Sebagai orang tua yang belum pernah sekalipun ikut kursus parenting, saya terus berusaha sekuat mungkin menahan diri untuk tidak bertanya apa cita-cita anak saya.

Tidaklah salah jika sebagian besar orang akan menganggap saya orang tua amatiran. Tak apalah, toh tidak ada standard operasional prosedur yang mewajibkan orang tua harus bertanya cita-cita anaknya.

Lagi pula ini jaman sudah sangat cepat berubah, tidak seperti masa saya kecil dulu yang seolah dunia amat lambat berputar. Akibatnya yang disebut dengan pekerjaan, profesi atau bidang pengabdian jadi terbatas. Maka seorang anak dengan cepat bisa menjawab jika ditanya “kalau besar nanti ingin jadi apa?”

10 tahun terakhir ini perkembangan dunia pekerjaan profesi atau bidang pengabdian sangat cepat. Dulu yang disebut host itu adalah pembawa acara di siaran radio atau televisi, tapi sekarang sebutan host lazim dinisbahkan pada mereka uang melakukan live streaming di aplikasi video chat. 

Dulu yang disebut calo, blantik atau perantara sering dipandang sebelah mata tapi kini menjadi keren mentereng karena dinamai sebagai marketplace.

Siapa yang pernah menyangka jika pendengung (buzzer) akan menjadi profesi yang ramai digeluti banyak orang?.

Dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang kebanyakan dari kita tidak tahu, tak paham dan mungkin akan terkaget-kaget melihat pendapatannya.

Dan jenis atau model pekerjaan atau profesi baru masih akan terus bertambah diluar apa yang kita duga.

Jadi bukannya tidak mungkin apa yang dicita-citakan oleh anak-anak sekarang nanti sudah hilang atau jadi pekerjaan yang uzur saat mereka besar dan tiba masanya bekerja.

Alih-alih ketimbang bertanya apa cita-citanya maka menjadi lebih baik untuk mendorong anak-anak mulai membangun peta jalan soal apa yang akan dikuasai, dipelajari dengan sungguh-sungguh dan dilatih untuk menguasai ketrampilan tertentu.

Kenapa ketrampilan?. Ya karena yang bisa diasah adalah ketrampilan. 

Yang disebut dengan ketrampilan tidak selalu penguasaan untuk bisa membuat ini dan itu. Termasuk dalam ketrampilan adalah berpikir, berkomunikasi, membangun jaringan dan lain sebagainya.

Dan yang lebih penting sebagai orang tua ingatlah kata orang tua dalam bahasa Inggris yaitu parent, bukan untuk ikut kursus parenting melainkan mempraktekkan apa yang disebut dengan parent itu.

Parent adalah resep sederhana yang disarikan dari kebiasaan orang Denmark dalam mendidik anak-anak mereka yang hasilnya membuat mereka dinobatkan sebagai negara dengan penduduk paling bahagia. 

Anak-anak di Denmark dididik agar bertumbuh dengan emosi yang terkendali, mandiri, mampu berempati pada orang lain dan bahagia.

Model itu dinamakan dengan parent yang artinya adalah :

Play – luangkan waktu sebanyak mungkin untuk bermain-main dengan anak.

Aunthenticity – terbuka, jujur dan jangan terlalu banyak basa basi.

Reframing – buka pikiran dan bersedia melihat dunia dari sudut yang berbeda.

Empathy – memahami posisi dan perasaan orang lain.

No ultimatum – jangan menegakkan disiplin atau kepatuhan anak dengan kekerasan baik verbal maupun fisik.

Togetherness – selalu hadir untuk anak-anak dan bangun kenyamanan untuk mereka.

Dan yakinlah anak-anak yang dididik dengan cara seperti ini tak perlu dan tak penting untuk ditanyakan apa dan setinggi mana cita-citanya.