KESAH.IDTua-tua keladi, makin tua makin jadi. Itulah politik Malaysia dalam sosok Mahathir dan Anwar Ibrahim. Mahathir yang pensiun berhasil kembali menjadi perdana menteri dalam usia tuanya dan Anwar Ibrahim yang terus dikhianati, dianggap mampu jadi perdana menteri sejak usia mudanya akhirnya terbukti mampu duduk di kursi itu dalam usia 75 tahun.

Angka kong banting, begitu orang Manado mengistilahkan perilaku seseorang yang awalnya memuji memuji {mengangkat} seseorang lainnya namun kemudiannya menjatuhkannya hingga terhempas.

Mahathir Mohammad melakukan hal itu kepada Anwar Ibrahim, yang kemudian menjadi tokoh sentral oposisi Malaysia selama 20-an tahun terakhir.

Anwar Ibrahim memulai karir politiknya sebagai tokoh muda muslim yang kerap memimpin aksi anti pemerintah terkait kesenjangan/kemiskinan di Malaysia bagian utara pada tahun 70-an. Anwar mendirikan Angkatan Belia Islam Malaysia {ABIM} yang membuat namanya melambung sebagai tokoh muda yang berpengaruh.

Tahun 1982, setahun setelah menjabat sebagai Perdana Menteri, Mahathir Mohammad mengajak Anwar Ibrahim bergabung dengan UMNO, partai yang mempunyai perjuangan afirmasi untuk masyarakat pribumi melayu.

Bergabung dengan UMNO karir politik Anwar Ibrahim melesat. Belum setahun sudah ditunjuk menjadi Menteri Menteri Pemuda, lalu Menteri Pertanian dan Pendidikan hingga pada tahun 1991 Anwar memegang posisi penting sebagai Menteri Keuangan.

Sejumlah kebijakan yang membuat ekonomi Malaysia berkemajuan membuat banyak orang menjadi yakin bahwa Anwar Ibrahim akan memegang tongkat estafet, melanjutkan kepemimpinan Mahathir Mohammad, guru dan mentornya.

Anwar pun diangkat menjadi wakil perdana menteri. Saat krisis ekonomi melanda dunia, Anwar Ibrahim sempat menjadi pejabat harian perdana menteri ketika Mahathir Muhammad cuti. Kursi perdana menteri sudah dekat.

Memanfaatkan jabatannya Anwar Ibrahim menyoroti kronisme dan korupsi dalam partai politik serta pemerintahan. Anwar kembali bersuara kritis.

Mahathir Muhammad murka dan kemudian memecat Anwar Ibrahim serta mengirimnya ke penjara dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Anwar dituduh melakukan perkosaan, sodomi kepada laki-laki, perilaku yang merupakan tindakan pidana di Malaysia.

Anwar Ibrahim kemudian dipenjara karena persekusi politik.

Sebelum dikirim ke penjara, Anwar Ibrahim bersama anak dan istrinya memimpin aksi untuk menuntut reformasi politik di Malaysia.

Sejak saat itu Anwar Ibrahim kemudian menjadi sosok oposisi yang berpengaruh di Malaysia walau di dalam penjara.

Usaha menjauhkan Anwar Ibrahim dari politik gagal. Tahun 2008 partai yang didirikan berhasil memenangkan pemilu namun Anwar kembali dikirimkan ke penjara. Hingga pada tahun 2012, Anwar dinyatakan tidak bersalah dan tahun 2013 Partai Keadilan Rakyat yang didirikannya membangun koalisi Pakatan Rakyat. Pada pemilu raya tahun itu kalah dengan perbedaan suara yang tipis, kekalahan yang memunculkan tuduhan kecurangan pemilu.

Anwar Ibrahim kembali didakwa dengan tuduhan yang sama dan lagi-lagi masuk penjara.

Berkali-kali sudah dekat ke kursi perdana menteri, Anwar Ibrahim selalu berhasil dipersekusi hingga keluar masuk penjara.

BACA JUGA : 8 Tahun Jokowi Berkuasa, Apa Yang Berubah?

Mahathir Mohammad sebenarnya sudah pensiun dari politik sejak tahun 2004. Namun bacaannya terhadap kondisi politik dan pemerintahan di Malaysia yang dipimpin oleh penerusnya membuatnya kembali je jalur politik praktis di usia senja.

Tahun 2016 saat Anwar Ibrahim masih di penjara, Mahathir Mohammad berhasil membangun koalisi dengannya. Anwar Ibrahim berhasil diluluhkan hingga memaafkan Mahathir yang membuatnya bolak-balik keluar masuk penjara dan karir politiknya melewati lika-liku jalan terjal.

Mahathir dan Anwar bersepakat membangun koalisi untuk menandai reuni mereka. Koalisi bernama Pakatan Harapan dimaksudkan untuk menjatuhkan Najib Razak, perdana menteri yang juga merupakan anak didik lain dari Mahathir Mohammad.

Koalisi Pakatan Harapan menjadi koalisi multietnis pertama di Malaysia, didiukung oleh mayoritas muslim melayu dan minoritas China serta India. Dan di tahun 2018, koalisi ini berhasil menghentikan dominasi Barisan Nasional yang berkuasa terus menerus.

Mahathir Muhammad berhasil duduk di kursi perdana menteri, kemudian membebaskan Anwar Ibrahim dari penjara dan memberi karpet merah padanya untuk menduduki jabatan setelah dua tahun dijabat oleh Mahathir Muhammad.

Namun tongkat estafet ternyata tak diberikan oleh Mahathir Mohammad. Tahun 2020 Mahathir mundur dari jabatan perdana menteri tanpa menyerahkan kepada Anwar Ibrahim. Anwar merasa dikhianati dan menuduh Mahathir Mohammad berusaha membangun koalisi pemerintahan baru sehingga yang lama pecah.

Kursi pedana menteri kembali menjauh dari Anwar Ibrahim dan lagi-lagi diduduki oleh tokoh dari UMNO. Politik Malaysia terus bergejolak, hingga kemudian membuat Muhyiddin Yassin penganti Mahathir ikut mengundurkan diri. Ismail Sabri Yaakob, penganti Muhyiddin kemudian mengumumkan pemilu akan dipercepat. Sabri yakin UMNO masih akan menang dan kembali membuat politik di Malaysia stabil serta tenang.

Pemilu ke 15 Malaysia akhirnya dilaksanakan pada bulan November 2022. Hasilnya cepat diketahui dan tidak ada partai atau koalisi partai yang bisa membentuk pemerintahan.

Dan pemilu ini menjadi akhir dari karir politik Mahathir Mohammad. Tokoh politik paling senior di Malaysia itu gagal meraih kursi untuk dirinya sendiri. Mahathir sudah habis, pengaruhnya tak tersisa lagi.

Kunci untuk melepaskan diri dari kebuntuan hasil pemilu Malaysia ada di tangan Anwar Ibrahim dan Muhyiddin Yassin, dua tokoh yang sama-sama murid Mahathir namun kemudian memusuhi dan dimusuhi olehnya. Sayangnya Anwar dan Muhyiddin juga saling bermusuhan, sehingga tak mungkin membangun koalisi.

Muhyiddin sempat merasa diatas angin, yakin akan berhasil membangun koalisi baru untuk menjadi perdana menteri, tapi ternyata juga buntu.

Untung Malaysia punya raja, yang kedudukannya digilir diantara para sultan. Kunci pemerintahan baru ada di tangan Yang Dipertuan Agung Diraja Malaysia.

Raja pusing tujuh keliling, bolak balik rapat. Muhyiddin dan Anwar Ibrahim dipanggil, diminta bekerja sama tapi tetap tak bergeming. Ketua-ketua partai dipanggil, diminta mendukung salah satu agar mampu melewati ambang batas yang ditentukan oleh konstitusi, namun semuanya juga tak mau.

Anggota DPR pun kemudian dipanggil oleh Raja, diminta memberikan dukungan entah kepada Anwar Ibrahim atau Muhyiddin Yassin agar pemerintahan segera terbentuk. Tapi cara itu juga tidak berhasil, anggota DPR tak mau ikut campur.

Akhirnya keputusan berada di tangan Yang Dipertuan Agung Malaysia, apa yang diputuskan olehnya akan diikuti oleh semua elemen politik peserta pemilu. Suara raja adalah suara Tuhan juga suara rakyat, titahnya akan diikuti.

Sabdo pandito ratu yang akan dipilih, bukan pemilu ulang yang butuh banyak biaya dan membuat rakyat lelah.

BACA JUGA : Sepertinya Elon Musk Salah Cari Peruntungan Di Twitter

Yang Dipertuan Agung Malaysia tidak mau sakit kepala berlama-lama, rakyatpun juga khawatir kalau ikut-ikutan pusing gara-gara hasil pemilu yang buntu.

Dan lima hari setelah pemilu akhirnya diputuskan Anwar Ibrahim menjadi perdana menteri yang baru karena meski tak melewati ambang batas, koalisi Pakatan Rakyat adalah pemenang pemilu dengan meraup 82 kursi.

Untuk membentuk pemerintahan diperlukan 112 kursi. Dan Raja kemudian bertitah meminta UMNO yang mempunyai 26 kursi, namun belum cukup. Untuk mengenapi maka Yang Dipertuan Agung Malaysia meminta Gerakan Partai Serawak yang punya 23 kursi untuk mematuhi titahnya.

Dua-duanya sebenarnya tidak suka Anwar Ibrahim. UMNO berang karena Anwar dipandang terlalu dekat dengan golongan Thionghoa. Namun GPS yang adalah Thionghoa juga berang kepada Anwar karena Anwar Ibrahim satu barisan dengan DAP, Partai Thionghoa Baru yang ketuanya memang masih muda dan suka bicara ceplas-ceplos sehingga menyakiti pendukung dan anggota Partai Thionghoa lainnya.

Seteru dan benci akhirnya bisa dipadamkan dengan alasan karena perintah dan titah raja, demi persatuan. Dengan dukungan dari UMNO dan GPS akhirnya Anwar Ibrahim bisa menduduki kursi Perdana Menteri Malaysia yang mestinya sudah direngkuh puluhan tahun lalu.

Sejak semula Mahathir Mohammad menerima hasil pemilu, tidak mempersoalkannya. Pun demikian ketika Anwar Ibrahim akhirnya menjadi Perdana Menteri walau bukan dalam mode suksesornya.

Akankah di tangan Anwar Ibrahim politik Malaysia akan kembali tenang. Belum ada jaminan, sebab khianat dalam politik bisa terjadi kapan saja. Masih ada Muhyiddin Yassin yang bisa bermanuver hingga membuat entah UMNO atau GPS berubah pikiran.

Yang jelas Anwar Ibrahim sudah dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia. Narapidana berhasil menjadi Perdana Menteri. Tapi Malaysia juga punya Perdana Menteri yang jadi narapidana, yakni Najib Razak, bahkan dengan istrinya juga.

Malaysia memang bisa.

note : sumber gambar – PADEK.JAWAPOS.COM