KESAH.IDDugaan kekerasan yang kemudian dihadapi dengan kekerasan berujung pada lingkaran kekerasan. Kisah seorang bapak yang kemudian mengajak kawan-kawan melakukan persekusi pada seorang anak yang mengejek anaknya berakhir dengan serbuan oleh netizen. Sang bapak dikuliti oleh netizen, hingga kemudian berakhir dengan penangkapan oleh polisi. Perilaku yang berlebihan dalam membela kehormatan anaknya justru menyingkap boroknya sendiri. Harga diri yang mau dibela ternyata tidak setinggi saat mempersekusi anak orang.

Masa-masa guru digugu dan ditiru nampaknya sudah lewat.

Supriyani, guru SDN 04 Baito, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara merana berbulan-bulan karena dituduh memukul muridnya dengan sapu ijuk.

Orang tuanya keberatan walau membuka jalan untuk berdamai. Terjadi pertemuan berkali-kali namun tak ada penyelesaian. Supriyani tulus meminta maaf tapi tak mau diminta mengakui kalau dirinya memukul muridnya dengan sapu. Dia merasa tak melakukan hal itu.

Kasusnya sampai ke polisi. Supriyani kemudian ditetapkan sebagai tersangka kekerasan kepada anak. Begitu ditetapkan sebagai tersangka, Kejaksaan bergerak cepat menahannya.

Mestinya kasus ini tak rumit, namun kemudian berbunga-bunga karena ada permintaan uang haram. Penegak hukum yang menangani meminta uang agar kasusnya tidak diteruskan. Andai saja Suryani punya uang dan menyanggupinya mungkin saja tak ada berita berkepanjangan tentang kasus ini.

Singkat cerita kasusnya menjadi viral.

Dalam persidangan kemudian Jaksa Penuntut meminta kepada hakim untuk membebaskan Supriyani. Menurut Jaksa Penuntut, Supriyani tidak bisa dihukum walau melakukan pemukulan pada muridnya karena tak punya niat jahat.

Supriyani tentu senang dibebaskan dari segala tuntutan hukum, namun tetap belum plong karena dianggap melakukan kekerasan pada anak didiknya.

Dulu, sekurangnya ketika saya sekolah jarang sekali guru disoal jika memarahi murid-muridnya. Bahkan ketika mengasarinya dengan cubitan, jeweran, pukulan dengan penggaris. Murid yang nakal bahkan kerap di-setrap dengan berbagai hukuman.

Bapak ibunya bahkan kerap secara ekplisit memberi ijin pada guru untuk menghukum. Saat bertemu guru, orang tua sering mengatakan “Kalau anak saya nakal, dimarahi saja,”.

Anak-anakpun kalau dimarahi atau dihukum oleh guru di sekolah tak akan lapor pada orang tuanya. Sebab kalau lapor malah semakin ditambah hukumannya oleh orang tua.

Marah, kekerasan dianggap bagian dari pendidikan, cara untuk mendisiplinkan anak murid.

Orang tua juga percaya, guru tak akan melakukan hal yang berlebihan.

Tapi namanya juga anak-anak, tetap saja ada yang random. Bukannya kapok kalau dimarahi, tapi malah senang.

Sekali lagi itu cerita dulu, dulu sekali dan sekarang sudah beda lagi.

Karenanya banyak guru kemudian takut, takut memperingatkan anak didiknya ketika mereka melakukan hal-hal yang dianggap tidak pantas di sekolah. Guru takut anak muridnya mengadu kepada orang tua, lalu ke penegak hukum.

Guru menjadi serba salah, sebab tugasnya disekolah bukan hanya mengajarkan pengetahuan melainkan juga menumbuh suburkan iman, takwa, moral, sopan santun  dan ahklak.

Mengajar mungkin gampang tapi mendidik jelas susah.

Tugas guru memang berat, terutama guru-guru di tingkat pendidikan dasar. Mereka diserahi tanggungjawab untuk membangun pondasi pembangunan sumberdaya manusia namun pondasi kehidupan mereka sendiri teramat lemah.

Mereka mesti memperkuat anak didiknya tapi kaki mereka sendiri goyah.

Pantas memang mereka disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa karena kerja dan tenaganya sering kali tak dihargai dengan pendapatan yang sepadan.

BACA JUGA : El Campeon

Ketika kasus guru Supriyani mulai menemukan titik terang, kegelapan kembali muncul. Kali ini datang dari Surabaya.

Ada orang tua murid dari sekolah lain melabrak seorang murid dari sekolah lainnya. Datangnya tak sendirian tetapi disertai oleh beberapa orang lain yang badannya kekar dan bermuka sangar.

Kasusnya bermula dari ejek-ejekkan pada pertandingan olahraga antar sekolah. Salah seorang murid dari tim yang kalah diejek oleh murid dari tim yang menang. Dia diejek dengan kalimat yang dianggap melecehkan. Entah kalimat persisnya apa, namun ditangkap sebagai disamakan atau dimiripkan dengan anjing pudel.

Poodle sendiri dikenal sebagai anjing yang bentuk tubuhnya cantik dan unik, lucu serta imut.

Sebagai anjing piaraan, poodle merupakan anjing favorit karena sifatnya yang ceria, setia dan mudah beradaptasi. Poodle juga merupakan jenis anjing yang punya kecerdasan tinggi sehingga mudah untuk dilatih.

Tapi anjing tetaplah anjing. Yang suka dan pelihara anjing sekalipun tetap meradang kalau diteriaki “Anjing kamu,”

Hanya saja dalam konteks tertentu misalnya ejek-ejekkan, sebenarnya biasa saja satu orang mengejek yang lainnya dengan menyebutkan seisi kebun binatang. Ejekan itu biasanya hanya disambut dengan senyum atau ketawa kecil walau sebenarnya hati dongkol.

Dalam lingkungan peer group atau teman sebaya, ejekan memakai nama binatang dan pasukan mahkluk halus memang biasa saja. Di kebudayaan manapun selalu ada. Tapi ketika keluar dari peer group memang kerap bermasalah.

Group atau person yang merasa kelasnya lebih tinggi memang akan meradang jika di-anjing-anjing-kan.

Nampaknya ini yang terjadi di Surabaya. Sang anak yang mengadu ke orang tua membuat bapaknya meradang. Dia meradang karena harga dirinya sebagai orang tua tergores, merasa keluarganya tak dihargai.

Dari tampak luar yang melabrak memang kelihatan lebih kaya, lebih punya jaringan pengaman dan mungkin merasa lebih berperan atau telah berbuat untuk negeri.

Semua kelebihan itu membuatnya merasa berhak mendatangi sekolah lain dan kemudian melabrak untuk main hakim sendiri.

Orang sebenarnya akan mahfum saja dengan ketidaksenangan atau kemarahan orang tua pada orang lain yang berlaku kurang benar pada anaknya. Tapi tetap ada batasannya. Artinya kalau kita keberatan orang berlaku kurang sopan, ya jangan membalas dengan perilaku yang lebih kurang sopan lagi. Itu namanya dendam.

Dan yang ditunjukkan memang dendam kesumat. Yang dianggap merendahkan kemudian direndahkan serendah-rendahnya.

Yang datang melabrak itu kemudian meminta anak yang mengejek anaknya itu bukan hanya meminta maaf dengan kata-kata tetapi ditunjukkan dengan cara bersujud. Setelah itu dihukum dengan diminta untuk menggonggong.

Yang melabrak tak membalas mengata-ngatai anjing, tetapi meminta anak yang mengejek berlaku seperti anjing. Menganjingkan dirinya sendiri.

BACA JUGA : Legal Ilegal

Konsep filsafat keseimbangan ala Tiongkok membagi dunia dalam dua bagian yakni Yin dan Yang. Dua kekuatan berbeda ini saling melengkapi, seolah saling berlawanan namun tak sungguh-sungguh berlawanan. Lebih tepatnya mungkin berbeda.

Filsafat Timur termasuk falsafah nusantara memang menekankan soal keseimbangan atau harmoni. Ada ini dan itu tak dinafikan karena memang ada. Nilai, keutamaan, moralitas, kebijakan, konsensus dan lainnya dibuat serta disepakati untuk memastikan harmonisasi.

Yang disebut dengan seimbang adalah tidak terlalu ke kanan atau ke kiri. Rhoma Irama bilang yang sedang-sedang saja. Batas dari keseimbangan adalah berlebihan.

Orang pasti senang kalau dipuji dan sebaliknya pasti jengkel kalau dihina. Tapi senangnya tak boleh sampai bikin diri berguling-guling, dan jengkelnya juga tak boleh sampai bikin diri mengamuk membabi buta.

Maka kecewa terhadap guru yang diduga memukul anaknya tidaklah salah. Pun juga jengkel pada anak lain yang menghina anak kesayangan juga merupakan hal yang wajar.

Tapi menjadikan kesalahan atau kelalaian itu sebagai jalan untuk membuat orang kapok se kapok-kapoknya jelas berlebihan. Persoalan jika ditanggapi berlebihan bahkan akan melebar-lebar dan mungkin saja memakan korban yang tidak semestinya.

Gara-gara perilaku berlebihan dalam menghadapi persoalan Supriyani, banyak orang diperiksa, dimutasi bahkan mungkin nanti akan dipecat. Kabarnya sekolah dan guru lain juga takut menerima anak yang mengadu kepada orang tuanya kalau dipukul oleh gurunya.

Pun juga dengan peristiwa olok-olok anjing pudel. Ketidaksenangan yang kemudian dilampiaskan dengan mempersekusi murid sekolah lain yang mengejek anaknya berbuntut panjang. Yang meminta bocah untuk bersujud dan menggonggong kemudian dikuliti oleh netizen. Dibongkar-bongkar semua jejak digital yang sebenarnya sudah melewati batas privasi.

Polah bapak yang mau membela anak mati-matian kemudian malah menggali lubang yang dalam. Mungkin awalnya hati puas karena bisa mempermalukan anak yang mempermalukan anaknya. Tapi kesenangan itu menjadi awal malapetaka.

Maaf yang dinyatakan dengan tanda tangan di kertas bermaterai pun sia-sia. Netizen yang terlanjur jengkel tak bisa dihentikan. Masih lumayan ada yang akan mendatangi untuk mengajak duel, ajakan seperti itu bisa saja ditolak.

Tapi sebagian besar netizen tak ingin adu fisik, mereka bekerja keras untuk menelisik apapun yang bisa membuat seseorang ditangkap polisi lalu diadili dan dipenjarakan.

Dan nampaknya netizen berhasil. Sang bapak yang menyuruh anak sekolah bersujud dan menggonggong itu ditangkap polisi saat hendak terbang dari Surabaya entah Jakarta. Konon rekening tabungannya dan banyak rekening lain yang berkaitan dengan usahanya juga diblokir.

Sayang anak boleh-boleh saja tapi jangan kelewatan. Biarlah anak-anak juga belajar menyelesaikan sendiri persoalannya, masalah dengan teman-teman sebayanya.

Ada banyak contoh ikut campur yang terlalu dalam justru kerap membongkar hal-hal kelam yang disembunyikan.

Ajarkan kepada anak-anak realita dunia yang tak selalu menyenangkan agar mereka belajar tegar.

note : sumber gambar – TRIBUNNEWS