KESAH.IDAda bias industri dalam memandang kecantikan. Dominasi barat membuat yang disebut cantik adalah putih mulus. Ada banyak layanan industri kecantikan yang bertujuan menghilangkan bulu dari bagian-bagian tubuh tertentu. Yang tetap mempertahankan bulu akan distigma dengan sangkaan negatif yang berhubungan dengan kinerja seksual yang tinggi.

Jujurly saya pernah merasa tidak nyaman dengan warna kulit saya yang cenderung gelap, sawo kematangan. Dan akan semakin gelap jika kepanasan, lantaran itu saya kemudian menjadi kurang suka berlama-lama di pantai.

Ditambah dengan tubuh yang kerempeng dan rambut keriting makin genap lagi keminderan saya. Pas benar dengan umpatan bernada gurauan “Kurus, kecil, hitam, keriting, hidup lagi,”

Diam-diam kemudian saya menyimpan keinginan untuk membuat kulit lebih terang dan rambut lebih lurus.

Untung jaman itu belum musim whitening dan skincare. Palingan saya hanya bisa nyuri-nyuri handbody milik ibu saya, mereknya Viva.

Efeknya nggak bukan memutihkan, hanya menghilangkan busik dan membuat tampilan kulit menjadi basah berkilat mirip kulit diolesi dengan minyak kelapa.

Sementara untuk urusan rambut biar tidak kelihatan ngruwel-ngruwel, maka saya cenderung memanjangkan agar kelihatan berombak.

Tapi kesukaan memanjangkan rambut membuat saya beberapa kali diusir pulang dari sekolah untuk cukur.

“Lho, Yus to …. Pangling, kok agak putih,”

Itu satu-satunya ucapan yang membuat saya lega, disampaikan oleh Mbah Kaji tetangga rumah yang awalnya bertanya-tanya ini siapa, kok seperti nggak dikenalnya.

Ya, waktu itu saya berdiri di halaman samping rumah tanpa pakai baju, jadi penampilan agak terang karena kulit badan yang terus tertutup pakaian memang agak-agak putih.

Lepas dari itu semua saya kira membanding-bandingkan anak-anak sejak kecil berdasarkan warna kulit memang sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Putih dianggap lebih bersih dan keren.

Bias warna kulit ini memang berbahaya, karena yang lebih terang atau lebih putih kerap dianggap lebih layak segala. Lebih mudah untuk memupuk kepercayaan diri.

Seiring dengan bertambahnya populasi dan berkembangnya transportasi serta komunikasi ternyata bias mandarah daging terhadap kulit terang tidak memudar, bahkan makin menggila.

Stigma buruk terhadap kulit gelap kemudian menjadi pondasi bagi industri kecantikan untuk mengelembungkan pundi-pundi kekayaan. Jutaan orang kemudian mengorbankan uang bahkan kesehatan demi memperoleh kulit yang lebih terang.

Dari kota hingga desa bisa ditemukan orang-orang yang justru celaka karena punya obsesi berlebihan akan kulit yang lebih terang.

Karena ingin memutihkan kulit dengan cepat banyak yang kemudian memakai pemutih yang mengandung merkuri. Bahan berbahaya yang bisa memicu kanker dan menyebabkan kerusakan kulit seperti memerah, radang bahkan menghitam.

Sayangnya meski bias warna kulit ini sudah menimbulkan korban, belum memunculkan gerakan yang benar-benar serius untuk melawan stigma terhadap yang menganggap kulit gelap sebagai ‘buruk’ dan kulit terang sebagai ‘cantik’.

BACA JUGA : Suka Makan

“Kaki kok kayak kaki meja,”

Lagi-lagi komentar tak enak meluncur dari mulut teman ketika saya beranjak remaja. Kaki saya kurang bulunya.

Ah, repot bener hidup ini. Setelah kulit dipermasalahkan sekarang bulu.

Tubuh manusia memang ditumbuhi bulu, kalau di kepala disebut rambut, diatas mata alis, antara mulut dan hidung kumis serta yang tumbuh di janggut disebut jenggot, kalau melebar di pipi hingg samping kuping disebut berewok.

Di luar itu disebut bulu, bulu kaki, bulu tangan, bulu ketek, bulu mata dan bulu kelamin alias jembut.

Seperti halnya kulit, perlakuan setiap kebudayaan terhadap bulu berbeda-beda.

Namun pada umumnya sama ketika terhadap bulu wanita. Hampir setiap kebudayaan menganggap wanita tidak boleh banyak bulunya.

Saya ingat persis bagaimana saya dan teman-teman sering berbisik-bisik ketika melihat perempuan yang tangan dan kakinya banyak ditumbuhi bulu. “Seks tinggi,” ujar kami lalu cekikikan.

Di media sosial beberapa waktu lalu muncul trend foto kaki dan ketiak perempuan yang terang mulus. Soal ketiak bukan lagi urusan bau tetapi juga putih dan tanpa bulu.

Cewek-cewek yang berfoto tanpa berani memperlihatkan ketiaknya bakal di komentari “Paling ketiaknya hitam,”

Seperti halnya kulit yang harus terang, nampaknya ada standar umum yang tumbuh untuk wanita agar bulu dihilangkan. Bukan hanya yang kelihatan melainkan bulu-bulu yang juga tersembunyi di balik pakaian.

Di banyak kebudayaan praktek penghilangan bulu atau hair removal ini punya sejarah panjang. Peradaban-peradaban besar kuno mempunyai kebiasaan ini mulai dari Mesir, Yunani, Mesopotamia hingga Romawi.

Kebiasaan ini menurun terus hingga masa modern dan berkembang menjadi norma terutama di negara-negara barat dan Amerika Serikat. Perempuan dianggap menarik selain berkulit terang juga tubuhnya tidak ditumbuhi bulu terutama di bagian kaki dan ketiak. Dan sekarang termasuk di kelamin.

Mungkin ini merupakan bagian yang mesti direfleksikan oleh para pejuang kesetaraan dan keadailan gender, betapa ternyata wanita dianggap baik dan menjadi sangat perempuan jika lepas dari tanda-tanda maskulinitas yakni bulu tubuh.

Wanita dengan bulu tubuh secara umum akan dipandang agresif dan aktif, termasuk dalam urusan seksual.

Sungguh sebuah pandangan atau asumsi yang sangat membagongkan.

BACA JUGA : Epidemi Kesepian

Warna kulit yang berbeda-beda dan banyak tidaknya bulu dalam tubuh adalah hal yang biasa, normal-normal saja selama tidak ada penyimpangan.

Munculnya bulu di beberapa bagian tubuh juga merupakan pertanda kematangan. Manusia begitu memasuki masa pubertas akan muncul bulu di berbagai bagian tubuh.

Bulu menandakan kematangan tubuh, matang secara seksual. Dan banyak sedikitnya tidak ada hubungan dengan besar kecilnya hasrat seksual.

Seperti juga kulit, terang gelap akan tergantung pada genetika dan juga lingkungan serta cuaca. Tidak ada hubungan dengan cantik atau jelek.

Tapi dunia selalu dibentuk oleh narasi, walau narasi-narasi itu bukanlah hal yang sebenarnya namun kemudian diterima dan dianggap benar.

Sains atau pengetahuan ilmiah telah mematahkan semua asumsi, stigma atau persepsi yang salah terhadap warna kulit dan bulu tubuh. Namun pengetahuan tidak serta merta merubah perilaku.

Sebab peradaban kita lebih lama berada dalam kungkungan pengetahuan yang berbasis pada kekuasaan atau otoritas. Apa yang disampaikan oleh kepala suku, pemuka agama, dukun atau orang pintar, politisi, aristokrat, bangsawan atau orang kaya yang lebih dipercaya.

Dan kini industri yang berkuasa, kuasa ekonomi.

Padahal basis dari produk dari industri adalah sains. Namun karena keperluan pasar dan marketing maka industri justru mempromosikan gaya dan norma hidup yang berlawanan, narasi-narasi publikasi produk industri terutama industri gaya hidup lebih mengarah pada narasi yang tidak sebenarnya. Yang diaduk-aduk adalah keinginan, obsesi atas apa yang dianggap lebih baik dari dirinya saat ini.

Industri terutama industri gaya hidup mestinya lebih bicara soal sehat tidak sehat, bukan cantik tidak cantik. Bahwa kulit perlu dirawat, pun juga rambut dijaga dan dipelihara memang benar. Tapi kulit putih, kaki mulus dan ketiak serta itu yang mulus tidak ada urusan dengan sehat atau tidak sehat.

Obsesi pada kulit putih dan tubuh mulus benar-benar sudah akut serta tanpa kita sadari telah mempengaruhi sikap kita sehingga kemudian sering tidak adil.

Salah satu ungkapan yang sering muncul soal tidak adil ini misalnya “Ah, kalau cantik mah enak,” persis sama halnya seperti orang beruang “Sultan mah bebas,”

Dan fakta ini nyata, ketika beredar seorang pengasuh anak melakukan kekerasan pada anak, sikap netizen berbeda karena sang pengasuh itu berkulit terang dan mulus. Serangan masyarakat dunia maya padanya tidak begitu brutal.

Coba saja kalau sang pengasuh itu berkulit gelap dan berambut kriting, pasti serangan tak ada nada yang akan membelanya sedikitpun, serangan pasti akan lebih brutal dan membunuh.

“Sudah jelek, kejam lagi. Mati aja loe,”