KESAH.ID Yang nyinyirin Prabowo itu banyak. Sebagian besar bahkan berani menunjukkan batang hidungnya. Dan yang dulu nyinyir atau sinis padanya lalu menjadi sekutunya juga tak kurang banyaknya. Menjadikan musuh, lawan atau orang yang berseberangan sebagai sekutu, justru menjadi salah satu kekuatan dari Prabowo. Jadi jangan berharap, apa yang diungkapkan oleh akun fufufafa akan menjadi duri dalam daging pada hubungan antara Prabowo dan Gibran.

Kasak-kusuk itu memang asyik. Andrew Darwis, anak Indonesia yang waktu itu kuliah di Amerika Serikat sambil bekerja kemudian memilihnya untuk menjadikan kebiasaan kasak-kusuk itu menjadi sebuah forum di internet. Dia menyingkat kasak-kusuk menjadi kaskus.

Internet yang berkembang pesat menjelang tahun 2000 di Indonesia kemudian mencatat kaskus yang dikendalikan dari Amerika Serikat itu bertumbuh menjadi forum terbesar. Kaskus mendapat tempat tersendiri dalam sejarah internet di Indonesia.

Forum yang awalnya dikembangkan untuk bertukar informasi seputar Indonesia di luar negeri ini oleh pendirinya dianggap punya potensi besar. Media komunikasi dan informasi ini kemudian dikembangkan menjadi media kreatif dan ekonomi.

Kaskus kemudian dibawa pulang ke Indonesia. Situs yang awalnya hanya dikelola sendiri kemudian tumbuh menjadi sebuah perusahaan. Setelah berjuang menawarkan kesana-kemari, pengelola Kaskus pernah mendapat suntikan dana yang besar dari grup Djarum.

Sebelum akhirnya platform sosial media dan e-commerce merajalela, Kaskus pernah terdepan dalam urusan ini.

Tahun 2000 awal, Kaskus populer layaknya sosial media. Aktivis Kaskusnya banyak, bahkan ada komunitas-komunitas yang sering melakukan kopi darat di berbagai kota. Pemakai Kaskus saling terhubung di dunia maya dan dunia nyata.

Merchandise Kaskus laku dan banyak orang bangga memakainya. Diakui sebagai Kaskuser sungguh keren.

Sampai dengan masa puncak keemasannya, pemakai Kaskus bisa mencapai lebih dari 6 juta orang sebuah angka yang sangat besar.

Dengan ekosistem yang besar itu, Kaskus kemudian berkembang menjadi ekosistem ekonomi dan kreatif. Kreator-kreator awal tumbuh dari Kaskus, pun juga perdagangan atau jual beli online.

Hanya saja kejayaan Kaskus mulai berkurang semenjak tahun 2010-an. Ada banyak platform sosial media atau pertemanan yang makin populer serta lebih mudah digunakan. Pun juga kemunculan community blog yang berbasis user generated content yang semakin banyak serta gratis pula.

Di internet juga muncul banyak situs atau blog yang berisi konten-konten viral. Saingan Kaskus semakin banyak termasuk dengan kemunculan situs-situs e-commerce. Jual beli online selain lewat situs e-commerce juga bisa dilakukan diberbagai platform sosial media atau socio commerce.

Lingkaran hidup di internet memang pendek karena perkembangan yang sangat pesat. Apa yang terkenal jika tak bisa mempertahankan posisinya akan segera tergerus oleh dinamika perkembangan yang sangat pesat.

Bisa dipastikan kini yang mengenal Kaskus adalah kaum boomers dan millennial tua. Millennial muda dan generasi sesudahnya ketika ditanya Kaskus mungkin akan menyangka kakus atau wc.

Tak apa, memang begitu realitanya. Kaskuser tak perlu galau atau meradang, toh generasi yang sama juga akan kesulitan menjawab jika diberi pertanyaan “Apa itu MPR?”

Makanya generasi ini tak ribut ketika MPR mencabut 3 TAP untuk memulihkan nama baik Sukarno, Suharto dan Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

BACA JUGA : Marc Motegi

Beberapa waktu terakhir ini Kaskus kemudian menjadi perbincangan karena sebuah akun dengan nama fufufafa.

Akun ini aktif di Kaskus mulai dari tahun 2016 hingga 2019, dan setelah itu tak aktif lagi.

Meski mirip dengan judul lagu yang dirilis oleh Ayu Shita pada tahun 2013 dalam album Morning Sugar, akun ini sama sekali tak ada hubungan dengannya.

Isinya terbilang biasa untuk jaman dan kondisi waktu itu. Masa ketika muncul dua blok politik menjelang pemilihan presiden, yang kemudian memunculkan kelompok cebong dan kampret.

Fufufafa berisi opini negatif terhadap Prabowo.

Pada masa itu serangan atau black campaign pada Prabowo adalah hal yang biasa. Yang menyatakan atau melakukan bukan hanya akun-akun anonim.

Prabowo digambarkan sebagai sosok yang berbahaya karena ambisi dan sejarah masa lalunya. Prabowo juga kerap diserang dari kehidupan pribadi, soal keluarga, anak dan istri.

Terlalu mudah untuk mencari jejak digital yang menyimpan serangan dari orang-orang tertentu yang kini orangnya masih duduk di elit pemerintahan terhadap Prabowo. Pun juga orang yang dulu menyerang dan kini merapat lalu menjadi bagian dari pembelanya yang paling depan.

Tapi akun fufufafa kemudian trending karena dikaitkan dengan Gibran Rakabuming Raka yang pada pemilu 2024 berpasangan dengan Prabowo maju dalam kontestasi pemilu presiden dan menang.

Gibran sendiri telah membantah kalau akun fufufafa adalah miliknya.

Namun namanya netizen Indonesia tentu tak mudah percaya. Dengan kemampuan mengulik-ulik layaknya seorang intelijen, ada banyak bukti yang bisa memperkuat dugaan bahwa akun itu memang dioperasikan oleh Gibran.

Percaya atau tidak percaya terbongkarnya kasus ini kemudian menimbulkan dugaan hubungan antara Prabowo dan Gibran menjadi anyep.

Entah benar atau tidak doal dugaan itu, sebenarnya dalam dunia politik apa yang disoal oleh akun fufufafa tentang Prabowo sekali lagi hanyalah soal yang biasa saja. Biasa untuk ukuran perbincangan politik yang random di internet.

Merasa terikat dengan salah satu calon, seseorang kemudian bisa dengan mudah menyerang calon lainnya yang menjadi lawan. Segala hal buruk dicari dan kemudian diudar ke publik, tak peduli kalau itu hanyalah desas-desus. Atau bahkan hal-hal yang tak relevan dengan substansi kontestasi.

Serangan dalam nuansa politik memang kerap menggunakan logical fallacy secara sengaja. Akibatnya banyak informasi yang sebenarnya tidak layak dan tidak tepat yang justru diutamakan. Yang begini ini memang disukai khalayak.

Jurus di internet memang bukan soal benar atau salah. Perbincangan seru jika yang diumpankan ke publik adalah hal-hal yang disukai oleh pengaksesnya. Ukuran di internet adalah trending. Yang digemari oleh banyak orang artinya benar.

Yang mesti diingat dalam politik itu tak ada teman sejati dan tak ada musuh abadi.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh. Jokowi dan Prabowo adalah buktinya. Bersaing keras dalam dua pemilu, Jokowi dan Prabowo akhirnya bersatu. Bahkan akhirnya, Prabowo berhasil memenangkan pemilu presiden yang berkali-kali diikuti namun berakhir dengan kekalahan. Prabowo baru bisa menang karena angin Jokowi.

BACA JUGA : Honoris Causa

Kemenangan Prabowo dengan banyak catatan di masa lalunya sepertinya sudah diterima oleh kebanyakan orang. Tapi dengan Gibran sebagai wakil presidennya nampak masih banyak yang tidak rela.

Mungkin ada yang beranggapan kalau Prabowo sudah sepuh sehingga berpotensi untuk tidak genap memegang mandat sebagai presiden selama 5 tahun. Jika itu terjadi maka Gibran akan menjadi Presiden.

Bayangan Gibran bakal menjadi presiden menggantikan Prabowo yang berhalangan tetap ini sungguh menakutkan untuk banyak orang.

Celah untuk mengganti Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden terpilih jelas sulit untuk ditemukan.

Membuat hubungan antara Prabowo dan Gibran menjadi renggang kemudian menjadi sebuah pilihan.

Dan akun fufufafa kemudian menjadi amunisinya.

Dibongkar oleh berbagai pihak, mulai dari media sampai dengan aktivis IT bukti yang berhasil dikumpulkan memang menyakinkan. Bahkan karena merasa cukup bukti sampai ada yang yakin dan berani menyimpulkan jika akun itu memang punya Gibran.

Tidak ada reaksi dari Prabowo. Yang ada hanya duga-duga atau kabar burung kalau orang-orang di sekitarnya terbelah. Jika benar itu milik Gibran, sebagian memaafkan namun sebagian lainnya murka.

Yang justru repot justru istana. Dan lewat Menkominfo dikeluarkan bantahan, walau tak meyakinkan.

Gerak cepat untuk meredam isu fufufafa justru dilakukan oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya Pasukan Bawah Tanah. Kelompok ini melaporkan Roy Suryo dengan tuduhan menyebarkan berita bohong tentang akun fufufafa.

Kelompok ini membuat laporan ke kepolisian karena ingin melindungi Gibran dari kegaduhan menjelang transisi pemerintahan. Menurut mereka Gibran harus dilindungi karena merupakan ‘lambang negara’.

Pasukan Bawah Tanah yang oleh Roy Suryo kemudian disebut Pasukan Bau Tanah ini mungkin kelewat berlebihan. Saking bersemangatnya sampai membuat tafsir sendiri soal kedudukan wakil presiden. Mengatakan Gibran yang akan duduk sebagai wakil presiden sebagai lambang negara malah bisa berakhir dengan dipidanakan.

Tapi begitulah modus yang kerap dipilih untuk mengalihkan isu atau perhatian. Hingga kemudian akun fufufafa tak lagi dibicarakan.

Padahal kalau dipikir-pikir, Prabowo sudah terbiasa dengan hal-hal seperti yang diungkapkan oleh akun fufufafa. Banyak sosok lainnya yang mengungkapkan secara terang-terangan tanpa memakai nama samaran. Dan hubungannya dengan Prabowo baik-baik saja atau bahkan baik sekali.

Jadi kalau setelah desas-desus akun fufufafa banyak yang menduga hubungan Prabowo dengan Gibran menjadi kurang mesra mungkin terlalu berlebihan. Prabowo dan Gibran terlihat seperti kurang beraktifitas bersama karena punya jadwal masing-masing.

Dan kelak mereka memang punya kantor sendiri-sendiri.

Presiden dan wakil presiden yang selalu bersama-sama kemana-mana justru berbahaya. Berbahaya dari sisi keamanan dan keselamatan.

note : sumber gambar – RADARSOLO