KESAH.IDAda beberapa warung atau kedai yang jelas-jelas menulis “Tidak Ada Wifi” sebagai bentuk perlawanan terhadap kecenderungan keasyikan masing-masing pengunjung tenggelam dalam gawai masing-masing. Hadir di tempat yang sama namun dengan asyik sendiri dianggap meluruhkan fungsi warung sebagai ruang publik, ruang interaksi antar pengunjung. Benarkah?.

Jalan Roda, entah seperti apa suasananya sekarang. Namun dua puluh tahunan lalu saat saya mesti meninggalkannya, ruang publik di tengah kota ini merupakan tempat saya tak pernah merasa sendiri di tanah rantau.

Berada di sebuah gang belakang pertokoan, Jarod berisi bermacam kios. Namun yang terkenal adalah warung kopinya, tempat orang duduk-duduk mulai dari sarapan pagi hingga nongkrong sambil ngobrol ngalor-ngidul sampai menjelang petang.

Meja dan kursinya diatur berada di emperan dan jalanan yang tak dilewati kendaraan, suasananya jadi seperti café-café di Eropa walau tampilannya jauh berbeda.

Yang dijual bukan hanya kopi, ada banyak jenis minuman lainnya. Namun Jarod identik dengan warung kopi.

Obrolan di Jarod adalah obrolan warung kopi, sebuah istilah yang didalamnya mengandung makna obrolan bebas yang tak jelas juntrungannya. Semua bisa dibahas dan dipercakapkan, tanpa moderasi.

Memang sesekali ada percakapan yang direncanakan, semacam diskusi terbuka dengan beberapa pemantik. Sebab Jarod memang tempat berkumpul para aktivis, mulai dari aktivis keagamaan, politik, ormas, ekonomi kerakyatan, kesenian, mahasiswa, sastra, budaya, ngo sampai aktivis bantuan sosial.

DNA Jarod memang komunikasi dan informasi. Keramaian tempat ini bermula dari masa Manado sebagai pusat perdagangan jalan-jalannya masih dilewati oleh gerobak pengangkut komoditas. Orang-orang ‘gunung’ yang datang ke kota untuk menjual hasil bumi kerap memarkir roda {sebutan untuk gerobak yang ditarik kuda atau sapi} di lorong ini.

Alhasil tempat ini menjadi ruang pertemuan antara orang luar kota dan orang kota, tempat bertukar kabar dan pengetahuan serta keperluan lain diantara mereka.

Ketika kendaraan bermesin mulai lalu lalang dan roda tak lagi populer, lorong ini mematri fungsinya sebagai ruang pertemuan, ruang persingahan dalam bentuk warung-warung di sepanjang jalannya.

Dalam konteks teori dan pemikiran Habermas, Jalan Roda atau Jarod yang awalnya merupakan tempat parkir gerobak dan menambatkan hewan penariknya kemudian berkembang menjadi ruang publik.

Layak untuk disebut sebagai ruang publik karena menyediakan ruang demokratis, sarana yang menghidupkan diskursus masyarakat. Siapapun yang datang ke Jarod dalam percakapan dapat menyatakan opini, perasaan, kepentingan dan juga kebutuhannya secara diskursif.

Berada dalam ekosistem itu membuat Jarod menjelang pemilu selalu ramai didatangi oleh calon walikota, calon wakil rakyat dan calon-calon lainnya. Kedatangan mereka jadi berkah karena pulangnya mereka akan membayar kopi dan minuman serta makanan lainnya yang dinikmati oleh pengunjung di warung tertentu.

Semua yang datang akan disambut ramah. Jarod tak kekurangan aktor yang siap memuji-muji sang calon hingga melambung ke atas langit. Makin yakin dan percaya diri untuk maju sebagai pemimpin yang didambakan oleh rakyat.

BACA JUGA : Tak Ada Yang Abadi, Umur Memang Terbatas

Beberapa tahun terakhir ini agak sulit menemukan warung atau kedai yang bisa didatangi tanpa temu janji namun tak khawatir bakal nggak dapat teman bercakap. Jarang ada warung yang bisa kita datangi begitu saja dan kemudian akan bertemu dengan orang untuk membincang apa saja, syukur-syukur ketemu yang cocok hingga kemudian melahirkan ide-ide segar.

Kurang lebih sepuluh tahun lalu yang berkembang adalah warung atau kedai dengan wifi. Seolah ada konvensi yang namanya warung kopi mesti dilengkapi oleh sambungan free wifi dan colokan dimana-mana.

Warung tak lagi menjadi ruang interaksi antar pengunjung. Yang datang sibuk dengan keperluan masing-masing. Bisa jadi asyik berinteraksi namun dengan orang di kejauhan, komunikasi dan pertukaran informasi diperantarai dengan gawai masing-masing.

Tanpa kehadiran wifi terasa ada yang kurang. Sebab orang datang ke warung atau kedai karena ingin main game, browsing, bekerja di luar kantor, meeting dengan nyaman dan lain-lain.

Trend orang pergi ke kedai untuk mencari wifi mungkin sudah berkurang saat ini. Sebab gawainya sudah dilengkapi paket data. Walau umumnya dilengkapi oleh koneksi wifi namun itu tak lagi menjadi andalan bagi warung atau kedai untuk menarik pelanggan.

Sosmedable yang kini jadi andalan. Warung atau kedai mesti ditata dan didesain dengan rupa yang layak untuk difoto dan divideokan lalu dibagikan ke media sosial. Jika tak indah untuk dijadikan feed, reel atau story, warung atau kedai tak akan menarik hati.

Postingan di kedai hidden gems, warung dengan desain industrial atau unfinished design, kedai mewah {mepet sawah}, tepi sungai, puncak bukit dan lainnya bakal menuai reaksi, banyak like, saling balas komentar dan lainnya, interaksi terjadi di luar tempat nongkrong.

Datang ke kedai atau warung adalah tabungan bahan silaturahmi dengan kekawanan diruang virtual.

Kedai yang dalam konteks pemikiran Habermas merupakan ruang publik kemudian menjadi ruang privat. Pengunjung asyik dengan kepentingan dan kebutuhan sendiri.

Tentu saja ada yang sengaja maupun tidak melawan kondisi ini. Ada warung atau kedai yang jelas-jelas menuliskan pengumuman “Tidak Menyediakan Wifi’.

Warungnya bukan sekedar bisnis karena ada idealisme yang mau dijaga yakni sebagai ruang pertemuan antar orang untuk bebas berbincang, bercakap dan berdiskusi tanpa batasan.

Mirip dengan kedai-kedai kopi di Eropa saat mesin cetak baru ditemukan. Kedai saat itu menjadi tempat untuk bertukar pikiran, membahas gagasan-gagasan alternatif, memecahkan kebekuan perbincangan di ruang akademis. Kedai menjadi pusat literasi.

Pertanyaannya apakah mereka yang asyik dengan gawai masing-masing, cekikikan sendiri di depan layar adalah orang-orang anti sosial yang merebut ruang publik yang lazimnya dipandang sebagai ruang pertemuan tatap muka, face to face?.

Atau benarkah komunikasi fisik akan lebih bermakna dibandingkan dengan komunikasi virtual, percakapan yang diperantarai dengan gawai?.

Ada yang beranggapan bahwa rajin atau gemar berkomunikasi secara virtual akan membuat orang malas atau jarang berkomunikasi secara langsung.

Anggapan yang tidak selalu benar. Lagipula komunikasi digital atau virtual juga merupakan komunikasi langsung, sebab teknologi sudah memungkin kita yang berjarak bisa berhadap-hadapan lewat komunikasi audio video. Dan bukan hanya antar individu melainkan bisa juga dalam bentuk group.

Warung atau kedai hanya menjadi tempat meng-ada, namun komunikasi dan interaksi berada di ruang lainnya, ruang publik di dunia maya.

BACA JUGA : Dimana Bumi Dipijak, Disitu Mixue Dijunjung

Sebagai orang dengan memori lama tentang warung yang menjadi ruang interaksi, ruang perjumpaan, bertukar cerita, adu gagasan maupun curhat colongan tentang apa saja terkadang dalam diri muncul kerinduan terhadapnya.

Hanya saja saya mesti menahan diri untuk tidak terjebak dalam klaim bahwa warung di jaman saya muda dulu jauh lebih baik atau lebih enak suasananya karena pengunjung saling sapa, saling berinteraksi.

Menganggap warung pada jaman itu lebih mewakili konsepsi sebagai ruang publik ketimbang warung-warung sekarang jelas tak adil. Sebab meski asyik dengan gawai masing-masing, salah satu keasyikannya sebenarnya merupakan bentuk komunikasi dengan orang lain, walau orang yang lainnya tak ada dalam ruang yang sama.

Bisa jadi sambil ngopi di warung, seseorang asyik chatting bertukar ide atau gagasan dengan seseorang di jauh sana. Segelas kopi, teh, kopi susu, latte atau minuman apapun yang dipesannya menjadi penyegar baginya untuk berkomunikasi.

Bahwa kemudian ada warung-warung yang men-state secara ekplisit tidak menyediakan wifi dan colokan sebagai ekpresi ideologi pemiliknya yang ingin warungnya menjadi ruang interaksi face to face tidaklah salah. Model itu bisa jadi sebuah pembeda, agar warung atau kedainya tak sama serupa dengan yang lain-lainnya.

Yakin bahwa meniadakan wifi akan membuat interaksi antar pengunjung menjadi lebih baik tidaklah salah. Namun itu juga bukan merupakan jaminan sebab tidak semua orang yang datang ke warung atau kedai punya keinginan atau kemauan untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Bisa jadi ada orang datang ke warung karena justru ingin menyendiri, menikmati makanan dan minuman sendiri tanpa merasa kesepian karena disana ada orang lain. Baginya sudah cukup berada di sebuah tempat dengan orang lain tanpa harus berinteraksi.

Setiap pengusaha punya gayanya masing-masing untuk menarik pelanggan, namun pelanggan juga punya kepentingan atau kebutuhan yang berbeda-beda.

Sekali waktu bisa jadi saya memang butuh warung atau kedai dengan sambungan wifi serta colokan dimana-mana. Namun di waktu lainnya saya emoh dengan keadaan seperti itu.

Menemukan tempat yang tepat justru menjadi kunci untuk kenyamanan hati. Warung menjadi ruang publik atau tidak bukan karena tiadanya wifi.

note : sumber gambar – ACEH.TRIBUNNEWS.COM