KESAH.IDSemua ingin menjadi nomor satu, namun sering kali keinginan itu menjadi sekadar janji. Tak ada pemimpin yang tidak mengobral janji, janji untuk mengabdi dan melupakan diri sendiri termasuk keluarganya. Tapi begitu berkuasa, janji itu mengabdi terlupakan. Yang didahulukan adalah kepentingan kelompok termasuk keluarganya sendiri. 

Tebak-tebakan pertama yang memukau saya pada awal tinggal di Samarinda adalah “Kenapa orang Samarinda kalau makan jarang nambah?”

Sebagai warga migran yang pindah dari Manado, saya melihat fakta itu. Orang Samarinda bukan masyarakat pemakan. Lain halnya dengan orang Manado yang selalu semangat kalau makan, kalau belum basuar atau mandi keringat belum dianggap makan.

Makan memang menjadi satu hal yang penting di Manado dan Minahasa pada umumnya. Sampai ada gurauan diantara orang tua tentang anak-anaknya. “Biar jo bodok di sekolah maar nyanda bodok makang,”

Cap tikus pun dihubungkan dengan ritual makan. Menenggak satu sloki cap tikus sebelum makan disebut sebagai membuka gargantang, membuka tenggorokan sehingga terangsang makan banyak.

Konon yang bisa mengalahkan urusan nasi atau makan di Manado adalah bergaya. Hingga ada ungkapan “Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi,”. Alhasil hingga oma-oma dan opa-opa orang Kawanua penampilannya tetap hebring.

Kembali ke tebak-tebakan Samarinda yang tak bisa saya jawab, ternyata jawabannya “Takut bayarnya,”

Makan, terutama makan di luar memang termasuk mahal di Kota Samarinda.

Cerita tentang nambah-nambah lalu kantong jebol bisa ditemukan pada kesah-kesah tentang kalkulator rusak di Warung Jinggo. The third place bagi warga Samarinda ini sebelum muncul arus angkringan di beberapa titik memang terkenal suka mematok harga selangit.

Sebenarnya wajar saja karena hampir semua bahan kebutuhan pokoknya didatangkan dari luar. Urusan pangan yang surplus di Kota Samarinda mungkin hanya singkong dan daging ayam, selebihnya tergantung pada pasokan dari daerah lain di luar pulau Kalimantan.

Tapi stigma bahwa Samarinda itu serba mahal tidaklah selalu benar.

Dengan semakin berkembangnya Kota Samarinda sebagai Kota Pendidikan, harga makanan dan minumanpun perlahan semakin ramah untuk warga kos-kosan.

Di kawasan yang dekat dengan tempat pendidikan terutama pendidikan tinggi dan permukiman yang banyak dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi bermunculan warung atau kios-kios yang harganya ramah kantong.

Beberapa diantaranya menjadi legend karena dikenal murah meriah.

Sebenarnya trend makan minum ramah kantong di Kota Samarinda bukan melulu karena kehadiran kaum pelajar pendidikan tinggi, sebelumnya trend ini juga dipicu oleh kehadiran pekerja migran saat Kota Samarinda booming industri kayu olahan atau kayu lapis.

Jejaknya mungkin berelasi dengan makanan untuk sarapan pagi yang harganya murah meriah tapi sudah cukup mengenyangkan.

Dan salah satu jenis sarapan pagi yang masuk kategori murah dan cukup sampai sekarang ialah Mihun.

Sebungkus Mihun yang gurih mengenyangkan bisa ditukar dengan uang senilai lima ribu rupiah. Sepuluh ribu sudah ditemani dengan teh manis hangat dan kerupuk.

Dan di Kota Samarinda ada puluhan penjual Mihun legendaris, sesuai dengan memori masing-masing warganya.

BACA JUGA : Makan Singkong 

Pengemar Mihun tahu betul agar mantap surantap saat bersantap, Mihun mesti ditemani sambal dan kecap asin.

Bagi orang Samarinda kecap asin terbaik, kecap kebanggaan adalah kecap bahari yang mempunyai merek Bawang Tunggal. Konon meski dianggap sebagai kecap kebanggaan, tak banyak yang tahu dimana persisnya pabrik atau tempat pembuatan kecap ini.

Yang doyan kecap, baik asin maupun manis tentu saja bukan hanya orang Samarinda, masyarakat  se Nusantara juga punya kegemaran yang sama.

Maka jangan heran soal kecap ini ada banyak silang pendapat terutama untuk menentukan kecap mana yang terbaik.

Sama seperti halnya soto {coto, sroto, tauto}, semua produsen kecap akan mengklaim kecapnya sebagai nomor satu se Indonesia.

Gara-gara perang iklan kecap ini maka muncul istilah ngecap.

Seseorang disebut ngecap karena kelakuan dianggap mirip orang jualan kecap, selalu merasa omongannya paling benar, janjinya paling tinggi.

Kenapa orang suka ngecap?

Pada dasarnya manusia memang suka omon-omon, termasuk omon koson.

Kemampuan ini sangat khas manusia karena kemampuan lebihnya dalam berbahasa dibanding makhluk lainnya yang juga punya kesadaran atau otak.

Dengan kemampuan bahasanya, manusia bisa mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Yang disebut halusinasi, imajinasi, khayalan dan lainnya bisa dinarasikan sebagai kebenaran, dipercaya lalu diyakini.

Salah satu obsesi terbesar dari mahkluk yang berbahasa adalah narasi atau apa yang dikatakan olehnya dipercayai oleh yang lain.

Orang akan gembira kalau omongannya dipercaya oleh orang lain. Bahkan kegembiraan terbesarnya adalah ketika omongan yang tidak sebenarnya diyakini sebagai benar oleh orang lain.

Makanya sensasi senang antara gembira dan bahagia itu berbeda. Yang disebut gembira selalu merupakan hasil dari mengalahkan orang lain, sementara bahagia muncul dari menghargai, menolong atau peduli terhadap orang lain.

Kok paradoks ya?.

Tak usah bingung, sebab hidup dan kehidupan memang merupakan rangkaian hal-hal yang paradoksal.

Semua kehidupan yang berbasis sel atau mahkluk seluler memang paradoks. Namun karena paradoks-paradoks itu mahkluk seluler mampu menciptakan keteraturan, keteraturan yang berhasil melawan kecenderungan ketidakteraturan alam atau entropi.

Hidup atau kehidupan kemudian menjadi sebuah sistem yang melawan entropi.

Dan sistem itu dibangun oleh sel yang dalam dirinya sendiri meski butuh yang lainnya selalu membawa sifat bersaing. Sel bisa saling memakan untuk mempertahankan hidupnya, bahkan bisa memakan dirinya sendiri.

BACA JUGA : Otak Feodal

Kecap sendiri adalah paradoks. Sebagai salah satu bahan penyedap atau pelengkap makanan, kecap sangat digemari. Tapi dihubungkan dengan perilaku, kecap dipakai sebagai atribusi bagi orang-orang yang doyan atau pandai omon-omon atau bahkan omon koson.

Ngomong doang sendiri juga merupakan paradoks, pada satu sisi perilaku atau watak itu dianggap tidak ideal, namun ternyata banyak melakukan atau bahkan hal itu merupakan salah satu keahlian dasar dari manusia.

Dalam dunia marketing dan branding kemampuan omon-omon amatlah penting. Jagoan atau Tukang kecap yang akan berhasil. Sebab dalam urusan marketing yang paling penting bukan apa yang dijual melainkan siapa atau bagaimana menjualnya.

Pun demikian dengan branding, yang dikedepankan adalah nilai atau identitas. Nilai dan identitas tentu saja ciptaan. Dan narasi menjadi salah satu unsur yang paling menentukan untuk mewujudkan hal itu.

Dalam kerangka yang lebih besar, urusan yang menyangkut atau menentukan semua orang yakni politik, perang Tukang Kecap juga sangat besar.

Dalam arena kontestasi politik, Tukang Kecap berada dalam semua level.

Politikpun diwarnai dengan banyak narasi yang tidak sebenarnya.

Dalam seri debat calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi dalam pemilu 2024 ada salah satu calon yang menjuluki calon lainnya sebagai Tukang Kecap.

Padahal dalam kampanye semua calon menjadi Tukang Kecap. Semua bersaing menarasikan visi, misi dan programnya dengan berbuih-buih.

Belajar dari para presiden yang terpilih dalam pemilu, apa yang dengan semangat dinarasikan sebelum terpilih tidak semuanya akan diwujudkan ketika memimpin. Buktinya ada calon presiden yang getol jadi Tukang Kecap negeri maritim. Setelah memimpin ternyata yang dikampanyekan sebagai keberhasilan justru jalan tol.

Lurus-lurus mata kail, itu istilah paradoksal yang kerap disampaikan oleh guru spiritual saya dulu. Artinya kita sering memberi label, tuduhan atau atribut pada orang lain sebagai ini dan itu. Namun apa yang kita tagging-kan pada orang lain itu sesungguhnya mengena juga untuk diri kita.

Jadi dari pemilu ke pemilu, presiden yang berhasil memenangkan kontestasi tetaplah Tukang Kecap.

Nasehat terutama dari Ahli Sejarah adalah belajarlah dari masa lalu. Tetapi kita selalu malas belajar, sehingga selalu berhasil diperdaya oleh pesona janji-janji yang tak berbeda dengan apa yang selalu dijanjikan di masa lalu.