Sewaktu tinggal di Manado dulu sekitar dua kali saya berada di dekat kehebohan bercorak religius.

Yang pertama di sebuah rumah dekat tempat saya sering bertandang tiba-tiba dipenuhi banyak orang. Mereka bilang ada wajah Yesus muncul di dinding.

Dan yang kedua kehebohan serupa juga terjadi di sebuah dinding gereja tua pada kampung tempat saya tinggal.

Saya tak datang melihat sosok yang mirip-mirip wajah Yesus di dinding itu. Ketika beberapa orang mengajak pergi kesana saya hanya berseloroh. “Mirip saya nggak?” 

Saya mengatakan itu sambil berpose menempel pada dinding. Saat itu rambut saya memang panjang. 

Ada yang tertawa mendengar seloroh saya. Namun ada pula yang menunjukkan wajah kurang senang. Tapi mungkin mereka maklum sebab saya adalah burung tahun, yang datang ke gereja sesekali dalam setahun. Saya hanya ke gereja kalau ada perayaan hari-hari besar.

Saya tak berniat untuk melecehkan atau menghina. Tapi saya hanya tak percaya kalau Tuhan akan muncul di dinding. Apa yang dilihat orang itu hanya kemiripan yang kemudian ditafsir sebagai wajah Yesus.

Mungkin kejadian ini serupa tapi tak sama dengan pengalaman sewaktu kecil. Setiap bulan puasa, saya ikut-ikutan dengan teman sepermainan ‘ngabuburit’ ke mbulak. Tempat dimana tersaji hamparan sawah yang luas dan terbelah oleh jalan di tengahnya. Pandangan ke arah langit di ufuk barat amat luas.

Di mbulak itu kami menunggu bunyi ‘dung’ pertanda saat buka puasa tiba. Dung itu semacam kembang api besar yang dinyalakan di pelataran Masjid Jami’ Purworejo. Ketika meledak diatas akan meninggalkan asap dan kami cepat-cepatan menebak asap itu membentuk sosok apa.

Dan hampir tak pernah kami sepakat soal sosok yang terbentuk dari asap itu. Namun juga sulit berdebat karena tak lama asap itu akan pudar.

Kebiasaan melihat tanda air di dinding, bayang-bayang, awan, pantulan cahaya di satu bidang dan hal-hal lain yang kemudian dianggap menampilkan sosok atau tanda tanda tertentu disebut sebagai Pareidolia.

Fenomena ini kerap terjadi disekitar kita. Sebagian membuat heboh, sebagian ada yang mendatangkan untung dan sebagian lain membuat kita geleng-geleng kepala karena sungguh konyol.

Yang heboh biasanya berhubungan dengan perasaan religius, seperti penampakan wajah di awan, dinding dan lainnya. Yang menguntungkan adalah tanda-tanda tertentu pada benda misalnya batu akik, motif di bulu binatang yang bisa membuat harganya naik.

Lalu apa yang bikin geleng-geleng kepala karena sungguh konyol?.  Sebenarnya mungkin ini bukan soal pareidola murni melainkan sudah tercampur paranoid dan akal yang pendek. 

Ada banyak orang atau kelompok orang mengungkapkan keberatan pada hal hal tertentu. Seperti pada logo, model atau motif bangunan, ornamen dan lain-lain. Oleh mereka apa yang nampak itu ditafsir sebagai mengandung tanda atau penampakan dari lambang yang terkait dengan kelompok tertentu, kelompok yang bukan mereka, bertentangan dengan mereka dan lain sebagainya.

Dan banyak hal kemudian diprotes meski kebanyakan apa yang disampaikan sungguh tak masuk diakal. Alasannya dicari-cari. 

Walau mudah untuk dibantah namun selalu tak ada penjelasan yang memuaskan untuk mereka yang keberatan. Sebab apapun penjelasan rasional tidak akan cukup sebab basis keberatan mereka memang tidak rasional.

Pada akhirnya ini bukan soal benar atau salah melainkan sebuah kenyataan bahwa kita mesti siap selalu menghadapi hal-hal seperti itu. Kekonyolan yang muncul dari keyakinan yang sulit untuk dipertanggungjawabkan apalagi dibuktikan.