KESAH.IDDunia semakin riuh, banyak orang kemudian rindu keheningan. Namun ternyata di wilayah-wilayah yang mestinya hening para pencari keheningan ternyata tak tahan pada kesunyian. Berkemah di puncak gunung, jauh dari keramaian justru membawa keriuhan baru, bukan hanya petikan gitar melainkan sound portable yang suaranya mengelegar menimbulkan kegemparan.

‘Swift Quake’ adalah julukan untuk guncangan yang setara dengan gempa bermagnitudo 2,3 di Seatle Amerika Serikat akibat gemuruh sound system dan pengemar dalam konser Taylor Swift, Juli 2023.

Getaran serupa juga pernah terjadi tatkala pengemar klub American Fotball Seatle Seahawk bersorak karena touchdown yang dilakukan oleh Marshawn Lynch pada tahun 2011.  Gempa ini mendapat julukan ‘Beast Quake’.

Dua kejadian ini nampaknya bisa memberi tambahan penyebab dan jenis gempa yang bukan lagi tektonik atau vulkanik.

Di Jawa Timur ‘gempa’ serupa ‘Swift Quake’ dan ‘Beast Quake’ sebenarnya sudah biasa hanya tak ada ahli seismologi yang iseng mencatatnya. Keriuhan yang disertai dengan getaran yang menyenangkan itu dijuluki dengan nama Sound Horeg.

Muncul sejak tahun 2019, battle sound ala sound horeq ini kemudian makin populer di tahun 2023. Dan kemudian menyebar bukan hanya di Jawa Timur saja melainkan telah menular ke Jawa Tengah.

Buktinya menjelang perayaan lebaran 2024 ini, ada sekelompok pemuda dan kepala desa yang ditangkap polisi karena merusak leoning jembatan demi masuknya armada pengangkut sound horeq untuk meramaikan malam takbiran.

Konon karnaval sound gede ini memang terinspirasi oleh pawai takbiran. Tatkala malam takbiran mulai diisi dengan pawai keliling kendaraan. Racikan sound dengan salon-salon besar kemudian menjelma menjadi battle sound ala Jawa Timuran.

Sound Horeg kemudian mewarnai berbagai macam acara, mulai dari hajatan, bersih desa, agustusan hingga acara-acara privat lainnya. Di alun-alun, acara Sound Horeg menjadi mirip rave party karena ada Dj, Dancer dan kerlap-kerlip lampu warna-warni.

Yang hadir biarpun nggak ingin bergoyang pasti ikut bergetar. Jangankah kaki dan badan, dinding dan jendela kaca rumah di sekitarnya saja juga ikut gemetar.

Di Sulawesi Utara sampai dengan awal tahun 2000-an sebenarnya ada fenomena serupa. Sebutannya disko tanah. Pada hajatan terutama kawinan akan ada keramaian di malam sampai dini hari dengan iringan sound ala-ala diskotik.

Tapi disko tanah ini kemudian mulai hilang pamor ketika acara perkawinan mulai diadakan di ballroom hotel atau gedung pertemuan lainnya.

Yang masih bertahan barangkali ‘oto disko’, mobil angkutan umum atau mikrolet yang dilengkapi dengan sound system yang mengelegar hingga menguncang jendela rumah di samping kanan kiri jalan yang dilewatinya.

Di tengah makin maraknya kecanduan narkoba hingga sampai didirikan badan tersendiri untuk memberantasnya, ternyata diam-diam kita maklum dengan kecanduan desibel yang makin lama makin meralela.

Dan parahnya, kecanduan akan suara keras, kebisingan atau keributan sudah makin destruktif. Buktinya ada kepala desa yang mengijinkan warganya membongkar besi pengaman agar truk pengangkut sound yang overload bisa lewat untuk menyingkirkan dahaga masyarakat yang rindu kebisingan di malam lebaran.

BACA JUGA : Pompa Surya

Entah hormon apa yang terpicu tatkal akita berada dalam ekosistem keramaian, tapi yang jelas banyak orang merasa senang.

Padahal saking kerasnya suara musik gedebag-gedebug itu tak jelas benar di telinga, apalagi omongan orang di sekitarnya.

Tapi jangan bully mereka yang menjadi jamaah sound horeg ini, sebab kecintaan pada kegaduhan dan kebisingan, suara yang serba keras ada di mana-mana. Hampir semua fasilitas publik bahkan rumah ibadah semua dilengkapi ‘pengeras suara’.

Semua berlomba mencari perhatian dengan kerasnya suara. Semua pemberitahuan disampaikan dengan suara keras atau pengeras suara.

Bandara, stasiun, terminal seolah sepi tanpa penumpang jika semua pemberitahuan tidak disampaikan lewat pengeras suara. Padahal ada banyak layar yang bisa dilihat oleh pengunjung untuk menerima pemberitahuan dan informasi lainnya.

Saking sukanya kita pada suara, perempatan jalanpun banyak yang dilengkapi dengan pengeras suara. Kalau tak ada pemberitahuan yang diputar adalah lagu-lagu nasional atau kebangsaan. Mungkin yang merancang sound systemnya berpikir nasionalisme bisa ditumbuhkan dari jalan raya.

Hotel-hotel dari jaman dulu selalu dilengkapi dengan sound system di seluruh ruangannya. Tapi yang diputar adalah suara musik yang syahdu. Suara yang menghantar orang pada ketenangan karena hotel adalah tempat untuk beristirahat.

Demikian juga dengan café-café dan resto-resto, suara musik hanya menjadi suara latar agar mereka yang datang bisa bercengkrama satu sama lain tanpa terganggu.

Namun kini café atau resto yang ramai malah yang punya suara keras. Dilengkapi dengan sound yang bisa dipakai berkaraoke. Seolah sebuah tempat nongkrong tidak sah tanpa kebisingan yang dihasilkan oleh sound system yang mumpuni.

Di keramaian pada ruang publik kebisingan juga hadir lewat pengamen yang makin hari soundnya juga makin gede. Urusan ngamen bukan lagi suara merdu tapi keras hingga membuat semua yang mendengarnya seolah diberi tahu untuk segera menyiapkan uang saweran.

Gara-gara suara sound system yang meraja dimana-mana, suara wakil rakyat yang mestinya harus makin keras justru melempem. Bertugas mengawasi tugas pemerintah untuk melayani masyarakat, para wakil rakyat justru asyik membangun koalisi untuk ikut sama-sama memerintah.

Asyik bermesra ria dengan yang harus diawasi, wakil rakyat kita sampai lupa untuk berpikir mencegah kecanduan desibel yang makin akut dan destruktif dengan pelarangan kebisingan ini.

Pada UU tentang lingkungan dan lalu lintas mungkin sudah ada aturan soal kebisingan. Tapi itu lebih mengatur soal suara mesin atau peralatan dan knalpot. Atau untuk penyelenggaraan keramaian memang mesti mengajukan ijin pada polisi. Tapi dalam ijin itu yang diatur adalah jam, jaminan keamanan dan lainnya bukan suara sound system.

Yakin bahwa banyak orang terganggu dengan kebisingan dan kegaduhan ini tapi mereka hanya bisa mengerutu dalam batin saja.

Speak up atau bersuara ke publik bisa-bisa bakal menjadi pesakitan, musuh masyarakat yang sudah kecanduan desibel.

BACA JUGA : Suka Makan

Lepas dari aturan atau pengaturan soal desibel ini, kesukaan pada yang ramai kelewatan ini mestinya menjadi refleksi bersama. Jangan-jangan masyarakat kita yang berada di dunia nan makin hingar bingar ini tengah menderita kesepian.

Bisa jadi di masyarakat kita tengah berkembang pandemi yang tidak kelihatan, pandemi kesepian.

Ini adalah sebuah bentuk kegagalan dari masyarakat kita yang religius ini. Masyarakat yang religius mestinya bisa mengkonversi kesepian menjadi keheningan agar makin jernih melihat dunia dan semakin intens berkomunikasi dengan Sang Maha Kuasa.

Sayangnya bahkan dalam ruang religius kita juga suka beracara keagamaan dengan keriuhan. Membuat acara dengan kerumunan besar dan sound system yang juga besar, mirip konser dengan sound horeq.

Pesan-pesan keimanan memang mengelegar, sampai ke telinga mereka yang bahkan tak hadir didalamnya. Pertanyaannya, bisakah iman dibangun dengan kebisingan?. Pesan yang tidak meresap dalam keheningan hati dan pikiran?.

Jangan-jangan kegembiraan pulang dari acara keagamaan tak jauh beda dengan kegembiraan setelah jogad-joged di acara batlle sound horeg.

Sebagai mahkluk sosial yang perlu berada dan mengada bersama orang lain, kemajuan teknolog informasi dan komunikasi serta transportasi mestinya mampu menghindarkan kita dari kesepian.

Kini kita tak perlu lagi bertatap muka untuk bergaul akrab, bercerita satu sama lain. Dengan gadget di tangan, sendiri harusnya bukan berarti sepi.

Berada dalam jejaring digital yang membuat kita terhubung satu sama lain secara teks, visual dan virtual ternyata justru membuat kesepian makin merajalela. Hingga kita butuh kegaduhan, kebisingan dan keramaian untuk menyembunyikannya.

Kita punya teknologi yang memungkinkan kita dekat dengan yang lainnya meski berjauhan. Namun teknologi ternyata tak menumbuhkan ikatan sosial.

Dan agar merasa terikat kemudian kita menciptakan keramaian agar orang berada bersama. Tapi sebenarnya sama saja, mereka yang berada dalam ruang keramaian itu sebenarnya tidak terikat oleh ikatan sosial yang dalam.

Gembira karena meng’ada’ dalam kebisingan dan keramaian ala-ala battle sound sebenarnya merupakan kegembiraan semu. Masalahnya kita tidak waspada, bahkan kemudian kecanduan karena tawa dan senyum lebar yang kita bagikan lewat foto dan video di Facebook, Instangram dan Tik Tok kita anggap sebagai bahagia sejati.

Kita bahagia karena banyaknya suka dan komentar di postingan media sosial kita.

Dan itu makin membenamkan kita dalam kesepian nan dalam karena kita makin jauh dari keheningan.