KESAH.ID – Budidaya tanaman terutama tanaman pangan ada dalam ancaman akibat kemarau panjang. Lahan-lahan eksisting banyak yang tak produktif. Ketahanan pangan mesti didasarkan pada pemanfaatan lahan yang ada agar bisa dimanfaatkan secara maksimal. Alat bantu pengairan menjadi salah satu persoalan yang mendesak.
Soal peningkatan produksi pangan nampaknya Menteri Pertanian yang come back karena Menteri sebelumnya mundur akibat tersangkut kasus korupsi punya pandangan yang berbeda soal pengembangan lahan baru.
Amran Sulaiman yang ditunjuk kembali oleh Joko Widodo menjelang akhir masa kepresidenannya ini lebih memilih untuk mengefektifkan lahan yang ada.
Jejak pemikirannya ini memang bisa ditelusuri pada saat dirinya menjabat Menteri Pertanian pada pemerintahan Presiden Jokowi di periode pertamanya. Fokus Amran dalam pertanian pangan adalah mendorong petani bisa panen 3 kali dalam setahun.
Tujuannya selain untuk mengamankan cadangan pangan, juga bisa membuat petani sejahtera.
Dan Badan Pusat Statistik kemudian mencatat, selama Amran menjabat sebagai Menteri Pertanian, semua indeks pertanian baik pangan, buah dan sayuran mengalami peningkatan.
Amran Sulaiman juga tercatat merekomposisi postur anggaran Kementerian Pertanian dengan mengurangi biaya perjalanan dinas dan acara-acara seremoni lainnya. Acara cipika-cipiki dipotong habis oleh Amran dan dialihkan untuk peningkatan produksi.
Food estate memang penting, namun dalam jangka pendek upaya yang memungkinkan untuk meningkatkan produksi pangan adalah mengairi sawah yang luasnya kurang lebih 1 juta hektar tanpa irigasi.
Dengan diairi, otomatis sawah yang sudah jadi itu akan bisa ditanami 3 kali setahun.
Jadi Amran memilih untuk tidak mengembar-ngemborkan food estate karena sebagai praktisi dia tahu mencetak sawah baru itu tidak mudah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk ‘jadi’ sehingga bisa menghasilkan padi 6 ton lebih per hektarnya.
Terlebih lagi lahan sawah baru yang berada di wilayah gambut, butuh kesabaran lebih. Terlalu mengobral pemberitaan hanya akan menghasilkan cela karena sawah-sawah baru ini di tahun-tahun awalnya hanya akan menghasilkan dua atau tiga ton saja.
Maka pilihan mendayagunakan lahan yang ada, yang sudah puluhan tahun diolah dan menjadi sandaran hidup petani justru lebih masuk akal, bila dikaitkan dengan masa jabatannya sebagai menteri yang tidak lama.
Amranpun memilih cara instan, mengairi sawah yang selama ini tidak mempunyai irigasi. Bukan dengan membangun waduk atau bendungan melainkan dengan memberi bantuan pompa pada petani.
Cara yang dipilih oleh Amran sebetulnya bukan cara baru, bukan sebuah terobosan karena petani sendiri sudah melakukannya. Hanya saja tidak semua petani mampu membeli mesin pompa dan menanggung biaya pengoperasiannya.
Maka ‘terobosan’ yang dilakukan oleh Amran adalah mendatangkan pompa dengan tenaga surya agar petani bisa mengoperasikan pompanya tanpa harus mengeluarkan biaya untuk BBM atau listrik.
Menurut rencana aka nada 7000 pompa besar, sedang dan kecil yang akan dibagikan gratis pada petani dengan anggaran sebesar 5 tilyun.
Membeli dan membagi pompa kepada petani mungkin tak susah, tapi darimana petani akan memperoleh air itu yang menjadi tantangannya, terlebih lagi di musim kemarau.
BACA JUGA : Nggak Penting
Di Kelurahan Sindang Sari, Samarinda menurut anggota salah satu kelompok taninya ada kurang lebih dua ratusan lahan sawah yang dibiarkan karena kesulitan air.
Menjelang pemilu 2024 lalu ada sekelompok petani yang berinisiatif untuk mendayagunakan kembali lahan tersebut untuk bercocok tanam.
Inisiatif itu ditandai dengan pembukaan lahan yang kemudian dirayakan dalam acara Tanam Raya yang dihadiri oleh Walikota dan jajarannya.
Pada acara Tanam Raya itu lahan ditanami dengan bibit jagung, kedelai, semangka dan lainnya.
Ketika saya singgah ke lokasi Tanam Raya masih ada umbul-umbul disana. Namun tanda-tanda bahwa lahan tersebut ditanami kurang meyakinkan, bibit yang ditanam tumbuh tidak seragam dan banyak yang mati.
Lahannya miskin hara, tanahnya seperti bongkahan-bongkahan kerikil dan kurang air.
Namun tumpukan pompa di rumah salah satu anggota kelompok tani tidak digunakan dilahan itu, karena airnya asam.
“Tanamannya malah mati kalau disiram dengan air disini,” ujar salah satu anggota kelompok sambil menunjuk sumur yang penuh air di pojok lahan.
Bantuan pompa yang diberikan oleh Walikota sudah benar, tapi masih diperlukan bantuan lainnya yakni penampungan air hujan atau sumur bor yang dalam.
Di Kelurahan Lempake, ada petani sayur yang mempunyai lahan cukup luas menyisakan lahannya untuk ‘blumbangan’, bukan untuk memelihara ikan namun untuk menampung air hujan. Air itu dipakai untuk menyiram tanaman jika hujan tak turun-turun.
Sementara yang lahannya berada dekat dengan Sungai Karang Mumus, sejumlah petani mengadakan sendiri pompa yang digerakkan oleh BBM untuk menyedot air sungai untuk mengenangi lahannya.
Tapi tak semua petani sudi mengambil air dari Sungai Karang Mumus, sebab menurut mereka air Sungai Karang Mumus tak bagus untuk menyiram tanaman. Mutu airnya buruk jika tidak ada hujan. Jadi sebagian besar petani lebih menunggu hujan turun dengan resiko tanamannya tak tumbuh maksimal karena kekurangan air.
Maka tantangan utama untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas lahan adalah ketersediaan air. Meski air di Samarinda melimpah namun tidak semua airnya baik untuk pertanian. Air permukaannya kalau tidak asam, terpolusi.
Anak-anak sungai di Samarinda adalah sungai periodik, sumber utamanya adalah air hujan, air permukaan atau run off. Sehingga kalau hujan tidak turun semingguan saja kualitas dan kuantitas airnya menurun jauh. Karena anak-anak sungai menjadi muara dari got atau saluran air yang membawa limbah domestik.
Air yang banyak mengandung lemak dan deterjen jika disiramkan ke tanaman akan menganggu foto sintesis karena pori-pori daun tertutupi.
Sementara untuk mengadakan sumber air sendiri dengan membuat sumur dalam untuk mengambil air tanah para petani sulit untuk mewujudkannya karena butuh biaya yang sangat besar.
Andaikan mereka bisa, sumur itu bahkan akan lebih menguntungkan jika dipakai bukan untuk pertanian, melainkan untuk bisnis jual beli air bersih.
BACA JUGA : Pertanian Regeneratif
Penggunaan pompa air bertenaga surya untuk peningkatan pembangunan pertanian sebenarnya sudah terbukti di banyak negara Afrika.
Pompa dengan energi mandiri ini cocok dengan karakter daerah pertanian yang umumnya jauh dari fasilitas atau akses energi fosil maupun listrik konvensional.
Kehadiran pompa dengan energi surya mengatasi kendala ini sekaligus juga menjadi bagian dari pertanian yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan energi fosil.
Cara ini cocok diterapkan di Indonesia karena hampir seluruh wilayahnya selalu disinari oleh matahari, jadi energi untuk pembangkit listriknya tersedia berlimpah sepanjang tahun.
Masalahnya meski biaya operasional rendah, namun investasi awal untuk pengadaan pompa bertenaga surya cukup besar dan diluar jangkauan umumnya petani.
Dan problem berikutnya adalah akses pada sumber airnya dimana sumber air permukaan pada musim kemarau umumnya akan menurun kuantitas dan kualitasnya.
Maka memberikan bantuan berupa pompa dan instalasi pembangkit listrik tenaga surya bisa jadi akan sia-sia tanpa kepastian akan sumber airnya.
Kota Samarinda sendiri sebetulnya mempunyai banyak ‘sumur besar’, lubang-lubang bekas tambang yang sudah menahun tanpa perlakuan.
‘Sumur besar’ ini bisa menjadi alternatif untuk dimanfaatkan sebagai sarana pengairan bagi pertanian dipadukan dengan pemulihan lahan bekas tambang.
Ada ratusan kelompok tani di Kota Samarinda yang bisa diuji kesungguhannya untuk bertani lewat proyek-proyek percontohan dengan memanfaatkan air bekas lubang tambang untuk memulihkan kawasan bekas tambang sehingga bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai lahan pertanian.
Di Mugirejo ada sekelompok petani yang terbukti bisa memanfaatkan lahan bekas tambang untuk bercocok tanam, mereka telah membuktikan konsep impact to be property dengan cara membenahi tanah yang miskin hara dengan pupuk organik dan kompos yang dihasilkan sendiri.
Hasil pembelajaran ini tinggal disempurnakan dan direplikasi pada kelompok lainnya.
Pemerintah Kota dan Dinas Pertanian serta Dinas lain yang terkait mesti bersinergi dengan pemerintah pusat dan kementerian untuk mengurangi kegiatan seremonial dalam pemberian bantuan.
Bantuan tak perlu dirayakan lewat upacara, tapi dilaporkan dan dipertanggungjawabkan lewat pendampingan dan monitoring yang ketat.
Dan yang lebih penting jangan disunat, berikan semua yang mesti diberikan kepada petani. Sebab bukan rahasia lagi bahwa petani atau kelompok petani sering dimintai ini dan itu bila ingin mendapat bantuan.








