KESAH.ID –  Messi, Neymar dan Mbappe, trisula PSG sama-sama menjadi tumpuan timnas negaranya masing-masing dalam piala dunia di Qatar. Pada babak grup ketiganya mempunyai nasib yang berbeda. Siapa diantara ketiganya yang akan bersinar di perhelatan empat tahunan ini?.

Membela Barcelona selama 17 tahun, Lionel Messi tiba pada keharusan untuk berpisah. Barcelona tak mampu memperpanjang kontrak Messi dengan angka yang selangit. Membayar kembali Messi akan membuat Barcelona kena pinalti fair play.

Manchester City digadang sebagai tempat Messi akan berlabuh, selain karena punya uang disana ada Pep Guardiola, pelatih yang paham betul bagaimana membuat Messi digdaya.

Namun Messi kemudian memilih Paris Saint Germain, klub milik saudagar dari Qatar Nasser Al Khelaifi.

Messi menyusul Sergio Ramos, musuh bebuyutan dalam El Classico di liga Spanyol.

Kehadirannya di PSG membuat klub langganan pemuncak liga Perancis itu mempunyai trisula maut yakni Messi, Neymar dan Mbappe.

Musim pertama di PSG, Messi yang disambut dengan sangat meriah kehadirannya itu amat menderita. Permainan magisnya tak muncul. Karena permainan yang buruk, Messi yang langganan menjadi nominator peraih Ballon D’or tersingkir dalam daftar untuk pertama kali.

Nasib buruk di klub ternyata berbanding terbalik dengan situasi di tim nasional. Argentina berjaya dengan menjuarai Copa America. Piala itu menjadi penghiburan untuk Messi sekaligus mempertahankan asa untuk mengenapi statusnya sebagai greatest of alltime.

Diakui sebagai pemain terhebat sepanjang sejarah sepakbola, status Messi masih terus dipertanyakan karena kehebatannya dipandang belum teruji. Kehebatan Messi seolah hanya untuk Barcelona. Di Barcelona, Messi tampil seperti mahkluk dari planet lain, sementara di tim nasional Argentina dan kemudian PSG, tim yang baru dimasukinya, Messi melempem.

Di PSG mestinya Messi tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, sebab disana ada Neymar, sahabatnya dari Brasil juga pemain lain dari Argentina seperti Angel De Maria.

Memasuki musim kedua di PSG, Messi bangkit. Kini dirinya tercatat telah melesakkan 7 goal dan memberikan 10 assist. Messi mulai mendapatkan peran baru, tidak lagi ngotot menjadi mesin goal melainkan pemberi umpan sakti.

Di banding dengan Neymar, Messi juga lebih bugar, mempunyai menit bermain lebih banyak.

Messi mempunyai modal bagus untuk berlaga dalam piala dunia Qatar yang mungkin akan menjadi piala dunia terakhirnya. Rekor timnas Argentina mentereng, 36 kali tidak terkalahkan.

Di Qatar, Mbappe dan Neymar, rekan bermainnya di PSG juga menjadi bintang bagi tim nasional negara masing-masing. Bersama dengan Argentina, Perancis dan Brasil menjadi salah satu tim unggulan yang diprediksi mampu merebut gelar sebagai juara dunia.

Akankah Messi, Neymar dan Mbappe bersinar seperti ketika mereka bermain untuk PSG, siapa yang kemudian akan lebih menunjukkan kehebatannya menjadi menarik untuk ditunggu.

Tentu saja Messi lebih punya motivasi, walau tak mesti namun bersinar di piala dunia Qatar dan mampu memenangi gelaran empat tahunan ini akan membuat statusnya sebagai pemain terhebat dalam sejarah sepakbola menjadi tergenapi.

BACA JUGA : Jalan Terjal Anwar Ibrahim Dari Bui Ke Kursi Perdana Menteri

Piala dunia di Qatar jelas tercatat sebagai piala dunia terhebat. Hebat karena diselenggarakan oleh negara kecil dengan biaya selangit. Kita pasti pusing mendengar jumlah angka yang dikeluarkan oleh Qatar, apalagi kalau pakai hitungan untung rugi. Betapa tidak sebagian stadionnya adalah stadion sekali pakai yang akan dibongkar setelah piala dunia usai.

Qatar atau biasa disebut Chataraai, Catara, Qitar, Katar, Qataar artinya adalah tanah kosong. Entah mengapa disebut tanah kosong, barangkali karena penduduknya yang sedikit lebih senang berada di laut. Sehingga kelihatan tak ada banyak orang di daratan.

Negeri itu belum lama merdeka, baru tahun 1971 mereka lepas dari Inggris.

Walau masih muda jangan ditanya pendapatan perkapita penduduknya, jauh lebih tinggi dari Amerika Serikat. Semua karena cadangan gas yang ada di lautan mereka, cadangan yang biarpun disedot sebrutal-brutalnya baru akan habis seratusan tahun ke depan.

Makanya mereka tak terlalu ngoyo kampenye green city, ekonomi hijau dan seterusnya. Dengan uang yang diperoleh dari jualan gas tak sulit buat mereka untuk membangun kota hijau, menerapkan pembangunan hijau, sebab mereka tak perlu bergantung pada funding luar negeri dan berharap dapat dana kompensasi karbon.

Jualan gas mereka hampir tak ada saingan. Amerika Serikat punya andil besar. Tanpa sanksi dari Amerika, Iran bisa jualan gas seperti Qatar, sebab cadangan gas mereka berada di tempat yang sama. Tapi karena sanksi, Iran tak bebas untuk menyedotnya.

Soal sepakbola apakah Qatar hebat?. Nggak hebat-hebat amat. Tapi hebatnya jadwal penyelenggaraan piala dunia Qatar mampu mengeser jadwal liga-liga utama di dunia. Liga yang lagi seru-serunya mesti beristirahat karena pemain utamanya berlaga untuk negaranya tercinta.

Ketidakhebatan tim sepak bola Qatar sudah jelas terlihat. Mengawali kiprahnya dalam pertandingan pembuka, Qatar dihajar oleh Equador, lalu dalam pertandingan kedua kalah lagi melawan Senegal. Pasti pendukungnya kecewa walau tidak sampai stress berat. Raja dan rakyatnya tetap bangga walau timnya jadi tim ayam sayur, mereka tahu andai bukan Qatar yang jadi tuan rumah, tim sepakbola Qatar juga belum tentu masuk sebagai peserta piala dunia.

Jadi yang terpenting untuk Qatar adalah sukses menyelenggarakan piala dunia, bonusnya tim nasionalnya ikut main dalam kejuaraannya itu. Hebatkan, sebab ongkosnya mahal sekali. Hebatnya lagi ongkos yang berat itu kelihatan tak memberatkan untuk negeri yang besarnya kurang lebih sama dengan Singapura.

Bandingkan dengan Indonesia, yang kesulitan untuk membiayai pemindahan Ibu Kota Negara yang biayanya kurang lebih sepersepuluh dari yang dikeluarkan oleh Qatar untuk menyelenggarakan piala dunia.

Mungkin ada yang berkilah, ah apa hebatnya kalau hanya karena punya uang. Ya terserah saja, bagaimanapun uang memang punya peranan penting, tanpa uang di Amerika Serikat sana juga gak bakal ada Apple, Microsoft, Google, Facebook dan juga Tesla.

Bicara soal uang, tim yang paling riang gembira adalah Arab. Bayangkan baru sekali menang di pertandingan perdana sudah mendapat bonus, seluruh anggota timnya mendapat sebuah mobil buatan Roll Royce Inggris, harganya mobilnya kurang lebih 8 – 10 milyard per unit.

Raja Arab tentu gembira karena tim sepakbolanya mampu mengalahkan Argentina yang diperkuat oleh Messi. Mengalahkan Messi sudah cukup bagi Arab Saudi untuk memberi pesan bahwa mereka jauh lebih hebat dari Qatar.

Messi memang ketiban sial. Statusnya sebagai GOAT hampir tak berarti di tanah Arab. Sebab di Arab, goat adalah makanan sehari-hari.

BACA JUGA : 8 Tahun Jokowi Berkuasa, Apa Yang Berubah?

Messi memang kurang bersinar di Piala Dunia, ikut sejak piala dunia 2006 jumlah goalnya hingga pertandingan terakhir melawan Mexico di Qatar baru 8. Perihal hal ini Messi hanya bersaing dengan Ronaldo.

Torehan gol Messi dan juga Ronaldo dengan mudah akan dilibas oleh Kyllian Mbappe. Permain Perancis, kompratriot Messi di PSG terbilang subur jika berlaga di piala dunia. Mbappe berpeluang cepat untuk melampaui perolehan gol Messi dan Ronaldo, karena terbilang masih muda.

Neymar juga masih lumayan muda, namun sayang dalam pertandingan pertama gagal mencetak gol. Dan bermain kurang lebih 80 menit, Neymar terpaksa mesti keluar karena cidera. Brasil mungkin bisa berjaya tapi Neymar dalam tanda tanya.

Dua kali pertandingan, Mbappe memimpin rekan-rekannya sebagai tim pertama yang sudah lolos ke babak 16 besar, kemungkinan besar sebagai juara grup.

Brasil juga punya kemungkinan besar untuk lolos walau mungkin tidak membuat Neymar bersinar.

Sedangkan Argentina setelah kena gempa dalam pertandingan pertama, asanya untuk lolos masih terbuka setelah berhasil mengalahkan Mexico dalam pertandingan kedua.

Bisa dikatakan Messi dalam piala dunia di Qatar ini cukup produktif. Dia telah mencetak 2 dari 3 gol tim Argentina di tambah 1 assit. Tapi Messi masih kalah produktif dengan Mbappe yang sudah mempersembahkan 3 gol dalam dua pertandingan untuk Perancis.

Neymar masih nol.

Tapi yang punya beban terberat nampaknya adalah Messi. Dia harus memimpin teman-temannya untuk menang dalam pertandingan terakhir. Menang menjadi wajib untuk Argentina agar bisa lolos ke babak 16 besar.

Mbappe pasti merasa lebih tenang, Messi dag dig dug dan Neymar bisa jadi murung, bukan khawatir Brasil kalah tapi cemas dengan peluangnya untuk terus ikut berlaga.

Messi, Neymar dan Mbappe berjuang dengan timnya masing-masing di tanah air tuan mereka yang memiliki PSG.

Sama-sama mencetak sukses di PSG, ternyata ketiganya tak mengalami sukses yang sama di tim nasionalnya. Mbappe sejauh ini yang paling meyakinkan. Messi masih mampu membuka peluang dan kemungkinan. Sedangkan Neymar berkutat dengan dirinya sendiri dengan harapan segera pulih agar bisa bermain lagi.

Bola memang bundar, para pemain hebat sekalipun tak bisa punya jaminan akan selalu hebat, apalagi di piala dunia yang model kompetisinya berbeda dengan kejuaraan liga.

note : sumber gambar – GOAL.COM