KESAH.ID – Di Amerika Serikat, fast food menjadi jenis makanan yang menyelamatkan perut banyak orang karena harganya yang murah. Namun setelah menyebar ke belahan dunia lain lewat waralaba, fast food menjadi life style yang tidak murah lagi. Di negeri asalnya fast food kemudian kerap dianggap sebagai junk food karena kandungan gizinya rendah. Memang enak di mulut karena mengandung banyak lemak dan perasa namun konsumsi dalam jangka panjang menimbulkan masalah, salah satunya adalah obesitas.
Sekitar tahun 2004 terbit sebuah buku terjemahan berjudul Negeri Fast Food. Buku ini merupakan hasil investigasi mendalam yang dilakukan oleh Eric Schlosser, koresponden Atlantic Monthly selama kurang lebih dua tahun pada industri fast food.
Secara panjang lebar Eric mengurai sejarah industri fast food, perkembangannya, teknologi, pengadaan bahan utama, pengolahan, cara penyajian dan implikasi pada petani, peternak dan konsumennya.
Dengan jaringan waralabanya, industri fast food tidak hanya mempengaruhi konsumen di Amerika Serikat, ekonomi dan budayanya melainkan juga tersebar ke seluruh dunia sehingga pengaruhnya menglobal.
Dalam promosi buku terbitannya, Insist Press menuliskan buku ini bakal menjungkirbalikkan pikiran anda, membuat anda berpikir ulang untuk menyantap pizza, fried chicken, burger, hotdog dan kawan-kawannya.
Mungkin yang dipikirkan oleh Insist Press tidak terbukti, karena bisa jadi yang membaca buku ini tak banyak. Atau bisa jadi yang membeli dan membaca buku ini memang sejak semula bukan penggila fast food.
Pun sebenarnya yang disebut dengan fast food juga bukan jenis makanan yang berasal dari waralaba Amerika Serikat yang giat menyebarkan cara hidupnya lewat McWorld.
Indonesia juga sudah lama mengenal model fast food, makanan cepat saji. Hampir semua kuliner street food di Indonesia adalah makanan cepat saji. Makanan yang dijual sudah dimasak lebih dahulu sehingga konsumen tak perlu waktu lama menunggu. Apa yang diinginkan bisa disajikan dan dimakan tidak lebih dari 10 menit.
Setiap bangsa memang punya budaya fast food-nya sendiri dengan kekhasan masing-masing.
Dilihat dari sejarahnya ada benang merah kelahiran fast food di berbagai belahan dunia. Fast food lahir sebagai bentuk keadilan dan ketahanan pangan agar semua orang bisa makan.
Ciri fast food umumnya murah, praktis dan kenyang.
Di Amerika Serikat juga begitu. Kalau tak percaya tanya saja pada mereka yang pernah nge-kost di Amerika sana dan uang bulanan kiriman orang tuanya tak cukup banyak juga sering tak lancar.
Banyak cerita anak-anak Indonesia yang sekolah di Amerika Serikat dan mesti hidup ngirit. Mereka pasti merasa hidup disana salah satunya diselamatkan oleh fast food.
Gerai fast food ada di mana-mana, termasuk di kampus. Dan makanan yang paling masuk akal untuk kantong ya gerai itu karena mereka punya ‘Dollar Menu’, makanan dengan harga satu dollar. Bahkan di hari-hari tertentu ada promosi yang membuat harganya lebih murah lagi.
Di hari promosi yang punya akal akan membeli cukup banyak lalu disimpan di kulkas. Nanti dipanaskan dengan microwave ketika hendak dimakan.
Bukan hanya perut yang diselamatkan dengan fast food, tapi juga kantong karena banyak juga yang kemudian nyambi mencari uang untuk makan dengan bekerja di gerai fast food. Pekerjaannya mudah dan gajinya lumayan, lumayan untuk membeli fast food.
Hanya saja ketika fast food ala Amerika Serikat datang ke Indonesia kelasnya melambung jauh. Gerainya besar-besar dan berada di lokasi premium atau pusat-pusat perbelanjaan modern. Fast food bukan lagi makanan murah, makan di Mc Donald, Pizza Hut, Domino’s, Kentucky Fried Chicken dan lainnya bukan cari kenyang tapi cari senang. Fast food waralaba Amerika Serikat jadi bagian dari gaya hidup.
Tapi kemudian berkembang versi murahnya. Muncul sebutan ‘Kentara di Kaki’ plesetan dari Kentucky.
Selalu ada cara untuk munculnya versi murah, pun juga dengan burger, pizza, hotdog dan lainnya yang dijual di warung tenda atau gerobak. Harganya ramah di kantong, sepuluhribuan dan cukup untuk membuat kenyang.
BACA JUGA : Sujud Menggonggong
Versi fast food asli Indonesia banyak. Yang paling populer adalah Warteg atau Warung Tegal, ada juga warung nasi campur, warung pecel, nasi goreng dan lain-lain. Asal cuma untuk makan saja dan kenyang, masih banyak yang harganya berkisar 10 ribuan.
Tapi kenapa fast food yang berjasa untuk kaum yang berada dalam level ‘besok bisa makan nggak’ ini kemudian diributkan?.
Fast food yang dilabelkan sebagai makanan cepat saji ala Amerika Serikat ini diributkan karena dianggap sebagai junk food.
Junk food atau makanan sampah adalah kategori makanan yang dianggap tidak sehat untuk tubuh.
Sebutan ini berlaku untuk makanan yang kandungan gizinya rendah, variasi nutrisinya kurang lengkap karena kandungan tinggi natrium, gula, karbohidrat dan perasa makanan.
Namun makanan rendah gizi ini menyenangkan karena enak dimulut sebab kaya lemak, garam, gula dan penambah rasa sintetik lainnya.
Murah dan enak serta mudah didapat membuat junk food menjadi makanan favorit. Di Amerika Serikat kebiasaan makan junk food dituduh sebagai penyebab obesitas, banyak orang kelebihan berat badan karena doyan mengkonsumsi junk food.
Tapi sekali lagi tidak semua fast food bisa dikategorikan sebagai junk food.
Enak, murah, banyak atau mengenyangkan memang berbahaya.
Dan banyak jenis kuliner fast food Indonesia berwatak seperti itu. Porsinya gede dengan banyak karbo, disertai gorengan serta sayur yang overcook. Enak tapi kehilangan nilai gizinya.
Soal makan memang krusial. Yang disebut dengan makanan sehat teramat mahal. Di pusat perbelanjaan, bahan makanan yang dilabeli organik atau bahkan super food harganya bikin mata membelalak.
Enak dan sehat serta murah menjadi tantangan.
Ada yang bilang memasak makanan sendiri di rumah akan lebih sehat dan murah?.
Tak terlalu benar adanya, karena dalam banyak kasus memasak sendiri di rumah malah tidak ekonomis. Karena anggota keluarga makin lama makin sedikit, jadwal tidak sama, pulang untuk memasak lalu makan bersama sulit untuk dilakukan.
Akhirnya jika dipaksakan masak dirumah malah banyak yang terbuang. Yang memasak malah jadi tak sehat jiwanya karena nelangsa melihat jerih payahnya tidak diapresiasi.
Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh EAT-Lancet mencatat temuan menarik. Para peneliti menemukan ketidakadilan ekonomi merupakan salah satu faktor yang mendorong pemilihan pola makan yang buruk di berbagai negara.
Di banyak negara syarat untuk mengkonsumsi makanan yang sehat bisa menghabiskan seluruh penghasilan keluarga atau bahkan tidak cukup.
BACA JUGA : Kera Besar
Sebelum pemilu presiden 2024 lalu saya bertemu dengan seorang petani muda yang membuat saya terkagum-kagum. Tentu semua petani adalah orang-orang mulia, tapi dalam dirinya saya menemukan sesuatu yang jarang ada pada petani lainnya.
Dia punya cita-cita menyediakan bahan pangan yang sehat dari kebunnya.
Produknya memang belum banyak, tapi dia menjamin sayuran yang dihasilkan olehnya rendah residu.
Cara bertaninya memang tidak muluk-muluk bahkan cenderung minimalis. Prinsipnya lahan tidak boleh terlalu diolah dan dijaga sesedikit mungkin asupan bahan non organik untuk menyuburkan tanahnya.
Tanah mesti dijaga kesuburannya dengan bahan-bahan organik yang ada dikesekitarannya.
Menurutnya itu kunci untuk menyediakan bahan pangan yang terbaik dan sehat dengan harga terjangkau. Dia menyebutnya sebagai model pertanian integratif, pertanian sirkular yang memadukan antara bertani dan berternak.
Mungkin ini kunci dari yang disebut hilirisasi pangan. Sayangnya Menteri Pertanian belum tertarik mendalami ini padahal bisa jadi bahan disertasi untuk memperoleh gelar doktor.
Sejak hilir bahan makanan memang mesti sehat, jika kita ingin masyarakat punya pola makan yang sehat.
Sehat juga harus adil artinya affordable, tersedia dan bisa diakses dengan kemampuan ekonomi kebanyakan masyarakat.
Jika tidak lupakan soal pangan yang sehat dan berhenti bicara atau menasehati “fast food itu tidak sehat”.
Karena faktanya dalam urusan makan, ketahanan perut kebanyakan masyarakat masih memakai parameter keterjangkauan harga.
Lihat saja menu apa yang paling laku di kedai-kedai makan sekarang?. Menu paketan.
Harganya mirip dengan ‘dollar menu’ yang dulu menjadi andalan gerai fast food di Amerika sana.
Serba 10 – 15 san ribu yang paling laku.
Inilah versi ketahanan pangan yang paling sesungguhnya dari kebanyakan masyarakat Indonesia.
Sayang Presiden dan pembantunya punya program lain untuk urusan ketahanan pangan. Mereka lebih suka mengurusi pembukaan lahan untuk ditanami tanaman pangan. Padahal yang tanah ulayatnya diserobot untuk keberhasilan ketahanan pangan perutnya masih keroncongan.
Sialnya disana tidak ada nasi ayam paketan dengan sambil yang pedasnya menggigit yang bisa ditebus dengan harga yang lebih murah dari sebungkus rokok.
note : sumber gambar – MEDIAINDONESIA



![TAHUN KONKRE[A]T](https://kesah.id/wp-content/uploads/2026/01/Konten-Kreator-218x150.jpg)




