KESAH.IDMasyarakat tradisional cenderung mempunyai pandangan dunia dan seisinya sebagai sesamanya atau antropomorfis. Bumi kemudian sering dianggap sebagai seorang ibu yang melahirkan segala. Dengan pandangan seperti ini maka bumi, tanah dan air akan diperlakukan secara terhormat. 

Ojo gumunan atau jangan mudah takjub tidak dimaksudkan untuk melarang kita kagum pada sesuatu. Falsafah orang Jawa ini mau mengingatkan agar kekaguman atau ketakjuban terhadap sesuatu tidak mengungkung dalam hal tertentu hanya karena terpesona.

Sebab pesona, sesuatu yang memunculkan kekaguman atau ketakjuban ada di mana-mana. Kagum atau takjub berlebihan dengan mudah akan menghantar pada sikap dan perilaku negatif, mengganggu hubungan dengan yang lainnya.

Pada masa-masa awal tinggal di Samarinda yang bukan merupakan kota rantau pertama saya, muncul banyak kekaguman. Tentu saja saya takjub pada Sungai Mahakam. “Sungai kok besarnya kayak laut,” guman saya dalam hati.

Kekaguman itu menyimpan pertanyaaan “Sebesar apa mata airnya?”

Kelak saya tahu kalau sumber air Sungai Mahakam bukan hanya mata air di hulunya dan anak-anak sungainya, melainkan ada lumbung air di bagian tengahnya.

Bisa dikatakan sumber air Mahakam adalah air permukaan, air hujan yang tertampung di rawa-rawa dan kenohan. Rawa yang maha luas dan kenohan yang juga luas serta banyak jumlahnya.

Dataran yang dibanjiri oleh air hujan ini menjadi tempat parkir air sementara yang akan mengalir memasuki Sungai Mahakam kala permukaan airnya mulai surut. Jutaan kubik air yang terparkir itu membuat Sungai Mahakam menjadi sungai permanen, selalu ada airnya sepanjang tahun.

Banyak orang menyangka, rawa dan danau-danau sebagai ruang resapan air, padahal tidak. Rawa dan danau adalah bank air, ruang atau wilayah tangkapan air. Airnya tidak meresap ke dalam tanah melainkan tertampung. Akan berkurang saat air itu masuk ke badan air lainnya, seperti sungai atau menguap karena diterpa panas mentari.

Bayangkan jika Mahakam bagian tengah tidak punya ruang parkir air hujan yang maha luas itu, barangkali genangan permanen sepanjang mata memandang itu bakal menenggelamkan Kota Samarinda di bagian perlembahan.

Kekaguman lain datang ketika musim rambutan. Untuk pertama kalinya saya diperkenalkan pada buah rambutan yang merah dan jumbo ukurannya. Memori saya menyimpan segala macam buah yang besar-besar sebagai Bangkok.

Ternyata rambutan besar itu tidak disebut sebagai Rambutan Bangkok, tapi Rambutan Garuda.

Rambutan itu katanya berasal dari Kalimantan Selatan.

Setelah berkali-kali mengalami musim rambutan, ada yang terasa hilang. Saya tak lagi menemukan Rambutan Garuda.

Dan saya bertanya kepada seorang teman yang pengetahuannya soal alam Kalimantan sungguh mumpuni.

Dia hanya menjawab singkat “Sudah jadi rambutan emprit,”

Yang ‘Bangkok’ di tempat lain, kemudian menjadi “emprit’ atau ‘kate’ ketika ditanam di tempat lainnya bukan hanya rambutan, tapi juga jambu, durian, ubi, ketela, pepaya dan lain-lain.

BACA JUGA : Presiden Kecap 

Bumi, tanah dan semua yang melingkupi kerap disebut sebagai ibu, ibu bumi, mother earth atau mother nature.

Personifikasi alam ini memang tepat, karena sebagaimana seorang ibu yang melahirkan anak-anak berbeda walau berasal dari kandungan, sel telur yang dibuahi oleh sperma dari sumber yang sama.

Pun demikian dengan tanah, dari masing-masing wilayah akan lahir dan tumbuh pepohonan serta tanaman yang mempunyai karakter berbeda.

Pohon dan tanaman yang kemudian akan berbeda ketika ditanam atau ditumbuhkan di tempat lainnya.

Jadi jangan kecewa jika membeli tanaman dengan bunga nan mempesona karena warna, bentuk dan posturnya dari daerah Bandungan, Jawa Tengah, lalu pesona itu musnah ketika dibawa dan dipelihara di Samarinda, Kalimantan Timur.

Pun juga dengan padi yang ditanam di sawah, sama-sama jenisnya namun punya hasil panen yang jauh berbeda ketika di tanam di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan ketimbang yang ditanam di Kalimantan Timur.

Montong akan tetap jadi montong, musang king akan tetap jadi musang king jika kualitas atau lingkungan yang sama dari tempat dilahirkannya ikut ditiru secara persis.

Jika tidak maka montong akan jadi menteng, musang king jadi musang kong.

Makanya jangan mudah gumunan terlebih jika yang menceritakan hebat dan hibitnya tanaman itu adalah pedagang, pedagang bibit.

Ingatlah ibu bumi.

Rambutan yang lahir dari ibu bumi Kalimantan Selatan, tentu akan berbeda jika kemudian dipelihara oleh ibu bumi Kalimantan Timur. Walau sama-sama Kalimantan, tanah, air, angin, kelembaban, nutrisi dan lainnya akan berbeda.

Terimalah ibu bumi kita masing-masing, tak perlu iri dengan durian di Thailand, Malaysia dan lainnya. Banggalah pada durian kita sendiri.

Kita bisa belajar dari kopi, yang karena tumbuh di ibu bumi masing-masing hasilnya justru kopi-kopi hebat di seluruh penjuru negeri.

Sama-sama arabika, tapi masing-masing berbeda. Ada Gayo, Sidikalang, Lintong, Toraja, Wamena, Kintamani, Bajawa, Ijen, Pasundan dan lain-lain.

Masing-masing membawa note tersendiri, yang tumbuh di ibu bumi Toraja membawa rasa rempah, yang tumbuh di ibu bumi Pasundan membawa rasa buah.

Ragam kopi itu justru menguntungkan, sehingga walau bukan merupakan negeri tempat kelahiran kopi, ragam rasa dan aroma kopi Nusantara menyemerbakkan nama Indonesia di dunia.

Bahkan di negeri Nusantara kemudian lahir kopi yang berbeda, Kopi Luwak karena perjumpaan tanaman dengan binatang liar yang tak ditemui di negeri tempat kopi berasal.

Ekosistem setempat, iklim makro, iklim mikro, lingkungan sosial dan kultural ternyata bisa melahirkan komoditas dengan kebaruan. Dan secara ekonomi kemudian melahirkan nilai tambah. Kalau begitu kenapa mesti meniru plek ketiplek.

BACA JUGA : Predasi Penyakit 

Dalam konteks budidaya komoditas kita memang kerap tergoda meniru yang sedang jadi trend. Padahal komoditas umurnya terbatas.

Kebiasaan meniru sendiri menjadi paradoks, terutama ketika negeri ini mengelorakan yang disebut ekonomi hijau, ekonomi berkelanjutan dan ekonomi kreatif.

Nafas dari semua paradigma ekonomi ini ada pada nilai lokalitas, keberlanjutan, keunikan dan pembaharuan terus menerus.

Di tengah keragaman sumber bahan pangan, pemerintah orde baru hingga orde kekinian masih selalu menyimpan obsesi untuk surplus beras. Cita-cita yang sulit terwujud karena lahan yang cocok dan produktif untuk menanam padi dari tahun ke tahun berkurang.

Alih-alih sukses mencapai swasembada beras, yang terjadi justru dari tahun ke tahun konsumsi gandum atau tepung terigu makin meningkat.

Bukan hanya sumber pangan pokok yang gagal terdiversifikasi, tapi juga bahan pangan pendukung lainnya seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Mentalitas kurang percaya diri pada tumbuhan sayur-sayur dan buah-buahan spesies lokal juga amat kentara. Yang lokal-lokal ditanam apa adanya, tidak dipelihara dan cenderung diperlakukan seperti tanaman liar, minus perlakuan untuk meningkatkan produktifitas dan menjaga kualitas.

Padahal budidaya komoditas yang unggul selalu dimulai dari penamanan dan pemeliharaan, pemanenan dan perlakuan paska panen. Jika dari hulu hingga hilir diberlakukan standard operational procedure yang benar, hasil panenannya juga akan unggul.

Nampaknya dalam soal konsumsi, makan minum dan lainnya kita belum terbebas dari mentalitas bangsa terjajah sehingga lebih suka mengkonsumsi dan memuji-muji yang datang dari luar. Maka tak heran jika gerai, kios dan resto makanan dari luar negeri terus berkembang pesat. Lidah dan perut kita lebih welcome pada makanan Eropa, Amerika, China, Jepang, Korea, Thailand serta Malaysia dan Singapura.

Kita terus memadahkan pujian pada Ibu Pertiwi tapi tak menjaga dan bangga pada Ibu Bumi Nusantara.