KESAH.ID – Ketika mendengar niat Paus Benediktus XVI berniat mengundurkan diri dari kedudukan sebagai pemimpin tahta suci, Kardinal Jorge Mario Bergoglio berusaha mencegah dan menolak dengan tegas berdasarkan alasan tradisi gereja. Mengambil contoh Paus Selestinus V, Paus Benediktus mantap dengan keputusannya. Kurang lebih sebulan setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI, sidang konklaf memilih Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus, pemegang tahta suci yang baru. Selama kurang lebih 10 tahun, Gereja Katolik Roma mempunyai dua paus, Benediktus XVI sebagai Paus Emeritus atau tidak aktif, dan Paus Fransiskus sebagai Paus Aktif.
Kamis, 5 Januari 2023 di Basilika Santo Petrus, Vatikan berlangsung peristiwa yang baru pertama terjadi dalam sejarah panjang Gereja Katolik Roma. Kejadian unik itu adalah upacara pemakaman Paus yang dipimpin oleh seorang Paus.
Hari itu, Paus Fransiskus memimpin upacara pemakaman Paus Benediktus XVI, Paus Emeritus yang wafat pada malam tahun baru.
Selama kurang lebih 9 tahun Gereja Katolik Roma mempunyai dua Paus. Karena Paus Benediktus XVI yang mengantikan Paus Yohannes Paulus II pada tahun 2005 mengundurkan diri di tahun 2013 karena alasan kesehatan.
Setelah pengunduran dirinya, Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires Argentina terpilih menjadi Paus dan memakai nama Fransiskus.
Kardinal Bergoglio dalam sidang konklaf atau sidang pemilihan paus sebelumnya merupakan saingan berat dari Kardinal Joseph Ratzinger yang kemudian terpilih sebagai Paus dan memakai nama Benediktus XVI.
Sesuai dengan wasiatnya, Paus Benediktus XVI ingin dimakamkan dengan sebuah upacara yang senyap dan sederhana. Paus Fransiskus memimpin upacara dengan menggunakan kursi roda.
Paus mengundurkan diri terbilang peristiwa langka dalam Gereja Katolik Roma. Sebelum Paus Benediktus XVI mundur hanya ada dua Paus yang melakukannya hal yang sama berabad-abad lalu.
Pada abad ke 15, Paus Gregorius XII mengundurkan diri karena tekanan internal. Pengunduran diri yang tidak langsung diikuti dengan pemilihan paus baru. Sidang konklaf baru diselenggarakan setelah paus yang mengundurkan diri meninggal dunia.
Dua abad sebelumnya secara sukarela Paus Selestinus V mengundurkan diri. Cara terpilihnya menjadi Paus memang tidak lazim. Pietro Angeleri seorang pastor yang hidup sebagai pertapa {pendoa} terpilih menjadi Paus. Padahal semestinya yang bisa dipilih menjadi seorang paus adalah Kardinal.
Pastor yang terpilih menjadi Paus kemudian memakai nama Selestinus V. Tak lama setelah menjadi Paus, Selestinus V merasa kedudukan sebagai paus terlalu berat untuknya sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri.
Pengantinya Bonifasius II khawatir Paus Emeritus yakni Selestinus V akan dipandang sebagai orang suci oleh umat katolik. Bonifasius II kemudian mengasingkan Selestinus V dengan cara mengurung dalam menara. Saat wafat juga tidak diadakan upacara resmi untuk pemakamannya.
Sesuai tradisi pemakaman seorang paus biasanya akan dipimpin oleh Camerlengo. Dia adalah Kardinal yang memimpin kantor rumah tangga kepausan. Saat tahta suci kosong karena paus meninggal, Camerlengo akan bertanggungjawab untuk menjadi pemimpin sementara kuria romana.
Camerlengo juga akan mengatur penyelenggaraan sidang konklaf, sidang yang diikuti oleh para Kardinal yang punya hak dipilih dan memilih seorang paus. Kardinal yang mengikuti konklaf adalah yang umurnya belum melewati 80 tahun. Jumlahnya kurang lebih 100-an dari seluruh penjuru dunia.
Wilayah Gereja Katolik Indonesia telah mencatatkan 3 orang Kardinal. Yang pertama adalah Kardinal Justinus Darmoyono, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Diangkat sebagai Kardinal oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967.
Kardinal Justinus Darmoyono pernah mengikuti konklaf atau sidang pemilihan paus sebanyak dua kali, saat Paus Johannes Paulus I dan Paus Johannes Paulus II terpilih sebagai Paus.
Kardinal yang kedua adalah Julius Darmaatmaja yang pernah menjabat sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Agung Jakarta. Julius Darmaatmaja juga duduk sebagai Ordinariat Militer Indonesia, Uskup TNI.
DIpilih sebagai Kardinal pada masa kepausan Yohannes Paulus ke II. Julius Darmaatmaja pernah mengikuti sidang konklaf saat Kardinal Joseph Ratzinger terpilih menjadi Paus dengan nama Paus Benediktus XVI.
Kardinal ketiga dari Indonesia adalah Igantius Suharyo, Uskup Agung Jakarta. Ditunjuk sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus pada tahun 2019.
Tugas umum seorang Kardinal adalah membantu paus, menghadiri rapat dalam dewan suci {konsistorium} dan siap hadir baik secara pribadi maupun bersama kapanpun paus membutuhkan nasehat mereka.
BACA JUGA : Obrolan Warung Kopi Tanpa Gangguan Wifi
Kisah Gereja Katolik Roma mempunyai dua paus bisa disaksikan dalam sebuah film berjudul Two Popes yang dirilis oleh Netflix pada tahun 2019 lalu. Film itu dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh McCarten dengan judul yang sama.
Hasilnya adalah sebuah film bergenre biografi dengan bumbu fiksi dan komedi serta semi dokumenter karena diselipkan beberapa footage kejadian-kejadian asli.
Film dimulai dengan upacara pemakaman Paus Yohannes Paulus II yang kemudian diikuti dengan penyelenggaraan sidang konklaf.
Dalam film ini Kardinal Ratzinger digambarkan sebagai sosok kuat yang secara alamiah akan menjadi penerus Paus yang wafat. Namun juga digambarkan ada arus lain yang berkembang, yakni peluang terpilihnya seorang paus reformis atau paus dari luar benua Eropa.
Namun akhirnya menara kapel Sistine mengeluarkan asap putih, pertanda seorang paus yang baru telah terpilih. Kardinal Joseph Ratzinger terpilih menjadi Paus ke 265 dan memilih nama kepausan Benediktus XVI.
Reaksi masyarakat beragam, ada yang optimis gereja katolik akan kembali ke jalan yang benar karena dipimpin oleh Paus yang sangat menjaga ajaran iman. Namun ada pula yang merasa gereja akan ditinggalkan oleh banyak orang, karena gereja akan makin konservatif. Selain itu banyak juga yang nyinyir dan sinis dengan mengatakan “Gereja dipimpin oleh Nazi,”
Usai mengikuti konklaf dan pulang ke Argentina, Kardinal Jorge Mario Bergoglio mulai berpikir untuk mengundurkan diri dari kedudukan sebagai uskup dan kardinal. Diapun menulis surat dan kemudian mengirimkan surat kepada Paus Benediktus XVI, berkali-kali surat dikirim namun tidak pernah ditanggapi.
Bergoglio kemudian memutuskan untuk pergi ke Vatikan, menghadap Paus untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya secara langsung. Kebetulan pada saat yang hampir bersamaan ada surat panggilan dari Paus yang dikirim lewat pos sampai di kediaman Bergoglio.
Sebagai uskup yang sekaligus kardinal, Jorge Mario Bergoglio menolak untuk tinggal di rumah uskup. Dia memilih tinggal di rumah yang lebih sederhana dan senang jalan kaki atau naik sepeda kemana-mana.
Bergoglio tiba di Roma dijemput oleh staf rumah tangga kepausan dengan mobil yang bagus. Menolak saat akan dibantu membawa tasnya, Bergoglio memilih duduk di depan bersama sopir, bukan duduk di belakang sebagaimana lazimnya seorang tuan.
Dari bandara, Bergoglio dibawa ke istana kediaman paus di musim panas, bukan ke basilika Santo Petrus. Dalam perjalanan ke istana musim panas, sopir mengingatkan Bergoglio bahwa Paus Benediktus lebih suka jika kardinal yang menghadap berpakaian sebagaimana layaknya seorang kardinal. Bergoglio kemudian berganti pakaian, memakai baju kebesaran seorang kardinal.
Di istana kediaman musim panas, Bergoglio segera akrab dengan petugas disana, termasuk tukang kebunnya.
Paus Benediktus XVI kemudian menemui Kardinal Jorge Mario Bergoglio di taman yang luas. Awalnya terasa ada kekikukan. Dua orang dengan karakter berbeda meski berhadapan berduaan.
Pertemuan dan dialog antar dua tokoh penting dalam Gereja Katolik Roma ini kemudian menjadi inti film. Dua aktor yang memerankan Bergoglio dan Benediktus XVI berhasil menjadikan film yang berisi dialog ini tetap menarik.
Mereka berhasil melakukan perdebatan yang sangat keras, saling bantah namun seperti sedang bercakap sebagai dua orang sahabat.
Disela percakapan yang penuh perdebatan tentang berbagai hal, termasuk Tuhan, ajaran iman dan tradisi gereja, Bergoglio selalu berupaya menyodorkan surat pengunduran dirinya dan pulpen untuk menandatangani persetujuannya. Tapi Benediktus XVI selalu mengabaikannya, seolah tak melihat dan tak mau membahasnya.
Keduanya saling salah sangka. Benediktus XVI menganggap Bergoglio datang ke Roma karena surat panggilannya, siap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan olehnya. Sedangkan Bergoglio beranggapan Paus memanggil karena akan setuju dengan pengunduran dirinya.
Padahal yang terjadi Paus Benediktus XVI sedang berencana mengundurkan diri dan akan mengumumkan pengunduran dirinya setelah mendapat kepastian bahwa Jorge Mario Bergoglio akan meneruskan tahta kepausannya.
Hal yang sesungguhnya itu yang kemudian diungkapkan oleh Paus Benediktus XVI ketika mereka kemudian kembali ke Basilika Santo Petrus. Dan tentu saja Kardinal Bergoglio sangat terkejut, berencana mengundurkan diri malah diminta kesediaannya untuk meneruskan kepemimpinan di tahta suci.
Bergoglio berupaya mencegah rencana Benediktus XVI mengundurkan diri. Namun tekad Paus ke 265 itu sudah bulat. Jorge Mario Bergoglio menyampaikan argumen terakhir, tak mungkin gereja dipimpin oleh dua paus.
Benediktus XVI kemudian menyebutkan hanya satu paus yang akan memimpin. Sebagai Paus Emeritus dia akan melakukan Silentium Incarnatum, Paus Benediktus XVI akan menjauhkan diri dari urusan dunia dengan tinggal di sebuah biara sebagai pendoa.
Dan setelah pengunduran dirinya, Paus Benediktus XVI tinggal di biara Mater Ecclesiae Kota Vatikan sampai akhir hayatnya.
Sidang konklaf setelah pengunduran dirinya kemudian juga memilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus ke 266, penerus tahta Santo Petrus untuk memimpin Gereja Katolik sedunia.
Dengan memakai nama kepausan Fransiskus, Kardinal Jorge Mario Bergoglio menjadi paus pertama yang berasal dari luar Eropa. Paus yang gemar tarian tango dan sepakbola ini diharapkan akan menjaga peran gereja katolik dalam mewujudkan perdamaian dunia, serta membawa perahu layar gereja tidak terseret dalam arus perkembangan dunia.
Gereja bukan berkompromi melainkan harus berubah.
BACA JUGA : Tak Ada Yang Abadi, Umur Memang Terbatas
Stato Pontificio atau Negara Kepausan terbentuk sekitar pertengahan abad ke 8. Wilayahnya meliputi seluruh kota Roma terbentang antara pesisir barat dan timur Italia. Proses penyatuan kerajaan-kerajaan di Italia membuat Negara Kepausan berkali-kali terancam, terlibat konflik bahkan perang.
Ketika Roma direbut oleh Garibaldi pada tahun 1870 dan kekuasaan diserahkan kepada Raja Vitorio Emmanuele II, Negara Kepausan berakhir. Paus Pius IX meninggalkan Istana Lateran, pindah ke Istana Vatikan, menetap disana untuk mengurung diri.
Raja Vitorio Emmanuele II mengeluarkan UU yang menjamin kedudukan paus untuk menempati Istana Lateran dan Castel Gondolfo. Jaminan ini ditolak oleh Paus. Pada tahun 1919, Pemerintah Italia kembali mengeluarkan ‘Law of Guarantee’ yang mengakui kedaulatan Paus atas wilayah tertentu dan memberi hak untuk menggunakan beberapa gedung yang ditunjuk sebagai bagian wilayahnya. Pengakuan ini juga ditolak oleh Paus Benediktus XV yang berkuasa saat itu.
Lewat sebuah perundingan akhirnya ditandatangani sebuah traktat yang mengakui terbentuknya Negara Kota Vatikan. Traktat Lateran ditandatangani pada 11 Februari 1929 oleh Perdana Menteri Vatikan, Kardinal Pietro Gaspari dan Perdana Menteri Kerajaan Italia, Benito Mussolini.
Isi traktat itu adalah pengakuan terhadap Negara Kota Vatikan sebagai badan yuridis dan politis dengan jaminan kemerdekaan serta pengakuan kedaulatan atas daerah yang dikelilingi tembok Vatikan dan property lain yang disebut sebagai ekstrateritorial.
Yang disebut dengan ekstrateritorial adalah tempat atau property di Kota Roma antara lain Basilika Santo Giovani Lateran, Basilika Santa Maria Magiore, Basilika Santo Paulus, Palazzo della Cancelleria, Palazzo Propaganda Fide, Palazzo San Callisto, Palazzo Santo Offizio, Seminari Menengah Kepausan, Universitas Urbaniana, Rumah Sakit Bambino Gesu, beberapa gereja, biara suster, Collegio atau asrama tempat tinggal para rohaniawan/rohaniawati yang sedang menempuh ilmu atau bekerja di Roma.
Ada juga property lain di luar Kota Roma yakni Castel Gondolfo, rumah istirahat paus di musim panas dan pemancara radio Vatikan.
Saat penandatanganan Traktat Lateran juga ditandatangani konkordat yang menjamin kedudukan Paus sebagai pemimpin tertinggi gereja katolik, Paus memimpin umat katolik di Roma dan seluruh dunia.
Dalam konteks hubungan antar bangsa secara internasional, Negara Kota Vatikan kemudian diakui sebagai negara berdaulat penuh dan dilindungi hukum internasional.
Sebagai sebuah negara, Vatikan terbilang unik karena wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit. Yang disebut sebagai penduduk Vatikan adalah Paus dan para pembantu serta mereka yang bekerja dalam pemerintahan Kuria Romana.
Mereka umumnya berkewarganegaraan Italia sedangkan yang berasal dari luar Italia akan mendapat pengakuan sebagai permanent residence dari pemerintah Italia.
Nama pemerintahan Vatikan adalah Santa Sede atau Tahta Suci yang dikepalai oleh Paus. Berkuasa atas wilayah dengan panjang 1.045 meter dan lebar 850 meter dikelilingi tembok. Ditambah wilayah ekstrateritorial seluas kurang lebih 700 ribu meter persegi.
Mata uang yang dipakai adalah mata uang Italia dan kini Euro. Vatikan memang menerbitkan mata uang sendiri namun hanya untuk cinderamata.
Paus berkedudukan sebagai Kepala Negara Kota Vatikan sekaligus Pemimpin Tahta Suci dengan sifat kepemimpinan yang absolut, teokratis dan patrimonial. Paus mempunyai kekuasaan penuh dalam hal legislative, yudikatif dan eksekutif.
Dalam menjalankan pemerintahannya Paus dibantu oleh Kuria Romana yang terdiri dari Sekretariat Negara, Dewan Urusan Umum Gereja, Kongregasi-Kongegrasi, Pengadilan, Dewan Kepausan dan Lembaga-Lembaga lainnya.
Sebagaimana layaknya negara, Vatikan juga mempunyai hubungan diplomatik dengan negara lainnya. Para duta besar Vatikan disebut sebagai Apostolic Nuntio karena mempunyai fungsi diplomatik dan ekklesial. Tahta Suci saat ini telah menempatkan nuntius di 176 negara.
Vatikan tidak mempunyai angkatan bersenjata. Pasukan pengamanan yang berjaga di kediamaan paus berasal dari Swiss. Pasukan militer dari Swiss disebut sebagai Guardia Svizzerra, berjumlah 110 orang dengan seragam warna-warni seperti pakaian kuno abad ke 15.
Selain itu ada juga Agenti del Corpo di Vigilanza dello Stato della Città Vaticana (Pasukan Pengawal Negara Kota Vatikan) yang beranggotakan lebih dari 100 orang. Pasukan Pengawalan menjaga keamanan di Vatikan dan dalam tempat/wilayah ekstrateritoral, melakukan pengawasan atas barang-barang milik Vatikan dan juga mengatur lalu lintas.
Sedangkan keamanan di sekitar Kota Vatikan menjadi tanggungjawab Polisi dan Polisi Militer Italia.
Umat Katolik sedunia mengakui Vatikan sebagai pusat gereja katolik, taat dan setia pada ajaran iman yang diajarkan oleh paus. Namun umat Katolik bukanlah warga dari Negara Kota Vatikan. Ikatan dengan Paus sebagai pemimpin Negara Kota Vatikan adalah ikatan ketaatan pada iman dan ajaran gereja.
note : sumber gambar – HEYARAI.COM








