Sebagian wakil rakyat yang terpilih memang sudah kaya. Karena sebelum menjadi wakil rakyat mereka telah lama menjadi pengusaha. Mobil, barang dan gaya hidup mewah sudah biasa untuk mereka.

Namun jumlah mereka yang kaya sebelumnya tidaklah banyak, sebagian yang lain bertambah mobil dan rumah serta barang mewah lainnya setelah duduk sebagai wakil rakyat.

Memiliki barang mewah asal diperoleh dengan sah tentu tidak masalah. Tak ada satupun peraturan undang-undang dan etika kelembagaan yang melarang hal itu.

Pertanyaannya apakah etis jika semua kemewahan itu ditunjukkan di gedung wakil rakyat sehingga parkiran tempat wakil rakyat bekerja mirip dengan showroom mobil mewah,misalnya.

Secara universal orang-orang yang mampu pasti akan berusaha memenuhi kebutuhan atau kesenangan fisik. Ingin tampil mentereng mulai dari tunggangan sampai pakaian dan aksesories yang dipakainya. Kaum hedonis menyebut itu sebagai kebaikan alamiah. 

Jadi tidak ada satupun manusia yang secara sadar memilih penderitaan atau kesakitan yang disebut sebagai keburukan alamiah.

Aristippus dari Cyrene yang mengungkapkan hal ini dan mengajarkannya sehingga lahir Mazhab hedonisme, atau memenuhi kesenangan fisik senagaimana dianut oleh kaum Cyrenaic.

Nah bayangkan jika sebagian besar wakil rakyat adalah orang-orang yang mengejar kepuasan fisik sebagai satu-satunya kebaikan alimiah, sebagai tujuan utama hidupnya maka pantaslah mereka disebut sebagai wakil rakyat?. Bisa dipercaya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat?.

Entahlah namun yang pasti mereka terpilih dan tak ada orang bisa duduk sebagai wakil rakyat jika tidak ada cukup suara yang memilihnya.

Maka pertanyaannya adalah karena apa rakyat memilih?. Apakah karena percaya atau karena hal lain?. 

Atau bagi para pemilihnya adalah wajar jika wakil rakyat hidup mewah atau berlebih. Sebab kalau wakil rakyatnya lecek atau tidak tampil perlente maka memalukan juga bagi yang diwakilinya.

Sekali lagi sulit untuk mengukur kadar etis seorang wakil rakyat yang menampilkan gaya hidup mewah. Apalagi jika kemewahan itu memang diperoleh atau dibeli dari uang sendiri bukan karena korupsi atau memanfaatkan jabatan sehingga mendapat hadiah atau pemberian.

Hanya saja secara etis tugas wakil rakyat adalah memuaskan rakyat atau konstituen yang diwakilinya. Maka mestinya wakil rakyat bukan suka pamer kuantitas pencapaian lewat kekayaan dan gaya hidup mewah, melainkan kualitas kinerja atas dasar hak-hak yang dimilikinya.

Jika wakil rakyat hanya gemar memamerkan kekayaan dan miskin inisiatif dalam membela rakyat maka sesungguhnya wakil rakyat itu sedang mewakili diri sendiri bukan mewakili rakyatnya.

Wakil seperti ini tidak akan mau naik pangkat, seperti seorang wakil bupati yang kemudian mencalonkan diri jadi bupati, wakil gubernur yang kemudian ingin naik pangkat jadi gubernur pun juga wakil presiden yang ingin naik jadi presiden. 

Semua wakil ingin naik pangkat kecuali wakil rakyat. Wakil rakyat tetap ingin menjadi wakil rakyat. Kalaupun kemudian naik pangkat jadi rakyat itu terjadi karena terpaksa sebab mereka tak terpilih lagi.