
Tidak merumit-rumitkan masalah dan kemauan untuk mempermudah pelangan/konsumen terlihat dari deretan panjang jenis barang yang bisa digadai. Mulai dari barang elektronik, kendaraan, logam mulia, surat berharga, sertifikat, mesin, tekstil dan aksesories.
Kultur melayani tanpa birokrasi yang rumit dan berorientasi kepada konsumen membuat Pegadaian selalu layak diberi pujian.
Tahun 2021, Pegadaian dinobatkan menjadi salah satu “Best Business Tranformation 2021” versi Majalah Swa. Sebagai perusahaan layanan jasa, Pegadaian mampu bertahan bahkan melakukan loncatan layanan yang dengan cepat menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan teknologi.
Kehadiran Pegadaian sebagai lembaga layanan publik memberi sedikit kelegaan karena kebanyakan institusi layanan publik lainnya kerap kali justru menimbulkan masalah bagi masyarakat. Permasalahan yang diselesaikan kerap kali melahirkan masalah baru, banyak masalah tidak diselesaikan secara tuntas.
Seperti kenaikan harga minyak goreng misalnya, yang kemudian dihadapi dengan cara DMO {domestic market obligation} dan DPO {domestic price obligation} yang justru membuat minyak menjadi langka di pasaran sehingga menimbulkan antrian dimana-mana.
Dan kepada mereka yang terdampak kemudian diberikan Bantuan Langsung Tunai. Dan kita tahu jenis BLT yang bermacam-macam ini selalu bermasalah di mana-mana, dampaknya juga tidak jelas.
Penyelesaian berbagai masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita ini memang cenderung tidak terfokus. Masalah kerap kali melebar dan kemudian menjadi bergemuruh bukan karena membahas masalah utama melainkan justru lebih meributkan masalah-masalah ikutannya.
Bukan ribut soal substansi melainkan berisik karena cari sensasi.
BACA JUGA : Jum’at Yang Agung
Ribut-ribut antara Dokter Terawan dan IDI pada dasarnya merupakan masalah internal biasa dalam sebuah organisasi.
Sesuai dengan aturan organisasi adalah biasa jika kemudian organisasi memberi peringatan kepada anggotanya, membekukan atau bahkan mencabut keanggotaan andai ditemukan pelanggaran terhadap aturan organisasi.
Dan setiap organisasi mempunyai mekanisme tersendiri baik untuk mengambil keputusan yang tidak perlu dicampuri atau melibatkan pihak-pihak lainnya.
Barangkali sebagian besar dokter yang jadi pengurus IDI tak pernah bersentuhan dengan Pegadaian sehingga tak mengenal slogan “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”.
Permasalahan antara Dokter Terawan dan IDI adalah persoalan lama, persoalan yang berlarut karena masalahnya terus diperluas dan diperpanjang.
Sekali lagi ini masalahnya adalah soal etika profesi, yang hanya mengikat dokter dan anggotanya. Namun karena masalahnya kemudian melebar akhirnya masyarakat ikut serta, masuk dalam kelompok pro dan kontra yang sebenarnya tak perlu.
Dan jika dibandingkan antara yang pro dan kontra, nampak justru yang kontra pada keputusan IDI lebih banyak, bahkan sampai tercetus suara-suara dari luar yang meminta IDI dibubarkan.
IDI bukan hanya dibully oleh publik, keputusanya juga kemungkinan besar tak akan dipatuhi baik oleh Dokter Terawan maupun institusi yang menaunginya. IDI babak belur dari luar dan dalam.
Persoalan antara Dokter Terawan dan IDI bermula dari metode terapi yang dikenal sebagai DSA atau Digital Substraction Angiography.
Metode terapi ini mesti diteliti lebih lanjut oleh tim Health Technology Assestment yang dibentuk oleh Kemenkes. Dan sampai hari ini nampaknya belum ada hasil penelitian dari lembaga yang berkompeten untuk menilai apakah terapi DSA yang diterapkan oleh Dokter Terawan aman dan layak untuk diterapkan.
Yang muncul di khalayak justru isu kontroversial ketika Dokter Terawan mulai diisukan akan menjadi Menteri Kesehatan, IDI menulis surat kepada Presiden agar tidak mengangkatnya sebagai Menteri Kesehatan.
Tuduhan lain yang dialamatkan pada Dokter Terawan adalah melakukan promosi atau iklan yang berlebihan untuk metode terapi temuannya.
Persoalan kemudian melebar ketika MKEK IDI juga mempersoalkan integritas Universitas Hasanuddin tempat Dokter Terawan memperoleh gelar Doktor dengan mempertahankan disertasi tentang metode cuci otak. IDI menuduh para pembimbing dan penguji berada dalam tekanan untuk meluluskan Dokter Terawan meski menemukan kelemahan dari disertasinya.
BACA JUGA : Kita Bukan Keturunan Monyet
Jika yang disoal adalah DSA, sebagai sebuah metode DSA merupakan sebuah cara untuk melihat pembuluh darah dengan menggunakan X-ray atau rontgen. Teknik ini banyak digunakan oleh dokter spesialis interventional radiology.
Dengan Angiography biasa pemeriksaan pembulh darah di otak tidak bisa dilakukan secara akurat karena terhalang oleh tulang tengkorak kepala. Dengan DSA struktur yang menhalangi bisa diatasi secara digital.
DSA biasa digunakan untuk melakukan diagnosa dan intervensi pada masalah penyempitan pembuluh darah di leher, penyumbatan pembuluh darah di paru, penyumbatan pembuluh darah di kaki, penyempitan arteri di ginjal, pengembungan pembuluh darah di otak dan kelainan pembuluh darah di arteri serta vena.
Sebelum ditemukan cara digital, substraction angiography sudah ditemukan sejak tahun 1935. Namun karena masih ada banyak kendala peralatan metode SA tidak populer. Temuan teknologi digital membuat DSA menjadi lebih mudah dilakukan sejak tahun 1970-an.
Pada intinya DSA bukan temuan baru dan sudah digunakan dimana-mana. DSA sendiri tidak sama dengan istilah cuci otak atau spa otak yang sering disebut-sebut bersama dengan Dokter Terawan.
DSA kemudian disebut cuci otak atau brainwashing ketika dipadukan dengan Intra-Arterial Heparin Flusing. Metode inilah yang dilakukan oleh Dokter Terawan untuk melakukan terapi pada pasien stroke kronis.
Teknik atau metode terapi inilah yang kemudian dianggap kontroversial baik oleh IDI atau kalangan lainnya. Dan IDI meminta bukti ilmiah yang sampai sekarang belum diberikan oleh Dokter Terawan atau pihak lain yang melakukan review terhadapnya.
Penelitian ilmiah tentang DSA sudah teramat banyak, sehingga metode ini sulit untuk dianggap kontroversial. Namun soal Intra-Arterial Heparin Flushing memang belum banyak. Masih sangat sedikit artikel ilmiah tentang hal itu.
Dengan demikian dari sisi ilmiah dan akademis, metode brainwashing sebagaimana yang dilakukan oleh Dokter Terawan belum terbukti dalam komunitas ilmuwan dan teknologi kesehatan internasional.
Dokter Terawan sendiri pernah menuliskan artikel tentang modifikasi DSA. Sebuah artikel hasil penelitian berdasarkan case series. Dalam dunia penelitian ilmiah, bukti yang diajukan oleh metode penelitian case series termasuk kategori rendah. Bukti yang tertinggi harus dilakukan lewat model penelitan randomizes controlled trial.
Artikel Dokter Terawan menyebutkan tidak ada komplikasi yang berarti atas penerapan metode cuci otaknya. Hanya saja subyeknya tidak disebutkan dengan jelas, apakah pasien-pasiennya merupakan penderita stroke kronis.
Kemudian Dokter Terawan juga menulis artikel lain yang terkait dengan penerapan IAHF pada pasien stroke kronis. Model penelitiannya sama yakni case series. Penelitian ini melibatkan 75 pasien stroke kronis. Hasilnya penerapan IAHF mampu meningkatkan aliran darah di otak pada pasien penderita stroke kronis.
Apapun itu yang dilakukan oleh Dokter Terawan tidak bisa dikatakan tidak mempunyai bukti medis. Metode atau terapi yang dilakukan olehnya ada bukti ilmiahnya, hanya saja bukti ilmiahnya masuk dalam kategori rendah.
Lemah bukan berarti salah atau tidak bisa dipergunakan. Bukti bisa diperkuat dengan cara melakukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan bukti yang lebih kuat.
Ini yang belum dilakukan dan seharusnya dilakukan. Sayangnya dalam kisruh antara IDI dan Dokter Terawan kemudian ikut-ikutan sosok-sosok high profile berbicara seolah ikut memberi bukti. Adalah hak orang yang telah menjadi pasien untuk mengungkapkan telah tertolong oleh apa yang dilakukan oleh dokter, seperti merasa lebih sehat, lebih segar dan lainnya.
Hanya saja semua itu tidak bisa dipakai sebagai bukti klinis. Kekuatan sharing para pejabat, bekas pejabat, pengusaha besar, artis dan lain-lain bukanlah bukti klinis melainkan hanya merupakan moral support untuk Dokter Terawan.
Testomoni secara ilmiah tak bisa dipakai sebagai evidence atau bukti klinis.
Hanya saja dalam praktek dunia kesehatan, perlakuan atau treatment dengan bukti yang rendah atau bahkan tak ada bukti klinis sama sekali bukanlah sesuatu yang tabu. Ada banyak sekali praktek semacam ini. Banyak yang melakukan dan aman-aman saja artinya tidak disoal oleh IDI.
Biarlah IDI menyelesaikan persoalannya dengan Dokter Terawan, sementara yang lainnya tidak perlu ikut-ikutan menambah riuh. Saat ini yang paling penting justru membangun ekosistem dan kebijakan yang mendukung tumbuh kembangnya inovasi terutama dalam dunia kesehatan.
Inovasi yang memungkinkan penanganan masalah kesehatan menjadi semakin efektif sekaligus berkeadilan. Berkeadilan agar inovasi atau cara-cara terbaru tidak hanya dinikmati oleh mereka yang kaya raya atau punya fasilitas dukungan serta tunjangan yang besar.
note : sebagian dari tulisan ini merupakan transkripsi yang diambil dari channel youtube Dr Tony Setiobudi








