KESAH.ID – Kaca pada dasarnya adalah material yang ringkih, walau keras namun tetap mudah pecah. Populer sebagai bahan perkakas dapur, makan dan minum namun tetap menyimpan potensi untuk pecah sendiri sebab bagaimanapun kaca bungkan penghantar panas yang baik dan rawan pada perubahan suhu yang ekstrim. Makanya gelas, piring, mangkuk atau perkakas lain dari kaca sering pecah sendiri. Kejadian ini biasa namun tetap saja kerap menimbulkan pertanyaan yang kemudian dicarikan jawaban dengan cepat dalam bentuk keyakinan bahwa pecahnya merupakan pertanda atau firasat.
Menjelang tengah malam, di sebuah warung kopi yang menghadap kuburan tiba-tiba terdengar ledakan kecil yang mengagetkan. Ternyata satu buah gelas kosong pecah berkeping-keping. Pecahan kaca dalam berbagai ukuran terhambur.
Sontak saja kejadian ini mengoda pikiran untuk menghambur firasat, tafsir yang berbau tahayul.
Kejadian gelas atau material dari kaca yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari pecah sendiri sebenarnya hal yang biasa. Kaca memang material yang rapuh atau gampang pecah.
Tapi hal yang biasa kerap menjadi sebuah fenomena karena kita sering tidak punya jawaban untuk menerangkannya. Kenapa bisa pecah sendiri?
Tentu saja para ahli kaca bisa menerangkannya. Tapi distribusi pengetahuan semacam itu tidak merata. Banyak hal yang bisa diterangkan dengan gamblang tetap gelap untuk kebanyakan orang.
Dengan watak manusia yang ingin segera mendapat jawaban atas sesuatu maka cara mudah untuk memberi jawab atas segala sesuatu yang dianggap aneh, tidak wajar atau tak biasa adalah dengan membacanya sebagai pertanda atau firasat.
Kemudian berkembang banyak mitos berkaitan dengan gelas, piring, mangkuk atau barang dari kaca lainnya yang pecah sendiri, jatuh berkeping-keping tanpa disenggol atau bahkan saat lepas dari pegangan.
Mitosnya beragam. Ada yang menghubungkan pecah atau meledaknya gelas dengan hal baik, namun ada juga yang menghubungkan dengan hal buruk.
Firasat atau pertanda baik dihubungkan dengan rejeki atau keberuntungan. Gelas yang pecah atau meledak ditafsir sebagai pecahnya kesialan dan kemudian diganti dengan keberuntungan. Maka siapapun yang sedang berada di tempat, rumah atau keluarga dimana gelas itu pecah akan mendapat rejeki dalam waktu dekat.
Sedangkan firasat buruk dihubungkan dengan kesialan, kehilangan, pertengkaran atau bahkan kematian.
Saya cenderung setuju pada firasat atau pertanda buruk ini.
Gelas yang meledak atau pecah sendiri memang tanda kesialan. Ya sial namanya, ketika baru pesan atau membuat minuman kemudian gelasnya pecah. Sial karena kita kehilangan racikan minuman yang sudah kita bayangkan nikmatnya.
Yang punya gelas juga akan kehilangan, karena gelasnya terhambur berkeping-keping. Lebih sial lagi jika kemudian kepingan kacanya menusuk kaki atau tangan saat membersihkan.
Gelas yang pecah juga bisa memicu pertengkaran. Walau pecah sendiri bisa jadi ada yang menuduh orang lain memecahkannya. Gelas pecah sendiri juga bisa memancing pertengkaran karena masing-masing punya pendapat berbeda tentang kenapa bisa pecah. Sekurangnya pertengkaran pikiran atau pendapat.
Soal pertanda kematian, meski tak berhubungan secara langsung bisa jadi memang ada kebetulan. Pas gelas pecah kemudian ada yang meninggal.
Dan di warung kopi kuburan, kebetulan itu memang sangat memungkinkan karena warungnya berada tak jauh dari kamar jenasah sebuah rumah sakit. Jadi bisa saja setelah gelas pecah kemudian terdengar sirine ambulan yang datang atau pergi untuk mengantar atau menjemput jenasah.
BACA JUGA : Pupu Papa
Selama ribuan tahun manusia bergulat dengan fenomena, kejadian-kejadian yang tidak terang apa penyebabnya, kenapa terjadi dan lainnya.
Tapi manusia selalu ingin sebuah jawaban yang tepat.
Dan yang disebut ilmu pengetahuan atau sains, sesuatu yang menerangkan apa adanya muncul dalam rentang waktu yang belum lama.
Sehingga sejarah manusia sebagian besar dilewati dengan jawaban-jawaban yang pada dasarnya berasal dari keyakinan.
Pada dasarnya manusia tidak butuh jawaban yang benar, jawaban yang terpenting adalah memuaskan keinginan tahuannya.
Maka lahirlah mitos-mitos. Jawaban yang diyakini sebagai sebuah kebenaran. Sedangkan jawaban panjang lebarnya biasa akan diterangkan lewat sebuah teori konspirasi.
Ilmu pengetahuan memang sudah maju. Hampir semua hal sudah bisa dibongkar hingga ketemu algoritma atau cara kerjanya. Tapi keterangan tentang segala hal ini tidak selalu mudah untuk dimengerti.
Faktanya cara kerja otak manusia tidak mudah berubah, evolusinya berjalan pelan. Apa yang tertanam secara turun temurun tidak gampang dihapuskan dari memori.
Makanya tahayul, mitos, kepercayaan pada hal gaib atau ajaib terus bertahan di bangsa manapun. Orang Eropa yang dianggap cerdas dan rasional sekalipun percaya pada hal-hal semacam itu. Jepang yang dianggap sebagai salah satu negara maju, masyarakatnya juga tetap percaya tahayul.
Apalagi Indonesia yang rata-rata manusianya lebih menekankan pada rasa.
Penekanan pada rasa membuktikan bahwa kita lebih memilih untuk menggunakan otak emosional daripada otak rasional.
Tapi tak perlu berkecil hati, turunan homo sapiens dimanapun memang lebih menggunakan otak emosinal daripada otak rasional untuk menghemat energi. Terus menerus berpikir dengan otak rasional menjadikan hidup tidak asyik, terlalu serius dan menguras energi yang bisa membuat orang cenderung tak panjang umur.
Menurut para ahli neurosains, cara kerja otak emosional mirip sistem otomatis dalam sebuah mesin. Contohnya bila gatal maka tangan langsung menggaruk untuk menghilangkan rasa gatal. Bayangkan jika seseorang gatal lalu yang pertama dilakukan adalah mencari penyebab rasa gatal, lalu menimbang berbagai alternatif untuk mengatasinya, reaksi atas gatal menjadi tidak spontan. Hidup dengan mengandalkan otak rasional juga akan terasa melelahkan.
Kalau nggak percaya coba saja sendiri. Misalnya ketika terjaga dari tidur, jangan langsung bangun tapi pikirkan lebih dahulu mau bangun atau tidak. Ketika memutuskan untuk bangun, pikirkan kaki mana yang akan lebih dahulu turun dari tempat tidur, kaki kanan, kiri atau turun bersama-sama.
Setelah berdiri, pikirkan lagi kaki mana yang pertama akan diayun. Mulai melangkah dari kaki kiri atau kaki kanan lebih dahulu.
Begitu mulai melangkah, pikirkan kemana langkah kaki akan menuju. Ke kamar mandi, dapur atau membuka pintu depan dan seterusnya.
Melelahkan bukan?.
BACA JUGA : Ibukota Foto
Lebih memakai otak emosional telah terbukti membuat anak cucu homo sapiens menjadi gembira dan senang. Karena segala sesuatunya sudah ada dalam memori dan diterima begitu saja. Sejarah dan evoluasi mengajarkan dengan modal keyakinan hidup akan berjalan lebih baik.
Sebab keyakinan lebih cepat menghadirkan kepastian dan keteraturan.
Karena terbiasa maka otak kemudian lebih giat memupuk keyakinan dan malas mengulik sesuatu untuk disimpulkan atau dibuktikan sebagai benar atau salah.
Keputusan otak lebih pada soal yakin tidak yakin, percaya tak percaya.
Dan otak lebih sering bekerja untuk memperkuat kepercayaan, mencari bukti untuk membenarkan keyakinan baik keyakinan personal maupun komunal.
Makanya cara berpikir kritis selalu menjadi tantangan. Tidak banyak yang menekuninya, karena selalu mempertanyakan keyakinan atau kepercayaan bukan hanya melelahkan tapi juga membuat orang akan kesepian, bahkan dimusuhi oleh banyak orang.
Dan sialnya mempertanyakan keyakinan atau berpikir kritis bahkan bisa menghantar orang masuk penjara dengan tuduhan penghinaan atau penistaan.
Dalam masyarakat kita, mereka yang mengarusutamakan cara berpikir kritis kerap disebut sebagai aktivis. Beberapa orang sangat terkenal tapi juga banyak musuhnya karena sering dianggap menyebabkan kegaduhan. Tak sedikit dari antaranya yang kemudian ‘dilenyapkan’, Munir salah satunya. Atau Wiji Tukul yang sampai sekarang tak ketahuan rimbanya.
Tapi yang lebih banyak lagi adalah aktivis yang kemudian tak tahan lagi berpikir kritis lalu menyeberang dan kemudian bersekutu dengan pihak yang tadinya dikritisi. Berpindah bandul ini bisa membuatnya lebih senang, hidup dan masa depannya lebih terjamin.
Memang hidup menjadi lebih mudah jika kita tak mempertanyakan atau mengkritisi pemimpin, tokoh, kebijakan dan lain sebagainya.
Yakin saja kalau yang namanya pemimpin pasti punya niat baik, memulyakan dan mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya.
Percaya saja kalau yang namanya pembangunan pasti ditujukan untuk kemajuan bersama. Bahwa pembangunan kerap menimbulkan ekses itu hanyalah konsekwensi logis. Tak ada kemajuan yang tidak disertai dengan pengorbanan.
Dengan percaya begitu saja maka kehidupan memang lebih cenderung stabil dan tidak banyak gejolak.
Pemimpin apapun menyukai hal semacam ini. Keberhasilan pemimpin adalah bila yang dipimpin senang dan tenang.
Makanya pemimpin akan selalu meradang jika ada yang berpikir kritis, selalu mempertanyakan setiap keputusan atau kebijakan pemimpin.
Kritisisme atau dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai kritik menjadi sesuatu yang tak populer. Kritik dianggap sebagai kegaduhan. Dan kemudian banyak yang suka rela menjadikan dirinya sebagai noice cancellation, pereda kegaduhan.
Itulah yang terjadi dengan kehidupan bersama kita karena kita cenderung tak mau mendayagunakan otak untuk hal-hal yang rumit.
Jadi mempercayai gelas yang pecah sendiri sebagai firasat atau pertanda memang jauh lebih gampang dan menyenangkan.
Dan benar, gelas pecah dengan suara ledakan kecil di Warung Kopi Kuburan semalam memang pertanda sial untuk saya. Rupanya ada serpihan kecil yang nyemplung ke gelas kopi saya yang masih tersisa setengah.
Dan ketika hendak pulang, isinya saya tenggak habis dan kemudian menyisakan rasa tak nyaman di tenggorokan.
Rasa tak nyaman itu mengganggu hingga kemudian sampai menjelang subuh saya masih tetap sulit memejamkan mata.
Soal kenapa gelas meledak atau pecah sendiri, saya memang mendapatkan berbagai penjelasan dari berbagai keterangan di internet. Namun penjelasan itu tetap tak bisa segera membuat tenggorakan saya merasa nyaman. Serpihan kecil kaca mungkin masih menempel di tenggorokan atau meninggalkan luka kecil. Untung kesialan itu hilang ketika saya kemudian tertidur dan terbangun ketika matahari sudah meninggi.
note : sumber gambar – TRIBUNNEWS








