KESAH.ID – Setelah dipakai untuk upacara peringatan HUT RI Agustus lalu, jumlah kunjungan ke IKN terus meningkat. Data dari Dinas Olahraga, Pemuda dan Pariwisata Kota Balikpapan menunjukkan adanya peningkatan jumlah wisatawan ke Kota Minyak karena keberadaan IKN. Menjadi destinasi wisata baru, produk visual tentang IKN menyebar sangat luas di jagad maya. Ibu Kota Nusantara, layak dibaptis sebagai Ibu Kota Dalam Foto.
Dulu ketika pergi keluar daerah dan kemudian berbasa-basi dengan sembarang orang yang ditemui lalu ditanya asal dari mana, ketika saya menyebut dari Samarinda reaksi orang rata-rata sama yakni menyebut batubara.
Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur memang identik dengan batubara setelah sebelumnya identik dengan kayu gelondongan dan kemudian kayu lapis.
Saat ini situasinya belum terlalu berubah. Pesta meriahnya batubara masih dengan mudah disaksikan dari Samarinda. Apalagi tempat untuk menyaksikannya sudah ditata sedemikian rupa dan diberi atap pula.
Di Teras Samarinda yang persis berada di seberang Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Timur dengan leluasa kita bisa menyaksikan ponton lalu lalang bahkan berbaris membawa gunungan hitam batubara.
Namun batubara kini tak terlalu disebut lagi ketika orang Kaltim pergi keluar daerah. Sebab bisa dipastikan ketika bertemu orang dan menyebut berasal dari Samarinda, misalnya. Maka reaksi orang kemudian akan bertanya “Jauh dari IKN nggak?”
Jawaban yang benar mestinya tidak jauh.
Sebab untuk ukuran Kalimantan Timur, jarak tempuh 1 sampai 2 jam adalah jarak dekat. Yang disebut jauh itu jika jarak tempuhnya sudah lewat dari 5 jam, seperti jarak antara Samarinda dengan Kutai Barat atau Kutai Timur.
Beberapa waktu yang lalu saya mudik ke Jawa Tengah. Dan seperti yang saya duga pasti akan ada banyak pertanyaan tentang IKN.
Sayapun bersiasat agar tak terlalu banyak memberi jawaban yang mungkin memang tak saya punya.
Jadi setiap ada yang bertanya apakah tempat tinggal saya dekat dengan IKN, maka saya akan menjawab jauh.
Pada dasarnya saya tak berbohong, sebab IKN secara pengalaman dan memori memang jauh dari saya. Sampai detik ini saya belum pernah menginjakkan kaki di IKN, terutama di wilayah kawasan inti yang berada di Kecamatan Sepaku.
Padahal beberapa tahun lalu saya sempat intensif pulang pergi Samarinda – Penajam Paser Utara. Tapi memang tak pernah singgah di Sepaku karena memang tak ada yang mengajaknya kesana.
Jadi apapun tentang IKN yang ada di kepala saya bersumber dari pemberitaan, publikasi, cerita teman, dialog, seminar atau diskusi-diskusi.
Sebenarnya Agustus lalu saya hampir pergi kesana ketika ada sebuah ekspedisi bertajuk Trail To IKN. Ekpedisi ini berangkat dari Samarinda dengan berjalan kaki dengan rencana menyusuri jalur non jalan raya.
Hanya saja saya kemudian urung mengikutinya karena terjadi perubahan rencana. Jalur yang dilewati bukan lagi jalur belakang melainkan jalan raya. Ekpedisi itu tak lagi menarik untuk saya.
Terakhir bahkan memori tentang IKN menjadi sebuah ironi untuk saya. Karena perbincangan terakhir saya tentang IKN justru dengan mereka-mereka yang diabaikan di tanah sendiri yang kini dibangga-banggakan sebagai ibu kota terbaik itu.
Mereka kehilangan ruang hidup, sumber air dan lahan karena ‘dicaplok’ oleh IKN. Dan derita mereka kian bertambah karena ‘otorita’ dengan mudah membagi-bagikan lahan kepada pihak lain dengan konsesi jangka panjang. Termasuk diantaranya memberikan hutan kepada Universitas ternama di negeri ini.
BACA JUGA : Honoris Causa
Jabatan yang diemban oleh Presiden Joko Widodo hanya tersisa menghitung jari. Apa yang dicita-citakan olehnya sesaat sebelum kembali memimpin Indonesia untuk periode kedua nampak tak bisa dicapai.
Ketika kembali memimpin Indonesia, Jokowi yang sebelumnya identik dengan infrastruktur utamanya jalan tol, ingin melakukan lompatan. Dirinya ingin dicatat sebagai yang mewujudkan cita-cita bangsa memindahkan Ibu Kota Negara yang diimpikan sejak jaman Presiden Sukarno.
Sama seperti Sukarno, Joko Widodo berpikir Kalimantan adalah masa depan.
Dan Joko Widodo kemudian memutuskan Ibu Kota Negara akan dipindahkan ke tanah Kalimantan. Bukan Kalimantan Tengah seperti yang direncanakan oleh Sukarno, melainkan Kalimantan Timur.
Memang ada banyak alasan untuk memindahkan Ibu Kota Negara.
Yang pertama tentu alasan sejarah karena tetap menjadikan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara sama artinya melestarikan warisan kolonial. Jakarta adalah kelanjutan dari Batavia, Ibu Kota Kolonial Belanda.
Alasan lain adalah daya dukung lingkungan. Jakarta berkembang tidak terkendali, jika terus dibebani dengan fungsinya sebagai Ibu Kota Negara suatu saat tak akan kuat lagi. Jakarta bakal tenggelam menahan beban.
Alasan berikutnya berkaitan dengan suasana kebatinan. Sudah lama sebagian besar masyarakat Indonesia merasa semua terpusat di Jawa, istilahnya jawasentris atau jakartasentris. Ini sebuah perasaan yang tidak sehat yang lama-lama bakal menganggu persatuan dan kesatuan Indonesia.
Sekali lagi itu hanya alasan dan yang namanya alasan bisa saja bersifat obyektif namun juga subyektif.
Hanya saja rencana untuk memindahkan Ibu Kota Negara dengan segera terhambat oleh pandemi Covid 19. Karena rencana tak segera dieksekusi maka malah berkembang. Narasi tentang Ibu Kota Negara menjadi narasi yang sangat diawang-awang.
Salah satu yang paling meragukan adalah keinginan agar IKN menjadi Kota Rimba.
Sebagai sebuah gagasan Kota Rimba memang patut dipuji. Dari sisi konsepsi, Kota Rimba adalah kota yang sesuai dengan tuntutan jaman dimana lingkungan hidup semakin menurun kualitasnya karena tekanan dari perkembangan kota-kota.
Ibu Kota yang kemudian dinamakan Nusantara akan menjadi transformasi. Kota dengan paradigma baru yang menyeimbangkan antara kepentingan manusia dan kepentingan alam, lingkungan serta mahkluk lainnya.
Sekali lagi Kota Rimba atau Benua Rimba Raya patut dipuji namun sekaligus membuat sangsi. Ada persoalan paradigmatik disini. Bagaimanapun Kota Rimba akan sulit dicapai jika pertumbuhan masih menjadi panglima dalam pembangunan.
BACA JUGA : Pupu Papa
Makin mendekati hari penyerahan kekuasaan dari presiden lama kepada presiden terpilih, satu persatu rencana tentang IKN tidak tercapai. Tanda-tanda jadwal IKN akan meleset dimulai sejak Agustus lalu. Perayaan HUT Kemerdekaan RI urung untuk dipusatkan di IKN. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, Perayaan HUT Kemerdekaan RI dilakukan secara hybrid karena ada perayaan di Jakarta dan di IKN.
Rencana Presiden Joko Widodo untuk berkantor di IKN menjelang akhir masa jabatannya juga urung. Infrastruktur untuk Presiden berkantor mungkin sudah siap, namun untuk pembantu-pembantunya belum.
Meski begitu vibes dan hype IKN terus meningkat setelah 17 Agustusan disana. IKN ramai dikunjungi dan media sosial dipenuhi dengan foto-foto tentang IKN dan segala perkembangannya terutama bangunan-bangunannya.
Ketika aura IKN meningkat di mata publik, hal sebaliknya terjadi pada Presiden Joko Widodo. Jokowi mulai kehilangan antusiasmenya. Merasa apa yang sebelumnya direncanakan tak bisa digapai, Joko Widodo mulai rasional, gregetnya mulai menurun.
Memang Joko Widodo masih rajin bolak-balik Jakarta – IKN, untuk bikin acara disana.
Acara apa saja yang penting IKN ramai.
Dan jika ramai niscaya foto-foto IKN akan menghiasi media sosial, jagad maya.
Kemegahan IKN akan tersebar dimana-mana, tak peduli apakah akan menjadi Kota Rimba Raya atau tidak karena tampak nyata bangunan beton tinggi menjulang dan perkerasan beton terjadi dimana-mana.
Lewat foto kita memang bisa menyaksikan IKN yang mungkin saja membanggakan untuk sebagian besar orang.
Tapi kehidupan yang nampak dalam gambar-gambar di IKN adalah kehidupan para pelancong. Kehidupan orang yang datang dengan segala persiapannya.
IKN dalam foto bukanlah sebuah habitat, sebuah ekosistem kota yang punya hubungan erat dengan kota atau habitat-habitat lain disekitarnya.
Hubungan semacam ini tak mungkin digenjot secara sesaat.
Tapi tak ada salahnya selalu ramaikan IKN dengan berbagai acara agar Presiden Joko Widodo senang dan tidak kesepian menjelang akhir masa jabatannya.
Lupakan soal Kota Rimba atau Benua Rimba Raya, sebab cita-cita itu sungguh ketinggian, terlalu mengawang-awang hingga akhirnya bakal jadi beban untuk yang meneruskannya.
Tak apalah IKN berkembang menjadi kota megah sebagaimana kota-kota biasanya. Yang penting indah dan wow kalau difoto serta banyak like dan comment jika diupload pada jagad maya.
note : sumber gambar – IKNPOS








